Cek Dirimu: Kamu di Level Kesadaran Mana? Ternyata Ini yang Menentukan! | Dr. Fahruddin Faiz
Coba dicek kalian ada di level yang
mana?
Orang di kesadaran reaktif ini orang
yang
levelnya dalam tanda petik ya masih bayi
seperti anak-anak.
dikuasai emosi,
mudah tersinggung,
impulsif, tapi ini manusiawi.
Jadi manusiawi orang itu mengalami yang
pertama ini. Tapi ini biasanya kalau nak
tumbuh berkembang kok sampai tua begini
berarti ah kita masih anak-anak sampai
tua.
Asalamualaikum
warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Bismillah. Mari
kita lanjutkan lagi belajar kita.
Lanjut.
Mungkin ada yang tanya ini, "Pak, saya
kayak gitu-gitu sudah lama tahu, Pak.
Tapi kok ndak sadar-sadar
saya kok ndak segera keluar dari gua,
Pak. Kenapa kok bisa begitu?
Ya kita cek ya. Ini masih berangkat dari
alegori guanya pelatu. Kenapa kita tidak
segera sadar?
Padahal sudah tahu loh. Ini ada jarak
antara tahu dengan sadar.
Kenapa kita ndak segera sadar? Yang
pertama
mungkin karena kita
sudah terbiasa hidup dalam gua.
terbiasa menerima apa adanya, terbiasa
tidak bertanya, terbiasa tidak terlatih
berpikir kritis,
terbiasa menganggap, "Ya sudah biasanya
begitu, yang benar ya berarti itu yang
benar."
Ini yang sering jadi masalah.
Biasanya begitu pas berarti ya begitu.
Padahal hal yang sama bisa saja kalau
variabelnya berubah, situasinya berubah.
Saya tiba-tiba ingat cerita
mungkin teman-teman ada yang pernah
membaca ya fabelnya Aisop ini juga dari
Yunani kuno
tentang kuda
yang membawa muatan. Jadi kuda ini oleh
yang punya kuda
itu sering dipakai membawa muatan garam.
Nah, kuda ini satu ketika ketika bawa
muatan garam dia lewat nyemplung ke
sungai, nyemplung ke air. Karena dia
nyemplung ke air itu kan garamnya banyak
yang larut. Begitu sampai di atas
enteng dia, ringan. Oh, berarti yang
benar itu memang saya harus lewat
sungai.
Terus dia lewat sungai. Lama
yang punya kuda ngerti. Wah, kurang ajar
kudaku ini. Ngerti dia. Aku rugi banyak
gara-gara dia nyulung sungai. Akhirnya
yang punya kuda ngambil siasat. Yang
semula muatannya garam diganti dengan
kapas.
Kapas itu kan ringan. waktu awalnya
kudanya juga karena pengin enak terus
dia, "Ah, saya tak nyemplung lagi saja."
Karena kemarin nyemplung sungai itu
terus jadi ringan. Sekarang nyemplung
sungai lagi saja. Begitu nyemplung
sungai, wong kapas kena air jadi berat.
Semula ringan dia nyemplung ke sungai.
Begitu naik, "Loh, kok sekarang jadi
tambah berat?"
Jadi perilaku yang sama, strategi yang
sama, hasilnya bisa kebalikannya.
Salahnya kuda ini di mana? Karena dia
menganggap biasanya begitu benar,
sekarang pasti juga benar.
Padahal situasinya berubah.
Nah, kita ndak sadar ini kenapa? Karena
kita sudah terlalu lama berada di dalam
gua.
Kita anggap sudah wajarnya begitu.
Kemarin-kemarin begitu, Pak. Sudah gak
terlalu rumitlah, ndak mikir aneh-aneh
lagi. Sudah
yang sudah diulang-ulang pasti benar.
Itu yang membuat kita sadarnya lama.
Yang kedua,
karena kita sering nyaman dengan
bayangan.
Sudah tahu kok saya kalau itu cuma
bayangan aslinya di sana. Tapi lebih
asyik ini kok.
Kita sudah nyaman dengan bayangan.
Lebih enak yang ini saja.
Matahari di luar terlalu menyilaukan.
Ini saja sudah ndak capek, gak lelah.
Kita banyak nyaman dengan bayangan.
Jadi itu yang
membuat kita ndak sadar-sadar.
Mas, tiap hari nycroll itu kan gak ada
gunanya. Kan lebih bagus baca buku. Iya,
Pak. Tahu.
Tapi enak itu, Pak. Saya lebih suka ini.
Jadi kita sudah terlanjur nyaman
dengan bayangan, dengan yang tidak
sejati.
Oke, ya. Jadi ya tentu saja kita terus
gak sadar-sadar.
