Engineering Thinking untuk Menyelesaikan Masalah | The Trial
Ini enggak adais Enfield.
Halo, selamat siang yang sangat
atau terlar cerah ini. [tertawa]
Eh, kenalan dulu lah ya. Gua Sabda PS ee
partnernya Bang Feri untuk urusan kampus
Malaka dan lain sebagainya. Nah, gua
pengin tahu konteksnya ya. Tahu-tahu
dikit sih sebenarnya cuman gua kan belum
belum tahu banget nih projectnya. Mau
ngapain lu disuruhnya ngapain dan segala
macam. Ada yang bisa jelasin dulu? Gua
sambil dulu enggak apa-apa sih.
Basically projectnya itu adalah kita
diberikan sebuah pertanyaan yaitu
pendidikan tinggi yang ideal itu kayak
gimana sih gitu kan. Dan dari project
dan dari pertanyaan itu kita harus
kayak meng-outline satu permasalahan
yang menurut kita sangat amat krusial
dan itu tuh bisa diperbaiki oleh kita.
Jadi kita tuh sebagai orang yang
mengidentifikasi masalahnya di mana,
habis itu tujuannya apa, baru nanti itu
kita memproblem solve si masalahnya
tersebut. Ada deadline-nya enggak
problem solve-nya kapan? Apakah lu
solve-nya itu ketika lu jadi mahasiswa
atau ketika lu solve-nya sudah 20 tahun
dari sekarang atau 5 tahun dari
sekarang? Belum ada
itu enggak ada sih, aku izin jawab ya,
Bang. Kalau misalnya terkadang ketutuan
kapan kita bakal menyelesaikan solusi
tersebut tuh enggak ada. Cuman mungkin
kalau misalnya aku pengin tambahin juga
e dari teman aku itu sebenarnya kemarin
tuh kita juga udah buat video juga kan
tentang berbagai macam masalah di
perguruan tinggi. Nah, itu juga kita
jelasin sebenarnya lebih konkret di
presentasi kita hari ini gitu. Jadi
memang kita bisa bilang tuh juga lebih
banyaklah penjelasan di presentasi
nanti.
Oke ya, bayang. Berarti intinya lu mau
outline problem identification gitu kan.
Apa sih masalah ee masalahnya spesifik
soal pendidikan tinggi? Yes. Pendidikan
tinggi identifying the problems.
Kemudian kenapa ini problems gitu ya
pasti ya. Oke.
Sekarang ada yang mau ini enggak ada
yang mau cerita sama gua enggak? Gimana
approach lo menemukan Mas? Eh, by the
way itu satu orang satu apa seluruhnya
kamit? Satu hal.
Satu hal satu sih. Satu orang satu.
Satu orang satu
jadi different. Nah, oke.
I
ee gua mau ambil sampel dong. Siapa yang
udah ee yang udah punya solusi bukan
punya udah punya problem identifying?
Menurut lu gimana? Gua pengin tahu ee
problem-problem dulu beberapa sampel
gitu yang belum belum dulu. Hansen
Hansen dulu deh
problem identification-nya, Bang.
Iya. Apa yang lu temuin?
E kebetulan lingkungan gua kan cindo ya.
[tertawa]
Izin, izin. Teman-teman saya satu almade
semua sama yang ini, Bang. Iya kan? Satu
alamat semua.
Kebetulan juga keresahannya jadi apa
yang mereka resahkan saya dengar
meskipun saya bukan satolmet sama
mereka.
Jadi ee apalagi waktu itu tentang
kasusnya gua bahas angkat tuh sebetulnya
angkat masalah kebebasan berekspresi
di lingkungan perguruan tinggi gitu.
Nah, anak-anak BINUS itu sering ngomong
berseliweran bahwa kalau gua demo pakai
almed gua bisa di do. Selain nyontek do
demo pakai almed juga bisa di do. Dan
itu setelah gua cari ternyata benar ada
iming-iming seperti itu masuk di
beritanya tadi gua itu CNN kalau enggak
salah deh atau BBC gua lupa. Nah, habis
itu ketika gua ngelihat itu gua merasa
bahwa hal ini enggak tepat gitu karena
kan itu kan kebebasan berekspresi ya.
Demonstrasi itu bagian dari ekspresi ya.
meskipun enggak harus demo, tapi kalau
melarang demo menggunakan lamatur
bukannya kampus itu seharusnya menjadi
tempat di mana para mahasiswa itu bisa
menyuarakan apapun ide-ide kritis yang
ada itu. Maka dari situ gua merasa
kayaknya ini kurang benar. Habis itu gua
cek lagi ke anak-anak lain. Kebetulan
kan lingkungan gua cindo. Kalau enggak
UPH, Prasmul ya, Binus. [tertawa]
Izin, izin, izin, izin, izin ya. Izin.
Mohon ya. Habis itu ya gua tanyalah. Gua
mulai survei ke anak-anak Prasmul, ke
anak-anak UPH, kenalan gua dan mereka
mengalami kurang lebih hal-hal yang
sama. mungkin tidak ada tertulis di ee
peraturannya dilarang demo, tetapi di
PPATK peraturannya kalau enggak salah
gitu ya, PPATK-nya itu dia di pasal itu
ada dilarang menggunakan ee atribut
kampus untuk kepentingan ee di luar
kampus segala macam itu. Tapi
interpretasinya itu digunakan sebagai
alat penekan bahwa lu enggak boleh demo
karena lu akan merusak citra bisnis gua,
gitu. Oke. Oke. Thank you. Yang lain
siapa? Ujung. Ujung. Ee gua berusaha
mengingat nama lu tadi.
Wahyu.
Wahyu. Wahyu. Ya. Wahyu.
Ini Bang Hafd. Aku jadi kemarin-kemarin
udah lama sih dari kurang lebih dari
zaman semester 1 atau du gitu aku
ngerasa banyak banget teman-temanku yang
apa ya menggunakan chat CPT. Untuk
sebenarnya enggak masalah sih tapi untuk
nanya ketika misalkan presentasi ada
semacam apa ya skenario gitu. Jadi ya
dia udah dibriefing jadi yang nanya udah
ada siapa. Kemudian yang jawab siapa?
Terus kayak ya udah jawabannya dan
pertanyaan sudah disiapin sama yang
presentasi gitu. And itu enggak jadi
masalah sama dosen. E gua e gua enggak
tahu kenapa itu kenapa dan gua ngerasa
ya kenapa dan gua gua kayak ngerasa gua
udah ya ford parah dengan teman-teman
gua yang lain dan mereka dapat nilai
yang sama dengan gua sedangkan ya I
don't know why gitu. Itu yang aku
temukan. Jadi menurutku adalah ee
seharusnya pendidikan tinggi itu
memiliki semacam integritas yang yang
harusnya kan ya fokusnya kan tentang
kejujuran gitu. Itu aja. Gimana kalau
misalkan ada banyak orang-orang tidak
jujur yang ya gelarnya S1 tapi enggak
jujur dan IPK-nya tinggi tapi tidak
sesuai dengan apa yang sudah dia
kerjakan gitu. Harusnya kalau di IPK kan
kata Mas Sabda sendiri bahwa kan tanda
sebenarnya orang rajin kan ya. Kalau dia
rajin ya harusnya bisa dong ngerti dong.
He
soya aku sering nemuin aja gilan ditanya
ini enggak enggak ngerti sama sekali.
Oke, sekarang gua mau satu contoh lagi
tapi gua enggak akan ngambil dari lu.
Siapa yang ngerasa bahwa enggak enggak
ini masalah gua kayaknya paling penting
deh nih. Paling kalau dissolve paling
signifikan eh untuk bisa ngsolve
berbagai macam hal lain ya. Siapa yang
ngerasa punya masalah? Ya, yang ngerasa
masalahnya
penting banget. Paling penting mungkin
enggak bukan masalah sombong ya, tapi
gua pengin tahu siapa yang ngerasa bahwa
my problem is probably the biggest
problem of all. Siapa siapa yang siapa
yang ngerasa bahwa masalahnya itu
terpenting? Oke.
Jadi 1 2 3.
El lu juga enggak tadi tangan 1 2 3 4.
Singkat aja berarti.
Oke. Jadi masa yang aku ambil itu
tentang paradigma. Nah, karena aku
mengambil paradigma, maka aku merasa ini
adalah sebuah fondasi yang menjadi
baseline. Dan seharusnya ketika ini
disolve, maka cabang-cabang yang lain
pun akan ikutan tersolve.
Masalah pada itu maksudnya gimana?
