Full Transcript

·YouTLDR

Kalau Temanmu Memperlakukanmu Seperti Ini, Tinggalkan Mereka! | SUARA BERKELAS #114

1:22:56IndonesianTranscribed Jul 23, 2026
0:00

Karena kadang orang-orang terdekat juga

0:02

menuntut aku untuk kuat sehingga aku

0:05

dituntut untuk hanya mendengar tapi

0:08

enggak didengar. Jadi, aku adalah rumah

0:10

tapi siapa rumahku? Menjalani hidup itu

0:14

enggak harus terus-terusan menemukan

0:15

jawaban gitu.

0:17

Kita nanti menjalani hidup seperti apa,

0:19

umur bertambah, kita ketemu sama orang

0:21

baru, kita traveling [musik] melihat

0:23

dunia dan sudut pandang baru, makna

0:25

hidup kita berubah. Aku minta waktumu.

0:27

Aku minta kamu mendengarkanku. Ada

0:29

dua perbedaan antara

0:32

personal branding dan pencitraan.

0:34

Aku bikin [musik] A B C D E FG. Aslinya

0:37

aku begitu. Aku posting karena itu

0:39

adalah bagian dari strategi personal

0:40

brandingku. Tapi aku aslinya enggak

0:43

kayak gitu. Di kamera doang aku kayak

0:45

gitu. That's pencitraan. Kenapa teman

0:47

berkelas aku [musik] bilang adalah siapa

0:48

dia di saat orang enggak melihat? Karena

0:50

di zaman sekarang, di zaman sosial

0:52

media, [musik] orang baik di saat ada

0:53

mata yang melihat.

0:55

He.

0:56

Orang bersedekah di saat ada mata yang

0:57

melihat. Aku enggak mau teman itu. Aku

0:59

mau orang baik di saat enggak ada

1:01

siapapun yang melihat karena dia emang

1:03

pure baik dari hatinya gitu.

1:04

Apakah di titik itu kamu merasa kamu

1:07

100% kesepian?

1:09

Yes, aku kesepian karena

1:12

Halo semuanya, kembali lagi di podcast

1:14

suara berkelas. Hari ini spesial sekali

1:16

karena kita kedatangan tamu berkelas,

1:18

wanita berkelas. Ada Prilatu Konsina.

1:21

Hai, terima kasih atas introduction-nya

1:25

tadi. [tertawa]

1:27

Finally, aku bisa mengajak Prilatu Kina

1:29

dan aku sempat bilang ke Pril kalau

1:31

salah satu episode favorit aku di suara

1:32

berkelas itu bareng Omara.

1:34

Iya. I

1:35

dan kurang lengkap kalau cuma Omara yang

1:36

datang ke [tertawa] sini. Aku maunya

1:37

juga PR datang ke sini.

1:39

Favorit dia juga pas lagi ngobrol di

1:40

sini.

1:41

Wow.

1:41

Iya. Dia cerita banyak banget.

1:44

Thank you, thank you for coming. Dan

1:46

sebelum kita bahas banyak hal, aku mau

1:50

cerita sedikit. Tadi malam suara

1:53

berkelas baru aja dapetin word dari

1:55

Spotify.

1:57

Wah, ye

1:58

ya. Kita jadi number one education

2:02

podcast di Indonesia. Dan terima kasih

2:03

untuk teman-teman yang sudah support

2:05

suara berkelas dari nol dan aku happy

2:07

sekali sharing di sini bareng Pril.

2:09

Dan bagi teman-teman yang belum

2:10

subscribe, langsung aja subscribe di

2:12

YouTube Suara Berkelas dan follow kita

2:14

di Spotify. Terima kasih ya. Selamat

2:16

terima kasih PR dan

2:17

senang banget aku ada momen ini.

2:19

Iya congratulation juga untuk kemarin

2:21

FFI lancar.

2:22

Oh iya alhamdulillah.

2:23

Luar biasa luar biasa.

2:26

Pril

2:28

aku penasaran gimana sih kamu bisa

2:31

mendefinisikan

2:34

sisi autenticity kamu gitu.

2:36

Kalau aku ngelihatnya

2:38

autenticity itu keberanian untuk tetap

2:42

jujur di setiap aktivitas atau apapun

2:45

yang kita jalani gitu ya. Misalnya kayak

2:48

sebagai aktor kalau lagi di depan kamera

2:50

kan kita meminjam

2:52

hidup orang lain, meminjam logika orang

2:55

lain. Tapi menurut aku bukan berarti

2:57

kita meninggalkan diri kita gitu. Justru

3:00

di saat kita di depan kamera sebagai

3:01

aktor itu tuh kayak perjumpaan antara

3:05

dunia karakter dan dunia batinku gitu.

3:08

Dan tetap ada kejujuran di situ, tetap

3:09

ada authenticity di situ.

3:11

Begituun juga Pril yang di depan kamera

3:15

podcast suara berkelas gitu misalnya

3:17

ya. Ini adalah Pril yang

3:19

lagi mau bercerita, lagi mau berdiskusi,

3:22

tapi ini adalah tetap sisi pril yang ada

3:24

di dalam diriku gitu. Jadi di setiap

3:27

aktivitas

3:28

ya aku tetap menampilkan kejujuran siapa

3:30

diriku sebenarnya walaupun enggak

3:31

semuanya ya karena manusia punya banyak

3:34

sisi gitu beda lagi sama Pril yang kalau

3:36

di rumah gitu. Jadi ya tergantung di

3:38

mana pun aku berada tetap ada kejujuran

3:40

di dalamnya gitu.

3:42

Hmm. Seperpa jauh jarak antara sisi Pril

3:45

di rumah dengan Pril yang kita lihat di

3:48

depan kamera gitu.

3:49

Kalau boleh terbuka di sini

3:51

jauh-jauh.

3:52

Jauh banget. [tertawa]

3:54

Mungkin sekarang sudah agak lebih dekat

3:56

mungkin ya.

3:57

Tapi jauh karena Pril di depan kamera

4:00

itu kan Pril yang memang

4:02

harus on terus.

4:03

He.

4:04

Em harus ceria, harus bisa memberikan

4:08

energi positif gitu.

4:10

Sedangkan Pril di rumah adalah

4:13

Pril yang tanpa kostum, tanpa label,

4:16

H

4:17

tanpa tuntutan dan ekspektasi orang.

4:20

Pril yang masih berproses, masih

4:23

belajar, masih rapuh, dan pril yang

4:28

tidak sempurna gitu.

4:29

H

4:30

jadi ya memang lumayan jauh gitu. Prily

4:33

yang bisa nangis, bisa ngerasa lelah,

4:37

bisa ngerasa dirinya enggak cukup ya itu

4:38

adalah pril yang di rumah. Karena kalau

4:40

di depan orang kan pril-pril itu stay di

4:44

rumah gitu, enggak enggak dibawa keluar

4:45

rumah. Jadi ya cukup jauh. Makanya

4:50

teman baru gitu yang misalnya tadinya

4:52

melihat aku dari sosial media terus

4:54

mengenal aku lebih dekat atau misalnya

4:56

sama pasangan juga tiba-tiba melihat

4:58

lebih dekat. Pasti ada sisi-sisi yang

5:00

baru mereka lihat dan baru mereka pahami

5:02

gitu. Kenapa aku sejauh itu di rumah dan

5:04

di luar gitu.

5:06

Hmm. Aku suka lihat postingan yang

5:08

pernah aku ceritain ke kamu.

5:10

Kamu pakai baju Doraemon itu dibeli oleh

5:12

ibu kamu kan. He.

5:14

Tapi Omar juga komen kan kayak aku juga

5:16

ngelihat dari sisi bahwa

5:17

wah ini PR emang kelihatan banget masih

5:19

ada kecil gitu loh. Ada anak kecil di

5:22

dalam diri kamu yang mungkin aku lihat

5:23

dari postingan itu gitu.

5:25

Apa kabar anak kecil itu dan kenapa dia

5:27

masih happy terus sampai hari ini?

5:29

Jujur ya anak kecil itu kadang naik ke

5:33

permukaan dan lebih besar daripada Pril

5:35

yang dewasa kadang-kadang kalau sama

5:36

orang yang disayang.

5:37

Oke

5:38

gitu. Dan Pril yang anak kecil itu

5:41

sebenarnya

5:43

lama tidak bersuara kan karena aku itu

5:46

kerja dari kecil udah jadi kakak dari

5:49

kecil. Jadi dari kecil itu memang

5:52

dipaksa dewasa sama sistem gitu. Dipaksa

5:55

dewasa sama lingkungan kerja karena dari

5:57

kecil aku sudah kerja dan dipaksa dewasa

5:59

sama keadaan di mana aku adalah

6:01

perempuan anak pertama yang punya adik

6:04

dan zaman dulu kan didikannya kakak

6:06

harus ngalah ya.

6:07

Iya sih

6:07

kakak harus ngalah gitu. kayaknya

6:09

parenting zaman dulu sama zaman sekarang

6:10

tuh beda banget gitu. Mungkin juga

6:12

karena orang tua kita kan enggak

6:14

terpapar sosial media ya. Jadi informasi

6:16

yang mereka dapat untuk menjadi orang

6:18

tua juga enggak sebanyak sekarang. Jadi

6:19

wajar aja kalau misalnya ada perbedaan

6:21

pola asuh gitu ya. Nah, pola asuh zaman

6:23

dulu kan kita ngerasain banget ya jangan

6:25

nangis ngalah sama adik udah adik dulu

6:28

gitu. Nah, jadi dari kecil si Pril yang

6:30

kecil ini udah biasa memendam emosinya.

6:32

Enggak boleh nangis, enggak boleh

6:34

cengeng, harus bertanggung jawab sama

6:36

pekerjaan, biasa kerja sama orang-orang

6:38

dewasa. Jadi dia banyak dipendem gitu

6:42

dan banyak ditekan gitu si Pril kecil

6:44

ini dari dulu. He.

6:45

Nah, sekarang di saat Pril yang sekarang

6:48

itu punya kebebasan untuk bisa

6:50

berekspresi di depan orang-orang yang

6:51

dia sayang, di depan pasangan, di depan

6:53

orang tua, Pril yang kecil tuh jadinya

6:55

naik ke permukaan dan justru lebih

6:56

mendominasi. Jadinya perilaku aku bisa

6:59

kayak anak kecil banget atau bahkan bisa

7:01

muncul di saat-saat yang aku enggak mau

7:04

pril yang kecil ini muncul. Misal di

7:06

saat aku

7:07

bertengkar atau di saat aku berbeda

7:09

pendapat sama pasangan gitu. Karena aku

7:11

nyaman sama pasanganku dan aku ngerasa

7:14

pril kecil ini aman. Dia muncul ke

7:18

permukaan. Akhirnya pengelolaan emosiku

7:21

tidak seperti Pril yang dewasa.

7:22

Hm. Aku jadinya mau ngucapin apa, tapi

7:26

karena PR yang kecil lagi dominan malah

7:28

jadinya nangis, malah jadinya tantrum

7:30

gitu. Jadi ya jujur Pril yang kecil

7:32

kadang suka mendominasi di saat-saat

7:34

yang aku enggak pengin. Tapi aku paham

7:37

kenapa dia suka muncul. Karena mungkin

7:39

dia enggak cukup muncul di saat aku

7:40

masih kecil.

7:42

Karena di saat aku masih kecil, aku

7:43

harus bertanggung jawab sama banyak hal

7:44

gitu.

7:45

Iya. Dipaksa dewasa oleh sistem, oleh

7:49

kerjaan, oleh keadaannya.

7:51

Wow. Itu really sekali sih ketika kamu

7:54

ngomongin tentang kadang event aku hari

7:57

ini ada sisi anak kecil yang tiba-tiba

7:58

muncul dan kalau diingat lagi oh mungkin

8:00

ketika waktu kecil aku enggak dapetin

8:02

itu.

8:02

Iya.

8:03

Sesimpel waktu kecil aku mungkin enggak

8:04

bisa dapetin PS2 misalnya.

8:06

Iya.

8:07

Jadi ketika aku beli PS5 dengan uangku

8:09

sendiri hari ini kayak oh happy dong.

8:11

Aku sampai hari ini masih suka beli

8:12

mainan.

8:14

Really

8:14

masih suka beli mainan. Sampai Omara tuh

8:16

pernah cerita, "Aku pernah nonton live

8:18

TikTok kamu, apa live Instagram kamu.

8:20

Kamu iseng lagi mainan ember sihir."

8:23

Terus aku bilang, "Ya karena dulu waktu

8:25

kecil enggak mungkin aku dibeliin mainan

8:27

mahal."

8:28

Karena kan

8:29

waktu aku lahir,

8:30

papa mamaku tuh belum semapan di saat

8:33

adikku lahir.

8:34

Oke.

8:35

Jadi, adikku mendapatkan mainan-mainan

8:36

itu, cuma aku udah enggak suka mainan

8:38

karena udah gede kan.

8:40

Jadi, udah enggak dapat mainan lagi

8:42

gitu. Jadinya aku tuh sekarang kalau

8:43

ngelewatin toko mainan aku beli boneka

8:45

atau aku beli ember-ember sihir lah atau

8:48

mainan-mainan anak zaman sekarang. Dan

8:49

itu bikin aku happy banget walaupun cuma

8:51

dipajang di rumah gitu ya. Tapi aku

8:53

happy aku punya dan aku rasa itu Pril

8:57

yang kecil tuh yang lagi pengen gitu dan

8:59

aku mencoba untuk tetap memenuhi itu

9:01

sih.

9:02

He. Tapi tadi ketika kamu cerita itu aku

9:04

ngelihat ada sisi yang rapuh di fase

9:07

dewasa gitu kan.

9:08

He.

9:09

Kayak it's ok kalau kita emang rapuh.

9:11

Kalau kita being funnerable, terutama

9:12

kalau kamu datang ke suara berkelas, aku

9:14

enggak pernah ngelihat kamu tuh sebagai

9:15

wah Pril yang punya nama besar gitu,

9:18

tapi Pril yang manusia biasa.

9:20

He.

9:22

Ada enggak fase kamu rapuh, fase kamu

9:25

kayak di titik terendah, kemudian kamu

9:27

mulai belajar, kamu bangkit, dan even

9:30

enggak ada yang memahami kamu gitu. Dan

9:32

kalau ada let me know di tahap apa

9:34

seorang PR bisa di fase itu.

9:36

Ada banget sih. Makanya ini aku nulis

9:38

buku ee ada tiga fase retak, luruh, dan

9:42

kembali utuh. Ini fase-fase yang juga

9:45

pernah aku rasakan di dalam hidupku

9:46

gitu. Kalau aku boleh melepas semua

9:48

topeng dan label yang ada di dalam

9:49

diriku, jujur retak luru dan kembali

9:52

utuh itu dekat banget sama hidupku gitu.

9:55

Fase retak tuh di saat

9:58

aku sangat-sangat lelah tapi harus tetap

10:01

berjalan.

10:03

Fase di mana aku ngerasa

10:05

aku sangat susah untuk dicintai.

10:08

Fase di mana aku ngerasa

10:11

banyak orang-orang yang menyukai diriku

10:14

tapi tidak menyukai hidupku gitu.

10:16

Hmm. He.

10:17

Jadi,

10:17

oke.

10:18

Fase-fase di mana aku ngerasa aku tuh

10:20

enggak bisa diterima sepenuhnya, itu tuh

10:22

fase-fase retak banget dan menjadi PR

10:26

gitu ya, yang harus ee memenuhi

10:28

ekspektasi orang, yang harus ngertiin

10:30

orang lain. Karena kalau kita enggak

10:32

ngertiin orang lain, kita akan dianggap

10:34

sombong atau akan dianggap egois.

