Full Transcript

·YouTLDR

PERANG SHIFFIN : Ali Bin Abi Thalib Vs Muawiyah Bin Abu Sufyan Awal Mula Perpecahan Dalam Islam

22:26IndonesianTranscribed Jul 26, 2026
0:00

Assalamualaikum warahmatullahi

0:04

wabarakatuh. Perang

0:06

Syifin. Sebuah peristiwa saat umat Islam

0:08

berdiri saling berhadapan bukan di

0:11

hadapan musuh, tapi di hadapan saudara

0:15

sendiri. Di medan itu, darah tumpah

0:18

bukan karena

0:19

kekufuran, tapi karena dua kebenaran

0:22

yang tak lagi bisa duduk bersama. Perang

0:25

Syifin bukan sekadar kisah lama. Ia

0:28

adalah titik awal dari pecahnya barisan

0:30

umat. Saat mushaf diangkat di ujung

0:33

tombak dan fitnah mulai berbicara lebih

0:36

nyaring daripada nasihat. Kita membahas

0:39

perang Syifin. Karena untuk memahami

0:41

luka hari ini, kita harus kembali ke

0:43

tempat di mana luka itu pertama kali

0:46

terbuka. Perang ini bukan tentang Islam

0:49

melawan kekufuran. Bukan pula tentang

0:51

iman melawan kemunafikan. Yang terlibat

0:54

dalam perang ini adalah dua sahabat Nabi

0:57

Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi.

1:00

Muawiyah bin Abi Sufyan, penulis wahyu

1:02

dan gubernur Syam. Keduanya adalah tokoh

1:04

besar dalam sejarah Islam. Keduanya

1:07

beriman. Keduanya berjuang bersama Nabi

1:09

Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

1:11

Tapi sejarah mencatat mereka pernah

1:14

berhadapan di medan perang. Di tempat

1:16

yang kelak dikenal sebagai Syifin

1:17

ahlusunah wal jamaah tidak menyalahkan

1:19

salah satu secara mutlak. Mereka tidak

1:22

memihak dengan hawa nafsu, tapi menilai

1:24

dengan ilmu dan adab terhadap para

1:26

sahabat. Mereka meyakini bahwa apa yang

1:29

terjadi adalah hasil dari ijtihad. Nabi

1:32

Muhammad sallallahu alaihi wasallam

1:35

bersabda, "Jika seorang hakim berijtihad

1:38

dan benar, maka baginya dua pahala. Jika

1:41

salah, maka baginya satu pahala." Hadis

1:44

riwayat Bukhari dan Muslim. Maka Ali bin

1:47

Abi Thalib dipandang benar dan mendapat

1:50

dua pahala. Sedangkan Muawiyah meski

1:53

ijtihadnya dianggap keliru, tetap

1:55

mendapat satu pahala. Tapi di luar semua

1:58

itu, umat tidak hanya menanggung

2:01

perhitungan hukum. Umat menanggung

2:03

perpecahan. Yang tersisa dari perang itu

2:06

adalah luka. Luka yang membelah umat.

2:09

Luka yang belum sembuh sampai hari ini.

2:12

Karena saat pedang mulai diangkat dan

2:14

mushaf belum dibuka. Kebenaran menjadi

2:17

samar, kepercayaan mulai retak, dan umat

2:20

Islam mulai saling curiga. Perang belum

2:23

dimulai, tapi arah sejarah sudah mulai

2:25

berubah. Kecurigaan mulai tumbuh. Dan di

2:29

antara barisan yang pernah bersatu di

2:31

bawah panji Nabi Muhammad sallallahu

2:33

alaihi wasallam, retakan mulai terlihat.

2:37

Semua bermula dari satu peristiwa.

2:39

Wafatnya Utsman bin Affan.

2:42

Khalifah ketiga itu bukan gugur di medan

2:46

jihad, bukan mati di tangan musuh luar,

2:49

melainkan terbunuh oleh orang-orang yang

2:51

mengaku muslim yang datang dengan alasan

2:54

menuntut keadilan. Ia wafat dalam

2:57

keadaan membaca mushaf dan darahnya

2:59

menai lembaran yang dibacanya. Beberapa

3:02

riwayat menyebut ayat terakhir yang

3:04

disentuh darah Utman adalah dari Quran

3:07

surarah.

