0:34
Dikisahkan pada zaman dahulu
0:37
berdirilah sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan.
0:56
Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang jahat
0:59
bernama Prabu Dewata Cengkar.
1:21
Sang raja memiliki kebiasaan yang membuat
1:24
rakyat Medang Kamulan sangat ketakutan.
1:27
Yaitu menyantap manusia.
1:30
Tidak ada yang berani menentang keinginannya.
2:38
Suatu hari di tengah samudra,
2:41
seorang pemuda sedang berlayar
2:43
bersama kedua abdi setianya.
2:45
Pemuda itu bernama Aji Saka,
2:48
dan kedua abdinya bernama Dora dan Sembada.
2:54
Aji Saka berasal dari Bumi Majeti
2:57
akan tetapi ada beberapa yang menyebutkan
3:00
bahwa dia berasal Jambudwipa India.
3:04
Mereka pun berlayar menuju ke sebuah pulau,
3:07
bernama Jawadwipa yang terkenal kaya raya.
3:12
Karena itu Aji Saka tertarik untuk menjejakan kaki
3:53
" Pertanda apa ini !"
4:21
Setibanya mereka di pulau Jawa,
4:24
Aji Saka melanjutkan perjalanan dengan menembus
4:27
hutan belantara untuk mencari penduduk sekitar
4:30
guna mendapatkan informasi di mana letak desa
4:34
atau kerajaan terdekat karena tujuannya adalah
4:37
menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
4:49
Oleh warga setempat mereka diarahkan
4:51
untuk menuju ke sebuah kerajaan bernama
4:53
bernama Medhang Kamulan.
4:56
Berangkatlah mereka menuju kerajaan itu.
5:53
Ketika sampai di pegunungan Kendheng
5:56
mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.
6:09
Di tempat itu Aji Saka menitipkan
6:11
keris pusakanya kepada Sembada.
6:14
Sambil berpesan untuk selalu menjaganya
6:17
dan jika nanti ada yang memintanya
6:20
jangan pernah diserahkan kecuali Aji Saka sendiri
6:24
yang datang untuk mengambilnya.
6:26
Sembada pun dengan sigap menyanggupinya.
6:52
Perjalanan menuju Medhang Kamulan dilanjutkan
6:55
oleh Aji Saka bersama Dora.
7:10
Sesampainya di negeri Medhang mereka tiba di sebuah desa
7:14
dan bertemu dengan seorang janda tua
7:17
bernama Nyai Sengkaren.
7:19
Setelah memperkenalkan diri serta berbincang-bincang
7:23
Nyai Sengkaren mengetahui tujuan Aji Saka.
7:26
Akhirnya mereka diajak pulang oleh Nyai Sengkaren.
7:29
Karena selama ini Nyai hidup sebatang kara.
7:35
Kini keduanya telah di anggap seperti anak sendiri.
7:39
Sementara Aji Saka dan Dora merasa senang
7:42
karena mendapat tempat tinggal di desa tersebut.
7:48
Selama tinggal di desa itu
7:50
mereka berdua rajin membantu pekerjaan rumah.
7:52
Selain itu mereka juga sering bergaul
7:55
dengan para penduduk desa.
7:57
Keberadaaan keduanya juga disenangi oleh warga
8:00
karena budi pekerti yang santun.
8:04
Suatu ketika saat berbincang dengan salah satu warga
8:07
Aji Saka memuji keadaan negeri Medhang Kamulan,
8:11
yang begitu subur dan makmur.
8:14
Namun hal berbeda nampak dari raut wajah
8:17
warga tersebut ketika menjawab perkataan Aji saka.
8:22
“ Ya seperti inilah keadaanya tuan.
8:24
Akan tetapi kami hidup dalam bayang-bayang ketakutan.
8:28
Bahkan sampai ada warga yang mengungsi
8:31
dan meninggalkan desa karena raja yang kejam.
8:35
“ Negeri ini diperintah oleh prabu Dewata Cengkar nak!
8:39
Seorang raja jahat yang memiliki kebiasaan aneh,
8:43
tiap hari dia meminta kepada patihnya
8:46
agar di bawakan manusia untuk disantap.”
8:50
Aji Saka memahami ketakutan warga
8:53
karena sewaktu-waktu prajurit kerajaan
8:56
bisa datang dan membawa mereka
8:59
kepada sang raja untuk dijadikan santapan.