10:36

I

10:38

itu tuh sulit banget. Karena kayak semua

10:40

orang bersandar kepada aku.

10:42

He.

10:43

Tapi aku enggak punya tempat bersandar

10:44

gitu. Semua orang mempunyai harapannya

10:47

kepada aku, tapi aku bisa berharap

10:49

kepada siapa sih? Nah, itu adalah fase

10:51

retak gitu. Ada komentar-komentar

10:54

negatif dari orang atau bahkan dari

10:56

orang yang pernah menjadi teman dekatku

11:00

atau pernah ada di hidupku gitu ya.

11:03

Melontarkan kata-kata yang menyakitiku

11:05

dan membuat aku tuh seperti kehilangan

11:07

nilai di dalam diriku gitu. itu ada di

11:09

fase retak di puisi pertamaku itu ee

11:14

waktu itu aku dibilang kalau aku itu

11:16

seperti kain pel yang lusuh. Kain

11:18

pel yang lusuh.

11:19

Kain pel yang lusuh.

11:19

What does it mean?

11:20

Karena di saat aku bekerja gitu ya, aku

11:24

kan full banget memberikan energiku

11:26

untuk pekerjaanku gitu. Memberikan

11:28

energi untuk pekerjaanku. Aku mencoba

11:30

untuk 100%. Aku enggak mau mengecewakan

11:34

karyawan dan perusahaan. Jadi aku 100%

11:36

gitu bekerja. Tapi mungkin di saat aku

11:39

habis bekerja, aku ketemu sama

11:40

teman-teman, energiku tuh udah habis.

11:43

H

11:44

karena kan pasti ketemu habis kerja ya.

11:45

Ya, habis kerja kita ketemu sama orang,

11:47

ketemu sama teman-teman, energi energiku

11:49

tuh udah habis sehingga aku tuh kayak

11:52

enggak punya ruang untuk orang tuh

11:54

bercerita kepada aku atau aku udah

11:55

enggak punya ruang lagi untuk orang bisa

11:57

bersandar kepada aku karena aku pengin

11:58

juga bersandar kepada orang,

12:00

tapi orang berharapnya aku tuh selalu

12:02

ada buat mereka gitu dan aku harus bisa

12:05

terus kuat gitu. Dan akhirnya sempat lo

12:09

tuh kayak kain pel yang udah lusuh tahu

12:10

enggak kalau pulang kerja terus ketemu

12:12

sama orang karena energi lu tuh udah

12:14

habis jadi kayak enggak ada sisa buat

12:16

kita enggak ada sisa untuk kita cerita

12:18

juga malas karena mau cerita sama lo

12:20

juga kelihatannya capek gitu mau cerita

12:23

sama lo tentang hidup kita juga kita

12:26

mikirnya kayak ya hidup lo juga lebih

12:28

lebih

12:29

susah dari kita gitu jadi lu kayak

12:31

enggak ngasih ruang untuk orang tuh

12:33

rapuh pas sama luk

12:35

mengagetkan kalimat itu.

12:37

He he.

12:38

Karena

12:40

aku ngerasa orang-orang di sekitarku itu

12:43

berharap aku bisa terus menjadi rumah

12:45

mereka gitu

12:47

tanpa memberi tempat yang nyaman untuk

12:49

pulang ke diri aku gitu.

12:53

Jadi aku adalah rumah tapi siapa

12:55

rumahku?

12:56

Apa rumahku gitu di mana tempat nyaman

12:58

yang aku juga bisa menjadi rapuh gitu.

13:00

Karena kadang orang-orang terdekat juga

13:03

menuntut aku untuk kuat sehingga aku

13:06

dituntut untuk hanya mendengar tapi

13:08

enggak didengar. Itu adalah fase-fase

13:11

yang aku rasakan dietak gitu. Jadi, aku

13:13

ngerasa sangat sendiri, aku ngerasa

13:17

terus-terusan menikmati kesedihanku

13:19

sendiri gitu. Jadi, banyak banget

13:20

puisi-puisi di mana aku lagi sendiri,

13:22

lagi di ruang yang sunyi, lagi ngerasa

13:24

sedih, tapi aku ngerasa enggak punya

13:26

tempat untuk cerita gitu. Karena di saat

13:29

aku cerita,

13:31

kalimat yang paling sering aku

13:33

terima gitu adalah

13:37

ya masih mending loh gitu.

13:39

Wow. Itu sih wah

13:42

itu berat sih. He.

13:45

Kita kan enggak bisa menilai masalah

13:47

orang tuh dari materi.

13:49

Di oke kita melihat orang itu punya

13:51

segalanya.

13:52

He.

13:53

Punya uang.

13:53

He.

13:54

Tapi ya pasti Tuhan itu adil. Tuhan akan

13:56

ngasih masalah yang sesuai dengan

13:58

levelnya dia.

13:59

Yes. Yes.

14:00

Tapi bukan berarti dia enggak sedih,

14:02

bukan berarti dia enggak bisa jadi

14:03

manusia.

14:04

He.

14:05

Aku sering dibecin kalau misalnya aku

14:07

lagi nangis, temanku gitu atau apa, aku

14:09

dibercandain ya, lu nangis tapi rumah lu

14:11

marmer. [tertawa]

14:13

What

14:14

is it really teman kamu atau cuma?

14:17

Iya, orang-orang gitu. Misalnya aku

14:18

cerita lu nangis juga besoknya lu bisa

14:20

beli tiket ke Itali terus lu nangis di

14:22

komo

14:25

dan aku ngerasa kayak

14:28

ya iya sih tapi bukan berarti gua

14:30

berhenti nangisnya kan berarti gua tetap

14:32

nangis dong berarti tetap ada emosi

14:33

sedih di situ yang harus ditampung dan

14:35

harus didengar

14:36

nah itu adalah fase-fase retak di mana

14:37

aku benar-benar ngerasa sendiri gitu

14:39

karena

14:41

aku ngerasa kayak aku itu enggak pantes

14:43

sedih aku enggak ngerasa posisiku

14:46

sebagai pril atau konsina

14:48

itu adalah manusia yang paling enggak

14:50

pantes sedih, paling enggak pantes

14:52

terpuruk. Karena kalau aku terpuruk

14:55

berarti aku enggak bersyukur.

14:56

He,

14:56

itu adalah fase retak. Jadi,

14:58

sangat-sangat sulitlah fase-fase itu.

15:00

Dan akhirnya lahirlah

15:02

menjadi sebuah puisi-puisi gitu. Yang

15:04

pasti kalau puisi-puisi kan ada

15:05

bunga-bunga dan sajak-sajak di situ yang

15:08

mungkin enggak 100% menggambarkan

15:10

kondisiku, tapi memang ya udah aku

15:12

sembunyikan aja perasaanku lewat

15:14

puisi-puisi dan sajak-sajak yang ada di

15:15

fase retak itu gitu.

15:17

Terus baru aku ke fase luruh gitu.

15:19

I

15:20

di mana di fase luruh tuh aku berusaha

15:21

untuk meluruhkan semua perasaan-perasaan

15:25

yang aku tuh ngerasa aku enggak pantes

15:27

untuk dicintai atau aku enggak pantes

15:28

untuk sedih atau aku tetap berdiri di

15:32

tengah-tengah ccle pertemanan atau

15:35

lingkungan yang emang membuat aku

15:37

ngerasa seperti itu terus. Jadi di fase

15:39

luruh tuh aku berusaha untuk

15:40

meninggalkan

15:42

hal-hal yang udah enggak layak lagi

15:44

bersama aku gitu. orang-orang yang

15:47

mungkin tidak memberi ruang untuk aku.

15:50

Standar terhadap diriku sendiri.

15:52

Standardku untuk diriku sendiri yang

15:54

mungkin terlalu tinggi karena ekspektasi

15:55

orang itu aku coba tinggalkan

15:58

orang-orang yang udah enggak baik lagi.

16:00

Kesedihan-kesedihan atau rasa-rasa

16:05

insecure yang merasa diriku itu tidak

16:07

bernilai. ya, aku coba luruhkan gitu dan

16:10

coba berani untuk melangkah dan menerima

16:14

bahwa aku ini cuma manusia biasa sama

16:17

kayak yang lain. Perbedaan kita adalah

16:20

profesi. Profesiku adalah figur publik

16:22

yang dilihat sama orang, tapi aku tetap

16:25

manusia. Itu di fase luruh gitu. Fase

16:27

yang juga sulit karena

16:30

banyak sekali diskusi aku dengan diriku

16:33

sendiri.

16:34

Y,

16:34

apa sih yang aku mau?

16:36

Apa yang aku kejar? di dalam hidup ini

16:39

gitu.

16:41

Apa ekspektasiku terhadap diriku

16:42

sendiri? Apa makna hidup yang ingin aku

16:45

cari? Gitu. Itu banyak banget diskusi

16:49

dan ruang kosong yang aku isi sama

16:50

diriku sendiri gitu. Mempertanyakan

16:52

diriku lahirlah fase luruh gitu.

16:56

Sampai akhirnya fase itu berjalan

16:59

terus-menerus.

17:01

Aku merasa sekarang itu hopefully aku

17:05

ada di fase kembali utuh gitu. kembali

17:07

utuh bukan fase di mana aku itu menjadi

17:11

pril yang dulu atau pril yang lebih

17:13

baik, tapi sebenarnya fase kembali utuh

17:16

adalah fase di mana aku akhirnya

17:20

menerima

17:22

menerima

17:23

penderitaan yang aku lewati, perjuangan

17:26

yang aku hadapi, bahwa itu adalah proses

17:30

yang membuat kita sebagai manusia itu

17:32

harusnya merasa cukup gitu. Karena

17:34

perjuangan itu sendiri adalah

17:35

kemenangan. H

17:37

itu fase kembali utuh gitu. Dan

17:38

sebenarnya ee fase kembali utuh tuh

17:41

mengingatkan aku juga sama buku yang aku

17:43

baca ee bukunya Albert kamu yang The

17:46

Myth of Cisifus.

17:47

Iya. I

17:47

di mana kamu bilang ya hidup itu kayak

17:52

mendorong batu besar ke atas bukit hanya

17:55

untuk melihat batu itu tergelinding lagi

17:57

ke bawah terus kita angkat lagi ke atas.

18:00

Tapi keberanian kita untuk terus lanjut

18:04

dan menemukan makna untuk diri kita

18:05

sendiri dan menerima absurditas tugas

18:09

dan proses yang kita alami di dalam

18:12

hidup. Ya, itu adalah kemenangan gitu

18:15

dan keberanian kita melewati hidup dan

18:17

itu adalah tanda bahwa kita sudah

18:19

menemukan makna di dalam hidup ini.

18:21

Bukan berarti kita harus menyerah, tapi

18:22

justru kita bisa menemukan makna

18:25

walaupun di atas penderitaan gitu.

18:27

Makanya di dalam buku The Meet of Sevt

18:31

kamu bilang kan kita harus membayangkan

18:32

bahwa sifers itu happy,

18:34

sivers itu bahagia. Di saat dia dikasih

18:38

tugas yang sangat absurd untuk

18:40

terus-terusan mendorong batu besar, dia

18:43

tetap melakukannya. Memilih untuk

18:44

melakukannya, tidak memilih untuk mati

18:47

aja gitu. Tidak memilih untuk kenapa

18:49

enggak mati aja, kenapa tetap menderita?

18:52

ya. Karena ternyata di proses

18:54

penderitaan itu dia menemukan makna

18:56

baru.

18:57

Nah, itu yang akhirnya

18:59

aku membuat aku merasa ya ini adalah

19:02

proses kembali utuh gitu. Di mana diriku

19:04

bisa menerima bahwa perjuangan yang aku

19:07

alami adalah proses aku untuk menjadi

19:11

utuh dan proses aku untuk menemukan

19:13

makna kehidupan versi diriku sendiri

19:15

gitu.

19:17

Dan jadilah akhirnya buku retak luruh

19:19

dan kembali utuh.

19:20

Di zaman kreators ekonomi kayak sekarang

19:22

semua orang berlomba-lomba untuk hasilin

19:24

cuan dari dunia digital. Tapi faktanya

19:27

enggak semua orang tahu bahwa kita bisa

19:29

menghasilkan uang dari satu website

19:31

builder doang. Kita bisa jualan kelas,

19:33

bikin digital produk, book konsultasi,

19:36

sampai bikin ebook, bikin

19:38

tulisan-tulisan atau karya-karya kita

19:40

dijual langsung dan orang semuanya bisa

19:42

ke sana untuk langsung check out di

19:44

sana. Jadi kita bisa sambil tiduran 24

19:47

jam kita tidak harus mengontrol website

19:48

builder tersebut, tapi uang bisa tetap

19:50

masuk dari karya kita. Aku bakal kasih

19:52

solusinya. Solusinya ada di link ID atau

19:54

link kitai Linkit sejak tahun 2022. Dan

19:58

itu memudahkan sekali kalau kita sebagai

20:00

kreator menghasilkan uang dan semua

20:03

orang bisa akses karya kamu di sana.

20:05

Misalnya kamu penulis kayak aku, kamu

20:07

bisa bikin ebook, even orang-orang bisa

20:09

konsultasi sama kamu dengan bikin

20:10

appointment di sana dan mereka bisa

20:12

menentukan jadwalnya menyesuaikan dengan

20:14

jadwal kita sebagai penulis. Bahkan yang

20:16

menariknya meskipun kamu belum punya

20:17

produk digitalmu sendiri, kamu bisa

20:19

affiliate produk orang di Linkitin dan

20:21

itu luar biasa banget. Banyak

20:23

kreator-kreator di luar sana enggak

20:24

punya produk sendiri tapi bisa hasilin 2

20:26

digit, 3 digit per bulan di Linkin. So,

20:29

bagi teman-teman yang belum bikin

20:30

linkit-nya, tunggu apaagi? Langsung

20:33

bikin sekarang.

20:35

Wow, luar biasa Bril ya. Aku appreciate

20:38

banget karena dari cerita retak luruh

20:43

dan kembali utuh itu bakal sangat relate

20:45

sama anak 20-an yang nonton ini sih.

20:47

Karena

20:49

aku penasaran sekali kenapa banyak orang

20:52

kelihatan punya karakter yang kuat.

20:55

Akhirnya terjawab di balik itu berat

20:58

sekali hidupnya, penderitaannya banyak

21:00

sekali. Dan aku tidak heran kenapa

21:02

banyak orang yang terlahir lebih dewasa,

21:05

lebih siap dalam segala hal gitu. Karena

21:07

aku selalu ngelihat

21:08

ujian apa yang sudah dia lewati gitu.

21:10

Ya, tapi kan enggak banyak yang berpikir

21:12

kayak kamu ya. [tertawa]

21:13

Iya.

21:14

Kadang orang melihat kesuksesan orang

21:15

itu kan ya hanya di permukaan saja gitu.

21:17

I

21:18

tentu orang kadang lupa bahwa ada proses

21:21

dan ada banyak penderitaan atau

21:23

pengorbanan yang mungkin orang itu sudah

21:24

lalui gitu.

21:26

Dan mungkin pengorbanan dan penderitaan

21:28

itu yang membuat orang itu pantas kan

21:29

akhirnya mendapatkan apa yang dia punya

21:31

sekarang. Heeh.

21:32

Cuma ya aku rasa enggak banyak orang

21:34

yang aware akan hal itu.

21:36

Mungkin karena juga kemajuan teknologi

21:39

yang akhirnya membuat orang bisa melihat

21:40

hidup orang lain hanya dari 30 detik

21:43

atau 15 detik video.