3:09

Cukuplah Allah bagimu. Dialah

3:11

sebaik-baik

3:12

pelindung. Kekosongan kekuasaan setelah

3:15

wafatnya Utsman membuka jalan bagi

3:18

kebingungan. Kota Madinah tidak lagi

3:20

menjadi pusat ketenangan. Para

3:23

pemberontak masih ada di dalamnya dan

3:25

masyarakat umum tak tahu harus berpihak

3:27

ke mana. Di tengah kekacauan itu, satu

3:29

nama disebut-sebut Ali bin Abi Thalib.

3:33

Sosok yang dikenal karena keilmuannya,

3:36

keberaniannya, dan kedekatannya dengan

3:38

Nabi Muhammad sallallahu alaihi

3:41

wasallam. Awalnya ia menolak, tapi

3:43

tekanan dari masyarakat membuatnya

3:46

menerima baiat sebagai khalifah. Ali

3:49

dibaiat bukan dalam suasana damai. Ia

3:52

memimpin dalam kondisi negara yang

3:54

hampir pecah dan itu membuat langkah

3:58

pertamanya tidak mudah. Di antara

4:00

barisan pendukungnya, ada yang pernah

4:02

terlibat dalam pembunuhan

4:04

Utsman. Ada yang hanya diam saat itu

4:07

terjadi. Dan ada pula yang tak tahu

4:10

siapa

4:11

pelakunya. Masalahnya para pembunuh itu

4:14

tidak bergerak sebagai satu kelompok.

4:17

Mereka menyebar, membaur, dan menghilang

4:20

dalam keramaian. Jika langsung

4:22

menegakkan kisas tanpa kejelasan hukum

4:25

dan saksi yang adil, maka itu bukan

4:28

keadilan. itu hanya akan melahirkan

4:30

perang saudara baru. Maka Ali memilih

4:34

menunda. Ia ingin menyatukan kembali

4:36

umat, ingin menata kembali pemerintahan.

4:40

Tapi pilihan itu tidak diterima semua

4:43

pihak. Dari Syam, Muawiyah bin Abi

4:46

Sufyan menyatakan penolakannya untuk

4:48

berbaiat. Ia bukan sahabat biasa. Ia

4:51

adalah kerabat Utsman. Ia juga gubernur

4:55

Syam yang telah ditunjuk sejak masa Umar

4:57

bin Khattab.

4:59

Ia memiliki pasukan, pengaruh, dan

5:02

kedudukan. Penolakannya bukan karena

5:05

ingin menjadi

5:06

khalifah, tapi karena satu hal menuntut

5:10

kisas atas darah Utsman. Baginya, selama

5:14

para pelaku belum diadili, maka tidak

5:17

ada baiat. Ia menulis surat kepada Ali

5:20

meminta ditegakkannya qisasy. Tapi surat

5:23

itu dibalas dengan penjelasan bahwa

5:25

penegakan hukum membutuhkan syarat.