Nah, di sini aku ngelihat sebenarnya ada
pola misalnya di dalam ketika ee
berbicara soal kuantitas. Nah, kita
berorientasi lebih condong terhadap
kuantitas daripada kualitas. Misalnya
dalam hal kemarin ada yang pernah e naik
soal research integrity index ataupun
soal gimana IPK inflasi ataupun soal em
gimana kita cuma ngfal aja buat dapat
nilai. Nah, itu kan adalah sebuah pola
yang aku lihat dan aku coba tarik ke
bawah lagi dan aku nemuin dua lagi. Tapi
intinya dari situ aku lihat ini adalah
sebuah masalah yang coba aku tarik dan
mungkin ketika aku coba solve di
[mendengus] bagian bawahnya
cabang-cabang yang lain bisa ikutan
pelan-pelan tersolve juga.
Ini paradigma yang lu ngomongin spesifik
soal quantity versus quality atau
paradigma secara umum? Maksudnya lu bisa
terapin paradigma yang ini bermasalah,
paradigma tentang ini bermasalah, atau
paradigma specifically on quality versus
quality. Sebenarnya ada tiga sih,
ada tiga paradigma.
Yang pertama soal quality versus
quantity. Terus ada juga soal dogmeric
sama dialectic.
Apa?
Dogmeric
sama dialectic. Terus ada em tentang
rigid, rigidness, kekuan, sama agility.
Jadi tiga itu
rigidness tu soal kurikulum rigid
rigidity gitu.
Oke. Oke. Oke. Sip. Next. Yang rasa
penting banget masalahnya. Oke,
untuk didengar.
Sebenarnya kalau untuk masalah gua
sendiri itu ada beririsan sama temantan
aku tadi. E, teman gue tadi yaitu Hero.
Aku juga awalnya tuh ngebahas tentang
kenapa sih ranking di Indonesia itu
kampus tuh benar-benar mentingin
ranking. Padahal kalau misalkan aku
kalau misalkan gua reflect ke kampus
luar negeri kayak misalkan g enggak usah
jauh-jauh di China, Singapura aja NTU,
mereka tuh enggak boasting tentang
ranking mereka untuk show they are the
best gitu. Jadi dari situ aku bisa
menarik bahwa ada ada apa nih yang salah
dengan pembanggaan ranking ini? Apakah
pendidikan tinggi di Indonesia ini
kurang diapresiasi atau gimana? Dan
setelah aku ee gali-gali lebih dalam
lagi, ternyata
pendidikan di Indonesia ini memang apa
ya memang agak sedikitnya kurang
diapresiasi dan kurang diapresiasinya
ini karena output yang keluar dari
universitas di Indonesia itu emang
kurang gitu. both itu dari kualitasnya
bahkan sampai untuk kinerjanya sendiri
itu emang apa ya menurut aku tuh tidak
memenuhi standar yang ada sekarang lah
gitu. Nah, standar itu maksudnya apa
sih? Kayak kan banyak tuh ee
sarjana-sarjana yang unemploy itu kan
kebanyakan skill mismatch dan berbagai
macam hal yang tidak sesuai gitu dalam
sarjana sendiri dan dunia yang
menawarkan kerja tersebut. Kurang lebih
kayak gitu sih.
Ee kalau gua gini, Bang.
Kita pernah mikir enggak sih setiap
tahun dari seluruh pendidik perguruan
tinggi di Indonesia itu ada berapa
skripsi yang disahkan, ada berapa
skripsi yang lahir gitu. Cuman setelah
itu ke mana perginya skrip-skripsi itu?
Setelah saya mencari tahu, ternyata
cuman numpuk di perpustakaan kampus.
Bagi publik minim akses, bagi mahasiswa
yang punya akses enggak ada yang baca
karena saking tebalnya.
Nah,
realitas di mayoritas perguruan tinggi
kita, skripsi itu masih harus yang
[mendengus] tertulis kaku, panjang,
tebal, berlembar-lembar, dan
ujung-ujungnya harus diprint. Kita kan
hidup di era digital, Bang, ya. Semua
serba cepat, serba visual gitu kan.
Attention spend kita menurun gitu.
dengan mempertahankan skripsi kayak gitu
emang ada gitu mahasiswa yang mau baca
gitu. Emang ada mahasiswa yang masih
semangat nulis skripsi tanpa bantuan
joki dan GPT.
Makanya saya di sini menawarkan
kepada institusi perguruan tinggi untuk
menghadirkan pilihan alternatif bahwa
skripsi tidak selalu melulu harus
ditulis dan dicetak, tapi bisa juga
direkam dalam project audio visual dan
naik ke platform digital kayak gitu
paling enggak.
Jadi problemnya adalah
problemnya adalah skripsi ini
setelah disahkan cuma numpuk enggak ada
keberlanjutannya setelah itu.
Oke.
Kalau naik ke digital kan bisa dilihat
oleh semua orang kan.
Right. Next.
Oke. Baik Bang. Ee kalau saya pribadi
ngangkat tentang kurang lebih sama-sama
Wahyu tapi ee Wahyu lebih ke AI gitu
kan. Kalau saya tentang metode
pembelajaran di kampus itu ee
beberapa kampus ee saya temui bahwa ada
dominansi ee perkuliahan diisi sama satu
metode tertentu aja, Bang. Misalnya
metode presentasi dari mahasiswa gitu.
Nah, ee itu memang kan berangkat dari
SCL ya, Bang. Student eh center eh
learning center gitu. Eh
student center learning.
Oke, sori. Ee itu ee yang berfokus pada
mahasiswa gitu. Tapi dalam praktiknya
banyak ee dosen gitu yang memanfaatkan
celah dari sistem ini gitu. Dalam
konteksnya ee dosen jadi pasif gitu,
Bang, dari fasilitator yang harusnya
menuntun juga diskusi dan juga gimana
cara berpikir mahasiswa itu tetap ee
berjalan. Jadi, hanya sekedar pengamat
administratif, Bang. Jadi kayak cuma ee
mahasiswa berbicara ee dosen menilai dan
kelas berjalan tanpa benar-benar
berpikir kalau kelas itu ya sedang
berpikir gitu. Dan dan juga ee
banyak dosen yang memanfaatkan kayak ee
kan kalau di perguruan tinggi itu ada
taksonomi belum ya, Bang ya? Dalam
jenjang S1 itu dia sampai menganalisis
gitu tapi dosen ingin mencapai
menganalisis ee bisa membuat mahasiswa
menganalisis tapi lupa gitu bahwa
taksonomi belum itu di bawah-bawahnya
masih ada gitu. harus mahasiswa tuh
harus ada tahapannya dulu, memahami
dulu, mengevaluasi dulu, atau dan
sebagainya gitu, Bang. Nah, jadi
permasalahan saya angkat tentang gimana
si metode presentasi ini menciptakan
mahasiswa yang tidak kredibel gitu dalam
menerapkan konsep-konsep yang mereka
dapatkan di perkuliahan itu sendiri.
Lu dulu karena dari tadi belum?
Kalau aku sendiri sebenarnya ngangkatnya
tentang pendidikan vokasi, Bang. Jadi
pendidikan vokasi ini yang kalau di
video aku, aku tuh bertanya sebenarnya
masalah di pendidikan vokasi itu apa?
Karena kalau aku sendiri dari SMK
sekarang pindah ke vokasi ee aku sempat
mikir kalau oh mungkin yang salah tuh
karena peralatannya kurang ininya belum
maju dosennya enggak langsung dari
praktisi yang di industri yang
dibutuhkan, makanya mereka enggak punya
enggak bisa kerja. Tapi ternyata
ada faktor yang lebih simpel gitu. ada
ground purpose yang enggak enggak
digunakan, enggak dilihat sama
pemerintah kalau oh sekolah vokasi ini
sebenarnya tujuannya tuh untuk bantu
sebenarnya basicnya secara general kalau
kayak di Jerman, di China itu buat
ngebantu ekonominya si negara itu
sendiri dari eh independence labor-nya
negara itu. Tapi kalau di Indonesia
kacamata pemerintah tuh beda. bukan
sebagai training camp supaya mereka bisa
industri, tapi sebagai educational
project yang dibarengin sama training
skill gitu. Dan itu yang bikin cacat ee
pendidikan vokasi di Indonesia tuh
karena ya oke adalah sertifikat BNSP
gitu, tapi skill set-nya ee sertifikat
itu
dia cuman dapat sama ijazah aja. Tapi
kalau ditaruh ke industri, industri
tetap akan harus ngelihat, oh berarti
gua harus trending ulang dari nol dong.
Kalau misalkan mereka masuk ke otomotif
atau ke
manapun itu eh spesific
ininya skill-nya gitu. Jadi cacat gitu.
Oke, terakhir satu lagi lu mau lu dulu
deh. Sor ini problemnya belum gua dengar
soalnya. I
oke. Oke.
