Kalau Temanmu Memperlakukanmu Seperti Ini, Tinggalkan Mereka! | SUARA BERKELAS #114
Karena kadang orang-orang terdekat juga
menuntut aku untuk kuat sehingga aku
dituntut untuk hanya mendengar tapi
enggak didengar. Jadi, aku adalah rumah
tapi siapa rumahku? Menjalani hidup itu
enggak harus terus-terusan menemukan
jawaban gitu.
Kita nanti menjalani hidup seperti apa,
umur bertambah, kita ketemu sama orang
baru, kita traveling [musik] melihat
dunia dan sudut pandang baru, makna
hidup kita berubah. Aku minta waktumu.
Aku minta kamu mendengarkanku. Ada
dua perbedaan antara
personal branding dan pencitraan.
Aku bikin [musik] A B C D E FG. Aslinya
aku begitu. Aku posting karena itu
adalah bagian dari strategi personal
brandingku. Tapi aku aslinya enggak
kayak gitu. Di kamera doang aku kayak
gitu. That's pencitraan. Kenapa teman
berkelas aku [musik] bilang adalah siapa
dia di saat orang enggak melihat? Karena
di zaman sekarang, di zaman sosial
media, [musik] orang baik di saat ada
mata yang melihat.
He.
Orang bersedekah di saat ada mata yang
melihat. Aku enggak mau teman itu. Aku
mau orang baik di saat enggak ada
siapapun yang melihat karena dia emang
pure baik dari hatinya gitu.
Apakah di titik itu kamu merasa kamu
100% kesepian?
Yes, aku kesepian karena
Halo semuanya, kembali lagi di podcast
suara berkelas. Hari ini spesial sekali
karena kita kedatangan tamu berkelas,
wanita berkelas. Ada Prilatu Konsina.
Hai, terima kasih atas introduction-nya
tadi. [tertawa]
Finally, aku bisa mengajak Prilatu Kina
dan aku sempat bilang ke Pril kalau
salah satu episode favorit aku di suara
berkelas itu bareng Omara.
Iya. I
dan kurang lengkap kalau cuma Omara yang
datang ke [tertawa] sini. Aku maunya
juga PR datang ke sini.
Favorit dia juga pas lagi ngobrol di
sini.
Wow.
Iya. Dia cerita banyak banget.
Thank you, thank you for coming. Dan
sebelum kita bahas banyak hal, aku mau
cerita sedikit. Tadi malam suara
berkelas baru aja dapetin word dari
Spotify.
Wah, ye
ya. Kita jadi number one education
podcast di Indonesia. Dan terima kasih
untuk teman-teman yang sudah support
suara berkelas dari nol dan aku happy
sekali sharing di sini bareng Pril.
Dan bagi teman-teman yang belum
subscribe, langsung aja subscribe di
YouTube Suara Berkelas dan follow kita
di Spotify. Terima kasih ya. Selamat
terima kasih PR dan
senang banget aku ada momen ini.
Iya congratulation juga untuk kemarin
FFI lancar.
Oh iya alhamdulillah.
Luar biasa luar biasa.
Pril
aku penasaran gimana sih kamu bisa
mendefinisikan
sisi autenticity kamu gitu.
Kalau aku ngelihatnya
autenticity itu keberanian untuk tetap
jujur di setiap aktivitas atau apapun
yang kita jalani gitu ya. Misalnya kayak
sebagai aktor kalau lagi di depan kamera
kan kita meminjam
hidup orang lain, meminjam logika orang
lain. Tapi menurut aku bukan berarti
kita meninggalkan diri kita gitu. Justru
di saat kita di depan kamera sebagai
aktor itu tuh kayak perjumpaan antara
dunia karakter dan dunia batinku gitu.
Dan tetap ada kejujuran di situ, tetap
ada authenticity di situ.
Begituun juga Pril yang di depan kamera
podcast suara berkelas gitu misalnya
ya. Ini adalah Pril yang
lagi mau bercerita, lagi mau berdiskusi,
tapi ini adalah tetap sisi pril yang ada
di dalam diriku gitu. Jadi di setiap
aktivitas
ya aku tetap menampilkan kejujuran siapa
diriku sebenarnya walaupun enggak
semuanya ya karena manusia punya banyak
sisi gitu beda lagi sama Pril yang kalau
di rumah gitu. Jadi ya tergantung di
mana pun aku berada tetap ada kejujuran
di dalamnya gitu.
Hmm. Seperpa jauh jarak antara sisi Pril
di rumah dengan Pril yang kita lihat di
depan kamera gitu.
Kalau boleh terbuka di sini
jauh-jauh.
Jauh banget. [tertawa]
Mungkin sekarang sudah agak lebih dekat
mungkin ya.
Tapi jauh karena Pril di depan kamera
itu kan Pril yang memang
harus on terus.
He.
Em harus ceria, harus bisa memberikan
energi positif gitu.
Sedangkan Pril di rumah adalah
Pril yang tanpa kostum, tanpa label,
H
tanpa tuntutan dan ekspektasi orang.
Pril yang masih berproses, masih
belajar, masih rapuh, dan pril yang
tidak sempurna gitu.
H
jadi ya memang lumayan jauh gitu. Prily
yang bisa nangis, bisa ngerasa lelah,
bisa ngerasa dirinya enggak cukup ya itu
adalah pril yang di rumah. Karena kalau
di depan orang kan pril-pril itu stay di
rumah gitu, enggak enggak dibawa keluar
rumah. Jadi ya cukup jauh. Makanya
teman baru gitu yang misalnya tadinya
melihat aku dari sosial media terus
mengenal aku lebih dekat atau misalnya
sama pasangan juga tiba-tiba melihat
lebih dekat. Pasti ada sisi-sisi yang
baru mereka lihat dan baru mereka pahami
gitu. Kenapa aku sejauh itu di rumah dan
di luar gitu.
Hmm. Aku suka lihat postingan yang
pernah aku ceritain ke kamu.
Kamu pakai baju Doraemon itu dibeli oleh
ibu kamu kan. He.
Tapi Omar juga komen kan kayak aku juga
ngelihat dari sisi bahwa
wah ini PR emang kelihatan banget masih
ada kecil gitu loh. Ada anak kecil di
dalam diri kamu yang mungkin aku lihat
dari postingan itu gitu.
Apa kabar anak kecil itu dan kenapa dia
masih happy terus sampai hari ini?
Jujur ya anak kecil itu kadang naik ke
permukaan dan lebih besar daripada Pril
yang dewasa kadang-kadang kalau sama
orang yang disayang.
Oke
gitu. Dan Pril yang anak kecil itu
sebenarnya
lama tidak bersuara kan karena aku itu
kerja dari kecil udah jadi kakak dari
kecil. Jadi dari kecil itu memang
dipaksa dewasa sama sistem gitu. Dipaksa
dewasa sama lingkungan kerja karena dari
kecil aku sudah kerja dan dipaksa dewasa
sama keadaan di mana aku adalah
perempuan anak pertama yang punya adik
dan zaman dulu kan didikannya kakak
harus ngalah ya.
Iya sih
kakak harus ngalah gitu. kayaknya
parenting zaman dulu sama zaman sekarang
tuh beda banget gitu. Mungkin juga
karena orang tua kita kan enggak
terpapar sosial media ya. Jadi informasi
yang mereka dapat untuk menjadi orang
tua juga enggak sebanyak sekarang. Jadi
wajar aja kalau misalnya ada perbedaan
pola asuh gitu ya. Nah, pola asuh zaman
dulu kan kita ngerasain banget ya jangan
nangis ngalah sama adik udah adik dulu
gitu. Nah, jadi dari kecil si Pril yang
kecil ini udah biasa memendam emosinya.
Enggak boleh nangis, enggak boleh
cengeng, harus bertanggung jawab sama
pekerjaan, biasa kerja sama orang-orang
dewasa. Jadi dia banyak dipendem gitu
dan banyak ditekan gitu si Pril kecil
ini dari dulu. He.
Nah, sekarang di saat Pril yang sekarang
itu punya kebebasan untuk bisa
berekspresi di depan orang-orang yang
dia sayang, di depan pasangan, di depan
orang tua, Pril yang kecil tuh jadinya
naik ke permukaan dan justru lebih
mendominasi. Jadinya perilaku aku bisa
kayak anak kecil banget atau bahkan bisa
muncul di saat-saat yang aku enggak mau
pril yang kecil ini muncul. Misal di
saat aku
bertengkar atau di saat aku berbeda
pendapat sama pasangan gitu. Karena aku
nyaman sama pasanganku dan aku ngerasa
pril kecil ini aman. Dia muncul ke
permukaan. Akhirnya pengelolaan emosiku
tidak seperti Pril yang dewasa.
Hm. Aku jadinya mau ngucapin apa, tapi
karena PR yang kecil lagi dominan malah
jadinya nangis, malah jadinya tantrum
gitu. Jadi ya jujur Pril yang kecil
kadang suka mendominasi di saat-saat
yang aku enggak pengin. Tapi aku paham
kenapa dia suka muncul. Karena mungkin
dia enggak cukup muncul di saat aku
masih kecil.
Karena di saat aku masih kecil, aku
harus bertanggung jawab sama banyak hal
gitu.
Iya. Dipaksa dewasa oleh sistem, oleh
kerjaan, oleh keadaannya.
Wow. Itu really sekali sih ketika kamu
ngomongin tentang kadang event aku hari
ini ada sisi anak kecil yang tiba-tiba
muncul dan kalau diingat lagi oh mungkin
ketika waktu kecil aku enggak dapetin
itu.
Iya.
Sesimpel waktu kecil aku mungkin enggak
bisa dapetin PS2 misalnya.
Iya.
Jadi ketika aku beli PS5 dengan uangku
sendiri hari ini kayak oh happy dong.
