Full Transcript

·YouTLDR

Cek Dirimu: Kamu di Level Kesadaran Mana? Ternyata Ini yang Menentukan! | Dr. Fahruddin Faiz

49:11IndonesianTranscribed Jul 28, 2026
0:00

Coba dicek kalian ada di level yang

0:03

mana?

0:06

Orang di kesadaran reaktif ini orang

0:08

yang

0:10

levelnya dalam tanda petik ya masih bayi

0:14

seperti anak-anak.

0:17

dikuasai emosi,

0:19

mudah tersinggung,

0:22

impulsif, tapi ini manusiawi.

0:27

Jadi manusiawi orang itu mengalami yang

0:30

pertama ini. Tapi ini biasanya kalau nak

0:33

tumbuh berkembang kok sampai tua begini

0:36

berarti ah kita masih anak-anak sampai

0:39

tua.

0:58

Asalamualaikum

1:00

warahmatullahi

1:02

wabarakatuh.

1:03

Waalaikumsalam warahmatullahi

1:06

wabarakatuh.

1:08

Bismillah. Mari

1:11

kita lanjutkan lagi belajar kita.

1:17

Lanjut.

1:19

Mungkin ada yang tanya ini, "Pak, saya

1:22

kayak gitu-gitu sudah lama tahu, Pak.

1:26

Tapi kok ndak sadar-sadar

1:29

saya kok ndak segera keluar dari gua,

1:32

Pak. Kenapa kok bisa begitu?

1:36

Ya kita cek ya. Ini masih berangkat dari

1:40

alegori guanya pelatu. Kenapa kita tidak

1:44

segera sadar?

1:46

Padahal sudah tahu loh. Ini ada jarak

1:49

antara tahu dengan sadar.

1:53

Kenapa kita ndak segera sadar? Yang

1:56

pertama

1:59

mungkin karena kita

2:03

sudah terbiasa hidup dalam gua.

2:08

terbiasa menerima apa adanya, terbiasa

2:12

tidak bertanya, terbiasa tidak terlatih

2:15

berpikir kritis,

2:17

terbiasa menganggap, "Ya sudah biasanya

2:20

begitu, yang benar ya berarti itu yang

2:22

benar."

2:25

Ini yang sering jadi masalah.

2:28

Biasanya begitu pas berarti ya begitu.

2:33

Padahal hal yang sama bisa saja kalau

2:36

variabelnya berubah, situasinya berubah.

2:43

Saya tiba-tiba ingat cerita

2:46

mungkin teman-teman ada yang pernah

2:47

membaca ya fabelnya Aisop ini juga dari

2:50

Yunani kuno

2:52

tentang kuda

2:55

yang membawa muatan. Jadi kuda ini oleh

3:00

yang punya kuda

3:02

itu sering dipakai membawa muatan garam.

3:08

Nah, kuda ini satu ketika ketika bawa

3:12

muatan garam dia lewat nyemplung ke

3:16

sungai, nyemplung ke air. Karena dia

3:18

nyemplung ke air itu kan garamnya banyak

3:20

yang larut. Begitu sampai di atas

3:24

enteng dia, ringan. Oh, berarti yang

3:26

benar itu memang saya harus lewat

3:28

sungai.

3:31

Terus dia lewat sungai. Lama

3:34

yang punya kuda ngerti. Wah, kurang ajar

3:37

kudaku ini. Ngerti dia. Aku rugi banyak

3:40

gara-gara dia nyulung sungai. Akhirnya

3:43

yang punya kuda ngambil siasat. Yang

3:46

semula muatannya garam diganti dengan

3:50

kapas.

3:53

Kapas itu kan ringan. waktu awalnya

3:56

kudanya juga karena pengin enak terus

3:59

dia, "Ah, saya tak nyemplung lagi saja."

4:01

Karena kemarin nyemplung sungai itu

4:03

terus jadi ringan. Sekarang nyemplung

4:04

sungai lagi saja. Begitu nyemplung

4:07

sungai, wong kapas kena air jadi berat.

4:11

Semula ringan dia nyemplung ke sungai.

4:13

Begitu naik, "Loh, kok sekarang jadi

4:15

tambah berat?"

4:17

Jadi perilaku yang sama, strategi yang

4:21

sama, hasilnya bisa kebalikannya.

4:25

Salahnya kuda ini di mana? Karena dia

4:27

menganggap biasanya begitu benar,

4:30

sekarang pasti juga benar.

4:33

Padahal situasinya berubah.

4:38

Nah, kita ndak sadar ini kenapa? Karena

4:42

kita sudah terlalu lama berada di dalam

4:45

gua.

4:48

Kita anggap sudah wajarnya begitu.

4:51

Kemarin-kemarin begitu, Pak. Sudah gak

4:53

terlalu rumitlah, ndak mikir aneh-aneh

4:55

lagi. Sudah

4:58

yang sudah diulang-ulang pasti benar.

5:02

Itu yang membuat kita sadarnya lama.

5:07

Yang kedua,

5:10

karena kita sering nyaman dengan

5:13

bayangan.

5:17

Sudah tahu kok saya kalau itu cuma

5:19

bayangan aslinya di sana. Tapi lebih

5:21

asyik ini kok.

5:24

Kita sudah nyaman dengan bayangan.

5:27

Lebih enak yang ini saja.

5:30

Matahari di luar terlalu menyilaukan.

5:35

Ini saja sudah ndak capek, gak lelah.

5:37

Kita banyak nyaman dengan bayangan.

5:41

Jadi itu yang

5:45

membuat kita ndak sadar-sadar.

5:50

Mas, tiap hari nycroll itu kan gak ada

5:53

gunanya. Kan lebih bagus baca buku. Iya,

5:56

Pak. Tahu.