5:28

Harus jelas pelakunya, harus ada

5:30

pengadilan, harus ada

5:32

stabilitas. Ali tahu keadilan yang

5:35

tergesa hanya akan melahirkan

5:37

ketidakadilan baru. Ia tidak ingin darah

5:41

ditumpahkan atas dasar dugaan. Tapi dari

5:44

Syam, jawaban itu dianggap alasan. Dan

5:48

dari situlah konflik berkembang. Surat

5:50

demi surat dikirim, utusan demi utusan

5:53

diutus, tapi masing-masing tetap pada

5:56

pendiriannya. Ali tidak bisa mencabut

5:58

pedang kepada rakyatnya sendiri yang

6:01

tidak terbukti secara hukum membunuh

6:04

Utsman. Muawiah tidak bisa menerima

6:06

pemimpin yang membiarkan pembunuh Utsman

6:09

bebas. Dalam kitab albidayah wan

6:12

nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa

6:15

Ali mengambil langkah paling bijak untuk

6:17

mencegah pertumpahan darah di awal. Tapi

6:20

kondisi umat saat itu sudah tidak siap

6:23

untuk mendengar. Kebenaran yang lambat

6:26

seringkiali dianggap sebagai kelemahan

6:28

dan kecurigaan tumbuh di antara

6:31

barisan. Masalah lain muncul. Sebagian

6:34

pasukan Ali ternyata bersimpati pada

6:36

pemberontak. Sebagian lainnya justru

6:38

ingin segera menyerang Syam. Kepercayaan

6:42

mulai goyah. Di sisi lain, Syam sudah

6:45

mulai mempersiapkan pasukan. Muawiyah

6:48

belum menyatakan perang, tapi penolakan

6:51

itu sudah cukup untuk memicu barisan

6:53

Kufah bersiap. Maka dua e pusat kekuatan

6:58

umat Islam mulai bergerak. Ali dari

7:01

Kufah, Muawiyah dari Syam. Keduanya

7:04

membawa orang-orang terbaik. Keduanya

7:06

ingin memperbaiki keadaan. Tapi jalur

7:09

yang mereka tempuh berbeda. Dalam Quran

7:12

surat Alhujurat ayat 9 disebutkan, "Dan

7:15

jika dua golongan dari orang-orang

7:17

mukmin berperang, maka damaikanlah

7:20

antara keduanya. Jika salah satu dari

7:22

mereka melampaui batas maka perangilah.

7:25

Yang melampaui batas itu sampai kembali

7:28

kepada perintah Allah."

7:30

Ayat ini diturunkan bukan untuk

7:31

menghakimi siapa yang kafir, tapi untuk

7:34

mengingatkan bahwa dua kelompok yang

7:36

saling bertikai tetap berada dalam

7:38

lingkup iman. Diplomasi berhenti di

7:41

jalan, dan keyakinan pribadi mulai

7:44

mengalahkan usaha untuk memahami, maka

7:47

dua jalur yang berbeda pun bertemu di

7:50

satu titik, di satu tempat, di satu nama

7:53

yang kelak tidak akan dilupakan sejarah.

7:56

Syifin Ali bin Abi Thalib memulai

8:00

langkahnya dari Kufah. Ia membawa amanah

8:03

sebagai khalifah yang sah. Ia tidak

8:06

membawa pasukan untuk menundukkan

8:08

rakyatnya, tapi untuk menjaga marwah

8:11

kepemimpinan. Di sekelilingnya ada

8:13

sahabat-sahabat Nabi yang setia. Di

8:16

antaranya Ammar bin Yasir Malik Alasar

8:20

dan Abdullah bin Abbas. Orang-orang ini

8:22

tahu Ali tidak mencari perang. Tapi

8:24

mereka juga sadar jika fitnah dibiarkan,

8:27

umat akan lebih hancur. Ali tidak

8:29

membentuk pasukan dalam semalam. Ia

8:32

membangun komando dengan hati-hati. Ia

8:34

tidak ingin kekuatan yang lepas kendali.

8:37

Ia ingin keadilan ditegakkan tanpa

8:39

mengorbankan persatuan. Tapi keadaan tak

8:43

lagi sederhana. Dari Syam, Muawiyah bin

8:45

Abi Sufyan juga bersiap. Ia bukan orang

8:48

asing bagi umat Islam.

8:50

Ia pemimpin wilayah penting dan

8:53

pengaruhnya mengakar. Ia tidak

8:56

mengangkat dirinya sebagai khalifah,

8:58

tapi ia mengangkat satu bendera menuntut

9:01

Kisas atas kematian Utsman. Pasukan Syam

9:05

terbentuk dengan rapi. Ratusan ribu

9:08

orang berkumpul bukan untuk memberontak,

9:11

tapi untuk membela kehormatan darah

9:13

Utsman. Setiap langkah mereka membawa

9:16

keyakinan bahwa mereka menolong yang

9:18

teraniaya.

9:19

Setiap persenjataan mereka dibalut tekad

9:22

untuk memperjuangkan kebenaran yang

9:25

mereka pahami. Dari Kufah dan dari Syam,

9:27

dua arus kekuatan itu bergerak. Keduanya

9:30

menuju tempat yang sama, sebuah dataran

9:33

di tepi sungai Eufrat, namanya

9:37

Shifin. Tempat ini tidak pernah istimewa

9:41

sebelumnya. Tapi setelah itu ia akan

9:44

menjadi saksi sejarah yang tak

9:46

terhapuskan.