21:45

Ee orang sudah merangkum hidup orang itu

21:47

seperti apa dari apa yang dia posting

21:49

tanpa tanpa berpikir bahwa ya itu hanya

21:54

hanya sesuatu yang ingin ditunjukkan

21:55

aja, tapi kita enggak pernah tahu apa

21:57

yang terjadi di belakang kamera gitu

21:59

kan. H

22:01

everyone's

22:03

wants to trophy but no ones want to feel

22:05

the suffering behind the scene.

22:08

Y

22:08

aku juga tadi ketika kamu bilang kamu

22:10

aku ingat conversation aku juga dengan

22:12

Naomara ketika aku mengcord lagi

22:14

kata-kata itu. To live is to suffer to

22:16

survive is to find some meaning the

22:18

suffering. It bagian dari

22:21

perjalanan hidup gitu. Kalau kita cuma

22:23

menjalani hidup itu flat

22:24

dan ngelihat dari sisi materialistis

22:26

doang, aku yakin banyak orang lebih

22:29

suffer harusnya.

22:30

Iya.

22:31

Kita menjalani hidup seperti itu.

22:32

Menjalani hidup itu enggak harus

22:34

terus-terusan menemukan jawaban gitu.

22:36

He.

22:37

Kita terus bergerak tapi dunia ini

22:39

sebenarnya diam saja gitu. Kita enggak

22:41

akan pernah menemukan jawaban absolut

22:43

apa sih makna hidup buat kita gitu. Iya.

22:45

Ya,

22:45

karena makna hidup akan terus berubah.

22:49

Kita nanti menjalani hidup seperti apa,

22:51

umur bertambah, kita ketemu sama orang

22:53

baru, kita traveling melihat dunia dan

22:55

sudut pandang baru, makna hidup kita

22:57

berubah. Jadi, enggak harus kita

23:00

menemukan makna dan makna itu enggak

23:01

harus absolut gitu. Makanya kalau aku

23:03

ditanya sama orang, "End game kamu tuh

23:06

apa sih?" I don't know.

23:08

Aku enggak tahu endgameku apa.

23:10

Iya. yang aku tahu adalah aku harus

23:12

terus menjalani hidup ini.

23:14

Sebagaimanapun hidup ini memberikanku

23:17

penderitaan atau proses yang aku tidak

23:20

ingin lalui, ya tetap harus aku lalui

23:22

gitu. Enggak tahu end game-nya sampai

23:24

mana. Yang jelas aku pengin menjalani

23:26

hidup

23:27

sesuai dengan makna yang aku ingin cari

23:30

terus

23:31

memberikan impact dan yang paling

23:34

penting hidup dengan integritas gitu.

23:36

Jadi ya kalau ditanya end game-nya apa,

23:37

I don't know. Aku kalau ditanya what is

23:39

your end game? Well, I don't know. Bukan

23:41

berarti aku enggak punya rencana dalam

23:43

hidupku, tapi memang end game itu akan

23:46

terus berubah.

23:47

I

23:47

gitu.

23:48

Ya, aku tadi ingat juga kata-kata kamu

23:51

ketika kamu bilang bahwa kamu mah kalau

23:54

nangis besok bisa ke Itali,

23:57

besok bisa ke mana aja gitu.

23:59

Pertanyaan simpel, kenapa semua itu

24:00

harus dikaitkan dengan sisi

24:02

materialistis? Ya, kayak lu sedih ya

24:06

konteksnya harus dipeduliin sisi

24:07

sedihnya itu ya. He

24:09

bukan apa-apa tuh konklusinya bahwa lu

24:11

sedih, lu banyak uang.

24:12

Iya. Iya.

24:13

Lu lagi stres tapi lu banyak rumah.

24:16

Iya.

24:17

Menurut kamu itu kenapa? Apakah karena

24:19

orang-orang tersebut yang ngejah punya

24:22

trauma dengan finansialnya atau dia

24:24

pernah punya luka dengan sisi

24:26

materialistisnya atau seperti apa? Kalau

24:27

dari POV Brilan sekarang

24:29

menurut aku karena banyak orang yang

24:32

merasa kebahagiaan itu bisa dicapai

24:36

dengan uang. He.

24:37

Dan banyak orang yang mengaitkan orang

24:39

itu sedih dan menderita karena dia tidak

24:42

punya uang. Jadi, selalu mengaitkan

24:44

kesedihan dengan kemiskinan gitu

24:46

ya.

24:46

Dia sedih, dia enggak bisa makan karena

24:49

dia miskin gitu. Jadi ketika ada orang

24:52

yang terlihat kaya atau punya banyak

24:54

uang dan dia sedih, ya enggak pantes.

24:56

Karena lu kan punya uang.

24:59

Money can buy happiness.

25:01

Jadi sebenarnya di sistem kita enggak

25:04

ada enggak ada apa ya, enggak ada

25:07

anggapan uang tidak bisa membeli

25:08

kebahagiaan.

25:10

Sebenarnya

25:11

setiap orang pasti berpikir uang bisa

25:13

membeli kebahagiaan. Makanya banyak

25:16

orang yang mengaitkan kesedihan itu

25:18

dengan materi.

25:19

Which enggak apa-apa

25:20

ya,

25:21

karena semua orang punya penderitaannya

25:23

masing-masing. Aku tidak akan pernah

25:25

mungkin bisa membandingkan kesedihanku

25:27

dengan orang-orang yang enggak bisa

25:28

makan di luar sana.

25:29

Hm. Enggak mungkin bisa. Dan aku

25:31

bersyukur aku bisa makan. Aku bersyukur

25:33

aku bisa tinggal di rumah yang nyaman.

25:34

Aku tidak akan pernah bisa membandingkan

25:36

penderitaanku dengan penderitaan mereka.

25:39

Hm.

25:40

Karena aku tidak bisa membandingkan,

25:42

ya jangan juga emosiku dibandingkan sama

25:45

emosi yang enggak ada kaitannya gitu loh

25:47

menurutku.

25:48

Hm. He.

25:48

Makanya ketika aku dibandingkan dengan

25:51

emosi-emosi orang lain, aku sedih, lalu

25:53

tiba-tiba aku dibandingkan dengan orang

25:55

yang lagi kelaparan, itu kan enggak

25:57

enggak nyambung, enggak berkoneksi gitu.

26:00

Aku sedih misalnya karena aku enggak

26:03

punya teman, terus aku nangis, lalu

26:05

dikaitkannya, "Ya masih mending lo bisa

26:07

makan. Ada orang miskin yang enggak bisa

26:09

makan. Enggak nyambung. Aku sedih karena

26:11

aku enggak punya teman, yang ini sedih

26:13

karena enggak bisa makan."

26:14

Enggak apple to apple.

26:15

Enggak apple to apple. Tapi orang-orang

26:17

biasa menyambungkan kesedihan itu dengan

26:20

materi.

26:22

Padahal ada juga loh orang yang mungkin

26:25

hidupnya pas-pasan, tapi dia bahagia

26:27

sekali karena keluarganya utuh

26:30

banyak.

26:31

Dia mungkin enggak tahu besok mau makan

26:33

apa, tapi dia bahagia karena orang

26:34

tuanya selalu ada buat dia.

26:37

Dia bahagia karena dia punya teman-teman

26:39

yang melihat dia sebagai dia, bukan

26:41

sebagai apa yang dia punya. He.

26:43

Tapi ada juga di sini orang yang sedih

26:46

banget, bergelimang harta, tapi sedih

26:49

karena orang tuanya enggak pernah ada

26:51

buat dia. Orang tuanya sibuk kerja. Dia

26:53

sedih karena dia enggak punya teman yang

26:54

tulus. Karena teman-temannya mau sama

26:55

dia kalau dijajanin doang.

26:58

Ini kan ada dua perbedaan hidup di sini.

27:00

Kita enggak bisa membandingkan kesedihan

27:02

dia sama kesedihan yang ini dong. Karena

27:04

background hidupnya sudah berbeda gitu

27:06

ya. Cuma mungkin orang-orang itu tadi

27:07

biasa mengukur kebahagiaan itu lewat

27:09

materi yang kita punya sehingga bobot

27:11

emosinya itu enggak dilihat.

27:13

He,

27:14

makanya banyak orang yang kurang

27:15

berempati gitu. Jadi, ya menurut aku

27:18

harus banyak apa ya, harus banyak-banyak

27:20

melihat hidup orang lain, berempati sama

27:24

hidup orang lain dan enggak cuma melihat

27:27

itu dari permukaan aja sih gitu.

27:30

Hm. Kurang berempati. Tadi kamu juga

27:34

sempat ngebahas tentang bagaimana sisi

27:36

pertemanan yang mungkin mereka berharap

27:39

harus pulang ke Pril untuk bercerita

27:41

gitu, tapi mereka tidak ingin

27:43

mendengarkan atau memahami kamu yang

27:46

mungkin lebih struggle juga gitu.

27:49

Apakah di titik itu kamu merasa kamu

27:52

100% kesepian

27:54

karena tidak ada lagi orang yang

27:56

mendengarkan kamu, memahami memahami

27:58

kamu di fase kamu retak gitu. Dan kalau

28:00

iya di fase retak itu kamu kesepian,

28:03

gimana kamu menghadapi fase itu?

28:05

Menjalani dengan diri kamu sendiri,

28:07

dealing with it, dan keluar sebagai

28:09

sosok pril yang lebih kuat?

28:12

Yes. Aku kesepian karena aku ngerasa

28:17

aku itu seperti lahir untuk menjadi

28:19

solusi.

28:21

Wow. Tapi Anas itu itu bagus dan dalam

28:24

sekali.

28:26

Karena aku ngerasa aku lahir anak

28:28

pertama gitu ya. ada apa-apa sama

28:30

adikku, pasti orang tuaku akan konsul

28:32

kepada aku untuk gimana nih ya adik kamu

28:34

menurut kamu gimana? So, aku harus

28:36

ngasih solusi gitu. Lalu

28:39

aku dilihat mungkin lebih sukses gitu

28:42

dibandingkan teman-temanku yang kerjanya

28:44

bukan figur publik. Sehingga ketika

28:47

mereka punya masalah, mereka akan cerita

28:48

ke aku karena mereka merasa aku lebih

28:50

superior, aku lebih pantas untuk

28:52

memberikan solusi. Ya udah aku ngasih

28:54

solusi orang curhat apa aku kasih

28:55

solusi, gitu. Aku enggak pernah

28:57

memperlihatkan aku sedih. Jadinya orang

28:59

bisa sedih ke aku karena aku enggak

29:01

pernah sedih. Gimana sih caranya biar

29:03

enggak sedih? Jadi aku ngerasa kayak

29:05

kenapa ya aku tuh selalu diharapkan

29:08

untuk terus memberikan solusi.

29:11

Hmm.

29:12

Begitu pun juga di perusahaan misalnya

29:14

ada krisis. Kebetulan

29:18

aku kerjanya memang handle krisis. Emang

29:20

krisis handling. Kita sebagai

29:22

CMO kalau ada krisis apa

29:24

harus kita perhatiin tuh press rilisnya

29:26

gimana, PR movement-nya gimana. Jadi ada

29:29

krisis larinya ke aku.

29:31

CMO itu C-nya krisis. [tertawa]

29:34

Benar. Benar. C-nya krisis gitu. Di

29:37

pekerjaan kita nge-handle krisis. Kalau

29:39

ada krisis larinya ke kita. Di

29:41

pertemanan larinya ke kita karena kita

29:43

dianggap superior. Jadi kita bisa lebih

29:45

memberikan solusi.

29:46

Di keluarga aku anak pertama

29:48

ya pasti kalau ada apa-apa diskusinya ke

29:51

anak pertama dulu kan.

29:53

Gitu. Jadi ya aku ngerasa aku tuh selalu

29:55

diharapkan memberikan solusi. Lalu siapa

29:57

yang memberikan solusi terhadap hidupku

29:59

gitu. Nah, di situlah aku ngerasa

30:01

sangat-sangat kesepian gitu. Dan

30:04

akhirnya

30:05

yang bikin aku kuat adalah aku bisa kok

30:07

ngasih solusi ke orang lain. Aku pasti

30:09

bisa ngasih solusi ke diriku. Enggak

30:11

harus pertolongan itu dari orang lain.

30:13

Coba dari diri sendiri gimana caranya

30:15

gitu.

30:17

Terus ketika kita butuh orang lain,

30:19

jangan pernah takut untuk ask for help.

30:22

Iya. Jadi bisa jadi itu salahku kan

30:24

karena aku mungkin enggak pernah

30:25

menunjukkan sisi rapuhku gitu. Nah,

30:28

akhirnya di fase retak itu di saat aku

30:30

ngerasa kesepian, aku juga mengevaluasi

30:33

diriku. Akhirnya aku mulai

30:35

memperlihatkan emosi-emosi rapuh

30:37

tersebut ke depan orang tua, ke depan

30:39

sahabat-sahabat

30:41

dan juga akhirnya aku berani menunjukkan

30:43

sisi rapu ke depan pasangan.

30:45

Hm. He.

30:45

Dan jujur

30:48

ee pasanganku yang sekarang yang

30:50

akhirnya berhasil

30:52

merobohkan tembok itu. Karena biasanya

30:55

aku ke pasangan pun temboknya tinggi

30:57

sekali. Karena aku ngerasa kayak belum

31:00

tentu jadi pasangan selamanya. Enggak

31:01

usah dia tahu hidupku 100% gitu.

31:03

Oh wow.

31:05

Ada ada mitigasi itu. He.

31:08

Kerjanya kan selalu nge-handle krisis,

31:10

selalu ngebuat mitigasi, list of risk.

31:13

Jadi kan kebawa kehidupan personal gitu.

31:17

Nah, akhirnya di saat aku di faseet

31:20

retak ini ada sosok pasangan omara gitu

31:25

yang akhirnya aku jadinya mulai terbuka

31:28

gitu. Berani menunjukkan sisi rapuh,

31:29

berani menunjukkan sisi yang enggak

31:31

pernah aku tunjukkan sebelumnya yang

31:33

akhirnya sekarang aku bisa menemukan

31:35

tempat pulang yang selama ini aku

31:37

butuhkan gitu.

31:38

Itu bagus sekali. Dan aku anak pertama

31:40

juga

31:41

merasa kan

31:42

aku sempat nulis di buku keduaku. Ada

31:45

sertifikat penghargaan untuk anak

31:46

pertama. [tertawa]

31:48

Aku setuju banget sih.

31:49

Selama ini tuh mungkin minim support.

31:52

Iya

31:53

dan kita bisa nge-handle itu sendiri.

31:54

Dan aku mau kasih sertifikat ya siapa

31:56

tahu enggak ada yang mau kasih

31:57

sertifikat itu ke kamu. Kama [tertawa]

31:59

boleh banget loh aku ngasih sertifikat

32:01

itu.

32:02

Mau juga ya? Mau juga sih.

32:05

Tapi aku aku suka sekali kata-kata yang

32:07

kamu tadi being funnerable itu kayak

32:08

seorang PR yang pertama kali mungkin aku

32:10

lihat kamu bing voraable gitu ya. Kayak

32:12

kamu rela untuk nangis di depan orang

32:14

tuamu, di depan pasanganmu, di depan

32:16

teman-temanmu. Dan

32:17

tiga kata kunci yang berat, ask for

32:20

help. Enggak semua orang yang kelihatan

32:22

kuat ya. Karena kita selama ini sudah

32:23

capek banget jadi anak pertama yang

32:24

kuat. Kuat banget. Heeh.