5:59

Tapi enak itu, Pak. Saya lebih suka ini.

6:03

Jadi kita sudah terlanjur nyaman

6:07

dengan bayangan, dengan yang tidak

6:09

sejati.

6:12

Oke, ya. Jadi ya tentu saja kita terus

6:15

gak sadar-sadar.

6:18

Yang ketiga,

6:20

kalau ini agak politik,

6:24

seringki

6:26

memang

6:28

ada yang mengendalikan

6:30

agar kita berhenti di bayangan saja. Gak

6:34

usah noleh ke belakang.

6:39

Jadi di gua tadi kan ada api. Api itu

6:42

yang jadi pengatur bayangan yang dilihat

6:46

di dinding.

6:49

Hari ini mungkin api itu bisa kita

6:52

mungkin kekuasaan, mungkin media,

6:54

mungkin algoritma, mungkin baser. Itulah

6:57

apinya

6:59

yang membuat kita stuck di situ.

7:03

Jadi kita merasa melihat yang sejati

7:06

padahal tidak diatur. Biar itu saja

7:09

sudah yang dilihat. Ada belenggu yang

7:12

membuat kita hanya melihat itu saja.

7:15

Nah, kalau ini agak politis ada

7:17

hubungannya dengan kekuasaan.

7:20

Mungkin ada yang diuntungkan dengan kita

7:24

hanya melihat bayangan saja. Jangan tahu

7:27

yang sejati. Nanti rugi saya kamu tetap

7:30

itu saja.

7:32

Jangan terlalu pintar nanti menyusahkan.

7:34

Sudah biasa-biasa saja.

7:38

Jadi memang ada yang ngatur biar kalian

7:42

berhenti di bayangan saja.

7:46

Jangan terlalu dalam masuk ke kebenaran.

7:51

Yo, kalian yang rajin ngaji filsafat

7:53

jangan terlalu pintar ya. Nanti ganti

7:55

saya susah saya.

7:58

Kalau terlalu hebat, wah ya nanti gak

8:01

ada yang ngundang saya. Mikirnya ke

8:03

sana. Jadi terus saya atur sedemikian

8:07

rupa gimana caranya biar kalian bagian

8:09

yang pinggir-pinggir sajalah ya gitu.

8:13

Oke ya. Jadi ini yang dimaksud api tadi.

8:15

Jadi ada api yang mengatur bayangan

8:19

yang membuat kita terus terlena terus

8:22

gak sadar-sadar sampai sekarang.

8:28

Oke, lanjut ya. Semoga setelah tahu

8:32

kalian jadinya terus sadar.

8:37

Rantai yang mengikat kita

8:41

ya kalau dalam cerita gua tadi besi.

8:45

Tapi dalam hidup kita sehari-hari rantai

8:49

itu adalah mental kita.

8:55

Misalnya kita punya mental fanatik,

8:59

kita punya mental kebencian, kita punya

9:03

mental ketakutan, kita punya mental

9:06

ikut-ikutan yang lain.

9:10

Ini yang membuat kita tidak segera sadar

9:14

untuk menjemput kebenaran.

9:18

Kalau kita sudah fanatik,

9:21

sudah ikut-ikutan,

9:24

menganggap kelompoknya paling benar,

9:26

yang lain pasti salah,

9:28

kemungkinan yang kita cari bukan

9:31

kebenaran, tapi pembenaran.

9:37

Karena kelompokku harus pasti benar.

9:40

Kalau ada indikasi kelompokku mau salah,

9:44

harus dicarikan alasan biar tetap benar.

9:47

Ini namanya pembenaran.

9:51

Jadi selain mungkin ada yang di luar

9:54

tadi kekuasaan yang mengarahkan

9:56

bayangan, jangan-jangan kita sendiri

10:00

yang membelenggu diri kita dengan

10:03

mentalitas kita.

10:08

Jadi ini yang membuat kita ndak sadar.

10:12

Ternyata itu

10:15

kita masih banyak mental yang

10:20

tidak mengutamakan kebenaran, tapi

10:22

mengutamakan yang selain itu.

10:26

Sehingga akhirnya ya kita tidak mencari

10:30

kebenaran, tapi mencari pembenaran.

10:37

Terus kenapa juga kita ndak sadar-sadar?

10:41

Apa ndak ada yang mengingatkan?

10:43

Apa ndak ada yang ngajak? Apa ndak ada

10:46

yang nonton?

10:48

Sebenarnya ada.

10:51

Tapi orang yang sadar, yang ngajak, yang

10:55

kritis, yang bertanya itu biasanya

10:59

diejek, dicemooh,

11:02

dituduh sok pintar, sok tahu.

11:08

Akhirnya apa? Lama-lama mungkin orang

11:10

pintar-pintar itu milih diam saja.

11:14

Lah saya ngomong yang benar

11:17

diprotes,

11:19

diancam. dituduh ini, dituduh itu. Ya

11:22

sudah,

11:24

kalau orang pintar-pintar diam, kita

11:27

yang gak pintar ini ndak mungkin sadar

11:33

ya.

11:35

Kita yang ndak tahu apa-apa yo ndak

11:37

mungkin tahu. Wong kalau ada orang

11:40

pintar ngomong yang ahlinya bicara, kita

11:43

bantah.

11:46

Kadang-kadang orang ini sudah ahlinya

11:48

loh, ulama dia atau saintis bidangnya.

11:51

Itu pun masih kita bantah.

11:55

Kenapa? Mungkin gak cocok dengan

11:57

bayangan kita, kesenangan kita,

11:59

kenyamanan kita.