Yang ketiga,
kalau ini agak politik,
seringki
memang
ada yang mengendalikan
agar kita berhenti di bayangan saja. Gak
usah noleh ke belakang.
Jadi di gua tadi kan ada api. Api itu
yang jadi pengatur bayangan yang dilihat
di dinding.
Hari ini mungkin api itu bisa kita
mungkin kekuasaan, mungkin media,
mungkin algoritma, mungkin baser. Itulah
apinya
yang membuat kita stuck di situ.
Jadi kita merasa melihat yang sejati
padahal tidak diatur. Biar itu saja
sudah yang dilihat. Ada belenggu yang
membuat kita hanya melihat itu saja.
Nah, kalau ini agak politis ada
hubungannya dengan kekuasaan.
Mungkin ada yang diuntungkan dengan kita
hanya melihat bayangan saja. Jangan tahu
yang sejati. Nanti rugi saya kamu tetap
itu saja.
Jangan terlalu pintar nanti menyusahkan.
Sudah biasa-biasa saja.
Jadi memang ada yang ngatur biar kalian
berhenti di bayangan saja.
Jangan terlalu dalam masuk ke kebenaran.
Yo, kalian yang rajin ngaji filsafat
jangan terlalu pintar ya. Nanti ganti
saya susah saya.
Kalau terlalu hebat, wah ya nanti gak
ada yang ngundang saya. Mikirnya ke
sana. Jadi terus saya atur sedemikian
rupa gimana caranya biar kalian bagian
yang pinggir-pinggir sajalah ya gitu.
Oke ya. Jadi ini yang dimaksud api tadi.
Jadi ada api yang mengatur bayangan
yang membuat kita terus terlena terus
gak sadar-sadar sampai sekarang.
Oke, lanjut ya. Semoga setelah tahu
kalian jadinya terus sadar.
Rantai yang mengikat kita
ya kalau dalam cerita gua tadi besi.
Tapi dalam hidup kita sehari-hari rantai
itu adalah mental kita.
Misalnya kita punya mental fanatik,
kita punya mental kebencian, kita punya
mental ketakutan, kita punya mental
ikut-ikutan yang lain.
Ini yang membuat kita tidak segera sadar
untuk menjemput kebenaran.
Kalau kita sudah fanatik,
sudah ikut-ikutan,
menganggap kelompoknya paling benar,
yang lain pasti salah,
kemungkinan yang kita cari bukan
kebenaran, tapi pembenaran.
Karena kelompokku harus pasti benar.
Kalau ada indikasi kelompokku mau salah,
harus dicarikan alasan biar tetap benar.
Ini namanya pembenaran.
Jadi selain mungkin ada yang di luar
tadi kekuasaan yang mengarahkan
bayangan, jangan-jangan kita sendiri
yang membelenggu diri kita dengan
mentalitas kita.
Jadi ini yang membuat kita ndak sadar.
Ternyata itu
kita masih banyak mental yang
tidak mengutamakan kebenaran, tapi
mengutamakan yang selain itu.
Sehingga akhirnya ya kita tidak mencari
kebenaran, tapi mencari pembenaran.
Terus kenapa juga kita ndak sadar-sadar?
Apa ndak ada yang mengingatkan?
Apa ndak ada yang ngajak? Apa ndak ada
yang nonton?
Sebenarnya ada.
Tapi orang yang sadar, yang ngajak, yang
kritis, yang bertanya itu biasanya
diejek, dicemooh,
dituduh sok pintar, sok tahu.
Akhirnya apa? Lama-lama mungkin orang
pintar-pintar itu milih diam saja.
Lah saya ngomong yang benar
diprotes,
diancam. dituduh ini, dituduh itu. Ya
sudah,
kalau orang pintar-pintar diam, kita
yang gak pintar ini ndak mungkin sadar
ya.
Kita yang ndak tahu apa-apa yo ndak
mungkin tahu. Wong kalau ada orang
pintar ngomong yang ahlinya bicara, kita
bantah.
Kadang-kadang orang ini sudah ahlinya
loh, ulama dia atau saintis bidangnya.
Itu pun masih kita bantah.
Kenapa? Mungkin gak cocok dengan
bayangan kita, kesenangan kita,
kenyamanan kita.
Saya sudah terlanjur nyaman begini loh.
Kok tokoh ini ngomong begitu sesuai
ilmunya? Ah gak ah saya ndak terima.
Terus kita anggap ah ini tokoh ini bikin
susah saja, orang ini bikin ruwet saja
wong saya. Ya sudah lama-lama
orang-orang pintar akan diam.
Kalau orang-orang pintar akan diam
jangan berharap kita bisa sadar. Karena
merekalah sebenarnya yang memalingkan
kita menunjukkan pada cahaya.