32:26

Kita minta tolong itu titik yang

32:29

terkesan kayak kita buka topeng selama

32:31

ini.

32:32

Iya. Iya.

32:33

Dan kita kayak nyerah sama

32:36

pendirian kita selama ini gitu. He.

32:38

Tapi sebenarnya jangan dilihatnya kayak

32:41

gitu gitu. Aku ngerasa

32:45

kita juga harus sadar bahwa kita tuh

32:47

juga udah banyak memberi kok.

32:49

Enggak apa-apa untuk sekali-sekali

32:51

menerima gitu. Hidup enggak harus terus

32:55

memberi ke orang lain. Kita juga boleh

32:56

menerima kekuatan, menerima energi,

32:59

menerima pertolongan dari orang lain.

33:01

Dan itu bukan berarti kita kalah, tapi

33:03

sebenarnya itu menandakan bahwa kita

33:05

adalah manusia biasa, gitu. Kalau kita

33:07

mau diakui kita manusia biasa, kita juga

33:09

harus berperilaku seperti manusia biasa.

33:10

Jangan kayak Wonder Woman atau Superman

33:12

terus gitu kan. Nah, itu yang aku

33:14

pelajari sih selama aku berproses

33:18

yang aku tulis di buku Retak Luruh ini.

33:20

He ya, aku bakal baca sih buku Retakeluh

33:23

dan Kembali Uth.

33:24

H

33:25

really, kalau terkesan kehidupan kamu

33:29

ini sibuk banget ya, CMO ngurusin hal

33:32

lain segala macam, sekarang juga punya Y

33:34

dan harus buka open trip lah segala

33:36

[tertawa] macam. Banyak banget. Banyak

33:37

banget gua lihat kesibukan seorang PR

33:38

gitu.

33:39

Pertanyaan simpel, gimana caranya kamu

33:42

bisa ngasih 100%

33:45

waktu kamu untuk keluarga, pasangan, dan

33:48

temantan kamu yang sebenarnya gimana

33:51

cara akhirnya kamu 100% kamu enggak lagi

33:53

datang dengan aduh kok capek banget

33:55

kerja gitu. Kamu ada di sana 100%

33:59

presence.

34:01

Aku enggak akan pernah bisa kasih 100%.

34:05

Dan

34:07

aku juga kita harus menerima bahwa

34:10

enggak setiap saat kita 100% gitu. Dan

34:12

enggak apa-apa kalau kita lagi enggak

34:14

100% karena belum tentu orang yang kita

34:16

temui juga 100% kok.

34:18

Oh enggak.

34:19

Malah kalau kita ketemu sama orang-orang

34:22

yang beneran nge-support kita,

34:25

dia tidak akan datang dalam 100%.

34:29

Aku juga tidak datang dalam 100%. kita

34:31

bertemu untuk saling recharge untuk

34:33

membuat satu sama lain jadi 100%. Aku

34:36

ngelihatnya jadi kayak gitu gitu.

34:37

Karena kalau kita datang 100% itu kan

34:41

juga sama aja kayak kita

34:43

menutup menutup sisi rapuh kita gitu kan

34:47

ya. Apa bedanya mereka sama publik yang

34:50

har ngelihat kita di sosial media yang

34:52

harus ngelihat kita 100% terus gitu.

34:54

Jadi di saat aku sama keluarga ya justru

34:56

aku enggak 100% bertemu sama mereka

34:58

untuk membuat aku 100%. Aku ketemu sama

35:01

mereka ya, di saat aku lagi capek, aku

35:02

curhat, aku minta dipeluk sama mamaku,

35:04

minta dielus-elus. Kemarin aku pulang ke

35:06

rumah, akhirnya udah lama enggak pulang.

35:09

Aku minta disuapin karena kayak, "Mah,

35:11

suapin dong, aku lagi malas makan."

35:12

Disuapin sama mamakku itu. Aku enggak

35:14

lagi 100%. Tapi karena aku enggak 100%,

35:18

mereka memberikan

35:20

energi dan memberikan kekuatan. Jadinya

35:22

aku 100% aku juga memberikan kebutuhan

35:25

yang mungkin mamaku butuh juga. Mamaku

35:26

mungkin kangen sama aku yang minta

35:28

disuapin,

35:29

kangen sama aku yang manja. Jadinya kan

35:32

kebutuhan kita masing-masing terisi

35:33

karena kita datang enggak berharap

35:35

mendapatkan 100% dari orang dan enggak

35:37

berharap ngasih yang 100% tapi kita

35:39

menjadi manusia yang jujur aja gitu.

35:41

Sama halnya dengan aku ke pasangan gitu.

35:43

Kalau misalnya aku berharap datang ke

35:45

Omara 100% apa bedanya sama Omara

35:48

ngelihat reels a day in my life aku di

35:50

Instagram yang aku 100% banget gitu.

35:51

[tertawa]

35:53

Apa bedanya gitu. Justru aku datang ke

35:55

dia di saat aku 50% dan aku mengeluh

35:58

mengeluh kesah dan meminta sesuatu ke

36:00

dia gitu. Kayak

36:02

aku minta waktumu, aku minta kamu

36:04

mendengarkanku, aku minta kamu elus-elus

36:06

aku dong, kepala aku, gitu. Nah, justru

36:10

tidak menjadi 100% tidak menjadi

36:12

sempurna. Itu yang membuat hubungan kita

36:14

semakin lekat justru sama orang-orang

36:16

terdekat gitu. Karena kita benar-benar

36:17

menjadi manusia seutuhnya gitu.

36:20

I deeply deeply love that. Itu bagus

36:22

banget. Itu bagus banget. April aku

36:24

appreciate itu bagus dan kayaknya

36:26

pertama kali aku dengar dari orang

36:27

ketika aku tanyain hal 100% ini gitu.

36:30

Karena aku enggak pernah pakai POV

36:31

ketika baterai aku lagi lemot. Aku

36:33

enggak pernah pakai POV baterai aku lagi

36:35

60%. Aku mau ketemu orang untuk

36:37

nge-charge at least dapat 80%. Aku

36:40

enggak pernah kepikiran seperti itu.

36:41

Oh ya.

36:41

Aku kepikiran bahwa aku harus dapat 100%

36:44

untuk ketemu sama orang-orang di sekitar

36:46

aku gitu. Karena kalau enggak aku bisa

36:48

jadi kayak enggak 100% ada di sana. Tapi

36:51

kalau kamu buka kacamata aku dengan

36:53

kalimat tadi,

36:55

it's makes sense. Mak sense banget.

36:57

Kali gini emm

36:59

kayak setiap orang itu kan punya

37:00

kebutuhan ya.

37:01

He.

37:02

Dan pasti orang juga senang kan merasa

37:04

dibutuhkan. Kamu pasti senang kalau

37:06

ngerasa dibutuhkan sama orang tuamu atau

37:07

kamu juga pasti senang kalau ngerasa

37:09

dibutuhkan sama pasanganmu. Kalau

37:11

pasanganmu datang ke kamu 100%,

37:13

rasa dia butuh kamunya juga udah enggak

37:15

ada karena dia udah 100%.

37:17

Hm. Tapi kalau misalnya pasanganmu jujur

37:20

datang ke kamu enggak 100% dan akhirnya

37:22

dia membutuhkan kamu, kan kamu juga

37:23

senang. Akhirnya kamu juga ya

37:26

ketambah energinya. Sama kayak aku

37:28

datang ke mamaku 50% aku minta disuapin.

37:31

Mamaku senang banget nyuapin aku karena

37:33

ngerasa kayak, "Yey, my baby girl is

37:35

back."

37:36

He.

37:37

Aku juga senang disuapin sama mamaku

37:38

karena aku merasa disayang sebagai anak

37:40

kecil lagi. Akhirnya kita saling mengisi

37:42

dan semakin kuat hubungan ibu dan

37:43

anaknya.

37:44

Wow. Bayangin kalau aku datang 100% aku

37:46

udah gak butuh disuapin mamaku lagi.

37:48

Paling aku cuma jadinya ngobrol kayak

37:50

orang dewasa sama mamaku. Belum tentu

37:52

itu yang mamaku butuhkan. Bisa jadi

37:54

mamaku kangen sama aku yang kecil.

37:56

Benar sekali.

37:56

Jadi kita harus ngelihatkan dari

37:57

perspektif itu gitu. Sama aja kayak

37:59

kepasangan gitu.

38:00

Kalau Omara datang ke aku udah 100%

38:03

terus dia kayak ya udah cerita aja kita

38:05

jadi kayak orang dewasa. Ya udah kita

38:06

akhirnya diskusi sebagai dua orang

38:07

dewasa. Tapi kalau Omara datang ke aku,

38:09

dia lagi capek, aku jadi punya energi

38:12

untuk kayak mau aku bikinin bread

38:15

pudding, your favorite bread pudding.

38:17

And it makes me happy

38:18

bisa dibutuhkan seperti itu gitu. Atau

38:21

kita mau nonton, kita mau apa. Karena

38:23

kita sebagai manusia juga pasti senang

38:26

kalau punya kalau ada rasa dibutuhkan.

38:28

Dan menurut aku penting untuk kita

38:30

menyadari hal itu supaya kita juga bisa

38:32

memberikan apa yang orang lain butuh

38:34

juga gitu.

38:35

Iya. Dan cara efektif untuk merusak sisi

38:39

itu yaitu dengan bilang bahwa masih

38:41

mending lu gitu.

38:43

Itu cara paling efektif untuk merusak

38:45

hubungan.

38:46

Iya. Ya.

38:47

Dan itu yang dari baterai kita tadi 50%

38:49

nol lagi.

38:50

Iya. [tertawa] Masih mending gue aja.

38:53

Heeh.

38:53

Iya.

38:55

Itu sedih banget sih kalau misalnya lagi

38:58

cerita kayak ya masih mending ya lu

39:00

gitu.

39:02

kayaknya enggak ada yang mending atau

39:04

enggak ada yang lebih baik atau lebih

39:05

buruk deh. Di saat kita merasa sedih ya

39:07

kita sedih

39:09

enggak enggak pengaruh gimana

39:12

kita sedihnya atau enggak pengaruh

39:14

bagaimana apa yang kita punya gitu ya.

39:16

Kita tetap sedih. Heeh.

39:19

Jadi ya aku juga lumayan sedih dan

39:23

frustasi sih ketika banyak orang-orang

39:27

publik karena banyak aku lihat juga di

39:29

komen gitu-gitu yang juga enggak punya

39:31

empati itu melupakan bobot emosi karena

39:34

lebih mengingat

39:36

faktor materi yang orang itu punya yang

39:39

akhirnya banyak orang-orang ngerasa

39:40

enggak pantas sedih menyembunyikan

39:42

lukanya gitu.

39:45

maunya hidupnya sempurna karena takut

39:47

kalau enggak sempurna nanti digituin

39:50

sama orang, dijudge sama orang. Dan itu

39:51

juga terefleksi pas aku ngposting di

39:54

TikTok itu pertama kalinya aku

39:56

nge-posting kayak gitu.

39:58

Aku ngposting aku enggak ee enggak

40:01

terlalu makan benar 2 hari.

40:03

Oke.

40:03

Jadi dalam 2 hari tuh aku cuma makan 3

40:05

sendok. Habis itu udah asupan kaloriku

40:07

dalam 2 hari jelek banget gitu. It's not

40:10

healthy. Tapi karena aku lagi burn out

40:12

sama pekerjaan,

40:14

jadinya makan aja enggak ketelen gitu.

40:15

Aku tuh tipe yang kalau stres enggak

40:17

bisa makan. Kan ada orang yang stres

40:18

eating

40:19

justru kalau stres makan. Kalau aku

40:20

stres ngelihat makanan aja enggak mau.

40:23

Cuma mau minum.

40:25

Minum aja dikit-dikit gitu. Setiap orang

40:27

punya responnya yang beda-beda ya

40:29

terhadap stres. Terus aku posting, aku

40:31

akhirnya bisa makan. Setelah 2 hari aku

40:34

enggak makan karena burn out.

40:38

Pas aku posting, aku kira postingan aku

40:40

itu bisa menguatkan orang-orang yang

40:42

juga lagi ngerasa burn out. Oh, Pril aja

40:45

yang selama ini posting happy-happy dan

40:47

pekerjaannya kayaknya mapan, settle, dia

40:50

bisa loh ngerasa burn out. Berarti gue

40:52

enggak apa-apa kalau gua ngerasa burn

40:53

out. Gua enggak sendiri. He

40:55

tujuan aku tuh itu

40:57

pengin orang-orang tuh ngerasa enggak

40:58

sendiri kalau mereka lagi burn out.

41:00

Tapi ternyata

41:02

komen-komennya sangat beragam.

41:04

Komen-komennya kayak ya PR burn out

41:06

tetap kaya.

41:07

I

41:08

Pril aja kaya burn out. Terus kayak

41:11

makanya jangan fokus sama dunia. Hidup

41:13

itu enggak cuma soal dunia harus pikirin

41:16

akhirat juga.

41:17

Ada yang komen kayak gitu tiba-tiba

41:19

langsung ke agama mengejku keimananku

41:21

terhadap akhirat. karena aku terlihat ee

41:23

ngejar dunia terus gitu.

41:25

Iya.

41:26

Ee makanya jangan kebanyakan ngejar

41:28

dunia. Lihat tuh ee orang yang enggak

41:31

jaga kesehatan nanti tiba-tiba sakit

41:34

nanti tiba-tiba ini. Dan akhirnya aku

41:36

kayak, "Wow,

41:38

ternyata benar gitu." Enggak cuma

41:40

orang-orang di sekitarku aja yang

41:42

membuat aku itu ngerasa enggak pantes

41:44

untuk sedih.

41:45

Heeh. Ternyata publik pun juga membuatku

41:47

ngerasa aku enggak pantes untuk sedih

41:49

karena komen-komennya mereka kayak tidak

41:51

mewajarkan seorang Pril atau Konsina

41:53

bisa burn out dan enggak makan 2 hari.

41:56

Padahal Pril punya uang untuk beli

41:58

makanan enak. [tertawa]

42:00

Iya iya iya. Oke.

42:02

Yang kira ngetu kayak oh my god aku

42:04

sedih banget ngebaca komennya gitu. Tapi

42:07

ya udahlah aku enggak mungkin hapus lagi

42:09

postingan itu. He.

42:10

Aku biarkan aja postingan itu ada dan

42:13

silakan aja orang bisa komentar apa

42:15

gitu. Yang penting orang-orang yang lagi

42:17

burn out bisa ngerasa enggak sendiri

42:20

karena postinganku gitu.

42:21

He.

42:22

Emm. Dan ya akhirnya aku tahu bahwa rasa

42:25

empati kita ini masih kecil banget

42:28

ya

42:28

gitu

42:29

ya. Jadi, ya semoga dengan kemajuan

42:32

teknologi, dengan podcast ini orang bisa

42:36

meningkatkan lagi sisi empati mereka sih

42:38

gitu.

42:38

Setuju, setuju, setuju. Dan aku juga

42:41

enggak heran kalau aku baca komen, Lesi,

42:43

ada komen-komen yang terkesan negatif

42:45

itu adalah refleksi dari apa yang mereka

42:47

alami.

42:48

Refleksi atau dunia di kepala mereka.

42:50

Dan ketika tadi misalnya mereka bilang

42:52

bahwa

42:53

lah Pril

42:55

lagi berod, kenapa enggak mampu beli

42:56

makanan enak?

42:58

Biasanya tuh orang lagi lapar juga itu.

43:00

[tertawa] Mereka juga pengin lagi beli

43:02

makanan enak.