Jadi, Bang sebenarnya ada dua masalah
yang sering banget dibahas ya tadi yaitu
tentang aspirasi. Terus kedua itu ada
penggunaan AI. Nah, dari situ sebenarnya
karena aku mahasiswa hukum juga ya, di
situ aku kayak mikir juga nih, oh gimana
ya kalau misalnya tadi banyak banget
masalah, salah satunya hukum ini kan
menghadirkan cara untuk mengaturkan,
cara untuk menetapkan suatu normatif,
suatu undang-undang untuk ngatur hal
tersebut kayak kebijakan, pendidikan,
dasar, dan lain. Nah, tapi pertanyaannya
gimana kalau misalnya orang yang buat
aturan tersebut ternyata malah tidak
mementingkan keadilan gitu. Jadi seakan
mereka ngebuat kebijakan bias tentang
pendidikan tapi enggak peduli sebenarnya
tujuan pendidikan tuh tentang apa sih
gitu. mereka seakan-akan lupa gitu
tentang norma-norma ataupun em idealnya
yang mereka pelajarin di Fakultas Hukum
itu apa gitu. Kayak liat saya bisa
Fakultas Hukum selalu ngebahas tentang
keadilan kan. Tapi kalau misalnya ketemu
tentang politik atau ketemu tentang hal
lain itu tuh seakan-akan hancur gitu.
Nah, makanya di sini sebenarnya salah
satu cara aku em kenapa tadi aku juga
akhirnya tunjuk tangan karena aku
melihat oh banyak banget ya ternyata
masalah-masalah di pendidikan yang salah
satunya itu bisa kita kontrol sebenarnya
dengan hukum gitu. Tapi pertanyaannya
lagi siapa yang buat hukumnya ini? Siapa
yang buat regulasinya ini? seperti itu
sih, Bang, ya.
Oke.
Eh, gua akan mulai dari one basic
question dulu sebelum kita masuk ke
dalam isi dari ee kalau gua tuh sering
intinya gini, ini ada struktur dulu nih,
ada struktur di dalamnya baru
substance-nya gitu. Nah, ini formasinya
gitu ya. Ini formasi dalamnya baru ada
substance-nya apa gitu.
Sebelum kita masuk ke substance-nya apa,
kita lihat meta. Do you understand what
meta is? Kalau gua sebut meta, ngerti
enggak meta apa gitu?
Besar.
Iya,
meta tuh basically eh kayak misalnya
berpikir berpikir cognition gitu ya.
Cognition itu mikirnya gitu. Mikir
tentang something-nya. Meta cognition
adalah berpikir tentang berpikirnya
gitu.
Oh, belajar
contoh dalam kasus ini kita trying to
identify identify a problem.
Sebelum kita kita actually identify the
problem, gua pengin tahu
problem itu sebenarnya apa sih
definisinya?
Problem.
Problem itu apa?
Hal yang
dan kenapa kita bisa sebut dia itu
sebuah problem?
Ada hal yang
hal yang menghambat. Iya, benar.
Hal yang
tujuan.
Tujuan.
Yes. Berarti kalau gitu problem itu kita
bisa define sebagai eh gua mau kemari
nih ya kan
tujuannya ke a nih set dari sini ke
sini.
Yes.
Tapi somehow ada barrier, ada blocker
yang sehingga eh kalau gue gini aja
enggak akan nyampai gitu kan. This is
what we define as problem. Ya, something
yang ngeblocking suatu tujuan. Kalau
gitu kita balik dulu. Can we agree on
ketika lu disuruh ya, ketika lu diminta
nih coba kasih identify a problem ya
dalam pendidikan tinggi.
Kita mau lihat dulu nih tujuan
pendidikan tinggi kita sebenarnya mau
ngapain sih.
Kita sudah sepakat belum di situ
ya. Kita belum sepakat belum. Jadi gua
ee nih ini ini sesi yang ya basically
sharing lah ya. Gua enggak usah bilang
mentoring karena siapa tahu ilmu lo ada
yang lebih tinggi dari gua. It's ok gitu
kan. So I share with you and you share
things with me too. Nah
number one berarti kalau gitu harus ada
yang kita tuju.
Yes.
Dari pendidikan tinggi ini atau
pendidikan in general ya. Tapi ya udah
spesific for this pendidikan tinggi. Ada
yang bisa diutarin enggak kira-kira? ini
targetnya bukan pendidikan tinggi
Indonesia targetnya apa bukan ya tapi
menurut lu gimana sih target pendidikan
tinggi Indonesia supaya kita punya suatu
konsensus kecill lah gitu ground
common grounds yes
ini gua masuk dalam PPT gua juga Bang
gua dari kalau dari Nas Mandela bilang
bahwa the yang paling ee apa senjata
yang paling kuat untuk merubah dunia itu
adalah pendidikan
ya
jadi gua percaya bahwa pendidikan itu
fungsinya buat apa? Untuk merubah nasib
suatu bangsa. Gua sih percaya di situ.
Jadi pendidikan kalau ditanya buat apa
itu merubah nasib kita dari yang tadi
kita tidak terpelajar, enggak punya
apa-apa, miskin melarat, tapi kita bisa
merubah hidup dengan cara kita memiliki
pengetahuan gitu kan. Tujuan kita semua
kuliah pada satu titik kan juga mau
dapat kerja gitu kan. Nah, itu untuk
ngerubah nasib sebetulnya kalau kita
pikir lebih dalam gitu sih dari gua
Bang.
yang lain.
Kalau by my definition, menurut gua
tujuan pendidikan tinggi itu adalah
untuk membuat manusia itu bisa menolong
manusia lainnya dengan ya dengan
menyediakan lapangan pekerjaan, dengan
menyediakan riset yang bagus dengan
keahliannya yang di mana itu semua akan
menjadi sebuah valuable
output.
Hm.
Akan apa ya? Jadi akan menghasilkan
sebuah output yang valuable gitu. Kurang
lebih itu sih.
Ada yang punya pendapat lain? Halo.
Sebenarnya ngutip dari Kajar Dewantara
sih, Bang. Waktu itu menyelamatkan
jiwanya dan bahagia raganya. Nah, dari
sini mungkin aku bisa kutip dari duanya.
Sebenarnya kalau misalnya aku bisa kasih
tahu dari definisi tujuan pendidikan
aku, sebenarnya sederhana membahagiakan
diri kita sendiri. Nah, kalau misalnya
kita sudah bahagia berarti kita bisa
ngebahagiain orang lain dan semakin
banyak orang yang bahagia gitu sih.
Oke. Kalau buat aku pendidikan tinggi
itu sederhana untuk menjadikan kita
sebagai problem solver yang lebih baik.
baik itu di jurusan apapun yang kita
masukin, kita akan menjadi problem
solver yang lebih baik di dalam yang
kita masukin.
H. Oke, sip. Gua punya bayangan. Ee gua
udah punya bayangan. Ada beberapa hal
yang mau gua share dikit ya. Nih, ini
kadang-kadang ada enggak nyambung dikit
tapi ada gatalnya gue. Gua mau share
tentang sesuatu yang ini nih penting
nih. Ini ya penting, tapi soal
presentasi tadi gua sebenarnya ya itu
gua gatal banget sih soalnya apa sih
suruhnya ya udah maju presentasi maju
presentasi. dan segala macam. Dan itu
tadi ee belum belum apa namanya?
Taksonomi ya. Beloms taksonomi itu dari
mulai mengingat, merrecall apa segala
macam sampai memahami, analying,
evaluating, dan kemudian creating gitu
kan. Dan itu memang penting walaupun
sebenarnya itu enggak apa ya enggak
harus step by step banget tapi eh
ideally ya stepnya gitu. Itu bisa
paralel sebenarnya enggak ada masalah.
Eh, nah yang sering banget dari dulu gua
pegang itu soal pyramid of understanding
ya. Piramida of understanding itu jadi
berapa persen sih lu retention ni? Ini
sedikit sedikit apa eh data dari
pendidikan lah ya.
Kalau el lecturing
dengerin lecture sor dengerin lecture
nonton kayak gua nih nonton kayak gini
nih gua nonton lu nonton gua ngomong
doang satu arah. Nonton video apa segala
macam itu 5 sampai 15% doang
efektivitasnya.
Tapi biasanya enak. Kenapa enak? Karena
lu enggak aktif. Lu tinggal eh diam
nonton kayak nonton YouTube kan enggak
usaha lu nonton apa gitu kan yang
tinggal dengar doang masuk doang enggak
usah. Itu enak. Cuma efektivitas segini
efektivitasnya gitu ya. Kalau nontonin
dipraktikin gitu demonstrasi pemakaian
alatlah inilah apa segala macam ngoding
gua tunjukin lu ngodingnya segala macam.
Ee ini demonstratif gitu ya. Itu sampai
25an%.
