eLearning Mental Health and Its Impact on the Future Among Awardee - Episode 2
Halo Alpd Friends, kembali lagi di
E-Learning Mental Health and it's impact
in the Future Among Award. Sekarang
teman-teman sudah lebih aware nih. Nah,
pasti teman-teman bertanya-tanya kan apa
langkah selanjutnya saat kita sudah
lebih aware mengenai gangguan mental.
Karena aware aja pastinya enggak cukup,
kan? Nah, LPD Friends juga pasti
penasaran dong gimana caranya untuk
menjaga kesehatan mental LPD Friends.
Apa kita perlu jadi zin master dulu
dengan meditasi di gunung di bawah
waterfall gitu ya, supaya kesehatan
mental kita ini bisa selalu terjaga.
Nah, kita akan kupas tuntas satu persatu
di episode kali ini. Pada episode ini
kita akan membahas langkah-langkah
mengatasi gangguan mental mulai dari
bagaimana cara teman-teman bisa
menenangkan diri sendiri atau how we can
suit ourself. Kemudian bagaimana
praktiknya untuk menjadi pribadi yang
lebih resilien. Selain itu, kita juga
akan membahas gimana cara mengelola
ekspektasi dan menjaga koneksi yang
merupakan bagian dari upaya untuk
menjadi pribadi yang lebih resilient
tadi. Nah, di sini kita masih bersama
narasumber kita yaitu Kak Rizza dan kita
akan mendiskusikan hal-hal tersebut. Kak
Riza sudah siap?
Siap. Oke. Nah, di episode sebelumnya
kan saya dan Kak Riza juga udah membahas
secara singkat ya mengenai gangguan
mental tadi. Dan di episode kali ini
akan secara langsung melibatkan awardi
nih. Jadi sebelumnya kita udah ngirimin
link ke para awardi untuk bertanya ya,
link slido dan ee ini tuh pertanyaannya
terkait gangguan mental dan
permasalahannya saat studi. Dan
selanjutnya pertanyaan tersebut mohon
untuk ditanggapi oleh Kak Riza ya. Oke.
Nah, jadi pertanyaannya ini real beneran
dari Wordi tapi akan secara anonimus ya,
Kak ya. Supaya ee dirahasiakan juga
identitasnya dan supaya terjaga
kerahasiaannya. Kita langsung mulai aja
ya. Di sini ada tiga pertanyaan. Akan
aku su up aja ya, Kak ya. Dari ketiga
pertanyaan tersebut kurang lebih
teman-teman awardi ini mengalami
kesulitan untuk mengatasi overthinking.
Itu yang paling banyak ya mungkin. terus
menjaga ketengangan hati dan pikiran dan
juga bingung nih gimana cara
menyeimbangkan perkuliahan dan kehidupan
pribadi.
Nah, silakan ditanggapi, Kak, apakah
para ini apa yang harus dilakukan gitu
ya untuk problem solving atau ada
shortcut-nya enggak tuh kayak Ctrol F4
mungkin gitu kan? Silakan, Kak.
Oke, jadi teman-teman memang ini suatu
hal yang mungkin sulit ya dihadapi oleh
kita karena bagaimanapun permasalahan
itu akan mengganggu. Nah, namun ee kita
coba satu persatu bagaimana cara untuk
menghadapi permasalahan.
Overthinking seringki terjadi karena
pikiran kita terlalu fokus pada
kemungkinan buruk atau hal-hal di luar
kendali kita. Cara mengatasinya biasanya
dengan melakukan latihan mindfulness,
kemudian teknik pernapasan. Ada pula
yang melakukan journaling dan juga
melakukan manajemen waktu dengan
memprioritaskan tugas membuat ee dengan
membuat tudulis list yang realistis.
Kemudian untuk menjaga ketenangan di
tengah banyaknya kegiatan atau tanggung
jawab, situasi yang seperti misalkan
tugas yang menumpuk, kemudian pekerjaan
rumah atau mungkin untuk di S3 yang lagi
ee berkuliah bersama mengajak
keluarganya. Ee di situ mungkin ada
anak-anaknya juga yang ikut, ternyata
anaknya rewel nih, gitu. Nah, itu juga
mungkin bisa menjadi ee problematik dan
kemudian juga untuk
komunikasi-komunikasi yang sulit dengan
dosen atau dengan rekan sesama awardi.
Nah, itu biasanya juga membuat ee stres
berkepanjangan.
Caranya seperti apa sih supaya kita bisa
tetap tenang dalam kondisi seperti itu?
bisa teman-teman lakukan juga di sini
latihan pernapasan. Kemudian manajemen
waktunya misalkan memisahkan tugas
berdasarkan waktu dan energi yang
teman-teman punya. Jadi kalau lagi ee
enggak mood atau energinya lagi low ya
enggak apa-apa, enggak perlu dipaksakan.
Kemudian jangan ragu untuk meminta
bantuan jika memang memungkinkan.
Kemudian teman-teman juga buat prioritas
apa saja yang mungkin bisa dikerjakan
saat itu tanpa perlu memaksakan diri.
Jadi kalau memang enggak mampu nih untuk
ee membaca jurnal, mungkin dalam waktu
tertentu dikasih tugas untuk baca jurnal
10 jurnal gitu ya, enggak harus
10-10-nya langsung. Jadi bagi dulu
tugasnya kira-kira mana yang lebih
prioritas seperti itu kurang lebih. Nah,
selanjutnya adalah menyeimbangkan
perkuliahan dan kehidupan pribadi.
Karena ee kita juga tidak mungkin hanya
kuliah aja kan. Kita pasti butuh
bersosialisasi dengan lingkungan kita.