43:02

Iya. Iya. Pokoknya apapun postingannya

43:05

negatif aja gitu. Kayak misalnya lagi

43:08

posting kebahagiaan,

43:09

habis itu kayak ada yang komen biasanya

43:12

yang posting-posting bahagia gini

43:13

kehidupannya enggak bahagia atau semua

43:15

akan pret pada waktunya? Sering enggak

43:17

baca?

43:17

Itu sering. Itu sering. Benar.

43:19

It's crap mentality.

43:20

Iya. It's crap mentality.

43:21

Kayak sedih banget gitu di saat orang

43:24

lain bahagia.

43:26

Karena kita enggak bahagia, orang lain

43:28

enggak boleh bahagia. Orang lain harus

43:29

merasakan apa yang aku rasakan. Dan itu

43:31

kan mentality yang enggak sehat gitu.

43:33

Dan harusnya dia itu bisa mengevaluasi

43:36

dirinya. Kok gua gini ya, kok gua enggak

43:38

bisa senang ya ngelihat kesuksesan orang

43:39

lain?

43:39

He.

43:40

Kok gua punya crap mentality ya? Kenapa

43:42

ya? Gitu. Supaya kita bisa terus

43:44

evaluasi diri. Jangan

43:45

ada orang bahagia

43:47

entar juga putus.

43:49

Kayaknya dalam banyak hal aku sering

43:50

ketemu orang seperti itu gitu. Kayak

43:52

lu mau buka bisnis

43:54

enggak lama. Paling

43:55

lu memulai sesuatu ah itu mah paling 3

43:58

bulan 2 bulan udah udah udah udah stop

44:00

udah apapun ketika orang merintis

44:03

kita akan dianggap bodoh kita akan

44:05

disalahpahami

44:06

dan orang akan meragukan kita gitu

44:07

karena mereka pernah mengalami itu dan

44:09

refleksi dari luka dan gagal mereka itu

44:11

akan dilempar ke orang lain.

44:13

Iya. Tapi kan itu adalah berarti cara

44:15

penyelesaian yang tidak baik gitu. He.

44:18

Ketika orang

44:19

ketika orang mengalami kegagalan lalu

44:22

dia lempar kegagalan itu ke orang lain,

44:25

pokoknya orang lain harus ngerasain

44:26

juga.

44:27

Itu kan berarti ada

44:29

penyelesaian yang enggak selesai dengan

44:32

baik terhadap dirinya sendiri.

44:34

He.

44:34

Karena ketika ketika aku ngerasa

44:36

menderita, aku enggak mau orang

44:37

menderita juga. Justru ketika aku

44:40

misalnya buka bisnis A terus aku

44:43

mengalami

44:45

krisis gitu atau aku rugi gitu terus ada

44:48

temanku yang pengin buka bisnis yang

44:50

sama. Enggak mungkin aku bilang kayak lu

44:52

2 bulan tutup. Enggak mungkin dong. Aku

44:54

malah akan memberikan mereka advice

44:57

terhadap pengalamanku. Aku akan bilang

45:01

kemarin gue tuh ngalamin krisis gini

45:04

gini gini. Nanti lu kalau buka please

45:07

udah bikin mitigasinya ya. Jadi nanti

45:08

kalau masalahnya datang ke lo, lo bisa

45:11

meng-handle itu lebih baik dari gue.

45:12

Semoga sukses, semoga baik-baik aja.

45:16

Justru kita kan harusnya menasihati

45:17

orang untuk enggak terjun ke lubang yang

45:19

sama-sama kita,

45:21

untuk enggak menderita juga gitu

45:23

ya. Karena kita sudah selesai sama diri

45:25

kita, kita udah ngerasa cukup dan kita

45:27

enggak butuh enggak butuh validasi dari

45:31

orang lain atau enggak butuh validasi

45:32

dari penderitaan orang lain.

45:34

Hm.

45:34

Kita menderita, orang lain menderita

45:36

juga. Tuh kan benar. Kenapa kita harus

45:38

mencari validasi dari penderitaan orang

45:39

lain gitu?

45:40

Iya.

45:41

Nah, orang-orang tersebut harus bisa

45:43

aware sih sama apa yang mereka alami.

45:46

Harus juga berani ask for help karena ya

45:48

pasti ada terapi-terapi atau ada solusi

45:52

yang harusnya mereka bisa jalankan gitu.

45:55

Hm. Aku penasaran sih apa the biggest

46:00

insecurity seorang Pril itu? Apa yang

46:03

bikin kamu kayak enggak nyaman atau

46:06

merasa tidak percaya diri ketika

46:08

ngelakuin sesuatu?

46:12

Biggest insecurity selalu menjadi

46:13

pertanyaan yang sangat menarik kalau

46:15

ditanya biggest insecurity. Karena to be

46:16

honest with you, I have a lot. Aku punya

46:19

banyak insecurity, tapi yang paling

46:21

besar adalah

46:26

a quiet fear of not yet

46:29

living up

46:32

the truest version of my life of myself.

46:36

Ada

46:38

ada rasa ketakutan di mana aku tidak

46:40

bisa menjembatani

46:44

diriku yang aku tunjukkan di dunia dan

46:46

juga diriku yang aku temukan di saat aku

46:48

sendiri.

46:50

Aku takut enggak bisa, aku takut bingung

46:53

menjalani hidup dan akhirnya aku

46:55

kehilangan diriku sendiri. Itu sih yang

46:56

paling aku takut gitu.

46:59

Dan itu sudah kita bahas dari awal tadi.

47:02

Kita ngebahas bagaimana jembatan

47:05

penghubung antara kamu di rumah dengan

47:07

kamu di depan kamera dan itu sudah

47:10

berproses lebih dari 10 tahun.

47:11

Iya.

47:12

Kamu mencoba untuk tidak ingin terlalu

47:15

sempurna juga.

47:15

Iya.

47:16

Dan kalau iya kamu kelihatan 100% di

47:18

depan orang terdekat kamu, ya mending

47:20

mereka lihat reels kamu di Instagram

47:21

gitu ya.

47:22

Iya. Tapi kita enggak setiap hari kuat.

47:24

Aku bisa ngomong ini sekarang mungkin

47:26

karena aku lagi kuat, tapi di saat kita

47:27

lagi enggak kuat kan rasa ketakutan itu

47:29

akan lebih besar

47:30

dan akan lebih menguasai kita gitu. Rasa

47:32

insecure itu gitu ya. Aku juga

47:35

sebenarnya insecure banget kalau aku tuh

47:38

enggak cukup untuk orang-orang yang ada

47:40

di sekitar aku atau aku mengecewakan

47:42

mereka sih gitu aja. He.

47:44

Karena dari kecil aku sudah hidup di

47:46

atas harapan orang lain.

47:49

I

47:49

tentu sebijak-bijaknya aku masih ada

47:52

rasa takut dan rasa insecure kalau aku

47:54

tidak bisa memenuhi ekspektasi itu gitu.

47:56

Hm.

47:57

Kalau aku akan mengecewakan mereka. Dan

48:00

tentu trauma-trauma atau fase-fase retak

48:04

yang tentu masih ada di dalam diriku itu

48:07

aku takutnya naik lagi ke permukaan dan

48:09

akan menguasai insecurity aku gitu.

48:11

Kayak misalnya aku misalnya takut enggak

48:15

cukup buat Omara misalnya.

48:16

I

48:18

kenapa aku bisa ngerasa aku insecure

48:20

banget enggak cukup buat Om Mara? Ya

48:21

karena di masa lalu banyak orang yang

48:24

bilang kalau aku enggak cukup.

48:26

Hm.

48:26

Dan akhirnya orang-orang tersebut udah

48:28

enggak ada lagi di hidupku. Mereka

48:29

memilih untuk meninggalkanku gitu.

48:31

Nah, itu kan yang jadinya membuat aku

48:32

insecure. Aku udah cukup belum ya buat

48:34

orang tuaku? Aku udah cukup belum ya

48:36

buat pasanganku? Aku udah cukup belum

48:38

buat fansku?

48:40

Hm. Aku udah cukup memberikan mereka

48:42

alasan belum ya untuk nge-fan sama aku.

48:45

Kenapa ya mereka nge-fan sama aku? I'm

48:48

so insecure about that. Dan mungkin

48:49

orang enggak ngelihat gitu ya kalau aku

48:50

insecure karena orang pasti akan

48:52

ngelihat

48:53

ya elah lo PR.

48:54

Bahkan aku sering ditanya Pril rasanya

48:56

apa sih pas bangun tidur ngaca terus lo

48:58

tuh Prilatu konsum. [tertawa]

49:01

Lucu ya pertanyaannya ya.

49:02

Aku Pril rasanya apa sih lu bangun tidur

49:05

terus lu ngaca gila gua prilon Sina

49:08

terus aku kayak hah?

49:10

[tertawa]

49:12

apa ya rasanya gitu.

49:15

Tapi akhirnya membuat aku jadi ngerasa

49:16

unik ya. Orang bisa punya pandangan itu

49:18

berarti kan orang melihat hidupku tuh

49:19

sempurna banget.

49:20

I

49:21

jadinya orang ngerasa kayak gila enak

49:23

banget ya bangun tidur Pril.

49:24

Iya

49:25

gitu kan.

49:25

Iya

49:26

kayak aku suka ngelihat jokes gitu kalau

49:28

ada bayi lahiran terus ee dia itu orang

49:33

tuanya artis gitu. Oh iya

49:34

enak banget lahir pas tahu orang tuanya

49:36

siapa gitu kan.

49:37

Iya iya iya.

49:38

It's so funny gitu. Karena berarti orang

49:40

itu emang ngelihat hidup orang dari

49:41

fasadnya aja gitu. Menolak untuk

49:44

benar

49:44

menelusuri lebih dalam lagi gitu.

49:46

Benar. He.

49:47

Dan aku ya kalau untuk lucu-lucuan

49:50

dan aku juga enggak mau menjelaskan

49:51

terlalu panjang karena mungkin itu

49:53

enggak terlalu dekat sama aku kayak

49:54

gimana rasanya PR lu pas ngaca

49:56

ee ternyata lo prilat kons oh I feel so

49:59

good. Aku cuma ngomong gitu aja sih. I

50:01

feel so good ya. Why not gitu. Tapi ya

50:04

kalau ditanya sama orang yang dekat atau

50:06

ditanyaya sama orang yang pengin aku

50:07

share, aku akan bilang kayak ya jadi

50:09

Pril bukan

50:10

hal yang mudah gitu.

50:12

I

50:13

ada banyak proses, ada banyak ee

50:17

perjalanan yang mungkin enggak

50:19

terbayangkan sebelumnya gitu. Heeh.

50:21

Jadi, pas aku lihat diriku di kaca,

50:24

justru aku harus berusaha untuk

50:27

udah aku udah cukup kok, aku udah cukup

50:30

kok buat orang lain.

50:32

He,

50:32

enggak apa-apa untuk enggak sempurna

50:35

gitu, enggak apa-apa untuk ee menjadi

50:38

diriku sekarang gitu. Malah banyak

50:40

afirmasi-afirmasi yang menguatkan diriku

50:42

gitu. Bukannya sombong karena aku bangun

50:44

tidur adalah prilaku konsina gitu.

50:47

Malah kadang aku berpikir, gimana ya

50:49

kalau aku bangun tidur, aku adalah Pril,

50:52

tapi bukan Pril atau konsena yang orang

50:53

kenal, tapi Pril yang mungkin kerjaannya

50:57

kantoran gitu.

50:59

H

50:59

yang mungkin ada yang mungkin kerjaannya

51:03

enggak di depan layar gitu. Apa ya yang

51:05

aku rasa

51:07

aku bisa mengisi kekosongan yang aku

51:09

rasakan kalau aku perilat konsun enggak

51:11

ya gitu. Aku bisa aku enggak kesusahan

51:14

cari pacar enggak ya?

51:16

Oh. Oh, oke oke oke. Aku enggak

51:18

kesusahan cari teman enggak ya gitu.

51:20

Iya iya benar. Aku sempat mikir gitu

51:22

juga.

51:23

Kayak kalau kita lepas topi mungkin topi

51:25

fame, topi nama besar kita.

51:26

Iya.

51:27

Kalau aku jalan di sana aku jadi aku apa

51:30

adanya gimana ya?

51:31

Iya.

51:32

H.

51:32

Dan kalau aku bukan perilat konsina

51:35

kira-kira orang ngedekatin aku tuh

51:37

karena apa ya?

51:38

Oke [tertawa] ya. Oke. Aku waktu itu

51:40

semphas itu sama Jerom dan

51:42

Oh iya

51:42

kayak ngomongin tentang hubungan

51:44

transasional kan. Terus dia bilang,

51:45

"Kalau kita

51:47

bukan kita yang sekarang orang mau

51:49

ngobrol sama aku karena apa?" Ya, itu

51:51

pertanyaan bagus banget sih.

51:52

Iya. Karena apa ya? Gitu.

51:55

Jujur ya, namanya juga perempuan gitu

51:56

ya. Dan aku rasa banyak

51:59

perempuan laki-laki di luar sana juga

52:00

ngerasain ini. Ini bukan kita enggak

52:01

bersyukur ya, Guys. Tapi kita pasti

52:04

punya insecurity di mana kita ngerasa

52:05

jelek. Pasti pas

52:07

pasti gitu ya. Mau mau kita dipuji sama

52:09

orang cantik kek, tapi pasti kita kalau

52:11

ngacak, "Kayaknya gua jelek deh,

52:12

kayaknya gue gendutan deh." Itu udah

52:13

wajar banget. Mau perempuan, mau

52:14

laki-laki pasti pernah ngalamin itu.

52:16

Pasti.

52:16

Nah, aku tuh pernah ngerasa

52:19

cowok tuh ngedekatin aku karena aku

52:21

perilat konsina apa karena aku cantik

52:23

ya? Aku cantik enggak sih sebenarnya?

52:25

Jadinya tuh kita punya

52:27

perasaan itu gitu. Orang tuh ngedekatin

52:29

karena cowok itu ngerasa ya udah gua mau

52:33

ngedekatin sosok Pril atau Kina. Tapi di

52:36

mata mereka aku menarik enggak ya?

52:38

Di mata mereka aku cantik enggak sih?

52:40

Apa mereka ngedekatin karena aku udah

52:41

menjadi sosok aku udah menjadi tokoh si

52:44

Prilatu Konsina ini. Tapi secara fisik

52:47

aku menarik enggak sih buat mereka? Ya

52:48

pastilah kita sebagai perempuan ada rasa

52:50

itu

52:51

pastinya

52:51

gitu kan. Karena ya

52:55

kadang kita dikasih pujian. Pernah

52:57

enggak sih kamu dikasih pujian tapi kamu

52:58

enggak mau dipujinya itu? Hm.

53:00

Misal

53:01

aku ngobrol sama orang, aku dipujinya

53:03

kayak kamu pintar banget. Tapi di dalam

53:05

hatiku aku maunya dipujinya cantik.

53:07

[tertawa]

53:09

Lagi dekat sama orang gitu terus kayak

53:11

kamu pintar deh.

53:13

Tapi cantik enggak sih aku? Gitu kan.

53:15

Namanya juga perempuan gitu. Ada

53:16

insecurity-insecurity dan pertanyaan itu

53:19

gitu. Kalau aku bukan sosok perilonsina.

53:22

Heeh.

53:22

Cowok ngelihat aku berpenampilan seperti

53:25

ini menarik enggak sih buat mereka? He.

53:27

Apa yang membuat mereka mau ngedekatin

53:29

aku?