Karena ini gimanapun juga masih passive
learning ya. Kalau di sini, nah ini
active learning nih. Active learning nih
actually el yang ikutan. Lu yang ikutan
untuk praktik ya kan? Atau bahkan lu
ikutan ngajar bisa ngajarin temannya
diskusi. Nah ini kalau diskusi itu 50-an
ya. Lu praktik sendiri 75% lu ngajarin
orang 90%. Ini teaching, ini praktik,
ini discussion. Nah,
jadi
gua kadang ngerti kalau misalnya
dosen-dosen atau apa ya pengin
menekankan lu untuk yang presentasi, ya
kan presentasi kan lu berarti dapat data
dulu apa segala macam, dapat segala
macam, habis itu lu presentasi dan
diskusi
targetnya tuh sebenarnya arahnya ke
sini.
Oke,
gitu. Active routing soalnya ngerti ya.
Jadi, jadi
ee targetnya ke sana. Cuman sorry banget
nih seperti apapun di Indonesia ya kan
lu bawa sesuatu yang bagus dari luar lu
bawa ke sini tiba-tiba [tertawa]
jadi tapi seriously seriously that's
that's somehow itu di Indonesia sering
banget kejadian apapun yang bagus di
luar coba diterapin di sini somehow
diterapin salahnya kan yang lu bilang
tadi bisa jadi terlepas dari
kurikulumnya terlepas dari ininya
terlepas dari apanya begitu diexecute
lah kok jadi begini gitu loh itu sama
sering terjadi. Oke, jadi eh gue jelasin
A in theory this is good sebenarnya cuma
in practice. Hah? Ada bolong-bolong.
Itu satu gua menekanin bahwa ada ada hal
ini. Kedua, ketika lo trying to identify
the problems, ya trying to identify the
problems. Eh, by the way, gua mau tahu
dong di sini ada yang dulu yang pai
genenius enggak?
Aku.
Oh, lu Zenius dari kapan?
Dari SMP.
Buset.
Oke. Jadi satu orang aja ya. Ya.
Sing.
Oke. Nah, jadi kalau ee di Zenius gua
sering ngajarin ee kita tuh targetnya
adalah CCA.
CCA ini cerdas,
sininya cerah, di sini asik.
Iya.
Ya, jadi ini eh konsep yang pal menurut
kita ya of course Zenus Milly itu eh CCL
ini sebagai konsep yang paling penting
nih. Jadi ke apa ya kayak yang sebagai
manusia kalau lu mau nuju sebelum bukan
sebelum sih nanti berguna bermanfaat
atau hidupnya enak fulfilling life,
meaningful life apa segala macam CCA
first gitu baru yang lain-lain. Cerdas
itu definisinya adalah pola pikirnya.
Jadi kayak logic lo jalan, critical
thinking, logic ya alat-alat tools untuk
mikir murni. Ini kalau bahasanya
programmer adalah algoritmanya ya. This
is pure the algorithms, not a data ya.
Jadi cerdas itu adalah algoritmanya.
Jadi ambil kesimpulan ngambil data
segala macam itu algoritma bukan
substance-nya dulu. Baik ya. Not the
substance.
Hardwar-nya dulu.
Iya.
Yes. Di situ-nya nih, algoritma
software-nya dulu ya. Cerdas itu itu dan
itu ada something yang universal gitu
loh ya. Bermatika ya, that's universal
logic. Ada yang universal nih bahwa ini
yang benar universal. Gua sering bilang
kebenaran itu cuma bisa dicapai 100%
oleh matematika gitu ya. Maksud saya
karena the actual truth cuman itu doang
gitu karena logiknya doang ya. Jika A
maka B, jika B maka C. Jika A pasti AC
itu universal. gitu. You can argue with
apun segala macamah eh apa itu ya
gimanapun logic tuh universally true ya.
That's number one.
Nah, kalau ininya udah ya biasanya kita
eh latihannya nih satu yang membangun
cerdas tuh matematik, logic, critical
thinking, bahasa, verbal reasoning, ya
kan. Karena bahasa itu mengantarkan
bagaimana lu dapat informasi dari 1
tahun ke tempat lain. Cenderung kita
sampai saat ini masih pakai bahasa.
Ya, nantinya mungkin kita bisa pakai new
ralingnya Elen Mask, we don't know. Tapi
at least for now untuk informasi itu
nyampai kotak kita mostly berbahasa ya.
So forbal sendiri. Nah, itu nomor satu.
Nomor dua itu cerah.
Cerah ini itu eh adalah seberapa akurat
lo punya peta realitas. Ini realitas nih
dunia ya. Ada realitas alamnya, hukum
alam. Seberapa akurat lu mengerti
tentang how the universe works, how the
world works, hukum alam, ya, hukum
sosial, hukum sosial as in bagaimana sih
dinamika manusia berinteraksi dan segala
macam cenderungannya gimana gimana
gimana itu ee ya ada cara dunia bekerja
yang cair tapi kalau lo akurat seakurat
mungkin lo peta realitas itu gua mau
analogiin peta peta ya seperti peta apa
peta realitas itu kayak kayak peta
beneran aja kayak lu mau lesnya misalnya
gini lu di Jakarta gitu kan mau menuju
Surabaya, tapi di peta lu Surabaya itu
50 km di utara Jakarta. Ya nyasar dong.
Iya
ya kan ya kalau di Peta lu itu Surabaya
50 km di utara Jakarta ya nyasar karena
target lu mau ke Surabaya. Nah terakhir
asik gua sekilas aja nih asik nih gua
bingung menemukan kata apa yang pas buat
anak-anak SMA gitu ya. Sebenarnya itu
lebih tepat bijaksana gitu ya. bijaklah
gitu. How to understand others well,
mengerti orang lain secara akurat.
Dengan mengerti orang lain secara
akurat, be effective with others jadinya
ya. Karena gimanapun juga kita social
animal, manusia itu adalah makhluk eh
apa ya? Hewan sosial lah gitu. Sebagai
hewan sosial of course ya kita harus be
effective with others. Untuk be
effective with others we have to
understand others well first. understand
first and then be effective. Nah, tapi
gua enggak mau bahas terlalu banyak di
sini ya. Eh, gua mau nekan di sini
karena topik kita nyambung banget sama
ya dua inilah ya. Ininya sih ada ya,
tapi bagian ininya gitu cerdas dan cerah
gitu.
Jadi
sekarang kok gini deh gua balikin ke lu.
Gua bilang tadi eh bukan gua bilang
kalian juga udah sepakat bahwa problem
adalah sesuatu yang ngeblok kita menuju
tujuan.
Oke.
Gua mau tahu
seberapa ngerti loh kenapa gua ngomongin
ini dan kenapa ini relevan? specifically
soal cerdas dan cerahnya dan kenapa ini
relevan terhadap hal ini. Anyone can
have an opinion punya ada yang punya
something siapa duluan? Lu duluan? Iya
lu dulu boleh.
Sori. Ini in what context ya tadi ya
cca-nya itu mengenai problem.
Jadi gini jadi gini gua cerita tadi kan
bahwa
eh identifying a problem itu akan sukses
kalau kita punya ee tujuannya.
Iya. Oke.
Oke. Lu punya tujuan. He.
Oke, di sini jadi problem.
He.
Nah, terus habis itu gua tiba-tiba
ngomongin CCA nih.
CCA
specifically cerah.
Cerah.
Nah.
Hm.
Lu bisa connect enggak? Kenapa ini
nyambung sama ini?
Oh, oke oke oke.
Kalau dosen normal gua akan nyajarin
bahwa e kenapa cara itu relevan? Karena
gini gini gini gini. Nah, sekarang
gua peng
oke
conin sendiri sebelum jadi jadi kayak
kalau lu nonton series tuh kayak lu udah
punya fan theory duluan gitu sebelum
actually episode. Lu tahu fan teori sih?
Sebelum sebelum episod-ya keluar lu
punya fan teori dulu.
Oke. Sebenarnya sih kalau misalkan
[berdehem] dibahas dari cerah sendiri
ya, cerah itu kan by definition tadi eh
Bang Sabda juga udah mention itu
seberapa cerah atau how you how well you
understand the universe works gitu kan
basically. Nah, kalau misalkan gua
potret ya universe-nya orang itu tuh
hangman itu kan universe-nya bisa
dibilang adalah sebuah gua bisa bayangin
itu adalah sebuah kotak. Nah, kotaknya
itu tuh ee boleh maju ke depan enggak
sih? Oke, izin ya, Bang, ya. [tertawa]
Enggak usah izin sama gua,
Sor. Penasaran gua. Oke, izin, ya. Jadi
ee untuk teman-teman ini yang ini kurang
lebih yang aku pahami itu adalah kalau
dari perspektif aku, let's say orang ini
hangman ini namanya Udin lah. Udin.