Nah, supaya tidak burn out dengan ee
kehidupan-kehidupan di perkuliahan atau
mungkin deadline tugas yang banyak ya.
Nah, caranya dengan tentukan prioritas
kita. Bedakan mana yang sekiranya saat
ini penting dan mana yang bisa ditunda
atau ee kita taruh di list paling bawah.
Kemudian kita juga bisa buat rutinitas
yang fleksibel. Jadi kalau buat ee to
list itu buatlah yang realistis. Jangan
sampai terlalu ambisius, terlalu ambis.
sehingga ee tidak tercapai ee tidak
realistis gitu ya.
Jangan lupa luangkan waktu untuk
istirahat juga ya, Kak ya.
Karena itu juga perlu dimasukkan ke
dalam tudulis listnya.
Misalkan habis bekerja terus istirahat
gitu ya. Nah, itu masukkan aja ke
tudulisnya. Kemudian selanjutnya adalah
melakukan praktik selfcare. Teman-teman
jangan lupa untuk terus menjaga
kesehatan fisik dan mentalnya dengan
cara biru yang cukup, olahraga,
makan-makanan yang sehat, dan juga
melakukan hal-hal yang menyenangkan.
Sama jajan sih ya.
Jajan itu boleh banget sih.
Entertainment tuh boleh tapi ya jangan
sampai berlebihan lah.
Jangan terlena.
Jangan terlena. Benar. Jangan sampai
tugasnya malah dilupakan. Kemudian
selanjutnya adalah bangun support
system. Teman-teman jangan ragu untuk
minta bantuan kepada teman, keluarga
atau mungkin ee apa sih yang terdekat di
ee sekitar teman-teman itu biasanya kan
di universitas ada unit kesehatan atau
dukungan psikologis ya. Nah, itu bisa
teman-teman datang ke situ untuk meminta
bantuan profesional atau mungkin
teman-teman punya ee psikolog atau
psikiater yang sudah dikenal sebelumnya.
Nah, mintalah bantuan kepada tenaga
profesional
seperti itu. Untuk menyeimbangkan ee
perkulihan dan kehidupan pribadi itu
dapat dikatakan memang tantangan ya, Kak
Sandra. Jadi memang kita itu pasti akan
menghadapi masalah. Tapi dari tiga
pertanyaan ini bisa kita lihat bahwa
resiliensi itu jadi kunci utama dari
semua tantangan akademik dan kehidupan
pribadi. Enggak ada sih shortcut seperti
control plus F4, tapi teman-teman bisa
membangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang
dilapis setiap hari untuk membangun
mental yang lebih tangguh.
Nah, tadi kan eh Kakak udah bahas juga
kan tentang cara yang bisa dilakukan
teman-teman e saat ngeras overthink,
cemas, flash, dan yang lainnya. Terus
tadi Kak juga udah singgung dikit
terkait mindfulness, pernapasan,
journaling, dan lain-lain. Gimana tuh,
Kak, cara nerapinnya? Apakah dengan cara
tersebut kita bisa lebih resilience?
Oke, resiliens itu kan ibarat otot
mental kita ya, yang kalau kita latih
secara terus-menerus itu bisa bikin kita
lebih kuat menghadapi tantangan hidup.
Dan kabar baiknya ada empat cara simpel
yang bisa kita lakukan untuk melatih
resiliens kita. Untuk menerapkan empat
cara simpel tadi, apakah harus meditasi
di gunung? Enggak juga sih sebenarnya.
Nah, empat cara yang bisa kita lakukan
yaitu dengan latihan mindfulness.
latihan pernafasan, journaling, dan juga
praktik selfcare.
Bisa tuh, Kak, kita praktikin sekarang.
Oke, kita praktikin, ya.
Oke, boleh, Kak.
Kita mulai dari latihan mindfulness.
Heeh. Nah, mindfulness itu adalah
praktik melatih kesadaran penuh terhadap
momen saat ini. Jadi, Teman-teman
diharapkan untuk bisa here and now dan
eh kondisi ini dilakukan tanpa
menghakimi. Dengan mindfulness, kita
belajar untuk menerima keadaan dengan
lebih tenang dan juga tidak terjebak
dalam overthinking.
Cara mempraktikkannya
pertama fokus pada nafas saat merasa
cemas.
Kemudian yang kedua, perhatikan
lingkungan sekitar dengan penuh
kesadaran. Misalnya, merasakan angin
yang berhembus,
mendengarkan suara kicau burung, atau
memperhatikan aroma kopi yang sedang
kita minum dan juga rasa makanan yang
sedang kita makan.
Nah, hal ini ee kenapa penting? Karena
biasanya kalau kita lagi makan, kita
bisa sambil nonton drakor gitu kan.
Iya. Nah, jadinya enggak fokus itu
makannya rasanya apa, enggak tahu gitu
ya. Kadangan bahkan kita enggak tahu
udah habis atau belum, kita tuh kayak
enggak sadar aja.
Iya. Bahkan kita ngunyah berapa kali aja
enggak sadar gitu kan. Padahal ee kalau
ngunyah tuh ada hitungannya kalau enggak
salah ya, biar lebih sehat ya.
Betul.
Nah, di ee praktik mindfulness ini hal
itu sangat penting untuk dilakukan. Nah,
yang ketiga teman-teman bisa melakukan
grounding teknik. Grounding teknik ini
fokusnya pada panca indra kita. Jadi,
misalkan teman-teman menyebutkan lima
hal yang bisa dilihat, empat hal yang
bisa disentuh, tiga hal yang bisa
didengar, dua hal yang bisa dicium, dan
satu hal yang bisa dirasakan. Nah,
mungkin bisa kita coba ya.