12:02

Saya sudah terlanjur nyaman begini loh.

12:04

Kok tokoh ini ngomong begitu sesuai

12:06

ilmunya? Ah gak ah saya ndak terima.

12:10

Terus kita anggap ah ini tokoh ini bikin

12:12

susah saja, orang ini bikin ruwet saja

12:15

wong saya. Ya sudah lama-lama

12:17

orang-orang pintar akan diam.

12:21

Kalau orang-orang pintar akan diam

12:23

jangan berharap kita bisa sadar. Karena

12:26

merekalah sebenarnya yang memalingkan

12:29

kita menunjukkan pada cahaya.

12:35

Oke. Akhirnya apa? Kebodohan jadi

12:39

mayoritas,

12:41

kebijaksanaan jadi minoritas.

12:47

Oke, lanjut.

12:50

Terakhir, kenapa kita tidak segera sadar

12:54

kalau ini pendidikan

12:57

pendidikan

12:59

kita ini kita zaman Yunani ya,

13:03

bukan kita sekarang. Saya gak tahu kita

13:05

sekarang seperti apa pendidikannya.

13:09

Sistem pendidikan Yunani saat itu kata

13:12

Plato apa isinya? Hanya ujian, apalan,

13:16

tugas, ranking, patuh.

13:21

jarang mengajarkan bertanya, meragukan,

13:24

berpikir kritis, berani beda.

13:29

Akhirnya apa? Yo status kuwo sudah

13:32

berhenti.

13:34

Padahal kata Plato pendidikan itu bukan

13:37

mengisi kepala tetapi mengarahkan jiwa.

13:44

Kita hari ini pendidikannya lebih banyak

13:47

ngisi kepala.

13:51

Disuruh dihafal kan ya besok ujian.

13:55

Ah itu diingat-ingat nanti ranking

13:59

berapa itu kita ngejarnya kan itu yang

14:02

patuh pulang duluan.

14:04

Nah model-model gini itu zaman saya

14:07

dulu. Zaman saya dulu masih banyak

14:09

dosen-dosen yang killer yang itu,

14:12

sekarang mungkin gak ada.

14:15

Jadi pendidikan

14:18

memang pendidikan kita kalau kata Paulo

14:21

Freire dulu ya tidak membebaskan, tidak

14:25

menyadarkan.

14:29

Pendidikan kita lebih banyak melahirkan

14:31

mental-mental yang magis dan naif.

14:36

Magis itu mental yang hanya ikut-ikutan

14:39

saja, patuh saja. Anak baik adalah anak

14:42

yang patuh, anak saleh adalah anak yang

14:45

patuh.

14:48

Titik di situ. Kalau ada mahasiswa kok

14:51

banyak tanya, itu dosennya jengkel.

14:55

Kalau ada murid kok sering protes,

14:58

sering ngritik, itu gurunya mesti

14:59

ngamuk.

15:02

Ah, muridnya juga punya pandangan

15:05

begitu.

15:07

Biar nilai saya tinggi, apapun kata

15:11

dosen, apapun kata guru, harus saya

15:14

iyakan saja.

15:16

Meskipun agak ganjil, saya harus menahan

15:18

diri demi apa? Nilai.

15:22

Kalau nilai saya jatuh, Pak, ijazah saya

15:24

jelek. Ijazah jelek nyari kerjaan susah,

15:27

Pak.

15:29

Kalau kerjaan susah, masa depan saya

15:32

suram. Ah, sudah mulu.

15:35

Akhirnya bareng-bareng nonton film dalam

15:38

gua tadi.

15:40

Kita hidup dalam realitas bayangan.

15:48

Oke,

15:49

ambil nafas sebentar.

15:52

Dicek lagi hidup kita

15:55

sudah benar apa masih ilusi.

16:00

Sekarang ke sini.

16:03

Ciri-ciri orang yang masih hidup dalam

16:07

ilusi.

16:09

Nah, kita masih dalam gua apa tidak?

16:12

Kita lihat.

16:15

Yang pertama,

16:18

orang yang hidup dalam gua, yang hidup

16:22

dalam ilusi,

16:26

menganggap yang saya lihat itulah

16:29

kenyataan.

16:31

Yang viral itulah yang benar,

16:35

yang sering tampil itulah yang sejati.

16:40

Dia tidak bertanya ini sumbernya apa,

16:44

dasarnya apa, siapa yang posting, ada

16:47

kepentingan apa.

16:50

Ndak pernah tanya itu. Yang penting

16:53

viral, ramai gabung ikut.

16:57

Yang penting sering muncul berarti ya

16:59

benar.

17:03

Yang penting semua orang begitu yo saya

17:05

begitu.

17:07

Berarti kita masih hidup dalam ilusi,

17:11

dalam bayangan.

17:15

Yang kedua, nyaman dengan doksa minggu

17:19

lalu ya, doksa dan pengetahuan dengan

17:22

pendapat umum.

17:25

Apa kata mayoritas itulah saya

17:29

tidak kritis.

17:34

Yang ketiga, kita ikut-ikutan ngamuk

17:37

kalau ada orang yang mengkritisi,

17:41

orang yang punya pandangan baru, orang

17:44

yang punya sudut pandang alternatif dan

17:47

lain sebagainya.

17:49

Kalau ada pandangan baru, kita reflek

17:52

menolak,

17:55

marah-marah, nuduh sesat dan lain

17:58

sebagainya.

18:00

Jadi kita seperti tawanan dalam gua yang

18:05

silau lihat cahaya. Bukan karena salah,

18:09

tapi karena kita belum terbiasa dengan

18:12

terang.

18:16

Lanjut.

18:18

Kita sering menertawakan orang

18:22

yang nyari kebenaran lebih dalam.