Udin ini dia hidup di sebuah universe
yang di mana dia itu dihalangin sama
problemnya ya kan. Jadi ya aduh gua
enggak bisa ke sini gitu kan. Gimana
caranya? Well, kalau misalkan kita pakai
eh teori cerah tadi yaitu how well you
understand how well how well you are
understanding your own universe. Udin
ini harusnya dia bisa mikir, "Oh, masih
ada celah ke sini kok." gitu kan boleh.
Atau dia kalau bisa ya keluar aja dari
universe-nya terus ke A gitu loh. Bisa
banyak cara untuk dia mencapai jalan
tersebut. A gitu. Kalau gu kalau kurang
lebih pengertian gua kayak gitu sih.
Sip. Nice ya. Lu ada lagi.
Oke nih.
Boleh Bang maju ke depan. Kalau dia
namanya Udin, [tertawa]
gua pengin kasih nama dia namanya
Aliong.
[terkesiap] Kita kasih dia namanya
Aliong. Nah, sebetulnya ini tuh menurut
gua yang disampain sama F itu tepat,
tapi menurut gua masih ada kurang
lengkap. Gua mau lengkapin sedikit dari
Fami. Ee cerahnya itu kan tadi kan kita
maemba bahas tentang peta realitas.
Iya kan? Nah, peta realitas itu berarti
kita bisa mengidentifikasi masalah
dengan tepat. He.
Misalkan si Along ini, Along itu tidak
tahu dia misalkan problemnya di sini
adalah ada lubang yang besar.
H
problemnya adalah lubang yang besar.
H
iya kan? Bagaimana cara Along bisa
melewati lubang ini? H
gitu kan. Kita Alion mesti sadar dulu
petaralitasnya apa. Apakah di sini
lubang atau di sini sebuah gundukan
batu?
H
h. Kalau misalkan digunakan batu,
berarti dia misalkan harus hancurin
batunya tinggal jalan lurus. Tapi kalau
misalkan dia lubang, berarti dia
misalkan bangun tangga di sini
atau misalkan dia bisa muter ke sini.
Nah, cerah yang tadi dimaksud itu adalah
untuk melihat realitas problem yang ada.
Itu menurut saya. Bagaimana cara Along
melihat masalah yang terjadi gitu, Bang.
Yes, nice. Yey.
Ye,
both for both ya. Karena itu itu a
series itu sebenarnya dua rantai tu ya.
Jadi kalau episode tadi kita kayak agak
Star Wars muncul episode 2-nya dulu baru
episode 1 yang muncul gitu kan. Karena
tadi eh Fahmi itu m-define oke kalau dia
punya peta realitas dia punya berbagai
macam jalur untuk menuju ke sini.
Sedangkan Hansen mdefine bahwa loh
sebelum ke sana kita harus jelas dulu
nih bahwa emang beneran itu problem. Itu
kan yang what you're saying kan. Jadi
bisa jadi peta realitas dia nih misalnya
ya peta realitas dia ee itu gini. LC di
sini. Di sini ada satu eh ini ada ruang
terbuka di sini ngeblok gitu ya. Terus
di sini nih A-nya di sini nih misalnya.
Nah, petar atas yang dia punya misalnya
seperti ini. Ini adalah problems-nya dia
di sini dalam otaknya dia bisa jadi ini
yang ada. Tapi ternyata begitu dia
belajar lebih jauh eh ada jalan ini, ada
jalan ini, gitu kan. Jadi ini itu belum
ada di dalam peta realitas dia, tapi
sudah ada di realitas sebenarnya.
Oh,
I
bayang
ya. Bisa jadi karena dia enggak tahu
dagan sini. Ada yang main civilization
apa?
Civilization ada yang main
pernah doang. Kalau ada pernah main
civilation ada bagian yang gelap terrain
incognita.
Oh iya i
begitu lo dekatin baru nyala terang peta
lo baru kebuka. Bang
beda generasi ya kita gameennya.
[tertawa]
Jadi beda beda, beda game discipation
itu gelap. Begitu lu deketin terang,
begitu terang, oh ada itu anjrit. Kalau
gitu gua bisa ke sana.
Iya. I
ya.
So basically kita bisa aja ngelihat ini
problem just because el belum ngelihat
peta realitas secara utuh.
Of course kita susah ngarat realitas
secara utuh, tapi bisa jadi itu menjadi
problem karena kalau bahasanya gua lupa
nama lu.
Hero.
Hero. Oh gampang. Harus diingat
bahasanya hero change the paradigm.
Bisa jadi katanya ya paradigm itu agak
mirip realitas gitu.
Kalau paradigmnya itu berubah, lu bisa
ngelihat dari sudut-sudut yang berbeda
segala macam lebih lengkap, lebih angle
lebih banyak bisa jadi it's no longer a
problem karena oh lewat sini aja kalau
gitu. Ngapain nih lewat sini?
Bayang ya. So, that's how important is
this. Salah satu kenapa eh kita bisa
ngelihat tuh problem. [berdehem] Problem
ini bisa jadi no longer problem just
because you see things differently.
Bayang ya. Eh, sor cek waktu dulu dong.
Gua punya waktu berapa lama dan sekarang
udah
43 menit.
Udah 43 menit apa 43 menit lagi?
Oke. Tipis-tipis sih. Waktu gua 90 menit
ya. Eh,
nah jadi ee nih nih gua pengin gua
pengin banget banget banget banget lu
memahami ini karena ini adalah one of
the most apa ya transformative things
yang mindblowing buat gua ketika gua
mahasiswa. Makanya scientific scientific
and engine mindset bahasanya hero adalah
problem solver ya kan? Bahwa kita
menjadi problem solver. Lu tujuannya
ngapain sih? Kuliah apa segala macam
jadi problem solver. problem solver at
scale gitu ya lebih ya problem solver
aja enggak apa-apa tapi kalau dia
problem solver at scale lu bisa membantu
solve sejuta umat problemnya sejuta bisa
solve ya itu lebih bagus eh kalau apa ya
gua bahasanya tuh the deeper and the
wider atau the broader the impact iya
bagi gua better gua enggak bilang bahwa
itu better universally ya gua
ngelihatnya itu better kalau lu bisa
punya kemampuan problem solving
semakin deep impact impact-nya dan
semakin broad atau wide impact-nya bro
seberapa bread the breadth and depth of
the impact. Nah, that's a matrix gua
untuk menilai a good problem solver ya
problem solving at scale.
Scientific mindset help you having the
peta realitas yang akurat. Engineering
mindset
ability to come up with the solutioning
yang akhirnya nyampai. But tadi step 1,
step du ada step nolnya.
step nol yang dipresentasikan oleh Hamid
di mana step nol ini basically inilah
yang gua sebut meta
ya kan
lu punya tujuan gara-gara lu punya
tujuan ini lu mau nyampai ke sana
ternyata di peta lo ini jadi problem
ngeblokir
nah metanya apa kita challenge
ya kita challenge nih the goal
nah Nah, ini nih
the crazy
Kebayang enggak seberapa itu bisa
changing your game? Ya, challenge the
goal.
Bisa aja yang terjadi tuh kalau gua
kasih visualisasinya
misalnya
tahun atau enggak usah tahun lah di
zaman boomers
ya kan enggak ada yang boomers kan sini
kan.
mungkin yang nonton gitu [tertawa]
yang off
eas gua juga ikutan
si
nah di zaman boomers gitu kan untuk les
di A di statusnya lu di A ya kan lu mau
menuju E
di zaman boomers itu posisi letaknya tuh
gini oh dari A jalurnya ya lewat B lewat
C lewat Dah jadi kalau lu mau ke E
otomatis B, C, dan D adalah tujuan lu,
ya kan?
The goal is B. Kenapa goal-nya B? Karena
untuk mencapai, gua mau mencapai E. Oke,
kalau gitu harus B jadi tujuan step
satu, tujuan kedua, tujuan ketiga dan
akhirnya sampai ke ultimate game, the
end game
gitu ya.
L sih di zaman Boomer seperti itu. Terus
dunia berubah wang
berubahlah tentang realitas itu ternyata
bentukannya gini.
A sama E sebelah-sebelahan ini B ini C
ini D.
Nah, somehow di peta realitasnya
seseorang atau beberapa orang dia masih
punya peta realitas yang ini. Jadi A ke
B, B ke C, C ke D. Oh, kalau gitu sampai
ke E. Padahal si E itu ada di sebelah
Padahal si E itu ada di sebelah si A.
Bayang
bayang.
Nah, this is the meta thinking di mana
lu challenge the goal.
Ini gua masih relevan enggak sih? Target
besarnya apa? Endgame-nya apa? Kalau end
game-nya gini, lu bisa cek
gitu bahwa bisa jadi perubahan dunia
dinamika, resource ini itu segala peta
realitas yang baru berubah menjadi bahwa
eh coy, ngapain lu kemari gitu kan. Ini
tuh di sebelah lo it's always been with
you in the first place. Ngapain
tujuannya ke sini? Karena di sini udah
jelas ada gitu. Nik gua contoh pribadi
gue dan contohnya besar gitu ya.