Oke, kita ee coba Kak Sandra sebutkan
lima hal yang bisa dilihat saat ini.
Aku melihat sebuah tab.
He.
Sepasang sepatu.
Heeh.
Kamera.
Heeh.
Handphone.
Handphone.
Gelangku.
Apalagi? Udah lima belum? Ya
sudah lima.
Sudah.
Oke. Selanjutnya empat hal yang bisa
disentuh.
Bisa disentuh.
Sambutku,
Kakak Opik,
handphone,
terus ee badanku sendiri.
Oke. Jadi bisa di ee lakukan seperti itu
ya. Jadi kita menyadari bahwa ini loh
tubuh kita.
Kemudian ada tiga hal yang bisa didengar
saat ini. Apa yang lagi bisa didengar
oleh Kak Sandra? Mendengar suara
merdunya kok sama mendengar
senyap-senyap obrolan di teman-teman
kantor nih.
He. Oke, satu lagi. Satu lagi.
Boleh. Boleh. Apagi ya?
Apagi?
Mendengar ini traffic ya. Ini agak
terdengar ya trafficnya di sini.
Jalanan yang di belakang kita ini.
Betul.
Iya. Oke, selanjutnya dua hal yang bisa
dicium atau dihirup.
Parfumku ya. Ini kecium sama parfum
ruangan mungkin ya. Parfum ruangan. Iya.
Oke. Nah, satu lagi. Satu hal yang bisa
dirasakan.
Mm. Kayak misalnya aku minum teh
ngerasain gula manis gitu ya, tapi
karena lagi enggak ada apa-apa untuk
bisa dirasakan mungkin itu aja
contohnya.
Boleh.
Oke. Dengan grounding teknik ini kita
jadi lebih ee bisa merasakan apa yang
ada di tubuh kita dan di sekitar kita.
Dan ini fungsinya untuk menenangkan
sistem syaraf.
Kemudian ketika teman-teman melakukan
latihan mindfulness, teman-teman hindari
multitasking dan coba hadir sepenuhnya
dalam setiap aktivitas. Kalau bisa tidak
lagi pakai ee tidak lagi
memainkan handphone atau mungkin ee
sambil ngobrol gitu ya. Kalau bisa
betul-betul dalam kondisi yang tenang
gitu. Nah, kalau di anak-anak zaman
sekarang tuh namanya eh reconnecting
with nature.
Iya. Jadi, e enaknya tuh kita
jalan-jalan ke tempat yang alam,
hijau-hijau, terus itu udaranya juga
lebih sejuk, lebih enak buat dihirup
gitu ya. Itu reconnecting with nature,
grounding, itu kayak benar-benar
ee menyadari kalau kita di sini saat ini
sedang hidup gitu ya, kayak
betul. Betul. merasakan apa sih yang
sensasi-sensasi tubuh kita. Nah, itu
grounding teknik ee memang fungsi
utamanya seperti itu.
Oke.
Nah, selanjutnya ada latihan apa lagi
nih, Kak?
Selanjutnya ee kita ada latihan
pernapasan. Nah, latihan pernapasan ini
membantu menenangkan sistem syaraf juga
dan mengurangi stres. Kalau yang tadi
fokusnya dengan ee tubuh kita dan
lingkungan sekitar kita. Kalau latihan
pernapasan fokusnya ke bagaimana kita
mengelola nafas kita gitu. Saat kita
panik atau cemas biasanya kita itu mudah
ee ini nafasnya mudah pendek dan cepat
gitu. Nah, dengan ee kita mengontrol
nafas kita, maka harapannya kita jadi
lebih tenang. Kita coba praktikkan ya.
Di sini ada tiga teknik. Kita akan coba
satu persatu.
Oke,
teknik pernafasan yang pertama adalah
teknik pernafasan 478.
Teknik pernapasan 478 itu bisa kita
praktikkan dengan tarik nafas selama 4
detik, tahan 7 detik, lalu hembuskan
perlahan selama 8 detik. Oke, gimana
kalau kita coba, Kak Sandra?
Boleh, Kakak yang instruksiin, aku yang
coba, ya.
Oke, kita mulai ya. Tarik napas selama 4
detik. 1 2 3 empat tahan. 1 2 3 4 5 6 7
hembuskan. Satu 2 3 4 5 6 7 8.
Wow. Jadi lebih tenang sih.
Oke, kita lanjutkan ya. Oke, cara yang
kedua kita menggunakan boxiting. Nah, di
box splitting ini teman-teman ee tarik
nafas 4 detik, tahan 4 detik, buang
nafas 4 detik, lalu tahan lagi 4 detik.
Nah, ini bisa diulangi beberapa kali
sampai teman-teman merasa tenang. Oke,
kita coba ya, Kak Sandra.
Boleh.
Oke, kita mulai dari tarik nafas per
detik. 1 2 3 4. Tahan pada detik. 1 2 3
4 buang napas 1 2 3 empat tahan lagi. 1
2 3 4. Seperti itu teman-teman.
Menarik ya.
Mudah dan memang jadi lebih rileks
badannya gitu ya.
Oke ya. Ini memang bisa ee teman-teman
lakukan secara berulang-ulang sampai
teman-teman merasa tenang. Oke.
Nah, yang terakhir teman-teman bisa
menggunakan teknik diafragmatic
breathing atau nafas perut. Jadi tarik
nafas dalam ke perut ya, bukan di dada.
Jadi di perut kemudian dibuang perlahan
kayak mau nyanyi ya.