18:28

Kita ngritik orang, "Ah, kamu sok

18:30

pintar." Ah, kebanyakan mikir.

18:33

Ah, ruwet kamu terlalu. Kita sering

18:35

ngritik begitu.

18:38

Seolah-olah yang benar itu gak usah

18:40

pakai mikir dalam-dalam, gak usah

18:42

terlalu pintar. Hidup ini jadi rumit.

18:45

Terlalu banyak orang pintar itu. Itu

18:47

kita ada pandangan-pandangan begitu.

18:51

Saya ndak tahu. Jangan-jangan teman yang

18:54

paling kita benci adalah teman yang

18:56

paling cerewet.

18:58

Suka nanya

19:01

misalnya diajak makan, "Yuk makan malam

19:03

yuk. Ke mana kita? Warung sana saja."

19:06

Kenapa harus warung sana?

19:10

Apa gak ada warung yang lain? Itu kan

19:12

kita mesti jengkel kan kalau ada teman

19:14

kayak gini itu.

19:16

Tapi ya kita inginnya mbok wi sudah gak

19:20

usah dibahas wis biasa saja begitu saja

19:22

gitu.

19:24

Nah ini kita sering menertawakan orang

19:27

yang mencari kebenaran lebih dalam.

19:32

Jadi padahal mungkin jangan-jangan kita

19:34

saja yang nyaman dengan kedangkalan.

19:41

Terus

19:42

kita hidup reaktif

19:46

tapi tanpa arah.

19:49

Jadi reaktif tanpa arah itu ada apa-apa

19:51

terus kita respon. Emosinya maju dulu.

19:57

Kritisnya gak itu kemungkinan kita hidup

19:59

dalam ilusi.

20:01

Kita tidak sadar kita tidak kritis.

20:09

Kemudian kita takut keluar dari zona

20:12

nyaman.

20:15

Jadi kita anggap hidup kita seperti ini

20:17

tuh sudah baik. Sudah enggak usah

20:20

macam-macam lagi, gak usah berkembang

20:22

lagi, gak usah improve lagi.

20:26

Sudah begini saja.

20:30

Dan kita mengira kebebasan sebagai

20:33

gangguan.

20:37

Jadi kalau ada orang ngajak berpikir

20:41

kita curigai, kita anggap dia

20:45

mengacaukan hidup, bahkan dimusuhi.

20:50

Orang ini kerjaannya ngritik terus kita

20:53

ndak nyaman dengan orang seperti itu.

20:54

Padahal kalau gak ada orang-orang yang

20:56

ngritik, gimana kita tahu titik salahnya

20:59

hidup kita? Kalau kita ndak tahu titik

21:01

salahnya hidup kita, gimana kita bisa

21:05

mengembangkan hidup ini ke arah yang

21:08

lebih baik,

21:11

berarti kita masih dalam ilusi.

21:20

Ye. Terus

21:24

ini pertanyaan lagi yang berhubungan

21:26

dengan tadi.

21:29

Mengapa kebenaran yang menggelisahkan

21:34

harus kita anggap lebih baik daripada

21:38

kenyamanan tapi yang ilusi, yang tidak

21:41

benar?

21:46

Mungkin tadi kan teman-teman ada yang

21:48

bilang, "Pak, hidup itu kan nyari

21:50

tenang, Pak. Nyari nyaman, Pak. Kalau

21:52

sudah nyaman kan sudah."

21:57

Kenapa kok di Plato ini rasanya

22:01

kebenaran yang menggelisahkan itu lebih

22:03

berharga

22:05

daripada kenyamanan yang tidak benar?

22:13

Tidak. benar tapi nyaman.

22:16

Korupsi tapi tenang saja.

22:18

Kemudian menyakiti orang tapi yo masih

22:22

bisa cengengah-sengenges.

22:24

Nah, ini namanya kenyamanan tapi tidak

22:26

benar. Kenapa kok ini se levelnya di

22:30

bawah

22:32

kebenaran meskipun menggelisahkan?

22:36

Karena memang kebenaran seperti tadi

22:38

sering menyilaukan.

22:41

Ini jawabannya bisa psikologis, bisa

22:45

etis, sosial.

22:48

Kalau secara psikologis

22:52

ya

22:54

ilusi mungkin bisa menenangkan

22:57

tapi

22:59

dia sedang menunda saja masalah

23:03

membuat kita defensif dan kita akan

23:06

mudah hancur. Kenapa? Karena kebenaran

23:10

itu sulit disangkal.

23:16

Jadi misalnya yo, yuk kita sepakati ya 1

23:20

+ 1 5. Kita sepakati di antara kita saja

23:24

misalnya. Pokoknya kita nyaman dengan 1

23:27

+ 15 kan begitu.

23:29

Tapi itu pasti gak akan tahan lama. Kita

23:32

sedang menunda saja.

23:35

Pada saatnya kita akan hancur ketemu

23:38

kebenaran yang sejati bahwa 1 + 1 2.

23:44

Jadi kita sedang menunda

23:48

konflik, menunda persoalan hanya milih

23:52

ketenangan sementara tapi kita sedang

23:55

menghancurkan hidup kita jangka panjang.

24:01

Kebenaran mungkin menggelisahkan.

24:04

menimbulkan ketegangan dalam pikiran,

24:07

disonansi kognitif, ada rasa tidak

24:11

nyaman, mungkin ada krisis identitas

24:14

dari kebenaran lama ke kebenaran baru.

24:18

Tapi justru setelah badai kegelisahan

24:22

itu

24:24

kita akan tumbuh, kita tambah dewasa,

24:28

kita tambah kuat, kita tambah bercahaya.