Aku sampai hari ini masih suka beli
mainan.
Really
masih suka beli mainan. Sampai Omara tuh
pernah cerita, "Aku pernah nonton live
TikTok kamu, apa live Instagram kamu.
Kamu iseng lagi mainan ember sihir."
Terus aku bilang, "Ya karena dulu waktu
kecil enggak mungkin aku dibeliin mainan
mahal."
Karena kan
waktu aku lahir,
papa mamaku tuh belum semapan di saat
adikku lahir.
Oke.
Jadi, adikku mendapatkan mainan-mainan
itu, cuma aku udah enggak suka mainan
karena udah gede kan.
Jadi, udah enggak dapat mainan lagi
gitu. Jadinya aku tuh sekarang kalau
ngelewatin toko mainan aku beli boneka
atau aku beli ember-ember sihir lah atau
mainan-mainan anak zaman sekarang. Dan
itu bikin aku happy banget walaupun cuma
dipajang di rumah gitu ya. Tapi aku
happy aku punya dan aku rasa itu Pril
yang kecil tuh yang lagi pengen gitu dan
aku mencoba untuk tetap memenuhi itu
sih.
He. Tapi tadi ketika kamu cerita itu aku
ngelihat ada sisi yang rapuh di fase
dewasa gitu kan.
He.
Kayak it's ok kalau kita emang rapuh.
Kalau kita being funnerable, terutama
kalau kamu datang ke suara berkelas, aku
enggak pernah ngelihat kamu tuh sebagai
wah Pril yang punya nama besar gitu,
tapi Pril yang manusia biasa.
He.
Ada enggak fase kamu rapuh, fase kamu
kayak di titik terendah, kemudian kamu
mulai belajar, kamu bangkit, dan even
enggak ada yang memahami kamu gitu. Dan
kalau ada let me know di tahap apa
seorang PR bisa di fase itu.
Ada banget sih. Makanya ini aku nulis
buku ee ada tiga fase retak, luruh, dan
kembali utuh. Ini fase-fase yang juga
pernah aku rasakan di dalam hidupku
gitu. Kalau aku boleh melepas semua
topeng dan label yang ada di dalam
diriku, jujur retak luru dan kembali
utuh itu dekat banget sama hidupku gitu.
Fase retak tuh di saat
aku sangat-sangat lelah tapi harus tetap
berjalan.
Fase di mana aku ngerasa
aku sangat susah untuk dicintai.
Fase di mana aku ngerasa
banyak orang-orang yang menyukai diriku
tapi tidak menyukai hidupku gitu.
Hmm. He.
Jadi,
oke.
Fase-fase di mana aku ngerasa aku tuh
enggak bisa diterima sepenuhnya, itu tuh
fase-fase retak banget dan menjadi PR
gitu ya, yang harus ee memenuhi
ekspektasi orang, yang harus ngertiin
orang lain. Karena kalau kita enggak
ngertiin orang lain, kita akan dianggap
sombong atau akan dianggap egois.
I
itu tuh sulit banget. Karena kayak semua
orang bersandar kepada aku.
He.
Tapi aku enggak punya tempat bersandar
gitu. Semua orang mempunyai harapannya
kepada aku, tapi aku bisa berharap
kepada siapa sih? Nah, itu adalah fase
retak gitu. Ada komentar-komentar
negatif dari orang atau bahkan dari
orang yang pernah menjadi teman dekatku
atau pernah ada di hidupku gitu ya.
Melontarkan kata-kata yang menyakitiku
dan membuat aku tuh seperti kehilangan
nilai di dalam diriku gitu. itu ada di
fase retak di puisi pertamaku itu ee
waktu itu aku dibilang kalau aku itu
seperti kain pel yang lusuh. Kain
pel yang lusuh.
Kain pel yang lusuh.
What does it mean?
Karena di saat aku bekerja gitu ya, aku
kan full banget memberikan energiku
untuk pekerjaanku gitu. Memberikan
energi untuk pekerjaanku. Aku mencoba
untuk 100%. Aku enggak mau mengecewakan
karyawan dan perusahaan. Jadi aku 100%
gitu bekerja. Tapi mungkin di saat aku
habis bekerja, aku ketemu sama
teman-teman, energiku tuh udah habis.
H
karena kan pasti ketemu habis kerja ya.
Ya, habis kerja kita ketemu sama orang,
ketemu sama teman-teman, energi energiku
tuh udah habis sehingga aku tuh kayak
enggak punya ruang untuk orang tuh
bercerita kepada aku atau aku udah
enggak punya ruang lagi untuk orang bisa
bersandar kepada aku karena aku pengin
juga bersandar kepada orang,
tapi orang berharapnya aku tuh selalu
ada buat mereka gitu dan aku harus bisa
terus kuat gitu. Dan akhirnya sempat lo
tuh kayak kain pel yang udah lusuh tahu
enggak kalau pulang kerja terus ketemu
sama orang karena energi lu tuh udah
habis jadi kayak enggak ada sisa buat
kita enggak ada sisa untuk kita cerita
juga malas karena mau cerita sama lo
juga kelihatannya capek gitu mau cerita
sama lo tentang hidup kita juga kita
mikirnya kayak ya hidup lo juga lebih
lebih
susah dari kita gitu jadi lu kayak
enggak ngasih ruang untuk orang tuh
rapuh pas sama luk
mengagetkan kalimat itu.
He he.
Karena
aku ngerasa orang-orang di sekitarku itu
berharap aku bisa terus menjadi rumah
mereka gitu
tanpa memberi tempat yang nyaman untuk
pulang ke diri aku gitu.
Jadi aku adalah rumah tapi siapa
rumahku?
Apa rumahku gitu di mana tempat nyaman
yang aku juga bisa menjadi rapuh gitu.
Karena kadang orang-orang terdekat juga
menuntut aku untuk kuat sehingga aku
dituntut untuk hanya mendengar tapi
enggak didengar. Itu adalah fase-fase
yang aku rasakan dietak gitu. Jadi, aku
ngerasa sangat sendiri, aku ngerasa
terus-terusan menikmati kesedihanku
sendiri gitu. Jadi, banyak banget
puisi-puisi di mana aku lagi sendiri,
lagi di ruang yang sunyi, lagi ngerasa
sedih, tapi aku ngerasa enggak punya
tempat untuk cerita gitu. Karena di saat
aku cerita,
kalimat yang paling sering aku
terima gitu adalah
ya masih mending loh gitu.
Wow. Itu sih wah
itu berat sih. He.
Kita kan enggak bisa menilai masalah
orang tuh dari materi.
Di oke kita melihat orang itu punya
segalanya.
He.
Punya uang.
He.
Tapi ya pasti Tuhan itu adil. Tuhan akan
ngasih masalah yang sesuai dengan
levelnya dia.
Yes. Yes.
Tapi bukan berarti dia enggak sedih,
bukan berarti dia enggak bisa jadi
manusia.
He.
Aku sering dibecin kalau misalnya aku
lagi nangis, temanku gitu atau apa, aku
dibercandain ya, lu nangis tapi rumah lu
marmer. [tertawa]
What
is it really teman kamu atau cuma?
Iya, orang-orang gitu. Misalnya aku
cerita lu nangis juga besoknya lu bisa
beli tiket ke Itali terus lu nangis di
komo
dan aku ngerasa kayak
ya iya sih tapi bukan berarti gua
berhenti nangisnya kan berarti gua tetap
nangis dong berarti tetap ada emosi
sedih di situ yang harus ditampung dan
harus didengar
nah itu adalah fase-fase retak di mana
aku benar-benar ngerasa sendiri gitu
karena
aku ngerasa kayak aku itu enggak pantes
sedih aku enggak ngerasa posisiku
sebagai pril atau konsina
itu adalah manusia yang paling enggak
pantes sedih, paling enggak pantes
terpuruk. Karena kalau aku terpuruk
berarti aku enggak bersyukur.
He,
itu adalah fase retak. Jadi,
sangat-sangat sulitlah fase-fase itu.
Dan akhirnya lahirlah
menjadi sebuah puisi-puisi gitu. Yang
pasti kalau puisi-puisi kan ada
bunga-bunga dan sajak-sajak di situ yang
mungkin enggak 100% menggambarkan
kondisiku, tapi memang ya udah aku
sembunyikan aja perasaanku lewat
puisi-puisi dan sajak-sajak yang ada di
fase retak itu gitu.
Terus baru aku ke fase luruh gitu.
I
di mana di fase luruh tuh aku berusaha
untuk meluruhkan semua perasaan-perasaan
yang aku tuh ngerasa aku enggak pantes
untuk dicintai atau aku enggak pantes
untuk sedih atau aku tetap berdiri di
tengah-tengah ccle pertemanan atau
lingkungan yang emang membuat aku
ngerasa seperti itu terus. Jadi di fase
luruh tuh aku berusaha untuk
meninggalkan
hal-hal yang udah enggak layak lagi
bersama aku gitu. orang-orang yang
mungkin tidak memberi ruang untuk aku.
Standar terhadap diriku sendiri.
Standardku untuk diriku sendiri yang
mungkin terlalu tinggi karena ekspektasi
orang itu aku coba tinggalkan
orang-orang yang udah enggak baik lagi.
Kesedihan-kesedihan atau rasa-rasa
insecure yang merasa diriku itu tidak
bernilai. ya, aku coba luruhkan gitu dan
coba berani untuk melangkah dan menerima
bahwa aku ini cuma manusia biasa sama
kayak yang lain. Perbedaan kita adalah
profesi. Profesiku adalah figur publik
yang dilihat sama orang, tapi aku tetap
manusia. Itu di fase luruh gitu. Fase
yang juga sulit karena
banyak sekali diskusi aku dengan diriku
sendiri.
Y,
apa sih yang aku mau?
Apa yang aku kejar? di dalam hidup ini
gitu.