9:05
Hingga suatu hari terjadilah kepanikan.
9:08
Banyak warga yang berbondong-bondong pergi
9:10
meninggalkan desa karena tersiar kabar
9:13
bahwa prajurit dari kerajaan akan datang
9:16
untuk mencari orang yang bisa
9:18
dijadikan santapan sang prabu. Melihat hal itu Aji Saka
berinisiatif mengajukan diri untuk menjadi santapan
menggantikan warga desa.
9:21
Tak perlu menunggu waktu lama
9:23
patih bersama para prajuritnya telah tiba di desa itu.
9:27
Mereka keheranan karena desa itu nampak begitu sepi.
9:30
Tak ada seorangpun disana.
9:38
Patih memerintahkan seluruh prajuritnya
9:40
untuk mencari setiap sudut disemua tempat.
9:43
Akan tetapi hasilnya nihil,
9:46
mereka tidak menemukan siapapun.
10:00
Aji Saka berinisiatif mengajukan diri
10:03
untuk menjadi santapan menggantikan warga desa.
10:06
Semula Nyai Sengkaren melarang Aji Saka,
10:10
Akan tetapi dia yakin bahwa sanggup
10:13
menumpas angkara murka di tempat itu.
10:19
“ Bawalah hamba saja patih,
10:21
hamba kasihan melihat warga tak berdosa
10:23
menjadi korban kemungkaran prabu Dewata Cengkar.
10:28
Hamba siap dan rela untuk dijadikan santapan sang prabu.”
10:34
Melihat ketulusan Aji Saka,
10:36
sang patih sebenarnya tidak rela menjadikannya santapan
10:40
bagi Prabu Dewata Cengkar.
10:42
Akan tetapi karena Aji Saka memaksa
10:45
akhirnya patih membawanya pergi menuju istana.
11:00
Dikerajaan sang prabu mulai gusar
11:02
karena patih tidak kunjung datang.
11:09
Dia berfikir apakah warga yang biasa
11:12
dijadikan santapan telah habis.
11:15
Dia pun bergumam jika nanti setidaknya
11:18
ada satu manusia yang bisa disantap
11:21
akan dituruti permintaanya.
11:54
Saat mereka tiba di istana.
11:56
Prabu Dewata Cengkar senang karena patih telah tiba
12:08
“ Siapa namamu anak muda ?
12:10
Aku dengar dari patih engkau siap
12:13
menjadi santapanku hari ini ? “
12:16
“ Maaf baginda prabu Dewata Cengkar yang agung.
12:20
Sebelum hamba menjadi makanan baginda.
12:22
Izinkan hamba meminta satu hal. “
12:36
" Cepat katakan, apa keinginanmu ?
12:40
Aku akan mewujudkannya.
12:42
Aku sudah sangat lapar sekali."
12:44
“ Hamba hanya ingin sebidang tanah
12:46
seluas kain yang hamba bawa ini! ”
12:52
" Hanya itu yang kau inginkan ?
12:57
Baiklah ambil saja jika kau mau! ”
13:02
Aji Saka segera membuka kain yang dibawanya
13:05
dan meminta Prabu Dewata Cengkar
13:08
memegangi ujung kain.
13:09
Sang prabu menurutinya dengan senang hati.
13:18
Namun ajaibnya saat mereka sedang mengukur tanah
13:22
sesuai permintaan Aji Saka,
13:24
kain itu terus memanjang hingga melebihi
13:27
kerajaan Prabu Dewata Cengkar.
13:41
Kain itu membentang dari istana,
13:44
melewati perkampungan penduduk,
13:52
bahkan sampai ke lembah ngarai.
13:59
Sang prabu terus melangkah mundur
14:01
mengulur kain Aji Saka.
14:03
Semakin lama semakin jauh
14:05
dan tiada habisnya hingga sampai
14:08
di tebing curam tepi laut selatan.
14:11
Menyadari keanehan itu,
14:12
Prabu Dewata Cengkar sangat marah.
14:14
Dia baru mengetahui niat yang sebenarnya
14:17
dari Aji Saka yaitu untuk mengakhiri kekuasaanya
14:21
atas kerajaan Medhang Kamulan.
14:24
Namun dengan kesaktian Aji Saka,
14:26
Kain yang membentang itu
14:28
tiba-tiba melilit tubuh Prabu Dewata Cengkar.