Oke. Akhirnya apa? Kebodohan jadi
mayoritas,
kebijaksanaan jadi minoritas.
Oke, lanjut.
Terakhir, kenapa kita tidak segera sadar
kalau ini pendidikan
pendidikan
kita ini kita zaman Yunani ya,
bukan kita sekarang. Saya gak tahu kita
sekarang seperti apa pendidikannya.
Sistem pendidikan Yunani saat itu kata
Plato apa isinya? Hanya ujian, apalan,
tugas, ranking, patuh.
jarang mengajarkan bertanya, meragukan,
berpikir kritis, berani beda.
Akhirnya apa? Yo status kuwo sudah
berhenti.
Padahal kata Plato pendidikan itu bukan
mengisi kepala tetapi mengarahkan jiwa.
Kita hari ini pendidikannya lebih banyak
ngisi kepala.
Disuruh dihafal kan ya besok ujian.
Ah itu diingat-ingat nanti ranking
berapa itu kita ngejarnya kan itu yang
patuh pulang duluan.
Nah model-model gini itu zaman saya
dulu. Zaman saya dulu masih banyak
dosen-dosen yang killer yang itu,
sekarang mungkin gak ada.
Jadi pendidikan
memang pendidikan kita kalau kata Paulo
Freire dulu ya tidak membebaskan, tidak
menyadarkan.
Pendidikan kita lebih banyak melahirkan
mental-mental yang magis dan naif.
Magis itu mental yang hanya ikut-ikutan
saja, patuh saja. Anak baik adalah anak
yang patuh, anak saleh adalah anak yang
patuh.
Titik di situ. Kalau ada mahasiswa kok
banyak tanya, itu dosennya jengkel.
Kalau ada murid kok sering protes,
sering ngritik, itu gurunya mesti
ngamuk.
Ah, muridnya juga punya pandangan
begitu.
Biar nilai saya tinggi, apapun kata
dosen, apapun kata guru, harus saya
iyakan saja.
Meskipun agak ganjil, saya harus menahan
diri demi apa? Nilai.
Kalau nilai saya jatuh, Pak, ijazah saya
jelek. Ijazah jelek nyari kerjaan susah,
Pak.
Kalau kerjaan susah, masa depan saya
suram. Ah, sudah mulu.
Akhirnya bareng-bareng nonton film dalam
gua tadi.
Kita hidup dalam realitas bayangan.
Oke,
ambil nafas sebentar.
Dicek lagi hidup kita
sudah benar apa masih ilusi.
Sekarang ke sini.
Ciri-ciri orang yang masih hidup dalam
ilusi.
Nah, kita masih dalam gua apa tidak?
Kita lihat.
Yang pertama,
orang yang hidup dalam gua, yang hidup
dalam ilusi,
menganggap yang saya lihat itulah
kenyataan.
Yang viral itulah yang benar,
yang sering tampil itulah yang sejati.
Dia tidak bertanya ini sumbernya apa,
dasarnya apa, siapa yang posting, ada
kepentingan apa.
Ndak pernah tanya itu. Yang penting
viral, ramai gabung ikut.
Yang penting sering muncul berarti ya
benar.
Yang penting semua orang begitu yo saya
begitu.
Berarti kita masih hidup dalam ilusi,
dalam bayangan.
Yang kedua, nyaman dengan doksa minggu
lalu ya, doksa dan pengetahuan dengan
pendapat umum.
Apa kata mayoritas itulah saya
tidak kritis.
Yang ketiga, kita ikut-ikutan ngamuk
kalau ada orang yang mengkritisi,
orang yang punya pandangan baru, orang
yang punya sudut pandang alternatif dan
lain sebagainya.
Kalau ada pandangan baru, kita reflek
menolak,
marah-marah, nuduh sesat dan lain
sebagainya.
Jadi kita seperti tawanan dalam gua yang
silau lihat cahaya. Bukan karena salah,
tapi karena kita belum terbiasa dengan
terang.
Lanjut.
Kita sering menertawakan orang
yang nyari kebenaran lebih dalam.
Kita ngritik orang, "Ah, kamu sok
pintar." Ah, kebanyakan mikir.
Ah, ruwet kamu terlalu. Kita sering
ngritik begitu.
Seolah-olah yang benar itu gak usah
pakai mikir dalam-dalam, gak usah
terlalu pintar. Hidup ini jadi rumit.
Terlalu banyak orang pintar itu. Itu
kita ada pandangan-pandangan begitu.
Saya ndak tahu. Jangan-jangan teman yang
paling kita benci adalah teman yang
paling cerewet.