Apa ekspektasiku terhadap diriku
sendiri? Apa makna hidup yang ingin aku
cari? Gitu. Itu banyak banget diskusi
dan ruang kosong yang aku isi sama
diriku sendiri gitu. Mempertanyakan
diriku lahirlah fase luruh gitu.
Sampai akhirnya fase itu berjalan
terus-menerus.
Aku merasa sekarang itu hopefully aku
ada di fase kembali utuh gitu. kembali
utuh bukan fase di mana aku itu menjadi
pril yang dulu atau pril yang lebih
baik, tapi sebenarnya fase kembali utuh
adalah fase di mana aku akhirnya
menerima
menerima
penderitaan yang aku lewati, perjuangan
yang aku hadapi, bahwa itu adalah proses
yang membuat kita sebagai manusia itu
harusnya merasa cukup gitu. Karena
perjuangan itu sendiri adalah
kemenangan. H
itu fase kembali utuh gitu. Dan
sebenarnya ee fase kembali utuh tuh
mengingatkan aku juga sama buku yang aku
baca ee bukunya Albert kamu yang The
Myth of Cisifus.
Iya. I
di mana kamu bilang ya hidup itu kayak
mendorong batu besar ke atas bukit hanya
untuk melihat batu itu tergelinding lagi
ke bawah terus kita angkat lagi ke atas.
Tapi keberanian kita untuk terus lanjut
dan menemukan makna untuk diri kita
sendiri dan menerima absurditas tugas
dan proses yang kita alami di dalam
hidup. Ya, itu adalah kemenangan gitu
dan keberanian kita melewati hidup dan
itu adalah tanda bahwa kita sudah
menemukan makna di dalam hidup ini.
Bukan berarti kita harus menyerah, tapi
justru kita bisa menemukan makna
walaupun di atas penderitaan gitu.
Makanya di dalam buku The Meet of Sevt
kamu bilang kan kita harus membayangkan
bahwa sifers itu happy,
sivers itu bahagia. Di saat dia dikasih
tugas yang sangat absurd untuk
terus-terusan mendorong batu besar, dia
tetap melakukannya. Memilih untuk
melakukannya, tidak memilih untuk mati
aja gitu. Tidak memilih untuk kenapa
enggak mati aja, kenapa tetap menderita?
ya. Karena ternyata di proses
penderitaan itu dia menemukan makna
baru.
Nah, itu yang akhirnya
aku membuat aku merasa ya ini adalah
proses kembali utuh gitu. Di mana diriku
bisa menerima bahwa perjuangan yang aku
alami adalah proses aku untuk menjadi
utuh dan proses aku untuk menemukan
makna kehidupan versi diriku sendiri
gitu.
Dan jadilah akhirnya buku retak luruh
dan kembali utuh.
Di zaman kreators ekonomi kayak sekarang
semua orang berlomba-lomba untuk hasilin
cuan dari dunia digital. Tapi faktanya
enggak semua orang tahu bahwa kita bisa
menghasilkan uang dari satu website
builder doang. Kita bisa jualan kelas,
bikin digital produk, book konsultasi,
sampai bikin ebook, bikin
tulisan-tulisan atau karya-karya kita
dijual langsung dan orang semuanya bisa
ke sana untuk langsung check out di
sana. Jadi kita bisa sambil tiduran 24
jam kita tidak harus mengontrol website
builder tersebut, tapi uang bisa tetap
masuk dari karya kita. Aku bakal kasih
solusinya. Solusinya ada di link ID atau
link kitai Linkit sejak tahun 2022. Dan
itu memudahkan sekali kalau kita sebagai
kreator menghasilkan uang dan semua
orang bisa akses karya kamu di sana.
Misalnya kamu penulis kayak aku, kamu
bisa bikin ebook, even orang-orang bisa
konsultasi sama kamu dengan bikin
appointment di sana dan mereka bisa
menentukan jadwalnya menyesuaikan dengan
jadwal kita sebagai penulis. Bahkan yang
menariknya meskipun kamu belum punya
produk digitalmu sendiri, kamu bisa
affiliate produk orang di Linkitin dan
itu luar biasa banget. Banyak
kreator-kreator di luar sana enggak
punya produk sendiri tapi bisa hasilin 2
digit, 3 digit per bulan di Linkin. So,
bagi teman-teman yang belum bikin
linkit-nya, tunggu apaagi? Langsung
bikin sekarang.
Wow, luar biasa Bril ya. Aku appreciate
banget karena dari cerita retak luruh
dan kembali utuh itu bakal sangat relate
sama anak 20-an yang nonton ini sih.
Karena
aku penasaran sekali kenapa banyak orang
kelihatan punya karakter yang kuat.
Akhirnya terjawab di balik itu berat
sekali hidupnya, penderitaannya banyak
sekali. Dan aku tidak heran kenapa
banyak orang yang terlahir lebih dewasa,
lebih siap dalam segala hal gitu. Karena
aku selalu ngelihat
ujian apa yang sudah dia lewati gitu.
Ya, tapi kan enggak banyak yang berpikir
kayak kamu ya. [tertawa]
Iya.
Kadang orang melihat kesuksesan orang
itu kan ya hanya di permukaan saja gitu.
I
tentu orang kadang lupa bahwa ada proses
dan ada banyak penderitaan atau
pengorbanan yang mungkin orang itu sudah
lalui gitu.
Dan mungkin pengorbanan dan penderitaan
itu yang membuat orang itu pantas kan
akhirnya mendapatkan apa yang dia punya
sekarang. Heeh.
Cuma ya aku rasa enggak banyak orang
yang aware akan hal itu.
Mungkin karena juga kemajuan teknologi
yang akhirnya membuat orang bisa melihat
hidup orang lain hanya dari 30 detik
atau 15 detik video.
Ee orang sudah merangkum hidup orang itu
seperti apa dari apa yang dia posting
tanpa tanpa berpikir bahwa ya itu hanya
hanya sesuatu yang ingin ditunjukkan
aja, tapi kita enggak pernah tahu apa
yang terjadi di belakang kamera gitu
kan. H
everyone's
wants to trophy but no ones want to feel
the suffering behind the scene.
Y
aku juga tadi ketika kamu bilang kamu
aku ingat conversation aku juga dengan
Naomara ketika aku mengcord lagi
kata-kata itu. To live is to suffer to
survive is to find some meaning the
suffering. It bagian dari
perjalanan hidup gitu. Kalau kita cuma
menjalani hidup itu flat
dan ngelihat dari sisi materialistis
doang, aku yakin banyak orang lebih
suffer harusnya.
Iya.
Kita menjalani hidup seperti itu.
Menjalani hidup itu enggak harus
terus-terusan menemukan jawaban gitu.
He.
Kita terus bergerak tapi dunia ini
sebenarnya diam saja gitu. Kita enggak
akan pernah menemukan jawaban absolut
apa sih makna hidup buat kita gitu. Iya.
Ya,
karena makna hidup akan terus berubah.
Kita nanti menjalani hidup seperti apa,
umur bertambah, kita ketemu sama orang
baru, kita traveling melihat dunia dan
sudut pandang baru, makna hidup kita
berubah. Jadi, enggak harus kita
menemukan makna dan makna itu enggak
harus absolut gitu. Makanya kalau aku
ditanya sama orang, "End game kamu tuh
apa sih?" I don't know.
Aku enggak tahu endgameku apa.
Iya. yang aku tahu adalah aku harus
terus menjalani hidup ini.
Sebagaimanapun hidup ini memberikanku
penderitaan atau proses yang aku tidak
ingin lalui, ya tetap harus aku lalui
gitu. Enggak tahu end game-nya sampai
mana. Yang jelas aku pengin menjalani
hidup
sesuai dengan makna yang aku ingin cari
terus
memberikan impact dan yang paling
penting hidup dengan integritas gitu.
Jadi ya kalau ditanya end game-nya apa,
I don't know. Aku kalau ditanya what is
your end game? Well, I don't know. Bukan
berarti aku enggak punya rencana dalam
hidupku, tapi memang end game itu akan
terus berubah.
I
gitu.
Ya, aku tadi ingat juga kata-kata kamu
ketika kamu bilang bahwa kamu mah kalau
nangis besok bisa ke Itali,
besok bisa ke mana aja gitu.
Pertanyaan simpel, kenapa semua itu
harus dikaitkan dengan sisi
materialistis? Ya, kayak lu sedih ya
konteksnya harus dipeduliin sisi
sedihnya itu ya. He
bukan apa-apa tuh konklusinya bahwa lu
sedih, lu banyak uang.
Iya. Iya.
Lu lagi stres tapi lu banyak rumah.
Iya.
Menurut kamu itu kenapa? Apakah karena
orang-orang tersebut yang ngejah punya
trauma dengan finansialnya atau dia
pernah punya luka dengan sisi
materialistisnya atau seperti apa? Kalau
dari POV Brilan sekarang
menurut aku karena banyak orang yang
merasa kebahagiaan itu bisa dicapai
dengan uang. He.
Dan banyak orang yang mengaitkan orang
itu sedih dan menderita karena dia tidak
punya uang. Jadi, selalu mengaitkan
kesedihan dengan kemiskinan gitu
ya.
Dia sedih, dia enggak bisa makan karena
dia miskin gitu. Jadi ketika ada orang
yang terlihat kaya atau punya banyak
uang dan dia sedih, ya enggak pantes.
Karena lu kan punya uang.
Money can buy happiness.
Jadi sebenarnya di sistem kita enggak
ada enggak ada apa ya, enggak ada
anggapan uang tidak bisa membeli
kebahagiaan.
Sebenarnya
setiap orang pasti berpikir uang bisa
membeli kebahagiaan. Makanya banyak
orang yang mengaitkan kesedihan itu
dengan materi.