9:48

Sebelum pertempuran Ali dan Muawiyah

9:51

masih saling mengirim utusan. Surat

9:54

ditukar. Kalimat demi kalimat berusaha

9:57

memperjelas niat masing-masing. Tapi

9:59

setiap penjelasan justru menambah

10:02

kecurigaan. Ali meminta Muawiyah

10:04

berbayat. Ia menjelaskan bahwa darah

10:07

Utsman tidak bisa dituntut tanpa proses

10:10

yang benar. Ia tidak bisa menebas

10:12

sembarang orang hanya untuk memuaskan

10:14

dendam politik. Sebaliknya, Muawiyah

10:16

meminta satu hal, tangkap pembunuh

10:19

Utsman terlebih dahulu. Setelah itu baru

10:23

akan ada pembicaraan soal baiat. Tapi

10:26

Ali tahu siapa yang harus ditangkap

10:29

belum

10:30

jelas. Mereka tersebar, membaur, bahkan

10:34

sebagian menyusup ke barisan pasukannya.

10:38

Dalam kitab albidayah wan nihayah, Ibnu

10:40

Katsir mencatat bahwa upaya damai masih

10:43

terus dilakukan bahkan menjelang

10:44

hari-hari terakhir. Masih ada harapan

10:47

bahwa darah tidak harus tumpah, tapi

10:50

suara dari belakang barisan terlalu

10:52

bising. Ada kelompok yang tidak

10:54

menginginkan damai. Mereka tidak mencari

10:57

keadilan mereka ingin kekacauan tetap

11:00

hidup. Fitnah yang menyebar lebih cepat

11:03

daripada pesan-pesan damai. Dan dari

11:05

fitnah itu lahir ketegangan yang tak

11:08

terbendung. Ali tetap mengedepankan

11:10

musyawarah. Tapi sebagian pasukannya

11:12

mulai tak sabar. Mereka merasa Syam

11:15

menghina kekhalifahan. Mereka merasa

11:17

dikhianati oleh sesama Muslim. Di sisi

11:21

lain, pasukan Muawiyah juga terbangun

11:22

oleh amarah. Mereka tidak bisa menerima

11:25

seorang pemimpin yang dianggap

11:26

melindungi para pembunuh Utsman. Kedua

11:29

belah pihak merasa benar. Keduanya

11:32

merasa membela Islam. Tapi dalam keadaan

11:35

seperti ini, kebenaran tidak lagi

11:38

bersih. Ia terhalang kabut opini. Ketika

11:42

dua pihak sama-sama yakin membela

11:44

kebenaran dan tidak lagi percaya satu

11:47

sama lain, maka medan perang menjadi

11:49

satu-satunya tempat mereka berbicara.

11:52

Maka pedang mulai diasah, perisai mulai

11:55

disiapkan, pasukan mulai berbaris,

11:57

aba-aba belum terdengar, tapi pandangan

12:00

mata sudah saling menusuk. Dan sejarah

12:03

sedang bersiap mencatat sesuatu yang

12:05

tidak akan pernah mudah dibaca oleh

12:08

generasi setelahnya. Ali tidak menarik

12:11

diri, Muawiyah tidak mengalah.

12:14

Di tengah dataran Syifin, dua pasukan

12:17

Islam berdiri saling

12:19

berhadapan. Keduanya pernah salat

12:21

berjamaah di belakang Nabi Muhammad

12:23

sallallahu alaihi wasallam. Keduanya

12:26

pernah berjihad melawan musuh yang sama.

12:30

Tapi kini mereka harus memilih diam atau

12:32

saling menyerang. Beberapa sahabat masih

12:35

mencoba mencegah. Mereka mengingatkan

12:38

sabda Nabi, "Jangan kembali kafir

12:40

sepeninggalku. Sebagian kalian memenggal

12:43

kepala sebagian yang lain." Hadis

12:46

riwayat Bukhari. Tapi suara itu

12:48

tenggelam di antara derap kaki pasukan.