Suka nanya
misalnya diajak makan, "Yuk makan malam
yuk. Ke mana kita? Warung sana saja."
Kenapa harus warung sana?
Apa gak ada warung yang lain? Itu kan
kita mesti jengkel kan kalau ada teman
kayak gini itu.
Tapi ya kita inginnya mbok wi sudah gak
usah dibahas wis biasa saja begitu saja
gitu.
Nah ini kita sering menertawakan orang
yang mencari kebenaran lebih dalam.
Jadi padahal mungkin jangan-jangan kita
saja yang nyaman dengan kedangkalan.
Terus
kita hidup reaktif
tapi tanpa arah.
Jadi reaktif tanpa arah itu ada apa-apa
terus kita respon. Emosinya maju dulu.
Kritisnya gak itu kemungkinan kita hidup
dalam ilusi.
Kita tidak sadar kita tidak kritis.
Kemudian kita takut keluar dari zona
nyaman.
Jadi kita anggap hidup kita seperti ini
tuh sudah baik. Sudah enggak usah
macam-macam lagi, gak usah berkembang
lagi, gak usah improve lagi.
Sudah begini saja.
Dan kita mengira kebebasan sebagai
gangguan.
Jadi kalau ada orang ngajak berpikir
kita curigai, kita anggap dia
mengacaukan hidup, bahkan dimusuhi.
Orang ini kerjaannya ngritik terus kita
ndak nyaman dengan orang seperti itu.
Padahal kalau gak ada orang-orang yang
ngritik, gimana kita tahu titik salahnya
hidup kita? Kalau kita ndak tahu titik
salahnya hidup kita, gimana kita bisa
mengembangkan hidup ini ke arah yang
lebih baik,
berarti kita masih dalam ilusi.
Ye. Terus
ini pertanyaan lagi yang berhubungan
dengan tadi.
Mengapa kebenaran yang menggelisahkan
harus kita anggap lebih baik daripada
kenyamanan tapi yang ilusi, yang tidak
benar?
Mungkin tadi kan teman-teman ada yang
bilang, "Pak, hidup itu kan nyari
tenang, Pak. Nyari nyaman, Pak. Kalau
sudah nyaman kan sudah."
Kenapa kok di Plato ini rasanya
kebenaran yang menggelisahkan itu lebih
berharga
daripada kenyamanan yang tidak benar?
Tidak. benar tapi nyaman.
Korupsi tapi tenang saja.
Kemudian menyakiti orang tapi yo masih
bisa cengengah-sengenges.
Nah, ini namanya kenyamanan tapi tidak
benar. Kenapa kok ini se levelnya di
bawah
kebenaran meskipun menggelisahkan?
Karena memang kebenaran seperti tadi
sering menyilaukan.
Ini jawabannya bisa psikologis, bisa
etis, sosial.
Kalau secara psikologis
ya
ilusi mungkin bisa menenangkan
tapi
dia sedang menunda saja masalah
membuat kita defensif dan kita akan
mudah hancur. Kenapa? Karena kebenaran
itu sulit disangkal.
Jadi misalnya yo, yuk kita sepakati ya 1
+ 1 5. Kita sepakati di antara kita saja
misalnya. Pokoknya kita nyaman dengan 1
+ 15 kan begitu.
Tapi itu pasti gak akan tahan lama. Kita
sedang menunda saja.
Pada saatnya kita akan hancur ketemu
kebenaran yang sejati bahwa 1 + 1 2.
Jadi kita sedang menunda
konflik, menunda persoalan hanya milih
ketenangan sementara tapi kita sedang
menghancurkan hidup kita jangka panjang.
Kebenaran mungkin menggelisahkan.
menimbulkan ketegangan dalam pikiran,
disonansi kognitif, ada rasa tidak
nyaman, mungkin ada krisis identitas
dari kebenaran lama ke kebenaran baru.
Tapi justru setelah badai kegelisahan
itu
kita akan tumbuh, kita tambah dewasa,
kita tambah kuat, kita tambah bercahaya.
Jadi ini secara psikologis tetap lebih
berharga kebenaran meskipun
menggelisahkan
daripada kenyamanan yang tidak benar,
yang ilusif.
secara sosial.
Ketidakbenaran
yang meskipun nyaman itu biasanya
dipertahankan
dengan menyangkal, dengan mencari
pembenaran. Kadang-kadang dengan
mengorbankan
sesuatu atau seseorang.
Jadi jatuhnya lebih berat, lebih capek.
Kan sering ada orang bilang,
"Begitu kita bohong, siap-siaplah untuk
berbohong lagi, berbohong lagi untuk
menutupi kebohonganmu sebelumnya."
Lebih capek.