Kayak mau nyanyi. Betul. Nah, ini juga
ee bisa dilakukan berulang-ulang
teman-teman. Manfaatnya nanti untuk
mengurangi kecemasan, meningkatkan fokus
dan membantu teman-teman supaya
piringnya lebih nyenyak. Boleh banget
kalau dilakukan e misalkan sebelum
tidur.
Sebelum tidur iya
misalkan e jam-jam overthinking itu
sebelum tidur enggak sih?
Betul. Nanti merem dikit langsung
Iya kayak semuanya langsung e di otak
kita berputar gitu ya.
Iya betul.
Nah itu boleh dilakukan teknik perapasan
supaya lebih tenang teman-teman.
Nah selanjutnya ada apa lagi nih Kak?
Selanjutnya kita bisa gunakan
journaling. Nah, journaling atau menulis
jurnal adalah cara untuk menuangkan
pikiran dan perasaan kita ke dalam
bentuk tulisan sehingga kita bisa lebih
memahami emosi yang sedang kita alami
atau kita rasakan.
Nah, tapi Kak kalau misalnya kita malas
banget nih bawa buku, boleh enggak sih
kalau kita VN di HP sendiri kayak kita
ngomong jadinya bukan nulis itu gimana,
Kak? Sama aja atau beda? Nah, biasanya
sih orang-orang memang e kalau jurnaling
menggunakan tulisan ya. Namun ada juga
orang-orang yang malas nih untuk
menuliskan. Nah, caranya biasanya
menggunakan voice eh note itu tadi atau
ee dengan merekam video. Nah, kemudian
nanti didengarkan kembali itu juga bisa
beberapa orang menggunakan tek tersebut.
Oke, oke oke
oke. Nah, kita ke cara praktik
journaling-nya ya.
Biasanya ada tiga nih yang paling sering
digunakan. Yang pertama, gratitude
journal. Nah, di sini teman-teman bisa
menuliskan tiga hal yang disyukuri
setiap harinya. Coba kalau Kak Sandra
hari ini apa nih yang disyukuri?
Hari ini aku bersyukur diberikan
kesehatan,
bersyukur masih diberikan umur untuk
hidup.
Bagus banget. Oke, kemudian selanjutnya
bisa menggunakan expressive writing.
Nah, di expressive writing ini adalah eh
kita menulis bebas tentang apa yang
mengganggu pikiran kita tanpa perlu
dipikirkan structur-nya seperti apa.
Jadi seperti menulis diary gitu.
Bukan IS ya. Kalau IELTS kan harus ee
Iya.
Nah, ini enggak ya.
Iya. Kita enggak perlu mempedulikan apa
dulu yang akan kita tulis. kita bisa
lompat-lompat, kita bisa mengarang
bebas, mungkin kita marah di situ, kita
menuliskan kesalahan kita terhadap orang
lain, boleh aja di situ. Yang penting
isi pikirannya di situ tertuangkan dan
itu bikin kita ngerasa jadi lebih lega,
gitu. Nah, kemudian teknik yang terakhir
menggunakan problem solving journal.
Nah, di sini teman-teman akan menuliskan
ee tantangan apa yang sedang dihadapi,
kemudian ide-ide untuk mengatasinya
seperti apa. Jadi, lebih fokus ke ee
penyelesaian masalahnya daripada fokus
ke apa yang sedang kita rasakan atau
yang sedang kita khawatirkan.
Kadang-kadang kita itu memang lebih
fokus kepada hal-hal yang ee mengganggu
kita itu secara emosional gitu. kita
lebih fokus ke pikiran-pikiran kita,
perasaan kita yang saat itu memang lebih
menguasai daripada jalan keluarnya
seperti apa gitu. Makanya dengan problem
problem solving jurnal di situ fokusnya
adalah untuk ee menuliskan tantangannya
dan ide-idenya gitu.
Manfaatnya apa tuh, Kak, kalau misalkan
jurnaling tadi?
Oke, kalau jurnaling itu manfaatnya
untuk membantu memahami diri sendiri.
Jadi apa yang sedang kita rasakan dan
kita pikirkan kadang-kadang seperti
benang yang ruwet ya. Betul.
Nah, di otak kita itu kayak perlu ada
sesuatu yang dikeluarkan. Nah, itulah ee
alasannya kenapa journaling ini bisa
membantu kita memahami diri sendiri. Ini
juga membantu kita untuk mengarami stres
dan juga meningkatkan kesejahteraan
emosional kita seperti itu.
Oke, itu tadi sudah tiga. Nah, yang
terakhir apa nih, Kak? Nah, yang
terakhir adalah praktik selfcare.
Selfcare adalah upaya untuk merawat diri
sendiri, baik secara fisik, emosional,
maupun mental. Banyak orang yang
menganggap bahwa selfcare itu sebagai
hal yang mewah. Padahal sebenarnya itu
hal yang sederhana dan bisa melakukan
hal-hal yang simpel aja sih untuk
memenuhi kebutuhan dasar di tubuh kita
dan di pikiran kita. Nah, contohnya atau
caranya itu yang pertama selfcik. He.
Nah, yang paling mudah sih tidur yang
cukup.
Betul.
Makan-makanan yang bergizi dan kemudian
juga olahraga ringan.
Tapi ada beberapa orang malahan tidur
cukup itu susah banget ya, Kak. Tapi
memang ini jadi simpel banget. Selfcare
yang simpel itu sesimpel itu bisa
meningkatkan kesehatan mental kita gitu
ya.
Nah, selanjutnya kita melakukan selfcare
emosional yaitu dengan melakukan hobi
yang disukai, mendengarkan musik atau
menonton film favorit. yang apapun itu
bisa membuatmu merasa entertain gitu.