24:34

Jadi ini secara psikologis tetap lebih

24:38

berharga kebenaran meskipun

24:41

menggelisahkan

24:44

daripada kenyamanan yang tidak benar,

24:49

yang ilusif.

24:53

secara sosial.

24:57

Ketidakbenaran

24:59

yang meskipun nyaman itu biasanya

25:02

dipertahankan

25:04

dengan menyangkal, dengan mencari

25:07

pembenaran. Kadang-kadang dengan

25:10

mengorbankan

25:11

sesuatu atau seseorang.

25:15

Jadi jatuhnya lebih berat, lebih capek.

25:21

Kan sering ada orang bilang,

25:24

"Begitu kita bohong, siap-siaplah untuk

25:27

berbohong lagi, berbohong lagi untuk

25:29

menutupi kebohonganmu sebelumnya."

25:32

Lebih capek.

25:35

Jadi, ketenangan dan kenyamanan dalam

25:38

ketidakbenaran itu sebenarnya kenyamanan

25:40

yang ilusif.

25:45

Kamu susah nanti lebih panjang demi

25:48

kenyamanan. sebentar.

25:53

Oke.

25:55

Kebenaran yang menggelisahkan sebaliknya

25:58

mungkin membuat kita ndak tenang

26:00

sementara tapi dari situ nanti muncul

26:03

keadilan. Dari situ sistem jadi

26:05

diperbaiki dari situ semua selamat

26:08

jangka panjang.

26:12

Itulah kenapa kalau ditimbang dinilai

26:18

kebenaran yang menggelisahkan

26:20

itu lebih baik daripada

26:24

kenyamanan

26:25

yang ilusif yang tidak benar.

26:31

Oke, semoga sekarang bisa jawab ya.

26:34

Kalau tadi ada pertanyaan milih mana.

26:38

Nyaman tapi tidak benar.

26:41

atau benar tapi tidak nyaman. Tetap

26:45

lebih berharga benar meskipun nanti ada

26:48

fase tidak nyamannya. Karena kita sedang

26:52

investasi kenyamanan hidup yang lebih

26:55

hakiki jangka panjang.

26:58

Tidak sekedar ketenangan sementara.

27:04

Begitu kalian bohong ya seperti tadi

27:06

kalian harus siap-siap nyari alasan

27:10

terus.

27:11

untuk menutupi kebohongan dan itu capek.

27:18

Oke, kita lanjutkan lagi.

27:25

Gimana, Pak caranya

27:28

agar saya tetap dalam kebenaran, tapi yo

27:31

yang nyaman?

27:34

Kalau tadi kan kebenaran yang

27:35

menggelisahkan.

27:37

Gimana caranya saya bisa benar tapi

27:40

nyaman?

27:44

Ini kita belajar ya dari alegori gua

27:47

tadi.

27:50

Seperti orang yang keluar dari gua itu

27:52

kan memang awalnya sakit

27:55

silau.

27:58

Yang dilakukan apa? Biasakan

28:03

pelan-pelan. tadi kan lihat bayangan

28:06

dulu, lihat benda-benda dulu, baru

28:09

puncaknya lihat matahari

28:11

biar apa? Biar gak silau, biar mata kita

28:14

terlatih. Berarti apa? Untuk membuat

28:17

kita benar dan nyaman

28:20

yao pelan-pelan

28:22

secara bertahap,

28:25

tidak kok terus ingin diraih semuanya.

28:28

Dak. Kalau tasawuf itu ada

28:30

makam-makamnya,

28:32

ada tangganya.

28:36

ada jedanya untuk refleksi,

28:40

ada mundurnya meskipun ada juga majunya.

28:44

Ini yang untuk membuat kebenaran terasa

28:49

nyaman.

28:53

Yang kedua

28:55

ini nanti di simposiumnya Plato ada

28:59

penjelasan tentang seni, rasa, dan lain

29:03

sebagainya.

29:05

Integrasikan kebenaran dengan belas

29:09

kasih.

29:12

Jadi dengan hal-hal kemanusiaan.

29:17

Kenapa begitu? Karena kebenaran tanpa

29:19

kasih sayang keras, gak enak, tidak

29:23

nyaman.

29:25

Tapi yo kasih sayang tanpa kebenaran

29:28

menipu.

29:32

Oke.

29:34

Kalau bisa dua-duanya bersatu.

29:38

Yo. Kita jujur pada fakta tapi lembut

29:42

pada kondisi manusia.

29:45

Yo. Contohnya gini loh.

29:48

Saya salah. Ya, saya akui saya salah.

29:51

Ini faktanya. Sebenarnya memang saya

29:53

sedang salah, tapi kok gak kemudian oh

29:55

dasar kamu salah bodoh ndak pintar masuk

29:59

neraka nanti masih kayak-kayak gitu ndak

30:01

ndak begitu

30:03

io yo mungkin benar yang dikatakan cuma

30:06

apa kasih sayangnya kurang

30:10

jadinya kebenaran itu rasanya

30:12

menyakitkan

30:14

coba kombinasikan dengan hal-hal

30:16

manusiawi penuh kasihesakan

30:19

kamu salah tapi saya tahu yo kamu Kamu

30:22

manusia biasa kadang-kadang khilaf,

30:23

kadang keliru. Silakan memperbaiki diri.

30:27

Masih banyak waktu kok. Masih ada. Tapi

30:29

jangan ditunda-tunda.

30:31

Karena kita ndak tahu batas waktu kita

30:33

sampai kapan. Ini kan lebih enak

30:37

daripada ah kamu salah sesat kamu

30:40

neraka, besok kamu dikeperuki sampai

30:45

ya mungkin benar begitu. Tapi yo cara

30:47

mengucapkannya

30:49

jadi keras.