Which enggak apa-apa
ya,
karena semua orang punya penderitaannya
masing-masing. Aku tidak akan pernah
mungkin bisa membandingkan kesedihanku
dengan orang-orang yang enggak bisa
makan di luar sana.
Hm. Enggak mungkin bisa. Dan aku
bersyukur aku bisa makan. Aku bersyukur
aku bisa tinggal di rumah yang nyaman.
Aku tidak akan pernah bisa membandingkan
penderitaanku dengan penderitaan mereka.
Hm.
Karena aku tidak bisa membandingkan,
ya jangan juga emosiku dibandingkan sama
emosi yang enggak ada kaitannya gitu loh
menurutku.
Hm. He.
Makanya ketika aku dibandingkan dengan
emosi-emosi orang lain, aku sedih, lalu
tiba-tiba aku dibandingkan dengan orang
yang lagi kelaparan, itu kan enggak
enggak nyambung, enggak berkoneksi gitu.
Aku sedih misalnya karena aku enggak
punya teman, terus aku nangis, lalu
dikaitkannya, "Ya masih mending lo bisa
makan. Ada orang miskin yang enggak bisa
makan. Enggak nyambung. Aku sedih karena
aku enggak punya teman, yang ini sedih
karena enggak bisa makan."
Enggak apple to apple.
Enggak apple to apple. Tapi orang-orang
biasa menyambungkan kesedihan itu dengan
materi.
Padahal ada juga loh orang yang mungkin
hidupnya pas-pasan, tapi dia bahagia
sekali karena keluarganya utuh
banyak.
Dia mungkin enggak tahu besok mau makan
apa, tapi dia bahagia karena orang
tuanya selalu ada buat dia.
Dia bahagia karena dia punya teman-teman
yang melihat dia sebagai dia, bukan
sebagai apa yang dia punya. He.
Tapi ada juga di sini orang yang sedih
banget, bergelimang harta, tapi sedih
karena orang tuanya enggak pernah ada
buat dia. Orang tuanya sibuk kerja. Dia
sedih karena dia enggak punya teman yang
tulus. Karena teman-temannya mau sama
dia kalau dijajanin doang.
Ini kan ada dua perbedaan hidup di sini.
Kita enggak bisa membandingkan kesedihan
dia sama kesedihan yang ini dong. Karena
background hidupnya sudah berbeda gitu
ya. Cuma mungkin orang-orang itu tadi
biasa mengukur kebahagiaan itu lewat
materi yang kita punya sehingga bobot
emosinya itu enggak dilihat.
He,
makanya banyak orang yang kurang
berempati gitu. Jadi, ya menurut aku
harus banyak apa ya, harus banyak-banyak
melihat hidup orang lain, berempati sama
hidup orang lain dan enggak cuma melihat
itu dari permukaan aja sih gitu.
Hm. Kurang berempati. Tadi kamu juga
sempat ngebahas tentang bagaimana sisi
pertemanan yang mungkin mereka berharap
harus pulang ke Pril untuk bercerita
gitu, tapi mereka tidak ingin
mendengarkan atau memahami kamu yang
mungkin lebih struggle juga gitu.
Apakah di titik itu kamu merasa kamu
100% kesepian
karena tidak ada lagi orang yang
mendengarkan kamu, memahami memahami
kamu di fase kamu retak gitu. Dan kalau
iya di fase retak itu kamu kesepian,
gimana kamu menghadapi fase itu?
Menjalani dengan diri kamu sendiri,
dealing with it, dan keluar sebagai
sosok pril yang lebih kuat?
Yes. Aku kesepian karena aku ngerasa
aku itu seperti lahir untuk menjadi
solusi.
Wow. Tapi Anas itu itu bagus dan dalam
sekali.
Karena aku ngerasa aku lahir anak
pertama gitu ya. ada apa-apa sama
adikku, pasti orang tuaku akan konsul
kepada aku untuk gimana nih ya adik kamu
menurut kamu gimana? So, aku harus
ngasih solusi gitu. Lalu
aku dilihat mungkin lebih sukses gitu
dibandingkan teman-temanku yang kerjanya
bukan figur publik. Sehingga ketika
mereka punya masalah, mereka akan cerita
ke aku karena mereka merasa aku lebih
superior, aku lebih pantas untuk
memberikan solusi. Ya udah aku ngasih
solusi orang curhat apa aku kasih
solusi, gitu. Aku enggak pernah
memperlihatkan aku sedih. Jadinya orang
bisa sedih ke aku karena aku enggak
pernah sedih. Gimana sih caranya biar
enggak sedih? Jadi aku ngerasa kayak
kenapa ya aku tuh selalu diharapkan
untuk terus memberikan solusi.
Hmm.
Begitu pun juga di perusahaan misalnya
ada krisis. Kebetulan
aku kerjanya memang handle krisis. Emang
krisis handling. Kita sebagai
CMO kalau ada krisis apa
harus kita perhatiin tuh press rilisnya
gimana, PR movement-nya gimana. Jadi ada
krisis larinya ke aku.
CMO itu C-nya krisis. [tertawa]
Benar. Benar. C-nya krisis gitu. Di
pekerjaan kita nge-handle krisis. Kalau
ada krisis larinya ke kita. Di
pertemanan larinya ke kita karena kita
dianggap superior. Jadi kita bisa lebih
memberikan solusi.
Di keluarga aku anak pertama
ya pasti kalau ada apa-apa diskusinya ke
anak pertama dulu kan.
Gitu. Jadi ya aku ngerasa aku tuh selalu
diharapkan memberikan solusi. Lalu siapa
yang memberikan solusi terhadap hidupku
gitu. Nah, di situlah aku ngerasa
sangat-sangat kesepian gitu. Dan
akhirnya
yang bikin aku kuat adalah aku bisa kok
ngasih solusi ke orang lain. Aku pasti
bisa ngasih solusi ke diriku. Enggak
harus pertolongan itu dari orang lain.
Coba dari diri sendiri gimana caranya
gitu.
Terus ketika kita butuh orang lain,
jangan pernah takut untuk ask for help.
Iya. Jadi bisa jadi itu salahku kan
karena aku mungkin enggak pernah
menunjukkan sisi rapuhku gitu. Nah,
akhirnya di fase retak itu di saat aku
ngerasa kesepian, aku juga mengevaluasi
diriku. Akhirnya aku mulai
memperlihatkan emosi-emosi rapuh
tersebut ke depan orang tua, ke depan
sahabat-sahabat
dan juga akhirnya aku berani menunjukkan
sisi rapu ke depan pasangan.
Hm. He.
Dan jujur
ee pasanganku yang sekarang yang
akhirnya berhasil
merobohkan tembok itu. Karena biasanya
aku ke pasangan pun temboknya tinggi
sekali. Karena aku ngerasa kayak belum
tentu jadi pasangan selamanya. Enggak
usah dia tahu hidupku 100% gitu.
Oh wow.
Ada ada mitigasi itu. He.
Kerjanya kan selalu nge-handle krisis,
selalu ngebuat mitigasi, list of risk.
Jadi kan kebawa kehidupan personal gitu.
Nah, akhirnya di saat aku di faseet
retak ini ada sosok pasangan omara gitu
yang akhirnya aku jadinya mulai terbuka
gitu. Berani menunjukkan sisi rapuh,
berani menunjukkan sisi yang enggak
pernah aku tunjukkan sebelumnya yang
akhirnya sekarang aku bisa menemukan
tempat pulang yang selama ini aku
butuhkan gitu.
Itu bagus sekali. Dan aku anak pertama
juga
merasa kan
aku sempat nulis di buku keduaku. Ada
sertifikat penghargaan untuk anak
pertama. [tertawa]
Aku setuju banget sih.
Selama ini tuh mungkin minim support.
Iya
dan kita bisa nge-handle itu sendiri.
Dan aku mau kasih sertifikat ya siapa
tahu enggak ada yang mau kasih
sertifikat itu ke kamu. Kama [tertawa]
boleh banget loh aku ngasih sertifikat
itu.
Mau juga ya? Mau juga sih.
Tapi aku aku suka sekali kata-kata yang
kamu tadi being funnerable itu kayak
seorang PR yang pertama kali mungkin aku
lihat kamu bing voraable gitu ya. Kayak
kamu rela untuk nangis di depan orang
tuamu, di depan pasanganmu, di depan
teman-temanmu. Dan
tiga kata kunci yang berat, ask for
help. Enggak semua orang yang kelihatan
kuat ya. Karena kita selama ini sudah
capek banget jadi anak pertama yang
kuat. Kuat banget. Heeh.
Kita minta tolong itu titik yang
terkesan kayak kita buka topeng selama
ini.
Iya. Iya.
Dan kita kayak nyerah sama
pendirian kita selama ini gitu. He.
Tapi sebenarnya jangan dilihatnya kayak
gitu gitu. Aku ngerasa
kita juga harus sadar bahwa kita tuh
juga udah banyak memberi kok.
Enggak apa-apa untuk sekali-sekali
menerima gitu. Hidup enggak harus terus
memberi ke orang lain. Kita juga boleh
menerima kekuatan, menerima energi,
menerima pertolongan dari orang lain.
Dan itu bukan berarti kita kalah, tapi
sebenarnya itu menandakan bahwa kita
adalah manusia biasa, gitu. Kalau kita
mau diakui kita manusia biasa, kita juga
harus berperilaku seperti manusia biasa.
Jangan kayak Wonder Woman atau Superman
terus gitu kan. Nah, itu yang aku
pelajari sih selama aku berproses
yang aku tulis di buku Retak Luruh ini.
He ya, aku bakal baca sih buku Retakeluh
dan Kembali Uth.
H
really, kalau terkesan kehidupan kamu
ini sibuk banget ya, CMO ngurusin hal
lain segala macam, sekarang juga punya Y
dan harus buka open trip lah segala
[tertawa] macam. Banyak banget. Banyak
banget gua lihat kesibukan seorang PR
gitu.