53:29

Hm.

53:31

Ada gitu pertanyaan itu.

53:32

Iya.

53:33

Dan itu jadinya aku tanyain ke Mara gitu

53:35

kayak

53:35

Iya. [tertawa]

53:36

Kamu tuh kenapa ngedekatin aku? Kamu

53:39

kenapa naksir sama aku?

53:40

Heeh.

53:41

Dan ketika dia menjawab sesuatu yang aku

53:42

mau, aku udah ngerasa cukup.

53:45

Hm.

53:45

Ya. Soalnya kamu cantik. Yes, finally.

53:48

Iya. [tertawa] Iya. Terus dia dia terus

53:50

dia nyambung cantik di wajah dan cantik

53:53

di pikiran. [tertawa]

53:54

Biasanya colol gombal gitu kan.

53:57

terus kayak ye finally gitu. Dan

54:00

akhirnya kan orang kayak bukannya lebih

54:02

bagus dipuji pintar ya

54:04

atau bukannya lebih bagus dipuji kalau

54:06

lo itu orang yang dewasa ya.

54:08

Ya kadang kita penginnya dipuji

54:11

cantik aja gitu gitu karena ya

54:13

namanya juga kita kadang berusaha

54:16

menjadi perempuan yang cantik dan apa

54:18

kan juga pengin dilihat kayak gitu juga

54:20

gitu. He.

54:21

Nah, itu yang ngebuat aku kayak, "Oh,

54:23

jadi kamu tuh ngelihat aku karena cantik

54:26

ya?" "Ya, kan aku waktu belum ngobrol

54:27

sama kamu, aku enggak tahu kalau kamu

54:29

itu

54:30

sepemikiran sama aku. Aku enggak tahu

54:32

kalau kamu tuh baca buku. Aku enggak

54:33

tahu kalau kita baca buku yang sama."

54:35

Jadi, ya aku ngedekatin kamu buuse

54:37

you're cute.

54:38

Yeay. Gitu. Jadi, aku ngerasa oke

54:40

finally ada yang suka sama aku tanpa

54:42

embel-embel aku baca buku lah, tanpa

54:44

embel-embel aku pintarlah, tanpa

54:46

embel-embel aku dewasa gitu. Karena ya

54:49

tanpa embel-embel itu aku menarik enggak

54:50

sih gitu kan kita juga pengin tahu itu

54:52

ya gitu.

54:54

Ya udah makanya aku udah terafirmasi

54:56

gitu.

54:56

Jadi kalau aku bukan perilaku kondisina

54:58

kamu tetap naksir aku enggak kalau

54:59

ngelihat aku di jalan. Ya tetap oke.

55:01

[tertawa]

55:03

Lucu lucu kalian itu udah itu tetap

55:06

tetap ya. Oke oke oke. Jadi kalau aku

55:08

bukan perilaku toinnya yang followersnya

55:09

segitu tapi kamu buka Instagram aku,

55:11

kamu tetap mau dekatin aku enggak?

55:13

Tetaplah kan fotonya tetap foto kamu

55:15

kan. You're cute. Oh, oke.

55:17

Oke. Udah, udah terafirmasi keinseuran

55:19

itu, [tertawa]

55:21

Pril. Tadi ketika kamu ngomongin tentang

55:23

gimana rasanya bangun pagi melihat ke

55:25

cermin

55:27

dan kamu adalah Pril consinam, aku

55:29

sempat kepikiran satu hal. Aku kepikiran

55:30

bahwa

55:32

hanya kamu yang bisa jadi pril tok Kina.

55:36

Maksudnya

55:36

he

55:37

kamu punya beban itu, kamu ngelewati

55:38

fase itu dan kalau ada orang lain dia

55:41

jadilah PR really. Belum tentu dia bisa.

55:44

Tapi kamu bisa jadi PR really. Am I

55:45

mean?

55:46

I ya ya.

55:47

Itu itu emang anugerah Tuhan sih. Itu

55:49

emang anugerah Tuhan diberikan ke sosok

55:50

kita individu kayak

55:52

kenapa Nabi diturunkan karena dia akan

55:54

jadi khalifah manusia jadi khalifah. Itu

55:56

sebenarnya khalifah untuk kita sendiri

55:57

gitu. Kayak he

55:58

hanya gue yang bisa jadi host seara

56:00

berkelas. Hanya Pril yang bisa jadi Pril

56:02

gitu.

56:03

Iya. He.

56:03

Dan semua orang enggak bisa.

56:04

Dan semua orang harusnya bisa berpikir

56:07

seperti itu juga gitu. He.

56:09

Bahwa dia adalah dirinya dia dengan

56:11

segala beban yang dia punya. Ya, cuma

56:13

dia yang bisa hadapin, cuma dia yang

56:15

memang pantas ada di situ.

56:17

He.

56:17

Supaya itu juga memberikan bahan bakar

56:20

semangat buat kita juga ya. Itu

56:22

memberikan bahan bakar semangat loh buat

56:23

aku pas kamu ngomong gitu. Cuma kamu

56:25

yang bisa jadi perilaku konsiner itu

56:27

membuat aku berpikir,

56:28

"Oh ya oke,

56:30

oke berarti

56:32

aku I'm doing good." gitu. Karena dari

56:35

sejak awal conversation sampai sekarang

56:37

aku bisa ngelihat bahwa ini orang kayak

56:39

puluhan tahun jadi anak pertama dia

56:42

kelihatan kuat di keluarganya dan dia

56:44

berani untuk ask for help itu transisi

56:47

hidupan dan mungkin kalau orang bisa

56:49

nuduh kamu lu berubah pril berubah

56:52

padahal lu berkembang. Iya. Iya.

56:55

Iya.

56:55

Banyak sih yang bilang kayak

56:59

melihat perubahanku setahun ini gitu.

57:01

Dulu yang biasanya aku enggak bisa

57:02

bilang enggak, sekarang aku bisa bilang

57:04

enggak gitu. Dulu yang aku selalu

57:08

memikirkan kebahagiaan orang lain dulu.

57:10

Sekarang aku memikirkan

57:11

kebahagiaan dan kewarasan diri aku dulu.

57:13

He.

57:14

Karena aku yakin kalau aku memikirkan

57:15

kebahagiaan orang lain tapi akunya

57:16

enggak bahagia,

57:18

ya gimana aku bisa memberikan energi

57:20

yang positif terus. gimana aku bisa

57:22

terus memberikan kebahagiaan yang

57:24

benar-benar jujur gitu untuk orang lain

57:26

gitu dan aku kehilangan makna diriku

57:30

dong untuk aku menjalani hidup gitu.

57:33

Jadi ya aku benar-benar sekarang akunya

57:37

waras enggak kalau menjalani ini? Akunya

57:39

bahagia enggak kalau menjalani ini.

57:40

Kalau enggak ya it's your time to say no

57:44

gitu. Jadi orang tuh ngerasa ada

57:46

perubahan itu gitu. Aku bisa bilang

57:48

enggak, aku bisa bilang enggak suka.

57:51

aku bisa lebih tegas

57:53

dan

57:55

tentunya orang-orang dekatku yang

57:57

menunggu nunggu momen ini senang

57:59

akhirnya dia bisa bilang enggak juga

58:01

gitu. [tertawa]

58:02

Akhirnya dia bisa nolak juga. Kadang

58:04

Omara tuh bisa yang kayak I'm so proud

58:05

of you. Kenapa? Buuse you say no.

58:07

I

58:08

so kayak thank you gitu.

58:10

Tapi buat orang-orang yang

58:12

mungkin selama ini berharapnya kita

58:14

bilang iya terus

58:16

merasa kita jadinya memberontak kan.

58:19

Hm. He.

58:20

Wah, dia sekarang udah berubah dia. Udah

58:21

I

58:22

udah jadinya emosinya lebih negatif

58:24

gitu. Makanya kan butuh orang-orang yang

58:26

tepat gitu untuk

58:27

ya

58:27

bisa bersama kita

58:28

ya. I'm so proud of you karena lu udah

58:30

berkembang, bukan berubah ya.

58:32

Iya.

58:33

Thank you.

58:34

Really aku yakin semua orang berkelas

58:39

pasti punya teman yang berkelas.

58:41

Dan untuk jadi teman berkelas, kita

58:43

harus jadi individu yang berkelas dulu,

58:44

gitu.

58:44

He,

58:45

pertanyaan simpel. Kalau aku dan kalau

58:49

Pril itu buka pendaftaran untuk jadi

58:51

teman berkelasnya Pril,

58:55

percatannya apa aja biar aku bisa

58:57

daftar? [tertawa]

59:01

Hm. Teman berkelas ya.

59:05

Kalau misalnya ngelihat, kalau misalnya

59:07

ngedengar kata berkelas, aku itu jujur

59:09

enggak pernah menyambungkan kata

59:12

tersebut sama profesi pencapaian

59:16

atau apapun yang orang itu punya. Tapi

59:19

teman berkelas buat aku adalah bagaimana

59:22

dia berperilaku di saat tidak ada yang

59:24

melihat.

59:26

itu berkelas buat aku.

59:28

Karena ketika tidak ada orang yang

59:30

melihat dia tetap menjadi orang yang

59:32

baik, tetap menjadi orang yang ingin

59:36

memberikan yang terbaik,

59:38

ya itu adalah teman yang tulus buat

59:40

kita. Dan kita sangat membutuhkan

59:42

teman-teman seperti itu, gitu. Enggak

59:44

peduli ada yang melihat, enggak peduli

59:46

menerima balasan, tapi tetap menjadi

59:48

orang yang baik gitu. tetap menjadi

59:50

orang yang bisa mendengarkan,

59:53

tetap bisa menjadi orang yang memberikan

59:56

ruang walaupun enggak ada tuntutan dia

59:58

harus memberikan ruang gitu. Jadi ya

1:00:00

teman berkelas bukan yang profesinya

1:00:04

apa, kaya raya, punya uang, sekolah di

1:00:07

mana, sekolah di IVX atau apa, enggak.

1:00:10

Tapi siapa dia ketika enggak ada orang

1:00:12

yang ngelihat?

1:00:14

Siapa dia ketika enggak ada kamera gitu.

1:00:16

Wow.

1:00:18

Gitu. Aku langsung bikin course L dari

1:00:19

apa yang kamu bilang. [tertawa]

1:00:21

The only habit that really matter is the

1:00:24

habit no one see.

1:00:25

Y

1:00:27

karena kalau kita berbuat baik terus ada

1:00:31

kamera

1:00:32

terus

1:00:35

diposting tapi aslinya kita enggak kayak

1:00:37

gitu. Apa bedanya kita sama pejabat yang

1:00:41

lagi mau nyalek atau pejabat yang lagi

1:00:45

berusaha membersihkan namanya karena

1:00:47

kerusakan yang dia buat? Apa bedanya

1:00:49

kita sama mereka?

1:00:50

Oke. Menyinggung ke sana ya? [tertawa]

1:00:53

Kayak enggak ada bedanya dong gitu.

1:00:55

I

1:00:55

kecuali kalau kita beneran kayak gitu

1:00:58

terus kita posting karena kita mau

1:01:00

menyebarkan kebaikannya itu beda.

1:01:01

He

1:01:02

ada dua perbedaan antara

1:01:05

personal branding dan pencitraan. H

1:01:08

aku bikin A B C D E FG aslinya aku

1:01:11

begitu aku posting karena itu adalah

1:01:13

bagian dari strategi personal

1:01:15

brandingku. Tapi aku aslinya enggak

1:01:17

kayak gitu. Di kamera doang aku kayak

1:01:20

gitu. That's pencitraan. Itu dua hal

1:01:22

yang orang harus tahu gitu.

1:01:24

Jadi kenapa teman berkelas aku bilang

1:01:26

adalah siapa dia di saat orang enggak

1:01:27

melihat? Karena di zaman sekarang, di

1:01:29

zaman sosial media, orang baik di saat

1:01:32

ada mata yang melihat.

1:01:33

He.

1:01:34

Orang bersedekah di saat ada mata yang

1:01:36

melihat. Aku enggak mau teman itu. Aku

1:01:39

mau orang baik di saat enggak ada

1:01:41

siapapun yang melihat karena dia emang

1:01:42

pure baik dari hatinya gitu.

1:01:45

Itu yang aku mau untuk jadi temanku

1:01:47

gitu.

1:01:48

Keren sekali. Keren sekali. Mungkin aku

1:01:51

bisa percaya diri bilang, "Oke, aku

1:01:54

lolos kualifikasi untuk jadi teman

1:01:56

berkelas [tertawa] April." Pertanyaan

1:01:58

simpel lagi,

1:02:00

apa conversation yang harus kita punya?

1:02:02

Gitu. obrolan apa yang harus kita miliki

1:02:05

yang bisa butuh waktu mungkin lebih dari

1:02:07

5 jam

1:02:09

kita masih happy ngobrolin itu terus

1:02:10

dengan Pril gitu. Conversation apa yang

1:02:11

lu senangi?

1:02:13

Jujur ya aku sama sahabat-sahabatku

1:02:17

kita tuh ngobrolin hal yang random

1:02:19

banget.

1:02:20

H

1:02:20

ada waktunya kita ngobrolin hal-hal yang

1:02:22

berat kayak gini. Kayak aku sama Omara

1:02:24

waktu kita masih berteman.

1:02:26

Kita itu ngomongin hal kayak gini bisa

1:02:27

sampai 5 jam. Tahu-tahu udah malam. Kita

1:02:29

bahas

1:02:30

Freud. H

1:02:31

bahas Albert kamu [tertawa]

1:02:34

bahas teori apa gitu sampai 5 jam.

1:02:37

Tapi setelah kita sudah ngomongin itu,

1:02:39

kita menertawakan hidup. Kita bisa

1:02:41

ketawain video-video lucu. Kita bisa

1:02:45

ketawain

1:02:46

perilaku-perilaku orang. Kita bisa punya

1:02:48

cerita lucu yang bisa bikin kita ketawa

1:02:50

dan enggak mungkin kita ceritain ke

1:02:51

orang-orang lain gitu. Kita bisa jadi

1:02:54

diri kita yang

1:02:56

serius tapi bisa jadi diri kita yang

1:02:58

konyol juga gitu.

1:03:01

Itu sih karena aku sama teman-temanku

1:03:02

pun gitu gitu. Kayak kemarin aku

1:03:04

akhirnya ketemu sama sahabatku lagi yang

1:03:06

dia sekarang LDR sama aku karena dia

1:03:08

jauh tinggalnya ikut suaminya terus dia

1:03:10

ke Jakarta. Kita ngobrolin hal yang

1:03:11

serius banget. Ngobrolin soal rumah

1:03:14

tangga, aku ngobrolin soal pekerjaanku,

1:03:16

ngobrolin gimana dia ngurus anak. Tapi

1:03:18

setelah itu kita ketawa enggak berhenti

1:03:21

ngetawain celotehan anaknya todler yang

1:03:23

lagi ngikutin lagi jadi beo gitu

1:03:26

ngikutin apapun yang orang omongin.

1:03:28

Terus kita ngetawain orang. kita

1:03:30

ngetahuin bercandaan-bercandaan yang

1:03:31

kayaknya enggak mungkin kita posting.

1:03:33

Kayaknya kalau diposting bisa viral gitu

1:03:34

ya. Jadi kita omongin dan kita ketawa

1:03:36

jadi diri kita sendiri gitu sih. Jadi

1:03:40

ya conversation jadi manusia aja enggak

1:03:42

perlu ada label apapun gitu. Habis ini

1:03:45

nanti mungkin pas offcam aku kasih tahu

1:03:46

bercandaan-bercandaan apa. [tertawa]

1:03:49

Yang tahu cuma teman-teman di sini

1:03:50

doang.