Jadi, ketenangan dan kenyamanan dalam
ketidakbenaran itu sebenarnya kenyamanan
yang ilusif.
Kamu susah nanti lebih panjang demi
kenyamanan. sebentar.
Oke.
Kebenaran yang menggelisahkan sebaliknya
mungkin membuat kita ndak tenang
sementara tapi dari situ nanti muncul
keadilan. Dari situ sistem jadi
diperbaiki dari situ semua selamat
jangka panjang.
Itulah kenapa kalau ditimbang dinilai
kebenaran yang menggelisahkan
itu lebih baik daripada
kenyamanan
yang ilusif yang tidak benar.
Oke, semoga sekarang bisa jawab ya.
Kalau tadi ada pertanyaan milih mana.
Nyaman tapi tidak benar.
atau benar tapi tidak nyaman. Tetap
lebih berharga benar meskipun nanti ada
fase tidak nyamannya. Karena kita sedang
investasi kenyamanan hidup yang lebih
hakiki jangka panjang.
Tidak sekedar ketenangan sementara.
Begitu kalian bohong ya seperti tadi
kalian harus siap-siap nyari alasan
terus.
untuk menutupi kebohongan dan itu capek.
Oke, kita lanjutkan lagi.
Gimana, Pak caranya
agar saya tetap dalam kebenaran, tapi yo
yang nyaman?
Kalau tadi kan kebenaran yang
menggelisahkan.
Gimana caranya saya bisa benar tapi
nyaman?
Ini kita belajar ya dari alegori gua
tadi.
Seperti orang yang keluar dari gua itu
kan memang awalnya sakit
silau.
Yang dilakukan apa? Biasakan
pelan-pelan. tadi kan lihat bayangan
dulu, lihat benda-benda dulu, baru
puncaknya lihat matahari
biar apa? Biar gak silau, biar mata kita
terlatih. Berarti apa? Untuk membuat
kita benar dan nyaman
yao pelan-pelan
secara bertahap,
tidak kok terus ingin diraih semuanya.
Dak. Kalau tasawuf itu ada
makam-makamnya,
ada tangganya.
ada jedanya untuk refleksi,
ada mundurnya meskipun ada juga majunya.
Ini yang untuk membuat kebenaran terasa
nyaman.
Yang kedua
ini nanti di simposiumnya Plato ada
penjelasan tentang seni, rasa, dan lain
sebagainya.
Integrasikan kebenaran dengan belas
kasih.
Jadi dengan hal-hal kemanusiaan.
Kenapa begitu? Karena kebenaran tanpa
kasih sayang keras, gak enak, tidak
nyaman.
Tapi yo kasih sayang tanpa kebenaran
menipu.
Oke.
Kalau bisa dua-duanya bersatu.
Yo. Kita jujur pada fakta tapi lembut
pada kondisi manusia.
Yo. Contohnya gini loh.
Saya salah. Ya, saya akui saya salah.
Ini faktanya. Sebenarnya memang saya
sedang salah, tapi kok gak kemudian oh
dasar kamu salah bodoh ndak pintar masuk
neraka nanti masih kayak-kayak gitu ndak
ndak begitu
io yo mungkin benar yang dikatakan cuma
apa kasih sayangnya kurang
jadinya kebenaran itu rasanya
menyakitkan
coba kombinasikan dengan hal-hal
manusiawi penuh kasihesakan
kamu salah tapi saya tahu yo kamu Kamu
manusia biasa kadang-kadang khilaf,
kadang keliru. Silakan memperbaiki diri.
Masih banyak waktu kok. Masih ada. Tapi
jangan ditunda-tunda.
Karena kita ndak tahu batas waktu kita
sampai kapan. Ini kan lebih enak
daripada ah kamu salah sesat kamu
neraka, besok kamu dikeperuki sampai
ya mungkin benar begitu. Tapi yo cara
mengucapkannya
jadi keras.
Orang lari nanti dari kebenaran.
Ayo kita pelan-pelan. Yo, saya tahu kamu
dosa. Yang itu ndak boleh.
Tapi wajar sih manusia kadang-kadang
khilaf. Tobat saja gak apa-apa. Allah
pasti menerima kok tobat kita sambil
memperbaiki diri. Ini kan nyaman, enak
ngomongnya.
Jadi integrasikan kebenaran dengan kasih
sayang.
Yang ketiga, cari ccle yang punya visi
yang sama.
Biasanya memang kayak tadi loh, yang
jadi membuat kebenaran itu ndak nyaman
ketika teman kita semuanya ndak benar.
Oh, begitu kita benar sendirian, wah
kita mesti diketawain itu kan. Wah, ini
yang sok alim ini. Ini yang wah sok
religius ini. Wah, gak nyaman sama
sekali. Kamu salah circle.