Pertanyaan simpel, gimana caranya kamu
bisa ngasih 100%
waktu kamu untuk keluarga, pasangan, dan
temantan kamu yang sebenarnya gimana
cara akhirnya kamu 100% kamu enggak lagi
datang dengan aduh kok capek banget
kerja gitu. Kamu ada di sana 100%
presence.
Aku enggak akan pernah bisa kasih 100%.
Dan
aku juga kita harus menerima bahwa
enggak setiap saat kita 100% gitu. Dan
enggak apa-apa kalau kita lagi enggak
100% karena belum tentu orang yang kita
temui juga 100% kok.
Oh enggak.
Malah kalau kita ketemu sama orang-orang
yang beneran nge-support kita,
dia tidak akan datang dalam 100%.
Aku juga tidak datang dalam 100%. kita
bertemu untuk saling recharge untuk
membuat satu sama lain jadi 100%. Aku
ngelihatnya jadi kayak gitu gitu.
Karena kalau kita datang 100% itu kan
juga sama aja kayak kita
menutup menutup sisi rapuh kita gitu kan
ya. Apa bedanya mereka sama publik yang
har ngelihat kita di sosial media yang
harus ngelihat kita 100% terus gitu.
Jadi di saat aku sama keluarga ya justru
aku enggak 100% bertemu sama mereka
untuk membuat aku 100%. Aku ketemu sama
mereka ya, di saat aku lagi capek, aku
curhat, aku minta dipeluk sama mamaku,
minta dielus-elus. Kemarin aku pulang ke
rumah, akhirnya udah lama enggak pulang.
Aku minta disuapin karena kayak, "Mah,
suapin dong, aku lagi malas makan."
Disuapin sama mamakku itu. Aku enggak
lagi 100%. Tapi karena aku enggak 100%,
mereka memberikan
energi dan memberikan kekuatan. Jadinya
aku 100% aku juga memberikan kebutuhan
yang mungkin mamaku butuh juga. Mamaku
mungkin kangen sama aku yang minta
disuapin,
kangen sama aku yang manja. Jadinya kan
kebutuhan kita masing-masing terisi
karena kita datang enggak berharap
mendapatkan 100% dari orang dan enggak
berharap ngasih yang 100% tapi kita
menjadi manusia yang jujur aja gitu.
Sama halnya dengan aku ke pasangan gitu.
Kalau misalnya aku berharap datang ke
Omara 100% apa bedanya sama Omara
ngelihat reels a day in my life aku di
Instagram yang aku 100% banget gitu.
[tertawa]
Apa bedanya gitu. Justru aku datang ke
dia di saat aku 50% dan aku mengeluh
mengeluh kesah dan meminta sesuatu ke
dia gitu. Kayak
aku minta waktumu, aku minta kamu
mendengarkanku, aku minta kamu elus-elus
aku dong, kepala aku, gitu. Nah, justru
tidak menjadi 100% tidak menjadi
sempurna. Itu yang membuat hubungan kita
semakin lekat justru sama orang-orang
terdekat gitu. Karena kita benar-benar
menjadi manusia seutuhnya gitu.
I deeply deeply love that. Itu bagus
banget. Itu bagus banget. April aku
appreciate itu bagus dan kayaknya
pertama kali aku dengar dari orang
ketika aku tanyain hal 100% ini gitu.
Karena aku enggak pernah pakai POV
ketika baterai aku lagi lemot. Aku
enggak pernah pakai POV baterai aku lagi
60%. Aku mau ketemu orang untuk
nge-charge at least dapat 80%. Aku
enggak pernah kepikiran seperti itu.
Oh ya.
Aku kepikiran bahwa aku harus dapat 100%
untuk ketemu sama orang-orang di sekitar
aku gitu. Karena kalau enggak aku bisa
jadi kayak enggak 100% ada di sana. Tapi
kalau kamu buka kacamata aku dengan
kalimat tadi,
it's makes sense. Mak sense banget.
Kali gini emm
kayak setiap orang itu kan punya
kebutuhan ya.
He.
Dan pasti orang juga senang kan merasa
dibutuhkan. Kamu pasti senang kalau
ngerasa dibutuhkan sama orang tuamu atau
kamu juga pasti senang kalau ngerasa
dibutuhkan sama pasanganmu. Kalau
pasanganmu datang ke kamu 100%,
rasa dia butuh kamunya juga udah enggak
ada karena dia udah 100%.
Hm. Tapi kalau misalnya pasanganmu jujur
datang ke kamu enggak 100% dan akhirnya
dia membutuhkan kamu, kan kamu juga
senang. Akhirnya kamu juga ya
ketambah energinya. Sama kayak aku
datang ke mamaku 50% aku minta disuapin.
Mamaku senang banget nyuapin aku karena
ngerasa kayak, "Yey, my baby girl is
back."
He.
Aku juga senang disuapin sama mamaku
karena aku merasa disayang sebagai anak
kecil lagi. Akhirnya kita saling mengisi
dan semakin kuat hubungan ibu dan
anaknya.
Wow. Bayangin kalau aku datang 100% aku
udah gak butuh disuapin mamaku lagi.
Paling aku cuma jadinya ngobrol kayak
orang dewasa sama mamaku. Belum tentu
itu yang mamaku butuhkan. Bisa jadi
mamaku kangen sama aku yang kecil.
Benar sekali.
Jadi kita harus ngelihatkan dari
perspektif itu gitu. Sama aja kayak
kepasangan gitu.
Kalau Omara datang ke aku udah 100%
terus dia kayak ya udah cerita aja kita
jadi kayak orang dewasa. Ya udah kita
akhirnya diskusi sebagai dua orang
dewasa. Tapi kalau Omara datang ke aku,
dia lagi capek, aku jadi punya energi
untuk kayak mau aku bikinin bread
pudding, your favorite bread pudding.
And it makes me happy
bisa dibutuhkan seperti itu gitu. Atau
kita mau nonton, kita mau apa. Karena
kita sebagai manusia juga pasti senang
kalau punya kalau ada rasa dibutuhkan.
Dan menurut aku penting untuk kita
menyadari hal itu supaya kita juga bisa
memberikan apa yang orang lain butuh
juga gitu.
Iya. Dan cara efektif untuk merusak sisi
itu yaitu dengan bilang bahwa masih
mending lu gitu.
Itu cara paling efektif untuk merusak
hubungan.
Iya. Ya.
Dan itu yang dari baterai kita tadi 50%
nol lagi.
Iya. [tertawa] Masih mending gue aja.
Heeh.
Iya.
Itu sedih banget sih kalau misalnya lagi
cerita kayak ya masih mending ya lu
gitu.
kayaknya enggak ada yang mending atau
enggak ada yang lebih baik atau lebih
buruk deh. Di saat kita merasa sedih ya
kita sedih
enggak enggak pengaruh gimana
kita sedihnya atau enggak pengaruh
bagaimana apa yang kita punya gitu ya.
Kita tetap sedih. Heeh.
Jadi ya aku juga lumayan sedih dan
frustasi sih ketika banyak orang-orang
publik karena banyak aku lihat juga di
komen gitu-gitu yang juga enggak punya
empati itu melupakan bobot emosi karena
lebih mengingat
faktor materi yang orang itu punya yang
akhirnya banyak orang-orang ngerasa
enggak pantas sedih menyembunyikan
lukanya gitu.
maunya hidupnya sempurna karena takut
kalau enggak sempurna nanti digituin
sama orang, dijudge sama orang. Dan itu
juga terefleksi pas aku ngposting di
TikTok itu pertama kalinya aku
nge-posting kayak gitu.
Aku ngposting aku enggak ee enggak
terlalu makan benar 2 hari.
Oke.
Jadi dalam 2 hari tuh aku cuma makan 3
sendok. Habis itu udah asupan kaloriku
dalam 2 hari jelek banget gitu. It's not
healthy. Tapi karena aku lagi burn out
sama pekerjaan,
jadinya makan aja enggak ketelen gitu.
Aku tuh tipe yang kalau stres enggak
bisa makan. Kan ada orang yang stres
eating
justru kalau stres makan. Kalau aku
stres ngelihat makanan aja enggak mau.
Cuma mau minum.
Minum aja dikit-dikit gitu. Setiap orang
punya responnya yang beda-beda ya
terhadap stres. Terus aku posting, aku
akhirnya bisa makan. Setelah 2 hari aku
enggak makan karena burn out.
Pas aku posting, aku kira postingan aku
itu bisa menguatkan orang-orang yang
juga lagi ngerasa burn out. Oh, Pril aja
yang selama ini posting happy-happy dan
pekerjaannya kayaknya mapan, settle, dia
bisa loh ngerasa burn out. Berarti gue
enggak apa-apa kalau gua ngerasa burn
out. Gua enggak sendiri. He
tujuan aku tuh itu
pengin orang-orang tuh ngerasa enggak
sendiri kalau mereka lagi burn out.
Tapi ternyata
komen-komennya sangat beragam.
Komen-komennya kayak ya PR burn out
tetap kaya.
I
Pril aja kaya burn out. Terus kayak
makanya jangan fokus sama dunia. Hidup
itu enggak cuma soal dunia harus pikirin
akhirat juga.
Ada yang komen kayak gitu tiba-tiba
langsung ke agama mengejku keimananku
terhadap akhirat. karena aku terlihat ee
ngejar dunia terus gitu.
Iya.
Ee makanya jangan kebanyakan ngejar
dunia. Lihat tuh ee orang yang enggak
jaga kesehatan nanti tiba-tiba sakit
nanti tiba-tiba ini. Dan akhirnya aku
kayak, "Wow,
ternyata benar gitu." Enggak cuma
orang-orang di sekitarku aja yang
membuat aku itu ngerasa enggak pantes
untuk sedih.