Nah, selanjutnya ada selfcare sosial
seperti misalkan em telepon keluarga
yang mungkin teman-teman lagi kuliah
jauh dari keluarga gitu ya, teleponlah
keluargamu kemudian ee keluar sama teman
gitu ya, main terus kemudian ikut
kegiatan di kelurahan, ikut kegiatan di
kampus gitu ya. Itu juga merupakan salah
satu sosial. Nah, kemudian yang terakhir
teman-teman bisa melakukan selfc mental
seperti misalkan mengatur ekspektasi
yang nanti kita akan belajar setelah ini
juga. Kemudian belajar berkata tidak
saat merasa kewalahan atau tidak mampu.
Jadi teman-teman harus tahu bahwa
kondisi Teman-teman itu lagi tidak bisa
untuk melakukan kegiatan atau secara
emosi atau energinya itu lagi low. Ya,
belajar berkata tidak kepada orang lain
dan kepada diri sendiri. Oke, cukup.
Enggak mau lagi.
Iya, itu bukan egois ya, Teman-teman.
Itu perlu.
Itu perlu. Oke.
Nah, manfaatnya apa nih, Kak untuk tadi
selfc?
Nah, ee manfaat dari selfcare sendiri
itu untuk meningkatkan energi kita,
ngbost mood kita, kemudian mengurangi
stres, dan juga membantu kita merasa
lebih baik secara keseluruhan.
Betul. Aku pribadi sih kalau udah
skincare-an sebelum tidur itu udah
merasa lebih baik sih.
Nah, itu juga salah satu self care fisik
yang sudah dilakukan oleh Sandra.
Mungkin bisa coba.
Yes. Nah, apakah semua cara tersebut
bisa diimplementasikan, Kak, oleh semua
orang? Karena di beberapa buku yang aku
baca nih, ya, Kak, ya, mindfulness itu
metode yang emang baik banget. Tapi
enggak semua orang itu bisa ngelakuinnya
karena banyak yang lagi meditasi terus
tiba-tiba eh malah pikirannya masuk
semua. Tambah overthinking. Nah, gimana
tuh, Kak, cara kita tahu metode mana
yang paling baik buat diri sendiri?
Oke. Nah, memang ee tidak semua orang
bisa menggunakan metode yang sama. Nah,
jadi betul banget yang dibilang sama Kak
Sandra tadi karena setiap orang itu
punya preferensi yang berbeda-beda dan
respon yang berbeda terhadap teknik
tertentu.
Mindfulness misalnya memang terbukti
efektif dalam banyak penelitian, tapi
bagi sebagian orang bisa terasa sulit
dilakukan karena butuh latihan dan
konsistensi.
Jadi, gimana sih cara yang paling cocok?
Nah, sebenarnya ada beberapa langkah.
Misalkan yang pertama, teman-teman bisa
kenali diri sendiri. Perhatikan
bagaimana kita biasanya merespon stres.
Apakah kita lebih nyaman dengan
aktivitas fisik atau menulis atau
mungkin butuh waktu sendiri untuk
refleksi?
Mungkin kita perlu ada jarak dulu dengan
teman-teman kita atau mungkin dengan
tugas-tugas kita gitu ya. Menjaga jarak
bukan ee malah menarik diri meni
lingkungan ya. Nah, kemudian yang kedua
cobalah satu persatu. Jangan langsung
teman-teman menerapkan semua metode
sekaligus. Coba satu teknik dulu dalam
beberapa hari atau beberapa minggu.
Kemudian lihat efeknya seperti apa yang
dirasakan.
Kemudian yang ketiga, evaluasi
efektivitasnya.
Kalau setelah beberapa waktu metode
tersebut memang tidak memberikan dampak
positif atau malah ngerasa lebih sulit
untuk dilakukan, maka ee berarti metode
itu tidak cocok untuk teman-teman dan
silakan coba metode yang lain.
Selanjutnya yang keempat, teman-teman
bisa mengkombinasikan dengan cara lain.
Misalkan kita itu kadang perlu
menggabungkan satu teknik dengan teknik
yang lain untuk lebih efektif seperti
itu. Kalau misalkan latihan pernafasan
digabungkan dengan jurnal link untuk
membantu mengelola emosi, kenapa enggak
gitu. Jadi boleh kok untuk menggabungkan
beberapa teknik dalam ee satu waktu
gitu. Misalkan setelah jurnaling
teman-teman latihan pernafasan itu boleh
banget. Nah, kemudian yang terakhir
carilah bantuan. Kalau masih bingung
atau ngerasa kesulitan bisa teman-teman
konsultasi ke profesional untuk
menemukan pendekatan yang paling sesuai.
Namun teman-teman juga perlu tahu kalau
misalkan ke psikolog atau ke psikiater
itu memang ee kita kayak cari dokter
umum ya, jadi cocok-cocokan gitu. Enggak
bisa kita misalkan langsung ee berharap
di satu pertemuan itu kita langsung
cocok atau sesuai gitu. Kadang kala kita
butuh waktu atau butuh beberapa sesi
atau kita butuh bertemu beberapa
psikolog untuk sampai menemukan cara
yang tepat atau juga orang yang tepat
gitu. meskipun nanti sudah beberapa sesi
berlalu itu ada perubahan-perubahan itu
sangat wajar karena ee manusia itu
dinamis. Siapa tahu teman-teman ee
berubah ya ketika misalkan awalnya
journaling itu terasa sangat cocok untuk
teman-teman bisa diterapkan. Ternyata
setelah beberapa sesi ee dengan psikolog
atau psikiater itu tidak cocok dan mau
diubah bilang aja ke ee profesional yang
sedang ee teman-teman datangi saat itu
seperti itu.