Nyari kelompok yang
satu visi denganmu. Jadi temukan
komunitas yang aman bagi kebenaranmu.
Itu lebih enak. kamu bisa menikmati
kebenaranmu. Tapi kalau tidak sudah
lagi enak-enak ngobrol kamu komit
sebentar ya saya pamit ngaji filsafat.
Wah gitu
sudah orang heboh semua itu. Sekarang
kamu sesat yo, kafir yo. Kamu sekarang
belajar filsafat segala ya gitu. A
sircelmu gak sevisi. Tapi kalau satu
visi, woh sekarang ada ngaji toh. Yuk
bareng-bareng enak.
Ah itu. Maka di antara cara untuk kita
bisa menikmati kebenaran, cari cirkel
yang pas, cari teman yang cocok,
komunitas yang sesuai.
Kemudian
kalau ini agak berat, tapi kalau kita
bisa nyampai di titik yang terakhir ini,
apapun situasinya, kebenaran akan
membanggakan, membahagiakan.
Yaitu apa? Latihan kuat gelisah.
Jadi, kenyamanan yang sejati lahir dari
kemampuan kita untuk menerima
ketidaknyamanan.
Kalau kalian bisa bilang begini, "Ah,
bagi orang-orang semacam itu tidak
nyaman, Pak. Kalau saya nyaman-nyaman
saja itu, Pak." Ah, itu kamu hebat.
Sudah.
Ketidaknyamanan bagimu adalah
kenyamanan.
Dan itu kebenaran kalian sudah hebat.
Ahlah, gak perlu sirkel-sirkelan, Pak.
Saya nyaman pokoknya dengan kebenaran.
Terserahlah teman-teman gak setuju. Saya
dianggap kafir, sesat, gak apa-apa saya
jalan. Kamu hebat. Sudah ketidaknyamanan
bagimu adalah kenyamanan.
Ah, ini hidupmu akan jauh lebih tenang.
Jadi kebenarannya nak berubah, cuma
jiwamu lebih luas.
Ini ya saya khawatirnya kalau selalu
kebenaran itu dalam persepsimu tidak
nyaman, lama-lama mungkin kamu gak
kerasan dengan kebenaran.
kayak yang menahan minum air tadi loh.
Lama-lama dia gak kuat akhirnya minum
air ikut edan sama-sama yang lain.
Ayo kita usahakan kebenaran itu rasanya
tetap enak, tetap nikmat, tetap nyaman.
Antara lain dengan cara tadi, jangan
ambisius. Setahap-setahap,
selangkah-selangkah
integrasikan dengan hati.
dengan kasih sayang sesama manusia.
Cariel yang cocok atau
latihlah diri kita untuk kuat dalam
kegelisahan.
Lanjut. Kalau sudah
ilusi kita taklukkan, berarti kita ada
di level sadar.
sedikit untuk menutup sesi kita malam
hari ini.
Inilah level kesadaran.
Coba dicek kalian ada di level yang
mana?
Ini ini pengembangan ya dari alegori gua
tadi. Kalian sudah bisa menangkap
maksudnya alegori gua
yang di dalam gua masih ilusif. Yang
keluar gua sudah menemukan kesadaran
dan
kesadaran level paling rendah itu adalah
kesadaran reaktif.
Ini paling rendah. Sadar diriku,
sadar emosiku.
Rumusnya orang reaktif itu aku bereaksi
maka aku ada.
Ini mirip kayak orang aku posting maka
aku ada.
Ndak mikir kualitas postingannya apa,
yang penting tampil saja.
Kalau tidak posting merasa tidak ada.
Atau kalau sudah posting kok gak ada
yang nge-like, gak ada yang komen, kamu
merasa hampa.
Kamu ada di kesadaran reaktif.
Orang di kesadaran reaktif ini orang
yang
levelnya dalam tanda petik ya masih bayi
seperti anak-anak.
Dikuasai emosi,
mudah tersinggung,
impulsif.
Hidup di momen tanpa jarak. Maksudnya
momen tanpa jarak itu sekarang saya
bereaksi apa? Otomatis
sangat terpengaruh oleh lingkungan.
Kalimat saktinya dua. Yang pertama
pokoknya.
Heeh. Kalau ada apa-apa pokoknya.
Yang kedua, yang penting perasaanku.
Yang penting aku senang. Yang penting
aku enak. Yang penting aku nyaman. Itu
kalian ada di level kesadaran rendah,
kesadaran reaktif. Tapi ini manusiawi.
Jadi manusiawi orang itu mengalami yang
pertama ini. Tapi ini biasanya kalau
ndak tumbuh berkembang kok sampai tua
begini berarti ah kita masih anak-anak
sampai tua.