Heeh. Ternyata publik pun juga membuatku
ngerasa aku enggak pantes untuk sedih
karena komen-komennya mereka kayak tidak
mewajarkan seorang Pril atau Konsina
bisa burn out dan enggak makan 2 hari.
Padahal Pril punya uang untuk beli
makanan enak. [tertawa]
Iya iya iya. Oke.
Yang kira ngetu kayak oh my god aku
sedih banget ngebaca komennya gitu. Tapi
ya udahlah aku enggak mungkin hapus lagi
postingan itu. He.
Aku biarkan aja postingan itu ada dan
silakan aja orang bisa komentar apa
gitu. Yang penting orang-orang yang lagi
burn out bisa ngerasa enggak sendiri
karena postinganku gitu.
He.
Emm. Dan ya akhirnya aku tahu bahwa rasa
empati kita ini masih kecil banget
ya
gitu
ya. Jadi, ya semoga dengan kemajuan
teknologi, dengan podcast ini orang bisa
meningkatkan lagi sisi empati mereka sih
gitu.
Setuju, setuju, setuju. Dan aku juga
enggak heran kalau aku baca komen, Lesi,
ada komen-komen yang terkesan negatif
itu adalah refleksi dari apa yang mereka
alami.
Refleksi atau dunia di kepala mereka.
Dan ketika tadi misalnya mereka bilang
bahwa
lah Pril
lagi berod, kenapa enggak mampu beli
makanan enak?
Biasanya tuh orang lagi lapar juga itu.
[tertawa] Mereka juga pengin lagi beli
makanan enak.
Iya. Iya. Pokoknya apapun postingannya
negatif aja gitu. Kayak misalnya lagi
posting kebahagiaan,
habis itu kayak ada yang komen biasanya
yang posting-posting bahagia gini
kehidupannya enggak bahagia atau semua
akan pret pada waktunya? Sering enggak
baca?
Itu sering. Itu sering. Benar.
It's crap mentality.
Iya. It's crap mentality.
Kayak sedih banget gitu di saat orang
lain bahagia.
Karena kita enggak bahagia, orang lain
enggak boleh bahagia. Orang lain harus
merasakan apa yang aku rasakan. Dan itu
kan mentality yang enggak sehat gitu.
Dan harusnya dia itu bisa mengevaluasi
dirinya. Kok gua gini ya, kok gua enggak
bisa senang ya ngelihat kesuksesan orang
lain?
He.
Kok gua punya crap mentality ya? Kenapa
ya? Gitu. Supaya kita bisa terus
evaluasi diri. Jangan
ada orang bahagia
entar juga putus.
Kayaknya dalam banyak hal aku sering
ketemu orang seperti itu gitu. Kayak
lu mau buka bisnis
enggak lama. Paling
lu memulai sesuatu ah itu mah paling 3
bulan 2 bulan udah udah udah udah stop
udah apapun ketika orang merintis
kita akan dianggap bodoh kita akan
disalahpahami
dan orang akan meragukan kita gitu
karena mereka pernah mengalami itu dan
refleksi dari luka dan gagal mereka itu
akan dilempar ke orang lain.
Iya. Tapi kan itu adalah berarti cara
penyelesaian yang tidak baik gitu. He.
Ketika orang
ketika orang mengalami kegagalan lalu
dia lempar kegagalan itu ke orang lain,
pokoknya orang lain harus ngerasain
juga.
Itu kan berarti ada
penyelesaian yang enggak selesai dengan
baik terhadap dirinya sendiri.
He.
Karena ketika ketika aku ngerasa
menderita, aku enggak mau orang
menderita juga. Justru ketika aku
misalnya buka bisnis A terus aku
mengalami
krisis gitu atau aku rugi gitu terus ada
temanku yang pengin buka bisnis yang
sama. Enggak mungkin aku bilang kayak lu
2 bulan tutup. Enggak mungkin dong. Aku
malah akan memberikan mereka advice
terhadap pengalamanku. Aku akan bilang
kemarin gue tuh ngalamin krisis gini
gini gini. Nanti lu kalau buka please
udah bikin mitigasinya ya. Jadi nanti
kalau masalahnya datang ke lo, lo bisa
meng-handle itu lebih baik dari gue.
Semoga sukses, semoga baik-baik aja.
Justru kita kan harusnya menasihati
orang untuk enggak terjun ke lubang yang
sama-sama kita,
untuk enggak menderita juga gitu
ya. Karena kita sudah selesai sama diri
kita, kita udah ngerasa cukup dan kita
enggak butuh enggak butuh validasi dari
orang lain atau enggak butuh validasi
dari penderitaan orang lain.
Hm.
Kita menderita, orang lain menderita
juga. Tuh kan benar. Kenapa kita harus
mencari validasi dari penderitaan orang
lain gitu?
Iya.
Nah, orang-orang tersebut harus bisa
aware sih sama apa yang mereka alami.
Harus juga berani ask for help karena ya
pasti ada terapi-terapi atau ada solusi
yang harusnya mereka bisa jalankan gitu.
Hm. Aku penasaran sih apa the biggest
insecurity seorang Pril itu? Apa yang
bikin kamu kayak enggak nyaman atau
merasa tidak percaya diri ketika
ngelakuin sesuatu?
Biggest insecurity selalu menjadi
pertanyaan yang sangat menarik kalau
ditanya biggest insecurity. Karena to be
honest with you, I have a lot. Aku punya
banyak insecurity, tapi yang paling
besar adalah
a quiet fear of not yet
living up
the truest version of my life of myself.
Ada
ada rasa ketakutan di mana aku tidak
bisa menjembatani
diriku yang aku tunjukkan di dunia dan
juga diriku yang aku temukan di saat aku
sendiri.
Aku takut enggak bisa, aku takut bingung
menjalani hidup dan akhirnya aku
kehilangan diriku sendiri. Itu sih yang
paling aku takut gitu.
Dan itu sudah kita bahas dari awal tadi.
Kita ngebahas bagaimana jembatan
penghubung antara kamu di rumah dengan
kamu di depan kamera dan itu sudah
berproses lebih dari 10 tahun.
Iya.
Kamu mencoba untuk tidak ingin terlalu
sempurna juga.
Iya.
Dan kalau iya kamu kelihatan 100% di
depan orang terdekat kamu, ya mending
mereka lihat reels kamu di Instagram
gitu ya.
Iya. Tapi kita enggak setiap hari kuat.
Aku bisa ngomong ini sekarang mungkin
karena aku lagi kuat, tapi di saat kita
lagi enggak kuat kan rasa ketakutan itu
akan lebih besar
dan akan lebih menguasai kita gitu. Rasa
insecure itu gitu ya. Aku juga
sebenarnya insecure banget kalau aku tuh
enggak cukup untuk orang-orang yang ada
di sekitar aku atau aku mengecewakan
mereka sih gitu aja. He.
Karena dari kecil aku sudah hidup di
atas harapan orang lain.
I
tentu sebijak-bijaknya aku masih ada
rasa takut dan rasa insecure kalau aku
tidak bisa memenuhi ekspektasi itu gitu.
Hm.
Kalau aku akan mengecewakan mereka. Dan
tentu trauma-trauma atau fase-fase retak
yang tentu masih ada di dalam diriku itu
aku takutnya naik lagi ke permukaan dan
akan menguasai insecurity aku gitu.
Kayak misalnya aku misalnya takut enggak
cukup buat Omara misalnya.
I
kenapa aku bisa ngerasa aku insecure
banget enggak cukup buat Om Mara? Ya
karena di masa lalu banyak orang yang
bilang kalau aku enggak cukup.
Hm.
Dan akhirnya orang-orang tersebut udah
enggak ada lagi di hidupku. Mereka
memilih untuk meninggalkanku gitu.
Nah, itu kan yang jadinya membuat aku
insecure. Aku udah cukup belum ya buat
orang tuaku? Aku udah cukup belum ya
buat pasanganku? Aku udah cukup belum
buat fansku?
Hm. Aku udah cukup memberikan mereka
alasan belum ya untuk nge-fan sama aku.
Kenapa ya mereka nge-fan sama aku? I'm
so insecure about that. Dan mungkin
orang enggak ngelihat gitu ya kalau aku
insecure karena orang pasti akan
ngelihat
ya elah lo PR.
Bahkan aku sering ditanya Pril rasanya
apa sih pas bangun tidur ngaca terus lo
tuh Prilatu konsum. [tertawa]
Lucu ya pertanyaannya ya.
Aku Pril rasanya apa sih lu bangun tidur
terus lu ngaca gila gua prilon Sina
terus aku kayak hah?
[tertawa]
apa ya rasanya gitu.
Tapi akhirnya membuat aku jadi ngerasa
unik ya. Orang bisa punya pandangan itu
berarti kan orang melihat hidupku tuh
sempurna banget.
I
jadinya orang ngerasa kayak gila enak
banget ya bangun tidur Pril.
Iya
gitu kan.
Iya
kayak aku suka ngelihat jokes gitu kalau
ada bayi lahiran terus ee dia itu orang
tuanya artis gitu. Oh iya
enak banget lahir pas tahu orang tuanya
siapa gitu kan.
Iya iya iya.
It's so funny gitu. Karena berarti orang
itu emang ngelihat hidup orang dari
fasadnya aja gitu. Menolak untuk
benar
menelusuri lebih dalam lagi gitu.
Benar. He.
Dan aku ya kalau untuk lucu-lucuan
dan aku juga enggak mau menjelaskan
terlalu panjang karena mungkin itu
enggak terlalu dekat sama aku kayak
gimana rasanya PR lu pas ngaca
ee ternyata lo prilat kons oh I feel so
good. Aku cuma ngomong gitu aja sih. I
feel so good ya. Why not gitu. Tapi ya
kalau ditanya sama orang yang dekat atau
ditanyaya sama orang yang pengin aku
share, aku akan bilang kayak ya jadi
Pril bukan
hal yang mudah gitu.