1:03:51

Bercandaan-bercandaan apa yang aku suka

1:03:53

bercandain sama teman-temanku gitu. He

1:03:57

sebelum kita masuk KN mungkin dari aku

1:03:59

penasaran sekali sih.

1:04:02

Kalau kamu ingin meninggalkan warisan ya

1:04:05

di hidup ini, kamu tuh ingin dikenal

1:04:09

meninggalkan apa gitu kayak karya apa,

1:04:13

warisan besar apa yang mungkin dua

1:04:17

generasi berikutnya tuh masih tahu nama

1:04:18

Prilaina Gu.

1:04:21

Hm.

1:04:23

Jujur ya, aku

1:04:25

punya kemauan yang mungkin

1:04:29

lebih sederhana dari yang kamu duga.

1:04:33

Iya, let me know.

1:04:34

Aku enggak mau dikenal sebagai figur

1:04:38

publik yang

1:04:40

tenar, terkenal, riuh, tepuk tangan.

1:04:43

Enggak sih. Aku benar-benar di saat aku

1:04:46

harus meninggalkan dunia ini, aku pengin

1:04:48

dikenal sebagai manusia yang pernah

1:04:50

memberikan kebaikan. Enggak harus

1:04:52

kebaikannya merubah dunia, tapi at least

1:04:53

kebaikan itu pernah menghangatkan hidup

1:04:55

orang lain gitu.

1:04:56

He.

1:04:57

Itu aja menurut aku udah cukup gitu. Aku

1:05:00

pernah hidup menjadi manusia yang juga

1:05:02

pernah merasakan rapuh, yang pernah

1:05:04

disakiti, menyakiti, memaafkan,

1:05:07

berproses, pernah mencintai dan

1:05:09

dicintai. Dan

1:05:12

semua proses itu walaupun isinya adalah

1:05:15

penderitaan, adalah kemenangan untuk aku

1:05:17

karena aku sudah menjadi manusia yang

1:05:18

seutuhnya. Itu sih yang aku ingin

1:05:20

tinggalkan ketika aku enggak ada lagi di

1:05:22

dunia ini. Mm tentu karya-karyaku,

1:05:25

bukuku, film-filmku adalah penting.

1:05:27

I,

1:05:28

tapi

1:05:30

itu adalah yang aku kerjakan gitu, bukan

1:05:34

bagaimana aku menjalani hidup sebagai

1:05:35

manusia.

1:05:36

Jadi, ketika aku meninggalkan dunia ini,

1:05:37

tentu aku inginnya orang tuh kalau ingat

1:05:39

namaku,

1:05:40

oh ya, dia orang baik. Oh, ya. Dia

1:05:43

pernah

1:05:44

menghangatkan hidupku di sini. I

1:05:46

dia pernah membuat aku merasa lebih baik

1:05:49

walaupun cuma satu atau dua orang yang

1:05:51

pernah merasakan itu, itu berarti buat

1:05:53

aku gitu.

1:05:53

I aku termasuk salah satu orang itu hari

1:05:55

ini.

1:05:57

Thank you.

1:05:58

I [tertawa]

1:06:00

makasih

1:06:02

teman-teman berkelas sebelum kita lanjut

1:06:04

podcast ini, aku cuma mau bilang info

1:06:06

spesial khusus untuk kamu. Mulai hari

1:06:09

ini, kamu sudah bisa join membership

1:06:11

resmi suara berkelas. Kamu bisa dapetin

1:06:14

eksklusif sumun dari episode-episode

1:06:16

favorit aku di suara berkelas dan setiap

1:06:18

bulannya bakal ada akses eksklusif buat

1:06:20

kamu ngelihat behind the scen podcast

1:06:22

suara berkelas seperti obrolan aku

1:06:24

dengan narasumber off the record dan hal

1:06:26

menarik lainnya yang bakal aku share

1:06:28

khusus untuk membership ini. Jadi kalau

1:06:30

kamu merasa podcast suara berkelas

1:06:32

mengubah cara pandang kamu melihat

1:06:34

dunia, feel free untuk join membership

1:06:35

suara berkelas atau klik link di

1:06:37

deskripsi. Sampai jumpa dan jadilah

1:06:39

bagian dari perjuangan dan perkembangan

1:06:42

suara berkelas.

1:06:45

Pril tiga pertanyaan dari teman-teman

1:06:47

suara berkelas.

1:06:48

Pertanyaan pertama dari

1:06:50

EQMN_4P_2809.

1:06:55

Ini kayaknya bukan second account akun,

1:06:56

ini akun ke-10 ya.

1:06:58

[tertawa]

1:06:58

Susah banget,

1:07:00

Kak Pril. Cara agar bisa menstabilkan

1:07:03

selalu kondisi emosional pikiran kita

1:07:06

dengan mental yang kuat di tengah

1:07:08

kondisi yang tidak menentu.

1:07:11

Iya. Emm, di saat lagi enggak stabil,

1:07:14

ini caraku ya. Pasti setiap orang punya

1:07:16

cara yang beda-beda. Di saat lagi enggak

1:07:18

stabil, aku memilih untuk mundur

1:07:20

selangkah dan mencoba untuk tarik nafas

1:07:23

dalam-dalam untuk kita mengenali emosi

1:07:26

itu, gitu. Karena kadang kita ngerasa

1:07:28

kesal, kadang kita ngerasa marah, tapi

1:07:30

juga enggak tahu kenapa sih kita bisa

1:07:32

semarah ini gitu.

1:07:33

Kenapa sih emosi kita bisa enggak

1:07:34

stabil? Kadang karena kita lupa nanya

1:07:37

nanya kabar ke diri kita sendiri gitu.

1:07:39

Diri kita nih lagi apa kabar gitu, lagi

1:07:41

capek kah, lagi lelahkah, lagi enggak

1:07:43

sanggup kah gitu. Dan ya kita harus

1:07:46

jujur sama emosi yang kita rasain gitu.

1:07:48

Jadi kalau aku lagi enggak stabil

1:07:49

biasanya aku tarik mundur dulu. He.

1:07:52

Tarik nafas, coba rasain emosi yang

1:07:55

dirasain itu apa dan kenapa ngerasain

1:07:57

itu. Ketika kita sudah tahu akar

1:07:59

permasalahannya apa, baru coba kita cari

1:08:01

solusinya, gitu. Dan itu pasti enggak

1:08:03

mudah. Ada orang yang menarik diri butuh

1:08:04

berhari-hari untuk tahu, butuh

1:08:06

berhari-hari untuk jadi stabil lagi. Ada

1:08:08

orang juga yang karena udah terbiasa,

1:08:09

aku lumayan terbiasa mensabilkan

1:08:11

emosiku. Jadi cukup tarik nafas sejenak

1:08:13

2 jam aja aku untuk mikirin cari tahu

1:08:16

kenapa sih emosi aku bisa semarah ini

1:08:17

atau seenggak stabil ini. Baru aku cari

1:08:20

solusinya gitu. Tapi ya enggak apa-apa

1:08:23

berproses aja. Semakin lama kita sering

1:08:24

melakukan itu, berdiskusi sama diri kita

1:08:26

sendiri semakin cepat juga kita bisa

1:08:28

menstabilkan emosinya gitu. Itu adalah

1:08:30

caraku ya. He

1:08:32

gitu.

1:08:33

Aku suka sekali kata-kata mundur

1:08:34

selangkah.

1:08:35

Hm.

1:08:36

Untuk lebih dewasa 10 langkah kali ya.

1:08:38

Iya. Benar. Benar

1:08:40

ya. Kayak kita kalau lagi enggak stabil,

1:08:41

kita kan berhubungan sama orang juga,

1:08:43

berkomunikasi juga jadi enggak baik kan.

1:08:45

Daripada kita enggak baik sama orang

1:08:46

lain, kemudian kita mundur selangkah

1:08:48

dulu gitu. It's ok untuk menunda

1:08:51

ya.

1:08:51

Enggak apa-apa untuk menunda.

1:08:53

Setuju. Setuju.

1:08:55

Pertanyaan kedua dari Muhammad Afdol.

1:08:58

Aku penasaran cara Pril me-manage

1:09:00

uangnya dan jelaskan ke kita dong. The

1:09:04

best way to spend your money in your

1:09:05

20s.

1:09:07

[tertawa]

1:09:10

Aku adalah orang yang sangat suka

1:09:11

menabung.

1:09:12

Oke,

1:09:13

aku sangat suka menabung dan

1:09:16

emm di saat uang bertambah

1:09:20

belum tentu lifestyle harus bertambah.

1:09:23

Penghasilan naik, lifestyle belum tentu

1:09:25

terus naik gitu.

1:09:27

Ee aku menghabiskan 20-anku ini bekerja

1:09:32

dan menabung.

1:09:34

menunda hobi-hobiku yang sekiranya

1:09:36

membutuhkan pengeluaran

1:09:39

dan kesenangan-kesenangan yang

1:09:42

membutuhkan pengeluaran banyak demi

1:09:44

tujuan yang lebih fundamental. Jadi

1:09:46

misalnya di umur 20-an aku bekerja, aku

1:09:48

menabung. Tujuannya apa nih? Oke, aku

1:09:50

mau punya rumah sendiri karena kalau aku

1:09:53

menunda punya rumah, properti dan harga

1:09:55

tanah akan semakin mahal.

1:09:56

He.

1:09:56

Lebih baik tujuan rumah itu

1:09:58

diprioritaskan gitu supaya kita punya

1:10:00

aset, supaya kita punya properti. Jadi

1:10:02

di umur 20-an aku nabung untuk tujuannya

1:10:04

beli rumah dan beli tanah. Tentu aku

1:10:06

harus mengorbankan hobi divingku, hobi

1:10:09

mancingku, jalan-jalanku,

1:10:12

metim-eku. Karena itu semua membutuhkan

1:10:14

uang. Diving butuh uang untuk beli tiket

1:10:16

pesawat, alat, semua. Liburan juga gitu.

1:10:20

Itu semua aku tunda dulu, aku tabung

1:10:22

untuk aku beli aset kayak gitu. Ketika

1:10:25

aset sudah tercapai dan kita terus

1:10:29

bekerja, uang udah bisa lebih stabil,

1:10:31

cash flow-nya, baru kita bisa melakukan

1:10:33

kesenangan-kesenangan itu, gitu. Jadi,

1:10:35

aku tuh banyak menunda kesenangan

1:10:36

sebenarnya.

1:10:37

Oh, really?

1:10:37

Untuk aku punya tabungin dan punya aset.

1:10:40

Tapi bukan berarti aku tidak melakukan

1:10:42

kesenangan sama sekali. Hanya saja aku

1:10:44

memilih kesenanganku.

1:10:45

Kesenangan yang sekiranya butuh uang

1:10:47

banyak, ya kita tunda dulu. Tapi kan

1:10:48

bukan berarti kita tidak senang-senang.

1:10:50

setuju.

1:10:51

Senang kita

1:10:53

nongkrong di kafe mengeluarkan uang

1:10:55

Rp100.000, Rp200.000 itu juga senang.

1:10:57

Ngobrol sama orang juga senang tanpa

1:10:59

harus mengeluarkan uang banyak. Tapi

1:11:00

kalau mau senangnya grande banget ya itu

1:11:02

nanti ketika kita sudah secure

1:11:04

sama tabungan, cash flow dan juga aset

1:11:07

yang kita punya gitu. Jadi aku tuh

1:11:09

ngatur uang aku punya beberapa basket

1:11:11

gitu.

1:11:11

He

1:11:12

ada yang untuk nabung, ada yang untuk

1:11:14

investasi,

1:11:16

operasional, dan senang-senang.

1:11:18

operasional itu seperti ya operasional

1:11:20

kita sehari-hari bayar bensin, gaji

1:11:22

karyawan, makan, kebutuhan sehari-hari

1:11:25

lah yang sangat primer gitu. Terus ee

1:11:28

itu udah harus diamanin gitu. Investasi

1:11:31

kalau kita punya uang lebih, taruh di

1:11:33

investasi yang nanti kita akan taruh di

1:11:35

manapun kita mau investasi investasi

1:11:38

kecil maupun investasi besar gitu.

1:11:40

He.

1:11:40

Tabungan juga yang di mana di dalam

1:11:43

tabungan itu juga ada dana-dana yang

1:11:44

bisa kita keluarkan untuk dana darurat

1:11:46

gitu. ya

1:11:47

belajar dari COVID kemarin gitu.

1:11:49

Kita enggak pernah tahu musibah yang

1:11:50

akan datang, tapi at least kita punya

1:11:52

dana yang bisa kita keluarin untuk dana

1:11:54

darurat untuk bantu keluarga atau untuk

1:11:55

bantu diri sendiri gitu.

1:11:57

Jadi ya enggak apa-apa untuk menunda

1:11:59

kesenangan tapi bukan berarti kita tidak

1:12:00

melakukan kesenangan sama sekali, cuma

1:12:02

memilih kesenangan yang sesuai dengan

1:12:03

budget gitu kali ya.

1:12:04

Iya. Dan dengan penghasilan aku yang

1:12:07

sekarang, aku enggak naikin lifestyleku

1:12:10

sih. Aku tetap naik pesawat dengan tiket

1:12:12

ekonomi.

1:12:14

Kayak ketika enggak perlu-perlu banget

1:12:16

beli tiket bisnis, ya enggak usah

1:12:18

enggak

1:12:19

gitu. Kalau aku bisa duduk kayak

1:12:21

kayaknya cuma pengin ke

1:12:23

ee Jepang 7 jam enggak apa-apa 7 jam

1:12:26

ekonomi

1:12:27

he

1:12:27

tinggal tidur aja apalagi flight malam

1:12:30

tinggal tidurin aja enggak masalah.

1:12:32

Nanti sampai Jepang kita tinggal pijit

1:12:34

gitu.

1:12:35

Iya. Iya. [tertawa]

1:12:36

Daripada harus mengeluarkan uang tiga

1:12:37

kali lipat atau empat kali lipat untuk

1:12:39

duduk di kursi bisnis.

1:12:40

He

1:12:41

gitu.

1:12:42

Jadi ya aku enggak apa-apa ke Jepang

1:12:43

atau ke Korea

1:12:45

yang enggak harus puluhan jam duduk di

1:12:48

kursi ekonomi. Dan aku tidak pernah

1:12:50

menjadikan

1:12:52

barang yang aku pakai atau liburanku

1:12:57

atau kursi pesawatku adalah identitas

1:12:59

diriku.

1:13:01

Oh iya. atau kelas hidupku gitu.

1:13:04

He,

1:13:04

aku enggak butuh validasi dari situ

1:13:06

gitu. Jadi walaupun aku duduk di kelas

1:13:08

ekonomi aku enggak masalah. Aku enggak

1:13:09

takut orang nganggap aku, "Ih, kok PR

1:13:12

duduk di kelas ekonomi sih? Aku enggak

1:13:14

akan peduli orang ngomong gitu gitu."

1:13:16

He.

1:13:17

Aku misalnya pun mancing pakai kapal

1:13:20

nelayan yang udah reot gitu, biasanya

1:13:22

kan kita kan mancing enggak enggak harus

1:13:24

terus-terusan pakai yat ya. Kadang kita

1:13:26

pakai perahu nelayan gitu. Ih, kok prili

1:13:28

mau sih kotor-kotor gitu ya. Aku enggak

1:13:29

peduli karena aku enggak menjadikan apa

1:13:30

yang aku pakai atau liburanku atau

1:13:33

caraku menikmati hidup adalah identitas

1:13:34

diriku gitu atau kelas sosialku. Enggak.