12:51

Tidak ada yang menginginkan pertumpahan

12:53

darah, tapi tidak ada yang bisa

12:55

menghentikannya. Karena saat keyakinan

12:58

sudah menjadi kaku, maka dialog tidak

12:59

lagi cukup. Dua pasukan yang saling

13:02

berhadapan di Shifin tak lagi mampu

13:04

mundur. Perundingan gagal, utusan sudah

13:07

tak dipercaya, surat tak lagi dibaca.

13:10

Maka perintah bergerak turun dari

13:12

masing-masing komando. Dan untuk pertama

13:14

kalinya dalam sejarah Islam, pasukan

13:16

muslim mengangkat pedang terhadap

13:18

pasukan muslim lainnya.

13:21

Hari pertama darah mulai tumpah. Bukan

13:25

dari pasukan Romawi, bukan dari kaum

13:27

musyrik, tapi dari sesama umat yang

13:30

mengucap kalimat yang sama, sujud ke

13:32

arah kiblat yang sama, dan menyebut nama

13:34

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam

13:37

di setiap doa mereka. Pagi itu denting

13:40

pedang tidak bisa dibedakan dari takbir.

13:42

Derap kuda tak bisa dipisah dari seruan

13:45

jihad. Tapi jihad ini bukan lagi melawan

13:47

kekufuran. Ini adalah pertarungan antara

13:50

dua pihak yang sama-sama merasa

13:53

benar. Hari kedua, korban berjatuhan

13:56

lebih banyak. Barisan pasukan Ali

13:59

bertahan dengan keyakinan bahwa mereka

14:01

memegang kebenaran. Di sisi lain,

14:04

pasukan Muawiyah berperang dengan

14:06

semangat membela kehormatan Utman bin

14:08

Affan. Tak ada yang mengaku menyerang

14:11

duluan, tapi setiap tebasan mengarah ke

14:14

dada saudaranya sendiri. Dalam catatan

14:17

sejarah, tidak ada yang bisa memastikan

14:19

siapa yang lebih dulu kehilangan

14:21

kendali. Tapi di Medan Shifin tidak ada

14:24

ruang bagi keraguan. Yang ragu akan

14:27

tumbang lebih

14:29

dulu. Hari ketiga, suasana berubah

14:31

menjadi kelelahan kolektif. Tapi

14:34

pertumpahan darah belum berhenti. Dan di

14:37

tengah medan yang menghitam oleh debu

14:38

dan darah, seorang sahabat Nabi gugur,

14:42

Ammar bin Yasir. Ia gugur di pihak Ali.

14:45

Dan kabar kematiannya mengguncang

14:48

pasukan. Sebab Nabi Muhammad sallallahu

14:51

alaihi wasallam pernah bersabda, "Ammar

14:54

akan dibunuh oleh kelompok yang

14:56

durhaka." Hadis riwayat Muslim. Sabda

15:00

itu dulu mungkin hanya dianggap sebagai

15:02

peringatan. Tapi ketika tubuh Amar

15:05

jatuh, isyarat itu menjadi nyata.

15:08

Pasukan Ali mulai yakin mereka di pihak

15:11

yang benar. Jika Amar gugur di barisan

15:14

mereka, maka lawan mereka adalah

15:17

kelompok durhaka. Tapi keyakinan itu tak

15:19

serta-merta memberi kemenangan. Karena

15:22

kekuatan di lapangan tidak hanya

15:24

ditentukan oleh kebenaran, tapi juga

15:27

oleh strategi, daya tahan, dan

15:29

kepercayaan diri. Di sisi lain, pasukan

15:32

Muawiyah mulai goyah. Tapi justru di

15:35

saat itu satu manuver muncul. Mushaf

15:38

diangkat di ujung tombak. Dari seluruh

15:40

arah lembaran-lembaran Al-Quran

15:43

dikibarkan bukan sebagai tanda

15:45

kemenangan, tapi sebagai ajakan untuk

15:48

berhenti. Satu isyarat damai. Tapi bagi

15:52

sebagian orang itu adalah siasat.

15:55

Sebagian pasukan Ali melihat itu sebagai

15:57

pengalihan. Mereka menolak berhenti.