Nah, jadi cara itu cara yang paling
mudah untuk dilakukan di rumah ya, Kak.
Dan dan kalau misalkan teman-teman ada
yang enggak sesuai atau semua caranya
sudahudah dicoba tetap enggak sesuai
tadi jangan lupa untuk cari bantuan
profesional. Baik, ini ada pertanyaan
selanjutnya nih Kak Rizza nih. Aku
bacain ya dari Anonymus tentunya. Kak,
tiap akan bimbingan tesis PhD saya
panik. Padahal dosen baik dan
mengistimewakan saya dibandingkan ke
mahasiswa lain. Saya jadi ingin perfect
tapi takut mengecewakan dan levelnya
terlalu ekstrem jadinya. Nah, menurut
Mbak Rizza gimana nih? Seringkiali kan
tekanan akademik penerima beasiswa itu
enggak main-main.
Dan sehingga teman-teman penerima
beasiswa itu punya ekspektasi yang
tinggi terhadap apa yang dapat mereka
hasilkan atau capai. Dan terkadang
ekspektasi terhadap mereka juga sangat
tinggi nih, Kak. He.
Nah, apakah mungkin ini juga bisa
mempengaruhi kesehatan mental? Gimana
sih cara mengelolanya supaya pada
akhirnya enggak sampai mempengaruhi
kesehatan mental teman-teman, Kak? Oke,
ini pertanyaan yang sangat menarik ya,
karena banyak penerima beasiswa yang
mengalami hal serupa, ingin selalu
tampil sempurna, namun takut
mengecewakan dan akhirnya merasa
tertekan sendiri dengan ekspektasi
tersebut. Nah, ekspektasi yang tinggi
memang bisa menjadi motivasi, tapi kalau
sudah terlalu ekstrem bisa jadi beban
dan juga menghambat performa kesehatan
mental kita. Jadi, gimana sih cara
ngelolanya? Nah, yang pertama sadari
dulu bahwa perfeksionisme itu bisa
menyebab kita. Perfeksionisme itu
seringkiali membuat kita berpikir harus
sempurna atau nanti jadi gagal total
nih.
Padahal proses belajar itu penuh trial
dan error. Alih-alih menuntut diri
selalu sempurna, lebih baik teman-teman
fokus pada progres dan pembelajaran dari
setiap bimbingan yang sudah dilewati
atau yang akan dilewati. Nah, eh yang
kedua, reframe ekspektasi diri. Coba
tanyakan ke diri teman-teman, apakah
ekspektasi ini realistis untuk aku
jalani? Kalau teman saya ada di posisi
ini, apakah saya akan menuntut hal yang
sama ke mereka? Nah, dengan melihat
ekspektasi dari teman-teman itu, maka
harusnya teman-teman bisa jadi lebih
objektif. Nah, kemudian bangunlah self
compassion. Ingat bahwa kita itu boleh
kok melakukan kesalahan karena kita
gimanapun manusia ya.
Manusia. Betul.
Nah, justru dari kesalahan kita bisa
belajar untuk lebih berkembang lagi.
Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri
gitu. Karena kita perlu jeda juga untuk
melakukan ee hal-hal yang mungkin
menurut kita itu ee sederhana tapi
memang itu akan membantu kita lebih ee
merasa berharga. Berikan apresiasi untuk
apapun yang sedang kamu lakukan. jangan
terlalu perkasa dengan dirimu sendiri.
Nah, kemudian selanjutnya bisa dengan
melakukan teknik regulasi emosi.
Saat panik menjelang bimbingan misalkan
teman-teman coba melakukan teknik
pengapasan, teknik grounding gitu ya.
Kemudian juga yang terakhir ingat tujuan
jangka panjang teman-teman. Fokuslah
pada tujuan besar dari studi itu. Bukan
hanya saat bimbingan aja tapi ingatlah
nanti teman-teman akan membangun
Indonesia yang lebih baik.
kemudian teman- bisa UMKM yang nantinya
bisa berkembang gitu ya. Ingatlah ee
tujuan jangka panjang dan juga ingat ee
ketika awal studi ketika teman-teman itu
mendaftar cita-cita teman-teman tuh apa
gitu. Terus excitement-nya ketika
mendapatkan LPDP, excitement ketika
mendapatkan LOE di kampus, itu
perasaan-perasaan itu jangan dilupakan
dan itu jadikan motivasi untuk
teman-teman membangun mimpi di jangka
panjang.
Betul. Itu jadi kayak pegangan ya, Kak
ya, untuk mengelola ekspektasinya juga.
Jangan sampai kita malah ee terhambat
dengan ekspektasi-ekspektasi yang itu
dibuat oleh kita sendiri gitu kan.
Heeh. Oke, ee ini kita lanjut lagi ke
pertanyaan selanjutnya ya, Kak ya. Eh,
nah aku bacain ya dari anonomis juga.
Aku adalah salah satu yang sulit memulai
bersosialisasi atau pertemanan, tapi aku
menyadari pentingnya berjejaring di masa
studi ini. Gimana ya, Kak, tips and trik
menghadapi ini? Nah, ini mostly
problemnya untuk orang-orang introvert
kali ya, Kak. Ini akan sulit untuk
memulai gitu ya. Nah, koneksi yang kita
bangun ini bisa mempengaruhi cara kita
melihat dunia tentunya dan bahkan cara
kita melihat diri sendiri.
Heeh.