30:52

Orang lari nanti dari kebenaran.

30:56

Ayo kita pelan-pelan. Yo, saya tahu kamu

30:59

dosa. Yang itu ndak boleh.

31:02

Tapi wajar sih manusia kadang-kadang

31:05

khilaf. Tobat saja gak apa-apa. Allah

31:08

pasti menerima kok tobat kita sambil

31:10

memperbaiki diri. Ini kan nyaman, enak

31:13

ngomongnya.

31:16

Jadi integrasikan kebenaran dengan kasih

31:20

sayang.

31:23

Yang ketiga, cari ccle yang punya visi

31:26

yang sama.

31:29

Biasanya memang kayak tadi loh, yang

31:31

jadi membuat kebenaran itu ndak nyaman

31:33

ketika teman kita semuanya ndak benar.

31:38

Oh, begitu kita benar sendirian, wah

31:40

kita mesti diketawain itu kan. Wah, ini

31:44

yang sok alim ini. Ini yang wah sok

31:47

religius ini. Wah, gak nyaman sama

31:50

sekali. Kamu salah circle.

31:54

Nyari kelompok yang

31:57

satu visi denganmu. Jadi temukan

32:00

komunitas yang aman bagi kebenaranmu.

32:03

Itu lebih enak. kamu bisa menikmati

32:05

kebenaranmu. Tapi kalau tidak sudah

32:10

lagi enak-enak ngobrol kamu komit

32:12

sebentar ya saya pamit ngaji filsafat.

32:14

Wah gitu

32:18

sudah orang heboh semua itu. Sekarang

32:21

kamu sesat yo, kafir yo. Kamu sekarang

32:25

belajar filsafat segala ya gitu. A

32:28

sircelmu gak sevisi. Tapi kalau satu

32:31

visi, woh sekarang ada ngaji toh. Yuk

32:33

bareng-bareng enak.

32:35

Ah itu. Maka di antara cara untuk kita

32:39

bisa menikmati kebenaran, cari cirkel

32:41

yang pas, cari teman yang cocok,

32:43

komunitas yang sesuai.

32:47

Kemudian

32:49

kalau ini agak berat, tapi kalau kita

32:51

bisa nyampai di titik yang terakhir ini,

32:53

apapun situasinya, kebenaran akan

32:55

membanggakan, membahagiakan.

32:58

Yaitu apa? Latihan kuat gelisah.

33:04

Jadi, kenyamanan yang sejati lahir dari

33:08

kemampuan kita untuk menerima

33:11

ketidaknyamanan.

33:14

Kalau kalian bisa bilang begini, "Ah,

33:16

bagi orang-orang semacam itu tidak

33:18

nyaman, Pak. Kalau saya nyaman-nyaman

33:20

saja itu, Pak." Ah, itu kamu hebat.

33:22

Sudah.

33:24

Ketidaknyamanan bagimu adalah

33:26

kenyamanan.

33:28

Dan itu kebenaran kalian sudah hebat.

33:30

Ahlah, gak perlu sirkel-sirkelan, Pak.

33:32

Saya nyaman pokoknya dengan kebenaran.

33:34

Terserahlah teman-teman gak setuju. Saya

33:37

dianggap kafir, sesat, gak apa-apa saya

33:39

jalan. Kamu hebat. Sudah ketidaknyamanan

33:42

bagimu adalah kenyamanan.

33:46

Ah, ini hidupmu akan jauh lebih tenang.

33:51

Jadi kebenarannya nak berubah, cuma

33:53

jiwamu lebih luas.

33:58

Ini ya saya khawatirnya kalau selalu

34:00

kebenaran itu dalam persepsimu tidak

34:02

nyaman, lama-lama mungkin kamu gak

34:04

kerasan dengan kebenaran.

34:07

kayak yang menahan minum air tadi loh.

34:11

Lama-lama dia gak kuat akhirnya minum

34:12

air ikut edan sama-sama yang lain.

34:16

Ayo kita usahakan kebenaran itu rasanya

34:20

tetap enak, tetap nikmat, tetap nyaman.

34:26

Antara lain dengan cara tadi, jangan

34:29

ambisius. Setahap-setahap,

34:31

selangkah-selangkah

34:34

integrasikan dengan hati.

34:36

dengan kasih sayang sesama manusia.

34:39

Cariel yang cocok atau

34:43

latihlah diri kita untuk kuat dalam

34:48

kegelisahan.

34:53

Lanjut. Kalau sudah

34:56

ilusi kita taklukkan, berarti kita ada

35:00

di level sadar.

35:06

sedikit untuk menutup sesi kita malam

35:08

hari ini.

35:11

Inilah level kesadaran.

35:16

Coba dicek kalian ada di level yang

35:20

mana?

35:24

Ini ini pengembangan ya dari alegori gua

35:27

tadi. Kalian sudah bisa menangkap

35:29

maksudnya alegori gua

35:33

yang di dalam gua masih ilusif. Yang

35:36

keluar gua sudah menemukan kesadaran

35:41

dan

35:43

kesadaran level paling rendah itu adalah

35:46

kesadaran reaktif.

35:51

Ini paling rendah. Sadar diriku,

35:54

sadar emosiku.

35:58

Rumusnya orang reaktif itu aku bereaksi

36:01

maka aku ada.

36:04

Ini mirip kayak orang aku posting maka

36:07

aku ada.

36:10

Ndak mikir kualitas postingannya apa,

36:13

yang penting tampil saja.

36:16

Kalau tidak posting merasa tidak ada.