I
ada banyak proses, ada banyak ee
perjalanan yang mungkin enggak
terbayangkan sebelumnya gitu. Heeh.
Jadi, pas aku lihat diriku di kaca,
justru aku harus berusaha untuk
udah aku udah cukup kok, aku udah cukup
kok buat orang lain.
He,
enggak apa-apa untuk enggak sempurna
gitu, enggak apa-apa untuk ee menjadi
diriku sekarang gitu. Malah banyak
afirmasi-afirmasi yang menguatkan diriku
gitu. Bukannya sombong karena aku bangun
tidur adalah prilaku konsina gitu.
Malah kadang aku berpikir, gimana ya
kalau aku bangun tidur, aku adalah Pril,
tapi bukan Pril atau konsena yang orang
kenal, tapi Pril yang mungkin kerjaannya
kantoran gitu.
H
yang mungkin ada yang mungkin kerjaannya
enggak di depan layar gitu. Apa ya yang
aku rasa
aku bisa mengisi kekosongan yang aku
rasakan kalau aku perilat konsun enggak
ya gitu. Aku bisa aku enggak kesusahan
cari pacar enggak ya?
Oh. Oh, oke oke oke. Aku enggak
kesusahan cari teman enggak ya gitu.
Iya iya benar. Aku sempat mikir gitu
juga.
Kayak kalau kita lepas topi mungkin topi
fame, topi nama besar kita.
Iya.
Kalau aku jalan di sana aku jadi aku apa
adanya gimana ya?
Iya.
H.
Dan kalau aku bukan perilat konsina
kira-kira orang ngedekatin aku tuh
karena apa ya?
Oke [tertawa] ya. Oke. Aku waktu itu
semphas itu sama Jerom dan
Oh iya
kayak ngomongin tentang hubungan
transasional kan. Terus dia bilang,
"Kalau kita
bukan kita yang sekarang orang mau
ngobrol sama aku karena apa?" Ya, itu
pertanyaan bagus banget sih.
Iya. Karena apa ya? Gitu.
Jujur ya, namanya juga perempuan gitu
ya. Dan aku rasa banyak
perempuan laki-laki di luar sana juga
ngerasain ini. Ini bukan kita enggak
bersyukur ya, Guys. Tapi kita pasti
punya insecurity di mana kita ngerasa
jelek. Pasti pas
pasti gitu ya. Mau mau kita dipuji sama
orang cantik kek, tapi pasti kita kalau
ngacak, "Kayaknya gua jelek deh,
kayaknya gue gendutan deh." Itu udah
wajar banget. Mau perempuan, mau
laki-laki pasti pernah ngalamin itu.
Pasti.
Nah, aku tuh pernah ngerasa
cowok tuh ngedekatin aku karena aku
perilat konsina apa karena aku cantik
ya? Aku cantik enggak sih sebenarnya?
Jadinya tuh kita punya
perasaan itu gitu. Orang tuh ngedekatin
karena cowok itu ngerasa ya udah gua mau
ngedekatin sosok Pril atau Kina. Tapi di
mata mereka aku menarik enggak ya?
Di mata mereka aku cantik enggak sih?
Apa mereka ngedekatin karena aku udah
menjadi sosok aku udah menjadi tokoh si
Prilatu Konsina ini. Tapi secara fisik
aku menarik enggak sih buat mereka? Ya
pastilah kita sebagai perempuan ada rasa
itu
pastinya
gitu kan. Karena ya
kadang kita dikasih pujian. Pernah
enggak sih kamu dikasih pujian tapi kamu
enggak mau dipujinya itu? Hm.
Misal
aku ngobrol sama orang, aku dipujinya
kayak kamu pintar banget. Tapi di dalam
hatiku aku maunya dipujinya cantik.
[tertawa]
Lagi dekat sama orang gitu terus kayak
kamu pintar deh.
Tapi cantik enggak sih aku? Gitu kan.
Namanya juga perempuan gitu. Ada
insecurity-insecurity dan pertanyaan itu
gitu. Kalau aku bukan sosok perilonsina.
Heeh.
Cowok ngelihat aku berpenampilan seperti
ini menarik enggak sih buat mereka? He.
Apa yang membuat mereka mau ngedekatin
aku?
Hm.
Ada gitu pertanyaan itu.
Iya.
Dan itu jadinya aku tanyain ke Mara gitu
kayak
Iya. [tertawa]
Kamu tuh kenapa ngedekatin aku? Kamu
kenapa naksir sama aku?
Heeh.
Dan ketika dia menjawab sesuatu yang aku
mau, aku udah ngerasa cukup.
Hm.
Ya. Soalnya kamu cantik. Yes, finally.
Iya. [tertawa] Iya. Terus dia dia terus
dia nyambung cantik di wajah dan cantik
di pikiran. [tertawa]
Biasanya colol gombal gitu kan.
terus kayak ye finally gitu. Dan
akhirnya kan orang kayak bukannya lebih
bagus dipuji pintar ya
atau bukannya lebih bagus dipuji kalau
lo itu orang yang dewasa ya.
Ya kadang kita penginnya dipuji
cantik aja gitu gitu karena ya
namanya juga kita kadang berusaha
menjadi perempuan yang cantik dan apa
kan juga pengin dilihat kayak gitu juga
gitu. He.
Nah, itu yang ngebuat aku kayak, "Oh,
jadi kamu tuh ngelihat aku karena cantik
ya?" "Ya, kan aku waktu belum ngobrol
sama kamu, aku enggak tahu kalau kamu
itu
sepemikiran sama aku. Aku enggak tahu
kalau kamu tuh baca buku. Aku enggak
tahu kalau kita baca buku yang sama."
Jadi, ya aku ngedekatin kamu buuse
you're cute.
Yeay. Gitu. Jadi, aku ngerasa oke
finally ada yang suka sama aku tanpa
embel-embel aku baca buku lah, tanpa
embel-embel aku pintarlah, tanpa
embel-embel aku dewasa gitu. Karena ya
tanpa embel-embel itu aku menarik enggak
sih gitu kan kita juga pengin tahu itu
ya gitu.
Ya udah makanya aku udah terafirmasi
gitu.
Jadi kalau aku bukan perilaku kondisina
kamu tetap naksir aku enggak kalau
ngelihat aku di jalan. Ya tetap oke.
[tertawa]
Lucu lucu kalian itu udah itu tetap
tetap ya. Oke oke oke. Jadi kalau aku
bukan perilaku toinnya yang followersnya
segitu tapi kamu buka Instagram aku,
kamu tetap mau dekatin aku enggak?
Tetaplah kan fotonya tetap foto kamu
kan. You're cute. Oh, oke.
Oke. Udah, udah terafirmasi keinseuran
itu, [tertawa]
Pril. Tadi ketika kamu ngomongin tentang
gimana rasanya bangun pagi melihat ke
cermin
dan kamu adalah Pril consinam, aku
sempat kepikiran satu hal. Aku kepikiran
bahwa
hanya kamu yang bisa jadi pril tok Kina.
Maksudnya
he
kamu punya beban itu, kamu ngelewati
fase itu dan kalau ada orang lain dia
jadilah PR really. Belum tentu dia bisa.
Tapi kamu bisa jadi PR really. Am I
mean?
I ya ya.
Itu itu emang anugerah Tuhan sih. Itu
emang anugerah Tuhan diberikan ke sosok
kita individu kayak
kenapa Nabi diturunkan karena dia akan
jadi khalifah manusia jadi khalifah. Itu
sebenarnya khalifah untuk kita sendiri
gitu. Kayak he
hanya gue yang bisa jadi host seara
berkelas. Hanya Pril yang bisa jadi Pril
gitu.
Iya. He.
Dan semua orang enggak bisa.
Dan semua orang harusnya bisa berpikir
seperti itu juga gitu. He.
Bahwa dia adalah dirinya dia dengan
segala beban yang dia punya. Ya, cuma
dia yang bisa hadapin, cuma dia yang
memang pantas ada di situ.
He.
Supaya itu juga memberikan bahan bakar
semangat buat kita juga ya. Itu
memberikan bahan bakar semangat loh buat
aku pas kamu ngomong gitu. Cuma kamu
yang bisa jadi perilaku konsiner itu
membuat aku berpikir,
"Oh ya oke,
oke berarti
aku I'm doing good." gitu. Karena dari
sejak awal conversation sampai sekarang
aku bisa ngelihat bahwa ini orang kayak
puluhan tahun jadi anak pertama dia
kelihatan kuat di keluarganya dan dia
berani untuk ask for help itu transisi
hidupan dan mungkin kalau orang bisa
nuduh kamu lu berubah pril berubah
padahal lu berkembang. Iya. Iya.
Iya.
Banyak sih yang bilang kayak
melihat perubahanku setahun ini gitu.
Dulu yang biasanya aku enggak bisa
bilang enggak, sekarang aku bisa bilang
enggak gitu. Dulu yang aku selalu
memikirkan kebahagiaan orang lain dulu.
Sekarang aku memikirkan
kebahagiaan dan kewarasan diri aku dulu.
He.
Karena aku yakin kalau aku memikirkan
kebahagiaan orang lain tapi akunya
enggak bahagia,
ya gimana aku bisa memberikan energi
yang positif terus. gimana aku bisa
terus memberikan kebahagiaan yang
benar-benar jujur gitu untuk orang lain
gitu dan aku kehilangan makna diriku
dong untuk aku menjalani hidup gitu.
Jadi ya aku benar-benar sekarang akunya
waras enggak kalau menjalani ini? Akunya
bahagia enggak kalau menjalani ini.