16:00

Tapi sebagian yang lain merasa mushaf

16:03

tidak boleh diabaikan. Di sinilah

16:05

perpecahan terjadi bukan antara dua

16:08

pasukan, tapi di dalam satu barisan. Ali

16:12

mencoba menjaga kendali, tapi suaranya

16:14

tenggelam dalam perdebatan. Yang satu

16:16

berkata, "Jangan tertipu. Ini hanya cara

16:19

untuk menghentikan kekalahan mereka."

16:22

Yang lain menjawab, "Jika kita terus

16:24

menyerang, kita lebih buruk dari mereka.

16:27

Karena kita mengabaikan Alquran." Ali

16:30

tahu mushaf itu diangkat bukan karena

16:33

niat tulus, tapi ia tidak bisa memaksa

16:35

semua orang untuk percaya padanya.

16:37

Pasukannya mulai ragu. Sebagian dari

16:39

mereka memaksa Ali menerima tahkim.

16:42

Sebuah jalan tengah berupa arbitrase,

16:45

perundingan di luar medan perang. Ali

16:47

menolak, tapi suara penolakan tak lebih

16:50

kuat dari desakan pasukannya sendiri.

16:52

Akhirnya Ali setuju, tapi dalam hatinya

16:56

ia tahu ini bukan perdamaian. Ini adalah

16:59

jebakan. Karena tahkim yang dimaksud

17:01

bukan musyawarah, tapi panggung baru.

17:04

Bukan untuk menyelesaikan konflik, tapi

17:06

untuk mengatur ulang kekuasaan. Tapi

17:08

babak baru dari fitnah yang lebih dalam.

17:11

Ali bin Abi Thalib akhirnya menerima

17:14

tahkim bukan karena meyakininya sebagai

17:16

solusi, tapi karena desakan dari

17:19

pasukannya sendiri yang terbelah. Ia

17:21

tahu keputusan itu tidak ideal, tapi

17:24

dalam kekacauan bahkan pilihan yang

17:27

buruk bisa terlihat sebagai satu-satunya

17:29

jalan

17:30

keluar. Dua perwakilan ditunjuk dari

17:33

pihak Ali Abu Musa

17:36

Al-As'ari, seorang sahabat yang dikenal

17:38

lembut dan tidak suka konfrontasi. Dari

17:41

pihak Muawiyah, Amr bin

17:44

Asorikus cerdik, ahli retorika, dan

17:48

sangat berpengalaman dalam urusan.

17:50

Kesepakatan awalnya tampak

17:53

sederhana. Kedua pihak setuju untuk

17:55

mencabut klaim kekuasaan lalu

17:58

menyerahkan urusan kepemimpinan kepada

18:00

umat. Ini terlihat seperti langkah

18:02

menuju Islam. Tapi di balik meja

18:04

perundingan, sesuatu yang lain sedang

18:07

disusun. Abu Musa dengan keluguannya

18:10

benar-benar mengira bahwa lawannya akan

18:12

bersikap jujur. Tapi Amr bin Ash datang

18:15

dengan rencana. Ketika saatnya deklarasi

18:18

tiba, Abu Musa bicara lebih dulu. Ia

18:21

menyatakan, "Aku mencabut Ali dari

18:23

kepemimpinan sebagaimana aku mencabut

18:25

cincin dari jariku." Lalu ia menoleh

18:28

kepada Amr bin Ash. Giliran Amr bicara,

18:31

tapi bukan kalimat damai yang keluar. Ia

18:34

justru berkut menetapkan Muawiyah

18:37

sebagai pemimpin sebagaimana Abu Musa

18:39

mencabut Ali dari kepemimpinan. Abu Musa

18:42

terdiam. Ia sadar dirinya diperdaya.

18:46

Tahkim berubah menjadi tipu daya, Ali

18:48

murka. Tapi lebih dari itu, kerusakan

18:51

sudah terjadi. Umat sudah semakin

18:54

bingung. Suara yang tadinya memaksa

18:56

untuk berdamai kini membisu. Sebagian

18:59

justru berbalik arah. Kelompok Khawarij

19:02

yang sebelumnya mendesak Ali untuk

19:04

menerima tahkim, kini mengkafirkan Ali

19:06

karena menerima tahkim. Fitnah

19:08

berkembang cepat. Apa yang dimulai

19:11

sebagai upaya musyawarah berubah menjadi

19:13

tuduhan, pengkhianatan, dan pemecahan.