Eh,
ya basically namanya mahasiswa dulu kan
gua tuh pengin ee standar lah ya
mahasiswa zaman zaman itu masih punya
ambis-ambisan. Ambis-ambisan yang
ambis-ambisannya
ee gua dari SMA, SMA gua SMA 8 Jakarta
by the way.
Oh, udah pintar.
Jadi,
nah jadi ya kebayanglah gitu kan di
dalam itu ambis-ambisnya juga
keikut-ikutan juga gitu kan. Oh, ya.
ITB, ITB, ITB gitu kan. ITB Informatika
yang dulu pasingnya paling tinggi stay
lah zaman sekarang. ee informatika
segala macam itu sebagai kayak oke gua
step-stepnya gitu ada SMA udah oke masuk
ITB Informatika nanti mungkin gua akan
kerja di zaman itu ya zaman itu
something yang ee keinformatikaan tuh
kalau enggak ya Telkom Sell Telkom
Telkom Indosat apa segala macam
gitu-gitulah atau software house apalah
atau bahkan coba ke luar negeri dulu
belum ada tuh kayak Google apa segala
macam Google belum lahir ya ketahuan
[tertawa]
Nah,
nah saat itu gua pengin punya something
yang ee gua suka ngoding dari gua
ngoding dari SD walaupun off on and off,
tapi gua suka banget ngoding dan gua
pengen doing my life through ngoding
bisa punya impact
ya bikin something software yang apalah
gitu canggih apa yang imp. Nah, terus
kemudian jalurnya itu jalurnya tak tak
sampai to the point di mana saat itu gua
harus lulus nih [tertawa]
gua terus segala macam. Terus habis itu
gua ngelihat-lihat setelah gua melakukan
dis analisis gitu ya, gua kayaknya
enggak penting-penting amat. [tertawa]
Oke. Nah, tapi ya g makanya gua bilang
politically correct belum tentu relevan
sama el. Bagi gua sendiri saat itu gua
ngerasa bahwa apapun yang gua harus
lakukan saat itu di kuliah kayaknya udah
enggak relevan lagi. Dan waktu itu gua
juga ada sedikit marahnya lah gitu sama
kondisi setelah gua belajar pendidikan
di Indonesia dan dunia gua agak marah
dikit. Ada ada biasalah rebel-rebel
mahasiswa umur 19 tahun 20 tahun
rebel-rabel ya
gitu kan. Jadi gua enggak ngelihat bahwa
this goal no longer relevan. Gua gua
ngelihat bahwa di school no longer
relevan dan bisa jadi problem yang gua
hadapin jadi irelevan semua. Kalau gua
harus lulus ini ya segala macam problem
gua hilang dong ya kan. Tapi gua punya
jalan lain ternyata. I challenge the
goal dan goal gue ya kebetulan waktu itu
salah satu yang mentrigger juga si bapak
yang ada fotonya di situ dengan bukunya
Madilock. [tertawa]
Nah gua baca buku Madilock terus kayak
berapi-api gitu ya. terbakar berapi-api
menemukan tujuan hidup yang [tertawa]
kayak gua purpose of life-nya gua kalau
harus punya purpose of life ini kayaknya
enggak penting-penting amat gua
melakukan ini. Akhirnya gua change
challenge the goal. Gua ngelihat
problemnya di mana yang lebih besar yang
ya waktu itu gua belajar di Mil waktu
itu masalah terbesar di Indonesia ini
benar-benar gua bisa bilang sekarang ya
karena gua udah melaluinya berpul eh ber
6 tahun [tertawa]
itu udah udah melalui itu dan gua ambil
simpulan bahwa
one of the biggest problem di Indonesia
bisa dibilang the biggest problem di
Indonesianya yang gua temuin adalah
bahwa kapasitas masyarakat kita untuk
kalau bahasanya Tamalaka
bermadilog, bahasanya Zenius berc. Jadi
kalau kita udah punya CCA di mas eh
hilang lagi kita sudah bermadiok atau
berceca di seluruh Indonesia, segala
masalah lainnya ikut hilang.
Nah, gara-gara gua menemukan itu ya
akhirnya segala macam yang
masalah-masalah lainnya, gol-gol lainnya
jadi irelevan.
Kebayang enggak?
Kebayang
ya.
Salah satu syarat untuk jadi problem
solver actually adalah lu harus berpikir
segila itu
ya.
Oke,
jadi gua mau nekanin di sini bahwa once
dapat nih hit the biggest thing yang
ininya bisa jadi turunan-turunan di
dalam-dalamnya itu lah enggak penting
dong, enggak penting dong, enggak
penting dong, enggak penting dong. Jadi
akhirnya clear the goal itself is udah
besar banget juga untuk akhirnya nah
dari situ mulai. Nah, so eh the most
important thing tadi yang gua mau
tekenin adalah bagaimana ya lu bisa
ngelihat kalau lu punya petar atas yang
akurat apa segala macam yang lebih luas
dan sebagainya, suatu problem bisa jadi
no longer problem. See the big picture.
Lihat lebih luas. Ya, nanti bisa kalau
kita punya banyak waktu sebenarnya gua
apa yang lu lihat misalnya problem ini.
Kenapa problem itu ada gua tantang
tujuannya apa? Kalau problem kita solve
emang masalahnya kenapa? Misalnya
contohnya, misalnya contohnya aja let's
say kita ngomongin soal ini nih contoh
ekstrem dulu ya. Kita ngomongin oh kita
mau universitas segala macam dengan
kurikulum bagas dan segala macam tapi
masalah terbesarnya gaji dosennya gitu
kan. Gaji dosennya masalah. Oke. Gimana
kalau kita bikin universitas tanpa
dosen?
H
irrelevan kan
goalnya apa? Goalnya membuat lu jago
gini gini gini. Oke. Bisa tuh tercapai
kalau dosennya can we solve that? Kayak
kebayangan maksudnya jadi that problem
no longer a problem. Kalau kita lihat
ujung akhir tujuannya itu dengan exactly
zoom out,
zoom out.
Kalau lu zoom out itu lu bisa lagi eh no
longer [berdehem] problem nih. Bisa jadi
tujuannya eh ini ngapain kita tujuannya
ini ya? Di sini ada tujuan yang bisa
mencapai itu tadi ini ternyata ada nih
di sini gitu kan ya. Ngapain lu
lewat-lewat sini? Nah
itulah yang gua sudah didisikan hidup
gua. untuk soal pendidikan ya. Setelah
gue itu nih ini sekitar sharing-sharing
kan tadi minta yang relate gitu kan.
Nah, ini lihat sama gua. Enggak tahu
lihat sama lu apa enggak. Tapi, tapi
yang dilihat sama gua langsung contoh
langsungnya adalah bahwa kita mau
bahasanya Tanaka mencerahkan Indonesia
gitu ya kan mencerahkan membuat
Indonesia ini kan Tanang bahwa Madiok
ini adalah suatu hal yang wajib dimiliki
di semua otak pemuda Indonesia,
pemuda-pemudi lah gitu. Di bukunya cuma
pemuda doang tapi ya you get it.
Targetnya itu. Nah, gua ngelihat gua
setuju nih ya. Gua setuju targetnya itu.
Nah, tapi ketika itu diterjemahkan
dengan peta realitas yang terbatas, kita
bisa bilang bahwa oh itu berarti harus
lewat pendidikan. Pendidikan berarti oke
dalam otaknya harus ada fisik kampusnya,
harus ada dosennya, harus ada sistemnya,
ada regulasinya, ini segala macamlah
yang bisa jadi itu semua jadi mahal.
Misalnya kebayang kan?
Iya.
Bisa jadi kalau misalnya kita
ngelihatnya itu intinya adalah apa yang
ada di buku itu versi expanded
version-nya itu kan udah di apa sih
namanya? Di zip gitu. Di zip masih
ngerti sihon. [tertawa]
komprespres
sudah dikompres gitu kan Bangpres
itu kan versi kompresnya gitu kan kalau
ini di kompres gitu kan bisa jadi 100
kali lipat isinya enggak harus masuk
lewat pendidikan yang tata cara normal
kita lakuin bisa aja untuk masuk segala
macam hal yang lain we solve the problem
oh
kebayang enggak kebayang
ya jadi gua ngajak lu untuk berpikir
ekstrem ya ekstremek ekstrem dulu karena
problem solving itu lu enggak boleh ada
apa ya ya itu tadi meluaskan peta
realitas segala macam cara segala macam
petarik di zoom out, zoom out, zoom out
itu bisa set, set, set, set. Harus
banget latihan kayak gitu gitu. Dulu gua
waktu kuliah latihannya, oke kita mau
bikin acara nih brainstorming ya,
brainstorming brandstorming ngapain?