36:19

Atau kalau sudah posting kok gak ada

36:21

yang nge-like, gak ada yang komen, kamu

36:23

merasa hampa.

36:26

Kamu ada di kesadaran reaktif.

36:30

Orang di kesadaran reaktif ini orang

36:32

yang

36:34

levelnya dalam tanda petik ya masih bayi

36:38

seperti anak-anak.

36:41

Dikuasai emosi,

36:43

mudah tersinggung,

36:46

impulsif.

36:48

Hidup di momen tanpa jarak. Maksudnya

36:51

momen tanpa jarak itu sekarang saya

36:53

bereaksi apa? Otomatis

36:56

sangat terpengaruh oleh lingkungan.

37:01

Kalimat saktinya dua. Yang pertama

37:04

pokoknya.

37:07

Heeh. Kalau ada apa-apa pokoknya.

37:10

Yang kedua, yang penting perasaanku.

37:13

Yang penting aku senang. Yang penting

37:16

aku enak. Yang penting aku nyaman. Itu

37:19

kalian ada di level kesadaran rendah,

37:24

kesadaran reaktif. Tapi ini manusiawi.

37:29

Jadi manusiawi orang itu mengalami yang

37:33

pertama ini. Tapi ini biasanya kalau

37:36

ndak tumbuh berkembang kok sampai tua

37:38

begini berarti ah kita masih anak-anak

37:41

sampai tua.

37:43

Gak usah pakai alasan. Saya kan awet

37:45

muda, Pak. Jadi

37:47

sampai tua masih reaktif gak? Nak

37:49

begitu.

37:51

Kalau bisa yo naik kelas. Apalagi yang

37:54

sudah belajar filsafat naiklah ke

37:56

kesadaran reflektif.

38:00

Jadi kalau ini tidak reaksi tapi respon.

38:05

Mulai berpikir

38:08

saya tersinggung ini. Tapi tidak

38:11

serta-merta terus ngamuk. Ditanyakan

38:13

kenapa ya kok saya marah?

38:16

Benar gak sih marah saya ini pada

38:18

tempatnya gak kalau saya lampiaskan

38:20

sampai segitunya.

38:23

Jadi masih ada jeda antara stimulus dan

38:27

respon.

38:30

Ini kesadaranmu. Kesadaran reflektif.

38:33

Kamu mau belajar terbuka untuk

38:36

dikoreksi.

38:39

Nah, ini berarti kalian sudah mulai

38:42

bangun, mulai tercerahkan, tidak lagi

38:45

autopilot.

38:49

Oke, jadi

38:51

sakit hati. Tapi kan terus mikir ketika

38:54

sakit hati itu, kenapa ya kok sakit hati

38:57

saya?

38:59

Apa yang harus saya lakukan dengan sakit

39:01

hati saya ini? Minggir saja opo dilabrak

39:04

saja? Nah, itu berpikir. Jadi, ada

39:06

faseun mikirnya. Kalau di yang pertama

39:09

tadi otomatis autopilot, tapi di yang

39:12

kedua ada kesadaran reflektif.

39:18

Ada lagi lebih utuh namanya kesadaran

39:21

integratif.

39:25

Ini kita membaca segala sesuatu lebih

39:29

luas.

39:30

Dan tidak hanya aku kalau diintegratif

39:34

ini kita sudah bisa mengempati orang

39:36

lain.

39:38

Ini aku memahami diriku dan orang lain.

39:44

Kalau tadi orang yang bangun dari

39:46

autopilot tercerahkan. Kalau ini kita

39:49

menyebutnya biasanya orang ini sudah

39:51

dewasa,

39:55

sudah

39:57

psikologinya dewasa.

40:01

Orang ini mikirnya tidak hitam putih,

40:04

bisa berempatik,

40:07

bisa diajak diskusi,

40:10

ndak mudah terpancing, terprovokasi,

40:14

hidupnya mengalir tidak kaku.

40:18

Dikritik oke,

40:20

berbeda ayo

40:22

bisa mengelola konflik. Ini berarti

40:24

kalian sudah dewasa. Kesadaranmu,

40:27

kesadaran integratif.

40:32

Ada lagi yang terakhir, puncaknya ada

40:35

kesadaran transenden.

40:40

Ini kita sudah tidak berhenti lagi di

40:43

aku dan kamu, tapi sudah kita semuanya.

40:48

Di sini mah alam semesta juga,

40:50

berhubungan dengan Tuhan juga dan lain

40:52

sebagainya. Aku sebagai makhluk Tuhan.

40:55

Aku sebagai bagian dari alam. Aku

40:58

sebagai variabel kemanusiaan di semesta

41:01

ini dan seterusnya. Ini namanya

41:03

kesadaran transenden.

41:07

Kalau tadi dewasa secara psikologis,

41:10

yang terakhir ini dewasa secara

41:13

spiritual.

41:16

Orang di level ini kalau dalam agama

41:20

kelihatan dia punya karakter ikhlas.

41:23

mudah memaafkan, tidak dendam, tidak

41:27

mencari validasi.

41:30

Dia sudah baik dalam dirinya sendiri.

41:34

Ah, ini sudah matang.

41:37

Oke. Saya ndak tahu, Teman-teman, ada di

41:40

dua yang kiri apa dua yang kanan.

41:43

Yo, semoga meskipun yang kiri tidak di

41:46

yang paling bawah lah, ya. Wong sudah

41:48

kuliah, sudah ngerti macam-macam. Paling

41:51

gak kita direflektif. Alhamdulillah

41:54

kalau diintegratif lebih alhamdulillah

41:56

kalau sudah di kesadaran transend.