19:16

Ali kembali ke Kufah, tapi kekuatannya

19:19

melemah. Legitimasi yang sebelumnya kuat

19:22

kini mulai goyah. Di saat yang sama,

19:25

kelompok Khawarij mulai bergerak

19:27

sendiri. Mereka menyebar, menyerang

19:30

siapa saja yang berbeda pandangan.

19:33

Mereka menganggap seluruh pihak telah

19:35

menyimpang, termasuk Ali sendiri. Dan

19:37

dari kelompok inilah muncul satu orang

19:40

yang kelak mencatatkan sejarah

19:42

kelam. Di pagi hari yang sunyi dalam

19:45

perjalanan menuju masjid, Ali bin Abi

19:47

Thalib ditikam. Pelakunya, anggota

19:50

Khawarij Ali wafat. Dunia Islam

19:52

kehilangan salah satu tokoh paling

19:54

mulia. Di sisi lain, Muawiyah menguat.

19:57

Ia akhirnya mengambil alih kekuasaan

19:59

secara de facto. Tidak melalui

20:01

penunjukan syura, tidak melalui baiat

20:04

yang utuh, tapi melalui runtuhnya lawan

20:07

politiknya sendiri. Perang berakhir.

20:09

Tapi bukan karena menang, tapi karena

20:12

luka sudah terlalu dalam. Shifin tidak

20:15

menyisakan pemenang. Yang ada hanya

20:17

tubuh-tubuh yang ditinggalkan sejarah.

20:20

Dan sejak saat itu umat Islam tidak lagi

20:24

satu. Muncul Khawarij yang memusuhi

20:26

semua pihak. Muncul Syiah yang

20:28

mengkultuskan satu pihak. Dan Ahlusunah

20:31

wal jamaah tetap berdiri di tengah

20:33

mengambil sikap adil terhadap para

20:35

sahabat. Menilai bahwa Ali bin Abi

20:37

Thalib adalah pihak yang lebih dekat

20:40

pada kebenaran namun tidak mencela

20:42

Muawiyah. Karena kedua pihak adalah

20:44

mujtahid dan ijtihad dalam Islam selama

20:47

dilandasi keikhlasan dan ilmu tetap

20:50

diberi pahala oleh Allah Subhanahu wa

20:52

taala.

20:53

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam

20:56

bersabda, "Jika seorang hakim berijtihad

20:58

dan benar, maka baginya dua pahala. Jika

21:01

salah maka baginya satu pahala." Hadis

21:05

riwayat Bukhari dan Muslim. Maka Ali

21:08

mendapat dua pahala. Muawiyah yang

21:11

ijtihadnya keliru tetap mendapat satu

21:14

pahala. Tapi umat harus menanggung

21:17

akibatnya.

21:19

Perang Syifin adalah pengingat bahwa

21:22

fitnah bisa datang dari dalam, bahwa

21:24

keyakinan yang dibalut fanatisme bisa

21:26

melahirkan perpecahan, dan bahwa

21:28

kebenaran tidak selalu dimenangkan

21:30

dengan pedang. Kadang ia justru

21:33

tertinggal di belakang setelah semua

21:35

suara diam dan semua tubuh terjatuh.

21:39

Jika Anda merasa kisah ini membuka

21:41

pandangan dan ingin terus menelusuri

21:44

jejak-jejak sejarah Islam dengan sudut

21:46

pandang yang adil dan terang, silakan

21:49

subscribe channel Lauhul

21:50

Mahfud. Di sini setiap cerita bukan

21:53

sekadar narasi, tapi upaya memahami umat

21:58

dengan ilmu dan ketenangan. Klik tombol

22:00

subscribe, aktifkan loncengnya dan mari

22:03

terus belajar bersama. Wassalamualaikum

22:05

warahmatullahi wabarakatuh.

22:07

[Musik]

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free