Kita butuh duit R juta buat bikin acara
ini. Gimana caranya kita berar duit R5
juta? Ya udah gua pertama kali ngangkat
tangan, "Ya udah kita ngerampok, Bang."
Amin, Mas. [tertawa]
Tapi kan. Nah, habis itu oh cari lagi.
Intinya adalah jangan batasin otak lo.
Jangan batasin otak lo dulu untuk apa
yang mungkin.
Zoom out petaalitas yang akulah cari
dulu ya kan bisa jadi gol-gol itu
irelevan. Setelah kita melihat the
bigger goal, the bigger goal, the bigger
goal. Baru susun step by step
gitu. Alright.
Oke.
Ada pertanyaan, ada feedback, ada
kritik. Bang, gua gak setuju sama lu,
Bang. Uh, menurut lu gini-gini, it's ok.
Sama gua totally ini ya harus begitu.
Kita harus berdialektika di sini.
Yes.
Sebetulnya, Bang, apa yang ee Bang Sabda
sampaiin sama Kakak Nias Bang Feri
s-sesi kemarin itu berpikir tentang out
of the box dan jangan intinya tu adalah
tadi jangan batasin kemungkinan. Tapi
pertanyaannya di sini kan yang menjadi
perdebatan antara kita ee kayak misalkan
tadi kita coba merampok gitu kan. Nah,
ee seolah-olah saya merasa bahwa e
jangan membatasi pemikiran itu kayak ada
sedikit hal yang janggal. Bagaimana
moral di situ diletakkan gitu loh.
Itu pertanyaannya sih, Bang.
Nice,
nice question. Eh, gua hapus tadi ya.
Gua tulis lagi berarti ulang. Kenapa
kita buat CC itu lengkap? Ya, tadi kita
ngomongin mostly C2 ini C1 C2 cerdas dan
cerah. C2 itu peta realitas ya kan. Nah,
emang ada faktor A-nya atau asik?
Asik. Asik itu bagai sebagai sosial
animal. Lu bagian dari masyarakat ya
kan? Nah di situ baru lu pikirin enggak
ada masalah. Itu tetap bagian dari peta
realitas. Dengan ini semua
manusia-manusia yang ada juga bagian
dari peta realitas kan ya. Itu bagian
dari peta realitas etiks dan
sebagain-sebagainya. Petitas kalau gua
kayak gini mah ini menghambat dong
nantinya begini gitu.
Kebayang ya. Jadi gua melakukan ini ya
misalnya gua punya gol tadi mau bikin
acara oke gua ngerampok bang. Habis
ngelampok bang oke pun duit ditangkap
[tertawa] enggak jadi acara juga gitu.
manusia, batasan manusia itu bisa jadi
konsin. Yes. Tapi bisa juga itu power.
Oke.
Kalau lu understanding manusia well gitu
kan, lu bisa ngelihat ini orang punya
berbakat gila banget di sini bisa kita
ee ajak atau kita encourage dia untuk
bisa melakukan ini itu segala macam. Lu
bisa jadi power yang luar biasa justru
gitu kan. Bahasa gua gini deh.
Ketika 0 a 1 a menjadi limiter. Ketika A
lebih dari 1
menarik
kalau ini kali
nah itu model matematisnya gitu kan.
Jadi kalau ada yang enggak ngerti.
[tertawa]
Jadi kalau kalau les ini kali ya C1 * C2
* A gitu.
Iya.
Kalau nilai A-nya adalah segini berarti
lu akan mdefine itu A sebagai limiter
constrain
karena mengecilkan outputnya gitu kan.
Tapi kalau nilai A-nya itu lebih dari
satu akhirnya that's multiplier. Right?
Nah tadi gua mau perjelas bahwa yang eh
poin L tadi penting bahwa kalau kita mau
punya T kan juga enggak bisa liar banget
juga kan. Lagi-lagi batasannya apa? peta
realitas lagi gitu. Tapi yang paling
penting ini ada dua, ada dua power, ada
dua driving force ya yang harus ada. Lu
jangan membatasi satu sisi ya, di satu
sisi lain gimanapun realitas akan
membatasi lu tapi realitas yang akurat
ini ini penting banget nih. Orang suka
berpikir, "Wah, gua mah realistis aja.
Gua sering gua kadang-kadang ngelihat
orang ngomong, "Gua mah realistis aja
nih gini-gini." Kagak, cuy. Lu enggak
realistis. Kenapa? Karena realitasnya
itu memungkinkan ini terjadi. Kebayang
enggak?
Iya. Sering banyak orang ngomong, "Gua
realistis aja gitu."
Hah? [tertawa]
Ya, karena kalau gue ngelihat kenapa gua
punya optimisme yang luar biasa terhadap
Indonesia? Karena gua ngerasa ini
mungkin terjadi kalau kita optimisme
segala macam
ya. Ya, contoh misalnya optimisme yang
yang sering yang gue sering dibilang
halu gitu ya. Bahwa Indonesia bisa jadi
negara maju gitu. Ah kita tuh lihat tuh
orangnya gini gini gini gini. IQ kita
itu beda cuma 13 poin apa gua lupa ya
berapa. Cuma 13 14 poin. Gua punya alat
yang bisa meningkatkan IQ minimal 23 IQ
points dalam 11 bulan ya. Dan setelah
dianalisis segala macam kan masalah
utama ujung-ujungnya deh ya
ujung-ujungnya bangsa tuh kalau IQ-nya
oke ya udah bisa nih melakukan berbagai
jadi problem solver semua orang jadi
better problem solver gitu kan ya itu
bisa. Nah, kalau gua punya alat yang 23
IQ points dan 11 bulan cuman ngalahin
Vietnam doang cincai cuy gitu. Asal
semuanya ya kan harus naikin rata-rata
ya kan. Kebayang sih lu one single
matrix doang misalnya gua pakai tapi IQ
pengertian gua luas ya. Jadi jangan
kalau dengar kata IQ cuman tes IQ itu
doang. Karena IQ nih nih statement yang
my boldest adalah IQ yang benar itu
meningkat. Significantly integritas
meningkat. I can say that. Gua berani
bilang gini. Integritas meningkat,
kejujuran, korupsi segala macam hilang,
etika lebih baik. Karena namanya
bermoral itu membutuhkan kompleksitas.
Kalau lo enggak tahu tindakan lo ini
merugikan orang lain, lu akan melakukan
itu.
Ya kan? Kalau lu enggak tahu, kalau lu
merugikan orang lain, orang lain
merugikan orang lain yang lain, orang
lain itu merugikan lu sendiri. Akhirnya
ujungnya bukan karena or anything ya,
tapi this is cause and effect aja.
Kebayang kan? Oke.
Lu merugikan orang lain, orang segist
hancur, akhirnya lu drop semua. Jadinya
untuk bisa mengerti bahwa ini merugikan
itu butuh kompleksitas pemikiran.
Apa yang lu omong itu sebetulnya pernah
gua bahas di video gua tentang teori
kontrak sosial Tom Hobes yang awal itu
di mana keadaan natural manusia itu kan
sebetulnya kan animalistik kan yang tadi
K bilang kan enggak ada yang ngatur.
Jadi kalau lu mau ngebunuh orang, mau
segala macam itu adalah hal biasa
melumrah. Tapi yang tadi kayak lu bilang
ketika itu menjadi kita semakin sadar,
semakin tahu, maka itu jadi kompleks.
Awalnya kan orang rasis kan biasa aja
kan kayak lu cina, lu hitam gitu. Tapi
setelah kita punya morally, etically
bahwa kita tahu itu salah ya kan itu
menjadi hal yang tabu gitu dan itu butuh
kompleksitas gitu.
Nah gini maksud gua gini bukan cuman
rasa kompleksitas itu datang dari
gara-gara ngerasa ini salah tapi
benar-benar ngelihat kausalitasnya.
Kalau gua gini orang gini gini
kalau gua melakukan A, A melakukan B, B
melakukan ini, ujung-ujungnya balik lagi
ke gua.
Hm.
Bisa ngelihat kompleksitas itu gitu.
I i.
So, yes. Number one, ada lu harus
berpikir melampaui batas ya. Nah, tapi
batas-batas itu adalah batas-batas yang
sebenarnya diciptakan oleh otak kita
sendiri, oleh nilai-nilai, oleh logika
mistika, oleh apapun itu loh, budaya lah
atau pendidikan yang salahlah atau
apapun itu. Ya, kalau bahasa setan
malaka, itulah penjara pikirannya,
right? Nah, kalau kita bisa melempa
batas membongkar penjara pikiran itu
dengan realitas yang lebih akurat, lu
bisa ngelihat masalah dengan jauh lebih
baik. Mana goal yang lebih penting, mana
goal yang lebih bigger picture-nya lebih
tuju. And all the engineering mindset to
actually being there, going there,
gitu. Oke. Nah, sekarang menjawab
pertanyaan Mars terakhir ya karena kita
sesi udah harus habis soal pribadi. H
ya. Soal pribadi ini gua punya nih
pendidikan gua informatika awalnya
hobing sebagai apa? Jalur engineering
gua lah gitu ya. jalur solving the
problem through engineering.