1:13:37

Iya, itu bagus. Aku suka sekali. Dan

1:13:39

kayaknya kamu orang pertama yang berani

1:13:41

speak up itu sih di sini kayak

1:13:43

ya maksudnya selama ini aku tidak pernah

1:13:45

mendetailkan tentang

1:13:46

gimana status sosial seseorang itu

1:13:48

mendefinisikan barang yang dia pakai.

1:13:50

Oh iya enggak sama sekali

1:13:51

atau produk yang dia gunakan gitu.

1:13:54

Karena selama ini orang kan bakal ngejak

1:13:56

suka kamu yang kamu pakai itu pasti

1:13:59

barang yang branded dan mahal gitu.

1:14:00

Iya. Iya.

1:14:01

Padahal aku setuju sekali even baju

1:14:03

murah aku pakai kalau itu dipakai oleh

1:14:05

kita ya bisa jadi kelihatan mahal.

1:14:06

[tertawa]

1:14:07

Bisa jadi. Bisa jadi. Ee ini TikTok Shop

1:14:09

ya.

1:14:10

Iya kelihatan mahal kalau gu pakai gitu.

1:14:12

Atau sebaliknya ada orang yang mungkin

1:14:14

sorry for saying kelihatannya enggak

1:14:15

kurang menarik. Kalau dia pakai baju

1:14:17

mahal juga masih kurang menarik gitu.

1:14:18

Ya, dan di saat aku beli barang branded

1:14:20

itu karena aku suka sama barangnya,

1:14:22

bukan karena bukan karena aku mau orang

1:14:24

melihat aku pakai barang mahal itu

1:14:26

gitu. Aku beli tas mahal ya emang aku

1:14:29

suka sama tasnya gitu. Bukan berarti aku

1:14:32

pengin orang ngelihat aku pakai tas ini

1:14:34

gitu

1:14:35

ya. Enggak gitu. Aku enggak pengin kayak

1:14:37

gitu juga. Aku beli barang mahal karena

1:14:39

aku suka karena aku yakin barang mahal

1:14:41

itu bisa menjadi investasi

1:14:44

dan awet

1:14:46

gitu. He.

1:14:46

Jadi, ya karena aku suka barang ya,

1:14:48

bukan karena aku pengin orang melihat

1:14:51

aku pakai barang itu atau aku pengin

1:14:52

validasi dari barang itu

1:14:54

ya.

1:14:54

Karena

1:14:55

aku harus beranggapan bahwa aku lebih

1:14:58

besar dari barang yang aku pakai. Jangan

1:15:00

sampai barang lebih besar daripada kita

1:15:02

gitu.

1:15:02

Bagus sekali, Pril. [tertawa] Itu

1:15:04

mengingatkan aku dengan bukunya Morgan

1:15:05

Husel yang The Psychology of Money yang

1:15:07

dia bilang dia bilang bahwa

1:15:09

ketika kita naik mobil mewah, kita

1:15:11

kirain orang bakal kagum sama kita. I

1:15:14

padahal orang memikirkan bahwa andai dia

1:15:16

juga naik mewah itu kan.

1:15:17

Iya.

1:15:18

Iya. Itu orang pikirin seperti itu sih.

1:15:20

Jadi bukan kayak jarang orang yang mikir

1:15:23

kalau kita naik mobil mewah itu dia

1:15:25

kerjanya apa ya? Itu dia ngapain ya?

1:15:27

Tapi coba gue kayak gitu. Jadi bisa jadi

1:15:29

orang enggak peduli sama kamunya atau

1:15:31

siapa yang nyetir. Orang peduli sama

1:15:33

mobilnya gitu. He.

1:15:35

Jadi, ya

1:15:37

aku enggak mau mencari validasi dari

1:15:39

barang sih, tapi dari apa yang aku

1:15:40

lakukan dan apa yang aku bisa lakukan

1:15:42

untuk society gitu. Impact apa yang aku

1:15:45

bisa berikan kepada orang lain gitu

1:15:47

ya.

1:15:49

Bagus sekali. Kita ke pertanyaan ketiga.

1:15:51

H

1:15:52

dari RDAR, R I C SDAR.

1:15:56

Gimana caranya meluluhkan seorang wanita

1:15:59

yang idealis, independen, dan mandiri

1:16:02

ya? Penasaran? Hehe. [tertawa]

1:16:06

Harusnya n kearah.

1:16:09

Kasih dia ruang.

1:16:10

Hm.

1:16:11

Gitu. Kasih dia ruang untuk dia.

1:16:17

Enggak harus terus-terusan ada untuk

1:16:19

dirinya sendiri atau enggak harus

1:16:20

terus-terusan mandiri gitu. Karena

1:16:23

kadang orang tuh lupa ya kita itu

1:16:24

mandiri,

1:16:27

idealis, itu belum tentu ini yang kita

1:16:30

mau. Bisa jadi ini karena kita dipaksa

1:16:32

oleh sistem gitu. Kayak aku mandiri ya

1:16:36

karena memang aku harus mencari uang

1:16:38

untuk diriku sendiri.

1:16:40

Aku harus membiayai diriku. Aku harus

1:16:43

membantu orang tuaku.

1:16:46

Aku mandiri memang karena itu tadi aku

1:16:49

anak pertama yang di mana aku diharapkan

1:16:52

menjadi pilar keluarga gitu.

1:16:54

He.

1:16:55

Tapi apakah aku mau jadi princess?

1:16:57

Maulah.

1:16:58

Tapi kan

1:16:59

enggak bisa. Sistem mengharuskan aku

1:17:00

menjadi perempuan yang mandiri gitu.

1:17:02

I. Jadi, ya kalau kamu mau ngedekatin

1:17:06

cewek-cewek yang mandiri gitu, kasihlah

1:17:08

dia ruang untuk dia bisa

1:17:11

minta tolong.

1:17:12

He.

1:17:13

Untuk dia akhirnya bisa merasakan

1:17:16

juga dilayani gitu.

1:17:18

Bukannya cuma melayani orang doang gitu.

1:17:21

Dan itu sebenarnya yang juga dikasih

1:17:24

sama marak aku gitu. Di saat aku

1:17:27

biasanya

1:17:28

ngapa-ngapain sendiri, di saat aku sama

1:17:31

dia, ya dia akan memberikan aku

1:17:33

pertolongan gitu untuk aku bisa

1:17:35

istirahat walaupun sejenak gitu.

1:17:37

Istirahat dari label

1:17:39

kemandirianku gitu. Bahwa aku bisa

1:17:41

enggak mandiri dan enggak apa-apa.

1:17:43

Karena kadang perempuan yang mandiri di

1:17:45

saat dia enggak mandiri dia merasa

1:17:47

itu salah gitu karena sudah biasa

1:17:49

menjalani hidupnya seperti itu kan. Nah,

1:17:51

jadi di sebenarnya kita-kita ini butuh

1:17:53

ruang penerimaan dari orang lain bahwa

1:17:56

enggak apa-apa loh untuk enggak mandiri,

1:17:58

enggak masalah gitu. Kamu tetap

1:18:00

perempuan seutuhnya walaupun kamu enggak

1:18:02

mandiri

1:18:03

dan kamu tetap perempuan yang baik

1:18:04

walaupun kamu enggak mandiri. Kita butuh

1:18:06

ruang itu selama ini kita enggak punya

1:18:08

ruangnya makanya kita jadi mandiri.

1:18:09

Iya sih.

1:18:10

Tapi karena kita dikasih ruang akhirnya

1:18:11

kita bisa manja. Akhirnya kita bisa ee

1:18:15

bisa jadi anak kecil, bisa jadi bisa

1:18:17

minta tolong gitu,

1:18:19

bisa tiba-tiba melemah.

1:18:22

Aku sama Omara bisa tiba-tiba enggak

1:18:23

bisa buka tutup botol. Padahal kalau

1:18:25

enggak ada dia aku ngangkat tangki,

1:18:27

[tertawa] ngangkat tangki diving sendiri

1:18:30

gitu sama dia kayak berat gitu ya.

1:18:32

Karena akhirnya kita punya ruang untuk

1:18:33

minta tolong, punya ruang untuk lemah

1:18:35

gitu sih. Jadi kamu harus menciptakan

1:18:37

ruang itu kalau mau ngedekatin

1:18:39

perempuan-perempuan mandiri. I aku jadi

1:18:42

ingat pacarku sendiri kayak kalau enggak

1:18:43

ada aku kayak serba keluar gitu. Tapi

1:18:46

ketika aku tas ringan aja harusnya aku

1:18:48

yang bertanggung jawab untuk mengangkat

1:18:50

gitu loh.

1:18:51

Iya. Ya ampun aku enggak ada dia sakit

1:18:53

aku enggak ada Omara. Aku datang ke UGD

1:18:58

siapa yang sakit? Aku

1:18:59

hm

1:19:00

perut udah sakit ya. Asem lambung udah

1:19:02

sakit. Aku datang ee dengan

1:19:06

terpopoh-popoh gitu kayak siapa Mbak

1:19:08

yang sakit? Aku yang ngantterin siapa?

1:19:10

Enggak ada. He.

1:19:11

Suntik aja terus sama di infus aku harus

1:19:13

kerja lagi habis ini. Terus aku nangis

1:19:15

sendirian di

1:19:16

di bilik

1:19:18

UGD itu.

1:19:19

Iya.

1:19:19

Aku nangis sendirian karena aku ngerasa

1:19:21

kayak aduh capek banget ya harus kuat

1:19:23

lagi sakit tapi harus lanjut kerja tapi

1:19:25

ini tanggung jawab. Aku nangis lagi

1:19:26

diinfos sampai dikasih oksigen sama

1:19:28

susternya gitu. Kayak

1:19:29

nangis.

1:19:31

Bisa aku kayak gitu.

1:19:32

Tapi kalau ada Omara kayaknya asem

1:19:34

lambung jadi kayak wah tersakit gitu.

1:19:37

Kayak enggak bisa ngapa-ngapain gitu.

1:19:39

[tertawa]

1:19:40

I

1:19:40

minta ditemenin, minta disuapin, minta

1:19:43

di apa. Padahal enggak ada dia. Aku bisa

1:19:44

jalan ke UGD sendiri, nangis sendiri.

1:19:46

Tapi kalau sama dia tiba-tiba kayak

1:19:48

langsung enggak bisa apa-apa gitu ya.

1:19:51

Ternyata aku merindukan juga sosok atau

1:19:55

ruang di mana aku bisa mengeluh juga

1:19:57

gitu.

1:19:58

Hm. Kalau ada yang tanya gimana jadi

1:20:00

Pril itu salah satu parknya tadi jalan

1:20:02

sendiri ke Gri dan dituntut untuk besok

1:20:05

kerja lagi gitu tuh.

1:20:06

Iya. part no one [tertawa]

1:20:08

mungkin dokter-dokter dan suster-suster

1:20:10

yang kemarin ngelihat aku nangis di UGD

1:20:13

bisa nonton ini dan iya sih itu aku yang

1:20:15

masangin infus gitu.

1:20:18

Alright Pril aku senang sekali ngobrol

1:20:20

sama kamu hari ini. Sebelum kita tutup

1:20:24

the worst advice yang pernah kamu

1:20:26

terima.

1:20:28

The worst advice yang pernah aku terima

1:20:33

adalah

1:20:36

emm

1:20:40

kalau kamu

1:20:42

tetap standarnya kayak gini,

1:20:45

standarnya tinggi, kamu enggak akan

1:20:48

pernah nemuin pasangan. Jadi, kamu harus

1:20:50

nurin standar kamu kalau kamu mau nemuin

1:20:52

pasangan. Itu advice yang paling buruk

1:20:55

yang pernah aku terima. Karena aku

1:20:57

ngerasa kalau kalau aku nurunin standar

1:20:59

berarti aku dapat pasangan yang emang

1:21:00

sesuai dengan standar yang sudah aku

1:21:01

turunin dong. Kalau aku maunya nemuin

1:21:03

pasangan sesuai dengan standar yang

1:21:05

sudah aku set buat diri aku, karena aku

1:21:06

sangat tahu value yang aku pantas untuk

1:21:08

dapatkan, kenapa enggak? Tapi kayaknya

1:21:12

menjadi perempuan di sini tuh kita harus

1:21:15

melemah dulu, harus turun dulu

1:21:18

standarnya untuk dapat pasangan. Menurut

1:21:20

aku itu jadi manjain pasangannya ya

1:21:23

karena

1:21:24

atau malah itu malah merendahkan

1:21:25

laki-laki menurut aku. Jujur

1:21:27

setuju

1:21:28

ya.

1:21:29

Nasihat yang aku terima itu bukan

1:21:31

merendahkan perempuan,

1:21:32

tapi merendahkan laki-laki. Karena

1:21:34

berarti laki-laki itu bisanya sama

1:21:37

perempuan yang standarnya rendah dong.

1:21:39

He.

1:21:40

Berarti kalau laki-laki bisanya sama

1:21:41

perempuan yang standarnya rendah,

1:21:42

laki-lakinya juga rendah dong.

1:21:44

Iya.

1:21:45

Dan orang tuh enggak sadar dengan

1:21:47

ngomong kayak gitu sebenarnya

1:21:48

merendahkan laki-lakinya bukan

1:21:49

merendahkan perempuannya gitu. Untungnya

1:21:52

aku tidak pernah percaya dan tidak

1:21:53

pernah tergoyahkan sama advice itu.

1:21:55

He.

1:21:55

Aku tetap punya sandaran yang tinggi

1:21:57

terhadap diriku gitu. Aku pengin punya

1:21:58

pasangan yang kayak gini, yang kayak

1:21:59

gini, yang kayak gini. Kalau enggak

1:22:00

ketemu ya enggak apa-apa. Kalau emang

1:22:02

aku harus menikah umur 30-an ya enggak

1:22:04

apa-apa. Tapi aku tidak mau menikah

1:22:05

dengan orang yang salah. Untungnya

1:22:07

datangnya

1:22:09

di umur yang tidak terlalu tua.

1:22:11

[tertawa]

1:22:11

Keren, keren, keren, keren. Nih nih

1:22:14

senyum-senyum nih tadi Omar

1:22:17

gitu.

1:22:18

Iya, itu bagus banget. Aku dapat insek

1:22:20

yang seru banget hari ini dan aku senang

1:22:22

kalau lihat kamu makin berkembang dan

1:22:24

terima kasih. Terima kasih sudah

1:22:25

membiarkan aku bersuara.

1:22:27

Iya,

1:22:27

karena aku jarang sekali bisa bersuara

1:22:29

dan menunjukkan sisi-sisi yang ini gitu.

1:22:31

Karena aku punya ketakutan ya.

1:22:33

Aduh, takutnya kalau ngomong gini

1:22:34

gimana? Takutnya kalau ngomong gini

1:22:36

gimana. Tapi aku ngerasa di suara

1:22:37

berkelas aku juga dikasih ruang untuk

1:22:40

menjadi diriku seutuhnya gitu.

1:22:41

I ya.

1:22:42

Terima kasih.

1:22:43

Aku pendengar yang baik.

1:22:44

Terima kasih [tertawa] loh.

1:22:45

Iya. Aku juga senang sekali ngobrol sama

1:22:46

orang berkelas. Terima kasih pergi sehat

1:22:48

terus dan aku happy sekali lihat kamu

1:22:50

berkembang.

1:22:50

Terima kasih.

1:22:51

Terima kasih semuanya. Sampai jumpa.

1:22:53

Yeah.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free