Gak usah pakai alasan. Saya kan awet
muda, Pak. Jadi
sampai tua masih reaktif gak? Nak
begitu.
Kalau bisa yo naik kelas. Apalagi yang
sudah belajar filsafat naiklah ke
kesadaran reflektif.
Jadi kalau ini tidak reaksi tapi respon.
Mulai berpikir
saya tersinggung ini. Tapi tidak
serta-merta terus ngamuk. Ditanyakan
kenapa ya kok saya marah?
Benar gak sih marah saya ini pada
tempatnya gak kalau saya lampiaskan
sampai segitunya.
Jadi masih ada jeda antara stimulus dan
respon.
Ini kesadaranmu. Kesadaran reflektif.
Kamu mau belajar terbuka untuk
dikoreksi.
Nah, ini berarti kalian sudah mulai
bangun, mulai tercerahkan, tidak lagi
autopilot.
Oke, jadi
sakit hati. Tapi kan terus mikir ketika
sakit hati itu, kenapa ya kok sakit hati
saya?
Apa yang harus saya lakukan dengan sakit
hati saya ini? Minggir saja opo dilabrak
saja? Nah, itu berpikir. Jadi, ada
faseun mikirnya. Kalau di yang pertama
tadi otomatis autopilot, tapi di yang
kedua ada kesadaran reflektif.
Ada lagi lebih utuh namanya kesadaran
integratif.
Ini kita membaca segala sesuatu lebih
luas.
Dan tidak hanya aku kalau diintegratif
ini kita sudah bisa mengempati orang
lain.
Ini aku memahami diriku dan orang lain.
Kalau tadi orang yang bangun dari
autopilot tercerahkan. Kalau ini kita
menyebutnya biasanya orang ini sudah
dewasa,
sudah
psikologinya dewasa.
Orang ini mikirnya tidak hitam putih,
bisa berempatik,
bisa diajak diskusi,
ndak mudah terpancing, terprovokasi,
hidupnya mengalir tidak kaku.
Dikritik oke,
berbeda ayo
bisa mengelola konflik. Ini berarti
kalian sudah dewasa. Kesadaranmu,
kesadaran integratif.
Ada lagi yang terakhir, puncaknya ada
kesadaran transenden.
Ini kita sudah tidak berhenti lagi di
aku dan kamu, tapi sudah kita semuanya.
Di sini mah alam semesta juga,
berhubungan dengan Tuhan juga dan lain
sebagainya. Aku sebagai makhluk Tuhan.
Aku sebagai bagian dari alam. Aku
sebagai variabel kemanusiaan di semesta
ini dan seterusnya. Ini namanya
kesadaran transenden.
Kalau tadi dewasa secara psikologis,
yang terakhir ini dewasa secara
spiritual.
Orang di level ini kalau dalam agama
kelihatan dia punya karakter ikhlas.
mudah memaafkan, tidak dendam, tidak
mencari validasi.
Dia sudah baik dalam dirinya sendiri.
Ah, ini sudah matang.
Oke. Saya ndak tahu, Teman-teman, ada di
dua yang kiri apa dua yang kanan.
Yo, semoga meskipun yang kiri tidak di
yang paling bawah lah, ya. Wong sudah
kuliah, sudah ngerti macam-macam. Paling
gak kita direflektif. Alhamdulillah
kalau diintegratif lebih alhamdulillah
kalau sudah di kesadaran transend.
Kalau dirangkum
kita semua lahir reflektif, reaktif,
bertumbuh secara reflektif,
jadi matang secara integratif, dan
kembali
pulang secara transenden.
Ilaihi rojiun.
Baik. Jadi ini kesadaran
konsepnya Plato tentang
alegori gua tadi
kita coba ya. Kalau kemarin kan
terakhir-terakhir kita ketemu kalau
direlate kan dengan kajian Islam kita
ketemu hak dan batil. Kalau alegori gua
ini
bisa kita
analogikan, kita relevankan dengan
perjalanan spiritual.
Jadi dari orang yang terpenjara dalam
gua melihat cahaya menemukan kesejatian.
Ini kalau dipakai untuk nafsir suluk
perjalanan spiritual
alegori cahaya itu saya membacanya
seperti itu.
Yang dimaksud gua
ilusi
adalah kondisi jiwa yang sedang lupa,
sedang lalai.
Jiwa yang tertidur dikuasai ego.
Hidup di level nafas, dorongan hawa
nafsu.
Itulah guanya pejalan spiritual.
Kalau tidak keluar dari gua, berarti
kita hidup dalam ilusi
yang merantai kita.
sehingga tidak keluar-keluar dari gua
adalah ego dan nafsu kita sendiri.