Habis itu gua belajar filsafat. Apa sih?
Filsafat itu itu metahaning ya. Jadi
basically filsafat itu yang gua
pelajarin itu ya metaing tuh apa ya?
Suatu zoom out terhadap segala keilmuan.
Oh
jadi peta ilmu itu di mana? Itu adalah
filsafat. Oh ini tuh ilmu ini di sini
ini letaknya di sini. Jadi bisa
memetakan dengan filsafat. Nah terakhir
antropologi ya. Kenapa ini gua mau ngjin
solving pendidikan Indonesia. Pendidikan
Indonesia itu terdiri dari ngerti
manusianya which is butuh antropologi
gitu kan. Ngerti caranya yang gua pilih
dengan teknologi which is IT-nya dan
filsafat untuk bisa ngelihat semua ilmu
ini jadi suatu ini
jadi lengkap tuh untuk jadi pendidikan
informatika ada, filsafatnya ada dan
antropologi untuk ng mansian.
Nah, ya setelah gua belajar
berantropologi,
antropologi itu nomor satu yang gua
pelajarin. Kapasitas manusia tuh gila
sebenarnya
per individual basis tuh gila banget.
Nah, cuman
kita berevolusi ya, berevolusi di zaman
yang scars apa ya? Scars tuh ee
kelangkaan gitu. ada ada scar city yang
tinggi. Nah, karena scar city yang
tinggi, orang-orang tuh harus dibuat
sadar akan perannya, sadar akan
tempatnya, sadar akan role-nya dan
segala macam. Dan itu dijadikan dalam
bentuk budaya.
Oh,
lu enggak boleh gini, lu enggak boleh
gitu, harus gini, harus gitu, segala
macam gini gini
penjara pikiran.
Yes.
Nah, itu semua jadi penjara pikiran loh
ya. Berbagai macam ya budaya itu yang
dalam bentuk kompleksnya logika mistika
yang kita kenal semua inilah gitu kan.
Nah, itu semua jadi penyab pikiran. Tapi
sebenarnya batasan-batasan apa?
Batasan-batasan aslinya ada enggak sih?
Enggak segitu terbatasnya ya. Batasan
fisika dan biologisnya ada L gitu. Tapi
itu bisa di-engineering. Kita sudah
punya medical system yang sudah canggih
gitu kan. Suplemen segala macam, diet
ini atau segala macam. Wah, banyaklah
yang bisa di-engineerin secara biologis,
secara fisikal segala macam. Kita sudah
punya teknologi yang bisa menjadi
ekstensi kita mencapai berbagai macam
hal ya kan. Mau pakai CBI segala macam
dengan correctly gitu kan. He makai
[tertawa]
makai AI dengan correctly ya itu semua
udah udah banyak alat-alat itu semua
tinggal seberapa. Nah ini yang paling
penting meta ya usernya
user
lu adalah lu adalah user dari diri lu.
Lu adalah user dari otak lo. Lu adalah
programmer dari diri lu sendiri. Bayang
enggak? Kalau lu belum bisa ngelihat
otak lu sendiri keterbatasan di mana dan
sebenarnya potensinya di mana, ya lu
enggak akan bisa makai dong.
Iya kan? Contoh misalnya siapa yang e I
don't know pakai software apa gitu
misalnya eh Excel deh gitu atau Google
Sheet atau whatever apa gitu. Lu tahu
enggak semua function-nya di mana? Engak
semua function enggak hafal kan yang lo
pakai cuman yang lu terbiasa itu-itu
lagi gitu kan. Yakinlah gua juga gitu
pasti gitu kan.
Nah lu bayangin kita terhadap otak kita
sebenarnya kayak gitu.
Oke
ya,
lu belum tahu batasan-batasannya gitu
loh. Nah, gue sebagai orang yang gua
enggak bisa bilang eksert, tapi gua
mendalami cukup lama gitu ya, mendalami
soal antropologi ya of course di situ
belajar neuroscience-nya, belajar
psychology-nya segala macam cara otak
bekerja lah gua ngelihat bahwa
gila sih ini gitu. Gila sebenarnya ke
apa potensi itu sebenarnya gila. Makanya
gua PD ini IQ segil SK PD gua gitu. The
main point is kita harus tahu batas kita
sampai mana baru apa ya bukan akumulate
tapi lebih ke harness batas tersebut
gitu.
Yes, harness that's the word. Oh,
jadi embrace apa yang ada di situ segala
macam dan yang membatasi tadi yang
menjarakkan lo itu tadi dengan segala
macam budaya segala macam lal ya lu
pecahin itu understanding bahwa lu punya
potensi yang gila ya udah ngelewatin
batasnya it's easier much easier jadi
sini kan kita lihat ada dua agensi ya
pertama kitanya keterbatasan lu untuk
melihat punya peta yang akuratnya untuk
lihat masalahnya nah ya udah dengan kita
ngerti potensi yang ada harness itu
kemudian lihat tentang realitas no
realitas yang beneran ada nih gimana dan
dari situ bisa ngelihat masalah-masalah
yang ada kita jadi fokus pada yang
penting-penting aja kalau bahasa Jones
YPPA ya. [tertawa] Nah,
gitu. Nah, itu bakal bisa jadi lebih
rapi, lebih enak, lebih cinc apa ya?
Cincai was the word gua gua enggak tahu
katanya. Tapi kalau gua gua sering cinc
lah ini gitu gitu loh ya. If you can see
ya dengan Zumat lebih oke. Alright.
Oke.
So far the conclusion for the lecture
today. Sharing today. [tepuk tangan]
Thank you so much. Semoga berguna.
Oke. So next ngapain kita? Sudah.
Oke
ya. Thank you ya.
Selamat datang.
Selamat datang.
Mau nyanyi lagu apa? [tertawa]
So, we start
y
dari permasalahan itu saya menawarkan
sebuah solusi kepada institusi perguruan
tinggi di Indonesia.
Apa yang diajarkan di kelas tidak
benar-benar melekat ke pikiran mereka
karena salah satu dominasi metode
presentasi ini sebagai metode
pembelajaran. Menurutku bentuk
pendidikan tinggi paling ideal adalah
pendidikan tinggi itu bisa menjadi
kanvas R&D bagi masyarakat untuk
menghasilkan valable output yang
dikolaborasikan oleh para ahli dan
mahasiswa.
Gua masih belum dapat kenapa yang lo
anggap masalah ini adalah masalah untuk
pendidikan tinggi.
Jadinya gue mempertanyakan ini orang
ngerti isinya enggak sih yang diomongin
atau lu emang terbiasa untuk
menghafalkan jargon-jargon lu pakai
supaya kita impress by your jargon itu
matriksnya itu enggak tepat sasaran
gitu. Nah, kalau kebohongan jadinya
kayak
sampai Bangsab dananya tadi kan coba
pakai gaya ngabers gitu. [tertawa]
Yeah.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

👨👩👧👦 Apa Sih 'Sosiologi' Itu Sebenarnya? #BelajardiRumah
Kok Bisa? · English

TEKS LHO FASE E _ BAHASA INDONESIA
Yunita Riyani · Indonesian

Geografi Kelas 12 | Konsep Wilayah dan Tata Ruang | Kurikulum Merdeka
Mufazpedia · English

9no Congreso de Ciencias de la Comunicación y Publicidad (USAP).
Campus TV · Spanish

Kaidah Penjumlahan
FLASH MATEMATIKA · English

Inglés sábado 18/07/2026
Postula oe! · English

KALIAN GAK AKAN NYANGKA, ANEHNYA KEJADIAN ASLI GUNUNG KAWI‼️- Mamat - Jamal Lentera Malam
Deddy Corbuzier · Indonesian

Tips & Trik Main PES di PS3 WAJIB LO TAHU!!
Hatta Games TV · Indonesian

Khutbah Jumat Habib Hadi Alwi Al-Kaff Bulan Safar yang Mulia
Perpustakaan Sabilillah · English

Mengapa Bangsa Eropa Harus Pergi Berlayar Mencari Tanah Baru? | Sejarah Pelayaran Eropa
Inspect History · English

F631-Hakikat Fisika dan Metode Ilmiah -Kelas 10 SMA
gprofis freddymul · Indonesian

we BINGED ALL of The Owl House...
Spilling The Milk · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.