14:36
Lilitan itu sangat kuat hingga tubuh sang prabu
14:39
yang besar bagaikan raksasa
14:41
tidak mampu bergerak sedikit pun.
14:48
Kemudian kain itu disentakan oleh Aji Saka.
14:57
Seketika tubuh Prabu Dewata Cengkar
14:59
terlempar ke dalam Laut Selatan yang berombak besar.
15:06
Dengan sekejap tubuh raksasa itu
15:08
hilang ditelan ombak yang ganas.
15:12
Atas keberhasilan Aji Saka
15:14
menyingkirkan Prabu Dewata Cengkar,
15:16
rakyat Medhang Kamulan bersorak-sorai.
15:18
Mereka bahagia karena terbebas
15:21
dari raja yang suka menyantap manusia.
15:36
Akan tetapi tanpa sepengetahuan Aji Saka,
15:39
Prabu Dewata Cengkar ternyata masih
15:42
bertahan di dalam lautan.
15:53
Dengan ilmunya dia berubah menjadi
15:56
buaya putih dan menghilang entah kemana.
16:05
Aji Saka kini dinobatkan sebagai raja di Medang Kamulan.
16:10
Dia menjadi raja yang baik hati dan bijaksana.
16:15
Medang Kamulan pun mengalami masa kejayaannya
16:18
pada saat pemerintahannya.
16:23
Suatu ketika Prabu Aji Saka
16:25
teringat akan keris pusaka yang dia titipkan
16:31
tolong kau ambilkan keris yang ku titipkan
16:34
pada Sembada di pegunungan Kendheng
16:36
tempat kita beristirahat dahulu.”
16:38
" Baik Prabu Aji Saka . Hamba laksanakan “
16:41
Dora akhirnya pergi untuk menemui Sembada.
16:57
Setibanya di Gunung Kendheng,
16:58
Dora menyampaikan pesan Aji Saka
17:01
untuk mengambil keris pusaka.
17:04
aku diutus paduka untuk mengambil keris.
17:07
Dimanakah keris itu berada ? “
17:11
Aku tidak bisa menyerahkan kepadamu
17:13
atau orang lain kecuali Prabu Aji Saka sendiri
17:16
yang datang untuk mengambilnya. "
17:18
“ Jadi kau tidak mempercayaiku ?
17:20
Aku benar-benar sudah diberikan perintah
17:24
aku tetap memegang teguh amanat paduka
17:27
walau bagaimanapun keadaanya. “
17:29
“ Sepertinya kau memang harus dipaksa Sembada !
17:34
karena perintah Prabu Aji Saka
17:35
adalah membawa pulang keris pusaka itu. “
18:37
Sementara itu di istana Medang Kamulan,
18:40
Ada sesuatu yang mengganjal
18:42
dalam benak sang prabu.
18:45
Dan tidak seperti biasanya
18:47
Dora pergi begitu lama.
18:49
Akhirnya prabu Aji Saka
18:51
memutuskan pergi menyusul kedua abdinya
18:54
di pegunungan Kendheng.
18:58
dia merasakan ada hal buruk yang sedang terjadi.
19:04
Sesampainya di tempat tujuan,
19:06
Aji Saka terkejut melihat Dora
19:08
dan Sembada tergeletak ditanah tak bernyawa.
19:12
Terlihat bekas pertarungan yang sangat dahsyat
19:15
terjadi di tempat itu.
19:16
Rupanya mereka bertarung hingga tewas
19:19
demi memegang amanat yang mereka emban.
19:24
Sungguh kalian berdua adalah
19:26
orang-orang yang sangat setia kepadaku.”
19:29
Untuk mengabadikan kesetiaan keduanya.
19:32
Prabu Aji Saka menuliskan sesuatu
19:38
Ha Na Ca Ra Ka
“ Ada dua utusan setia.”
19:40
Da Ta Sa Wa La
“ Saling berselisih pendapat dan saling bertarung.”
19:42
Pa Dha Jaya Nya
“ Sama-sama kuat dan Tangguh.”
19:44
Ma Ga Ba Tha Nga
“ Akhirnya tewas bersama.”
19:47
Tulisan Aji Saka pada batu tersebut
19:49
menjadi asal usul huruf jawa
19:51
atau dikenal sebagai Aksara Jawa.