Kesombongan,
pamer, hasrat duniawi, citra diri ini
yang merantai kita, hijab kita di
hadapan Allah.
Kemudian
bayangan gambar-gambar yang tadi muncul
karena
cahaya di belakang karena api tadi
itu sebut saja itu status, jabatan,
harta, popularitas,
pujian yang semuanya semu.
Ilusi itu hanya gambar. ndak sejati.
Jadi orang yang terjebak dengan realitas
bayangan tadi, ayo dia sedang hidup
dalam ilusi, status, jabatan, harta,
pangkat, dan lain sebagainya.
Kemudian
cerita selanjutnya kan terus ada satu
orang yang dipaksa keluar tadi.
Dipaksa keluar itu kalau dalam spiritual
dalam suluk itu simbol ketika kita mulai
merasa gelisah,
merasa hidup ini hampa,
dan
merasa harus keluar dari lingkaran
hidup. dalam gua tadi. Ini simbol
sebenarnya kita sedang dapat hidayah
dari Tuhan.
Kita sedang dapat pencerahan. Kita
sedang dapat
petunjuk. Ahah. Ini hidayah awal.
Terus kita keluar
melihat cahaya. Yang terjadi apa?
Pertama kita keluar silau.
Ini bisa kita gambarkan kita itu begitu
keluar
kita melihat dosa kita, kesalahan kita,
kekeliruan kita, terus kita malu, kita
menyesal, kita merasa kecil.
Di situ kita ingin segera bertobat saja.
Ini kesiloan.
Akhirnya kita mantap untuk keluar dari
gua.
Ah, ini mungkin kalau pakai kalimat yuk
kita hijrah.
Kalimatnya terkenal ya kata-kata hijrah
ini hijrah yang hakiki ya, bukan hijrah
yang populer.
Jadi yang beneran kita menjauh dari
dosa, ganti sirkel, pola hidup ganti dan
sebagainya.
Di sini kita melakukan
suluk, tirakat dan lain sebagainya. Ini
hijrah.
Pada akhirnya kita mencapai matahari,
mencapai kebenaran yang hakiki,
mencapai kedekatan, musyahadah,
mukasyafah,
makrifat, terbuka segala kesejatian.
Simbolnya matahari nur ilahi. Allah yang
nurun ala nurin.
Kalau sudah sampai di sana
belum rute terakhir tadi orang di luar
gua setelah lihat matahari yang
dilakukan apa? Kembali lagi ke dalam
gua.
melakukan dakwah, mencerahkan yang lain.
Tidak asyik dengan dirinya sendiri, tapi
mengajak yang lain agar juga
tercerahkan.
Meskipun mungkin resikonya seperti orang
yang kembali tadi mungkin ditertawakan,
mungkin ditolak, mungkin diremehkan,
tapi tetap dia melakukannya dengan
akhlak dan adab yang benar.
Jadi ini
relevansi spiritualnya
dari
kalau kita alegori gua tadi kita bawa
untuk kajian spiritual. Makanya tadi
saya bilang terasa dalam narasi alegori
ini hubungan dengan khazanah ketimuran,
khazanah spiritual. Karena memang Plato
sendiri dalam riwayat CV-nya beliau ya
pernah melakukan perjalanan panjang
ke wilayah timur. or
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Peradaban Awal Dunia
doni setyawan · Indonesian

Master Laptop Motherboard Voltages and Signals Tracking | Charging Circuit Explained | Laptop repair
Electronics Repair Basics_ERB · French

The Psychology of People Who Smoke
The Human Context · English

The Truman Show (9/9) Movie CLIP - Truman Talks to the Creator (1998) HD
Movieclips · English

METODE ILMIAH DAN SIKAP ILMIAH
WIN'S CHEMISTRY CLASS · Indonesian

[SFT 2026] Design Thinking Workshop #2 : Define, Ideate & Concept Development
Dibimbing · Indonesian

ボブの絵画教室 ジョーク集
ひまんと · English

YAGP Coaching Series | Aubri Parker - Paquita | Kathryn Morgan
Kathryn Morgan · English

[LIVE] Kajian Muslimah: Tipe Perempuan dalam Al-Qur'an - Ustadz Adi Hidayat
Adi Hidayat Official · Indonesian

Generative AI Full Course – Gemini Pro, OpenAI, Llama, Langchain, Pinecone, Vector Databases & More
freeCodeCamp.org · Arabic

خطبة الجمعة ۞ 24-07-2026 ۞ الشيخ خالد البقار
Cheikh Khaled Bakar الشيخ خالد البقار · English

O GPT IMAGE 2.0 HUMILHOU OS CONCORRENTES
Preguiça Artificial · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.