42:01

Kalau dirangkum

42:03

kita semua lahir reflektif, reaktif,

42:08

bertumbuh secara reflektif,

42:11

jadi matang secara integratif, dan

42:14

kembali

42:16

pulang secara transenden.

42:19

Ilaihi rojiun.

42:25

Baik. Jadi ini kesadaran

42:29

konsepnya Plato tentang

42:33

alegori gua tadi

42:37

kita coba ya. Kalau kemarin kan

42:39

terakhir-terakhir kita ketemu kalau

42:41

direlate kan dengan kajian Islam kita

42:43

ketemu hak dan batil. Kalau alegori gua

42:47

ini

42:49

bisa kita

42:52

analogikan, kita relevankan dengan

42:55

perjalanan spiritual.

43:01

Jadi dari orang yang terpenjara dalam

43:05

gua melihat cahaya menemukan kesejatian.

43:11

Ini kalau dipakai untuk nafsir suluk

43:14

perjalanan spiritual

43:17

alegori cahaya itu saya membacanya

43:19

seperti itu.

43:22

Yang dimaksud gua

43:25

ilusi

43:27

adalah kondisi jiwa yang sedang lupa,

43:31

sedang lalai.

43:34

Jiwa yang tertidur dikuasai ego.

43:40

Hidup di level nafas, dorongan hawa

43:44

nafsu.

43:47

Itulah guanya pejalan spiritual.

43:53

Kalau tidak keluar dari gua, berarti

43:55

kita hidup dalam ilusi

44:01

yang merantai kita.

44:04

sehingga tidak keluar-keluar dari gua

44:09

adalah ego dan nafsu kita sendiri.

44:14

Kesombongan,

44:16

pamer, hasrat duniawi, citra diri ini

44:21

yang merantai kita, hijab kita di

44:24

hadapan Allah.

44:28

Kemudian

44:29

bayangan gambar-gambar yang tadi muncul

44:36

karena

44:38

cahaya di belakang karena api tadi

44:42

itu sebut saja itu status, jabatan,

44:46

harta, popularitas,

44:49

pujian yang semuanya semu.

44:53

Ilusi itu hanya gambar. ndak sejati.

44:59

Jadi orang yang terjebak dengan realitas

45:03

bayangan tadi, ayo dia sedang hidup

45:07

dalam ilusi, status, jabatan, harta,

45:12

pangkat, dan lain sebagainya.

45:16

Kemudian

45:18

cerita selanjutnya kan terus ada satu

45:21

orang yang dipaksa keluar tadi.

45:26

Dipaksa keluar itu kalau dalam spiritual

45:29

dalam suluk itu simbol ketika kita mulai

45:33

merasa gelisah,

45:36

merasa hidup ini hampa,

45:39

dan

45:40

merasa harus keluar dari lingkaran

45:44

hidup. dalam gua tadi. Ini simbol

45:48

sebenarnya kita sedang dapat hidayah

45:50

dari Tuhan.

45:53

Kita sedang dapat pencerahan. Kita

45:56

sedang dapat

45:59

petunjuk. Ahah. Ini hidayah awal.

46:04

Terus kita keluar

46:06

melihat cahaya. Yang terjadi apa?

46:08

Pertama kita keluar silau.

46:13

Ini bisa kita gambarkan kita itu begitu

46:16

keluar

46:17

kita melihat dosa kita, kesalahan kita,

46:21

kekeliruan kita, terus kita malu, kita

46:24

menyesal, kita merasa kecil.

46:28

Di situ kita ingin segera bertobat saja.

46:31

Ini kesiloan.

46:36

Akhirnya kita mantap untuk keluar dari

46:40

gua.

46:42

Ah, ini mungkin kalau pakai kalimat yuk

46:44

kita hijrah.

46:47

Kalimatnya terkenal ya kata-kata hijrah

46:50

ini hijrah yang hakiki ya, bukan hijrah

46:53

yang populer.

46:57

Jadi yang beneran kita menjauh dari

46:59

dosa, ganti sirkel, pola hidup ganti dan

47:02

sebagainya.

47:04

Di sini kita melakukan

47:07

suluk, tirakat dan lain sebagainya. Ini

47:10

hijrah.

47:12

Pada akhirnya kita mencapai matahari,

47:18

mencapai kebenaran yang hakiki,

47:22

mencapai kedekatan, musyahadah,

47:25

mukasyafah,

47:27

makrifat, terbuka segala kesejatian.

47:32

Simbolnya matahari nur ilahi. Allah yang

47:37

nurun ala nurin.

47:41

Kalau sudah sampai di sana

47:45

belum rute terakhir tadi orang di luar

47:49

gua setelah lihat matahari yang

47:50

dilakukan apa? Kembali lagi ke dalam

47:54

gua.

47:57

melakukan dakwah, mencerahkan yang lain.

48:02

Tidak asyik dengan dirinya sendiri, tapi

48:04

mengajak yang lain agar juga

48:06

tercerahkan.

48:08

Meskipun mungkin resikonya seperti orang

48:12

yang kembali tadi mungkin ditertawakan,

48:15

mungkin ditolak, mungkin diremehkan,

48:18

tapi tetap dia melakukannya dengan

48:22

akhlak dan adab yang benar.

48:29

Jadi ini

48:32

relevansi spiritualnya

48:35

dari

48:37

kalau kita alegori gua tadi kita bawa

48:41

untuk kajian spiritual. Makanya tadi

48:45

saya bilang terasa dalam narasi alegori

48:50

ini hubungan dengan khazanah ketimuran,

48:53

khazanah spiritual. Karena memang Plato

48:57

sendiri dalam riwayat CV-nya beliau ya

49:01

pernah melakukan perjalanan panjang

49:05

ke wilayah timur. or

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free