Pada akhirnya juga mempengaruhi untuk
bagaimana kita menjaga kesehatan mental
kita supaya enggak feeling lonely dan
juga enggak merasa sendirian. Apalagi
teman-teman yang ke luar negeri atau
luar pulau tadi ya, Mbak ya. Ee jauh
dari keluarga. Tapi gimana sih tadi nih
tips and triknya dari Kak Rikza untuk
memulai pertemanan dan gimana caranya
untuk menjaga koneksi yang kita punya
nih, Kak? Oke, ini juga salah satu
pertanyaan yang menarik karena membangun
dan menjaga koneksi itu memang hal yang
jadi tantangan tersendiri. Enggak semua
orang itu mudah bersosialisasi, enggak
semua orang punya kemampuan adaptasi
yang baik. Sehingga untuk teman-teman
yang merasa dirinya introvert atau tidak
bisa tidak terbiasa bersosialisasi itu
ee akan sangat challenging gitu ya. Nah,
namun kabar baiknya adalah keterampilan
bersosialisasi itu bisa dilatih kok,
Teman-teman.
Dan enggak harus dari sesuatu yang
besar. Misalkan nih, dimulai dari
lingkungan yang nyaman. Kalau ngerasa
sulit untuk langsung dekat dengan banyak
orang, Teman-teman bisa coba mulai dari
lingkup yang lebih kecil. Misalnya ee
berteman satu dua orang dulu, kemudian
berkembang menjadi lima orang, kemudian
jadi teman kelas. Nah, baru nanti
teman-teman ikut kelompok studi atau
mungkin komunitas yang punya minat yang
sama. Biasanya kalau di universitas atau
di kelurahan LPDP,
betul
mereka itu punya community yang sesuai
dengan
ee bidangnya masing-masing gitu ya. Ada
yang olahraga, ada yang kesenian, ada
yang sosial gitu banyak banget.
Kemudian gunakan pendekatan yang
bertahap. Jadi enggak perlu teman-teman
memaksakan diri untuk langsung ngobrol
panjang. bisa aja mulai dari interaksi
yang ringan seperti nanyain eh tugas
yang kemarin gimana gitu. Siapa tahu itu
akan berkembang jadi obrolan yang lebih
serius lagi gitu,
lebih personal juga ya biar mengenal
satu sama lain.
Heeh. Kemudian misalkan teman-teman
ngelihat ada orang lain itu yang
berhasil berikan komentar yang positif
kayak ih Sandra bagus banget tadi waktu
presentasi gitu. Itu siapa tahu bisa
membuka obrolan yang baru.
Betul. Betul.
Heeh. Kemudian atau sekedar misalkan ee
lagi jajan di kantin kemudian nyapa.
Halo Kak Sandra, apa kabar? Sudah lama
enggak ketemu nih. Gitu misalkan. Terus
kemudian manfaatkan juga kesamaan minat.
Kadang-kadang orang itu lebih mudah
terkoneksi apabila punya kesamaan. Kalau
ee misalkan ada yang suka dengan drama
Korea nih, karena aku kebetulan suka
drama Korea, drama Korea, biasanya aku
akan e ngobrolin hal itu sama
teman-teman aku. Kayak gimana sih ee
pemain yang ini, pemain yang itu. Nah,
itu membangun kedekatan yang baru nih.
Padahal mungkin sebelumnya kita enggak
terlalu ngobrol gitu. Kemudian bisa
teman-teman cari tahu ee bagaimana
kesukaan orang lain gitu. Misalkan
teman-teman observasi ya, teman aku suka
ini, teman aku suka itu. Coba deh aku
ngobrolin hal ini dengan dia. Siapa tahu
dia jadi mau berteman dengan aku, gitu.
Nah, selanjutnya ee teman-teman bisa
belajar jadi pendengar yang baik. Nah,
ini membutuhkan ee effort sih memang ya
dan energi juga kemampuan berempati.
Namun sebenarnya bisa dilatih. Kadang
kita merasa harus selalu punya sesuatu
untuk dikatakan kepada orang lain.
Padahal mungkin orang lain itu butuh
didengarkan.
Heeh. Jadi siapa tahu dengan kita
menjadi pendengar yang baik ini
membangun komunikasi yang baik juga
dengan orang lain.
Membangun koneksi juga ya.
Betul. Karena orang lain jadi nyaman
nih.
Iya betul. Jadi kalau mau cerita balik
lagi nantinya.
Heeh. Karena kalau misalkan kita terlalu
banyak berbicara orang lain tuh juga
akan kapan ya waktunya aku didengar
gitu. Betul.
Kita bisa jadi pendengar yang baik,
makanya kita punya teman gitu.
Betul.
Nah, selanjutnya ee teman-teman bisa
ikut kegiatan atau acara sosial seperti
misalkan di kampus tuh biasanya ada
workshop ya kan, ada seminar-seminar
gitu, terus ee event-event misalkan 17
Agustusan atau ee acara ulang tahun
kampus gitu ya, Teman-teman. Ikut aja.
Ee jangan-jangan di situ nanti akan
ketemu sama orang yang baru dengan minat
yang sama. Kalau di Kelurahan LPDP
banyak banget sih biasanya acara-acara
gitu ya, misalkan ee mengadakan bakti
sosial atau apa gitu. Nah, teman-teman
bisa coba ikut kelurahan LPDP untuk ee
bersosialisasi
dan jangan lupa, Teman-teman, ee untuk
menjaga koneksi secara konsisten itu
memang butuh ee effort ya teman-teman.
Memang setelah kita punya teman, kita
perlu m-maintain hubungan tersebut gitu.
mungkin dengan mengirim pesan nanya
kabar gitu ya, kemudian juga mengajak
diskusi ringan setelah ee selesai kuliah
gitu ya. Nanti di luar kita ngobrol yuk
masalah yang A gitu dibahas lagi atau
sekedar memberi apresiasi kepada teman
yang berhasil.
Nah, kalau teman-teman ngerasa kok
memulai sesuatu itu rasanya okw ya
kayak enggak biasa canggung gitu.
Sebenarnya itu yang hal yang wajar ya.
Betul. Karena ini adalah ee hal yang
enggak biasa kita lakukan. Mungkin ini
adalah pengalaman baru buat kita. Jadi,
ngerasa ee canggung atau award tuh hal
yang biasa, hal yang lumrah. Hampir
semua orang itu merasakan hal tersebut
di awala-awal berinteraksi. Apalagi
mungkin teman-teman ada di negara yang
baru atau pulau yang baru gitu ya,
culture yang baru,
culture yang baru gitu, ketemu sama
orang-orang yang sangat-sangat baru gitu
ya. Nah, jadi teman-teman jangan takut
ngerasa aneh atau asing atau kayak aku
takut salah nih kalau ngomong gitu.
Justru itu jadi fresh start ya untuk e
lingkungan yang baru tersebut.
Betul. Karena kita kalau enggak mencoba
kita enggak akan tahu gitu. Lebih baik
menyesal udah mencoba daripada menyesal
enggak pernah nyobain. Karena itu akan
jadi
penasaran.
Betul. Nyobanya juga nyoba untuk
berkomunikasi lagi ya, bukan hal-hal
yang ekstrem gitu ya.
Betul. itu hal yang positif dilihat
posul gitu se
i nah itu dia ya teman-teman cara untuk
memulai sosialisasi atau memulai untuk
mendapatkan teman baru dan juga cara
menjaganya nah aku sendiri nih ya kak
itu orang yang introvert dan jujur aja
kalau mau beli sesuatu di tukang
gorengan tuh deg-degan gitu ya tapi itu
harus dibiasain ya teman-teman harus
benar-benar dibiasain biar nanti
teman-teman juga mulai terbiasa dan aku
pun sekarang sudah terbiasa gitu
wah bagus banget nih Kak Sandra
keren
Nah, oke. Ee itu tadi ya pembahasan
menarik dan beberapa hal yang bisa
teman-teman lakukan untuk bisa lebih
tenang dan juga enggak overthink lagi
dalam menghadapi situasi saat studi.
Ingat ya, Teman-teman, harus tetap
pegang tujuan awal saat memutuskan sign
up di LPDP. Ingat hari teman-teman
berjuang tanpa kena lelah untuk lolos
seleksi LPDP bersaing dengan beribu-ribu
orang lainnya.
Dan teman-teman juga harus bertahan dan
aku yakin teman-teman semua bisa lulus
tepat waktu. Dan in the end pasti
teman-teman akan berpikir ternyata semua
ini bisa loh aku lalui gitu ya. Aku
yakin teman-teman sudah beresiliensi
sangat tinggi sehingga memutuskan untuk
menjadi wor nih. Dan ingat teman-teman
enggak sendirian banyak komunitas LPDP
yang tadi sudah disebutkan oleh Kak
Rizza ya yang bisa bantu teman-teman
selama studi dan contohnya tuh
teman-teman saat PK juga loh ya.
Heeh. He bisa curhat loh sama
teman-teman yang udah kenalan di PK
terus nanti kenalan lagi tadi di
lurah-lurahnya LPDP ya. Oke LPDP
friends. Itu dia mengenai cara-cara
mengatasi gangguan mental dan apabila
merasa kesulitan jangan lupa untuk
mencari pertolongan ya. Nah pada episode
selanjutnya kita akan membahas
pentingnya mencari pertolongan dan
mental health first aid nih. Untuk itu
episode ini saya cukupkan. Terima kasih
sudah dengerin podcast e-learning mental
health episode 2 dan sampai jumpa di
episode 3 atau episode selanjutnya. Dah.
[Musik]
Yeah.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Kurikulum Merdeka Rangkuman IPS Kelas 9 Tema 1 Perubahan Sosial
Portal Edukasi · English

RAHASIA TERBESAR PRABU SILIWANGI DAN MACAN PUTIH | MENGUAK JEJAK SANG RAJA YANG TAK PERNAH MATI
Raya Nusantara · English

Cerita Ricky Elson Soal Mobil Listrik | DisMorning
DI's Way · English

Modi Govt Opens Talks With CJP| Sonam Wangchuk Ends Fast, Dipke Refuses to Back Down|Dr.Manish Kumar
CAPITAL TV · Hindi

دبلومة اعداد مهندس كهربي - الباب الثاني - الدرس السابع- الرسومات التنفيذية لنظام IP STR. CABLING 1/3
Mohamed Faramawy - محمد فرماوى · English

SEJARAH TINGKATAN 4 : Bab 7 - CLC (Jawatankuasa Hubungan Antara Kaum)
Histrozi · English

[SFT 2026] Design Thinking Workshop #1 : Introduction, Empathize & Problem Discovery
Dibimbing · Indonesian

Creating your first skill
Claude · English

چرا معاملهگران حرفهای از ابر ایچیموکو استفاده میکنند؟ برای معاملهگران حرفهای
Aryafar Forex Academy · Persian

Estratégias de Compras no Material de Construção
ProfessorGlaucio · Portuguese (Portugal, Brazil)

Violet Beauregarde vira amora | A Fantástica Fábrica de Chocolate (2005) CENA HD
W8ddlix filmes · Portuguese (Portugal, Brazil)

Baatein Ye Kabhi Na [Slowed + Reverb] - Arijit Singh | Khamoshiyan | Lofi Songs | Lofi Vibes
Lo-fi Vibes · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.