Kalau enggak ya it's your time to say no
gitu. Jadi orang tuh ngerasa ada
perubahan itu gitu. Aku bisa bilang
enggak, aku bisa bilang enggak suka.
aku bisa lebih tegas
dan
tentunya orang-orang dekatku yang
menunggu nunggu momen ini senang
akhirnya dia bisa bilang enggak juga
gitu. [tertawa]
Akhirnya dia bisa nolak juga. Kadang
Omara tuh bisa yang kayak I'm so proud
of you. Kenapa? Buuse you say no.
I
so kayak thank you gitu.
Tapi buat orang-orang yang
mungkin selama ini berharapnya kita
bilang iya terus
merasa kita jadinya memberontak kan.
Hm. He.
Wah, dia sekarang udah berubah dia. Udah
I
udah jadinya emosinya lebih negatif
gitu. Makanya kan butuh orang-orang yang
tepat gitu untuk
ya
bisa bersama kita
ya. I'm so proud of you karena lu udah
berkembang, bukan berubah ya.
Iya.
Thank you.
Really aku yakin semua orang berkelas
pasti punya teman yang berkelas.
Dan untuk jadi teman berkelas, kita
harus jadi individu yang berkelas dulu,
gitu.
He,
pertanyaan simpel. Kalau aku dan kalau
Pril itu buka pendaftaran untuk jadi
teman berkelasnya Pril,
percatannya apa aja biar aku bisa
daftar? [tertawa]
Hm. Teman berkelas ya.
Kalau misalnya ngelihat, kalau misalnya
ngedengar kata berkelas, aku itu jujur
enggak pernah menyambungkan kata
tersebut sama profesi pencapaian
atau apapun yang orang itu punya. Tapi
teman berkelas buat aku adalah bagaimana
dia berperilaku di saat tidak ada yang
melihat.
itu berkelas buat aku.
Karena ketika tidak ada orang yang
melihat dia tetap menjadi orang yang
baik, tetap menjadi orang yang ingin
memberikan yang terbaik,
ya itu adalah teman yang tulus buat
kita. Dan kita sangat membutuhkan
teman-teman seperti itu, gitu. Enggak
peduli ada yang melihat, enggak peduli
menerima balasan, tapi tetap menjadi
orang yang baik gitu. tetap menjadi
orang yang bisa mendengarkan,
tetap bisa menjadi orang yang memberikan
ruang walaupun enggak ada tuntutan dia
harus memberikan ruang gitu. Jadi ya
teman berkelas bukan yang profesinya
apa, kaya raya, punya uang, sekolah di
mana, sekolah di IVX atau apa, enggak.
Tapi siapa dia ketika enggak ada orang
yang ngelihat?
Siapa dia ketika enggak ada kamera gitu.
Wow.
Gitu. Aku langsung bikin course L dari
apa yang kamu bilang. [tertawa]
The only habit that really matter is the
habit no one see.
Y
karena kalau kita berbuat baik terus ada
kamera
terus
diposting tapi aslinya kita enggak kayak
gitu. Apa bedanya kita sama pejabat yang
lagi mau nyalek atau pejabat yang lagi
berusaha membersihkan namanya karena
kerusakan yang dia buat? Apa bedanya
kita sama mereka?
Oke. Menyinggung ke sana ya? [tertawa]
Kayak enggak ada bedanya dong gitu.
I
kecuali kalau kita beneran kayak gitu
terus kita posting karena kita mau
menyebarkan kebaikannya itu beda.
He
ada dua perbedaan antara
personal branding dan pencitraan. H
aku bikin A B C D E FG aslinya aku
begitu aku posting karena itu adalah
bagian dari strategi personal
brandingku. Tapi aku aslinya enggak
kayak gitu. Di kamera doang aku kayak
gitu. That's pencitraan. Itu dua hal
yang orang harus tahu gitu.
Jadi kenapa teman berkelas aku bilang
adalah siapa dia di saat orang enggak
melihat? Karena di zaman sekarang, di
zaman sosial media, orang baik di saat
ada mata yang melihat.
He.
Orang bersedekah di saat ada mata yang
melihat. Aku enggak mau teman itu. Aku
mau orang baik di saat enggak ada
siapapun yang melihat karena dia emang
pure baik dari hatinya gitu.
Itu yang aku mau untuk jadi temanku
gitu.
Keren sekali. Keren sekali. Mungkin aku
bisa percaya diri bilang, "Oke, aku
lolos kualifikasi untuk jadi teman
berkelas [tertawa] April." Pertanyaan
simpel lagi,
apa conversation yang harus kita punya?
Gitu. obrolan apa yang harus kita miliki
yang bisa butuh waktu mungkin lebih dari
5 jam
kita masih happy ngobrolin itu terus
dengan Pril gitu. Conversation apa yang
lu senangi?
Jujur ya aku sama sahabat-sahabatku
kita tuh ngobrolin hal yang random
banget.
H
ada waktunya kita ngobrolin hal-hal yang
berat kayak gini. Kayak aku sama Omara
waktu kita masih berteman.
Kita itu ngomongin hal kayak gini bisa
sampai 5 jam. Tahu-tahu udah malam. Kita
bahas
Freud. H
bahas Albert kamu [tertawa]
bahas teori apa gitu sampai 5 jam.
Tapi setelah kita sudah ngomongin itu,
kita menertawakan hidup. Kita bisa
ketawain video-video lucu. Kita bisa
ketawain
perilaku-perilaku orang. Kita bisa punya
cerita lucu yang bisa bikin kita ketawa
dan enggak mungkin kita ceritain ke
orang-orang lain gitu. Kita bisa jadi
diri kita yang
serius tapi bisa jadi diri kita yang
konyol juga gitu.
Itu sih karena aku sama teman-temanku
pun gitu gitu. Kayak kemarin aku
akhirnya ketemu sama sahabatku lagi yang
dia sekarang LDR sama aku karena dia
jauh tinggalnya ikut suaminya terus dia
ke Jakarta. Kita ngobrolin hal yang
serius banget. Ngobrolin soal rumah
tangga, aku ngobrolin soal pekerjaanku,
ngobrolin gimana dia ngurus anak. Tapi
setelah itu kita ketawa enggak berhenti
ngetawain celotehan anaknya todler yang
lagi ngikutin lagi jadi beo gitu
ngikutin apapun yang orang omongin.
Terus kita ngetawain orang. kita
ngetahuin bercandaan-bercandaan yang
kayaknya enggak mungkin kita posting.
Kayaknya kalau diposting bisa viral gitu
ya. Jadi kita omongin dan kita ketawa
jadi diri kita sendiri gitu sih. Jadi
ya conversation jadi manusia aja enggak
perlu ada label apapun gitu. Habis ini
nanti mungkin pas offcam aku kasih tahu
bercandaan-bercandaan apa. [tertawa]
Yang tahu cuma teman-teman di sini
doang.
Bercandaan-bercandaan apa yang aku suka
bercandain sama teman-temanku gitu. He
sebelum kita masuk KN mungkin dari aku
penasaran sekali sih.
Kalau kamu ingin meninggalkan warisan ya
di hidup ini, kamu tuh ingin dikenal
meninggalkan apa gitu kayak karya apa,
warisan besar apa yang mungkin dua
generasi berikutnya tuh masih tahu nama
Prilaina Gu.
Hm.
Jujur ya, aku
punya kemauan yang mungkin
lebih sederhana dari yang kamu duga.
Iya, let me know.
Aku enggak mau dikenal sebagai figur
publik yang
tenar, terkenal, riuh, tepuk tangan.
Enggak sih. Aku benar-benar di saat aku
harus meninggalkan dunia ini, aku pengin
dikenal sebagai manusia yang pernah
memberikan kebaikan. Enggak harus
kebaikannya merubah dunia, tapi at least
kebaikan itu pernah menghangatkan hidup
orang lain gitu.
He.
Itu aja menurut aku udah cukup gitu. Aku
pernah hidup menjadi manusia yang juga
pernah merasakan rapuh, yang pernah
disakiti, menyakiti, memaafkan,
berproses, pernah mencintai dan
dicintai. Dan
semua proses itu walaupun isinya adalah
penderitaan, adalah kemenangan untuk aku
karena aku sudah menjadi manusia yang
seutuhnya. Itu sih yang aku ingin
tinggalkan ketika aku enggak ada lagi di
dunia ini. Mm tentu karya-karyaku,
bukuku, film-filmku adalah penting.
I,
tapi
itu adalah yang aku kerjakan gitu, bukan
bagaimana aku menjalani hidup sebagai
manusia.
Jadi, ketika aku meninggalkan dunia ini,
tentu aku inginnya orang tuh kalau ingat
namaku,
oh ya, dia orang baik. Oh, ya. Dia
pernah
menghangatkan hidupku di sini. I
dia pernah membuat aku merasa lebih baik
walaupun cuma satu atau dua orang yang
pernah merasakan itu, itu berarti buat
aku gitu.
I aku termasuk salah satu orang itu hari
ini.
Thank you.
I [tertawa]
makasih
teman-teman berkelas sebelum kita lanjut
podcast ini, aku cuma mau bilang info
spesial khusus untuk kamu. Mulai hari
ini, kamu sudah bisa join membership
resmi suara berkelas. Kamu bisa dapetin
eksklusif sumun dari episode-episode
favorit aku di suara berkelas dan setiap
bulannya bakal ada akses eksklusif buat
kamu ngelihat behind the scen podcast
suara berkelas seperti obrolan aku
dengan narasumber off the record dan hal
menarik lainnya yang bakal aku share
khusus untuk membership ini. Jadi kalau
kamu merasa podcast suara berkelas
mengubah cara pandang kamu melihat
dunia, feel free untuk join membership
suara berkelas atau klik link di
deskripsi. Sampai jumpa dan jadilah
bagian dari perjuangan dan perkembangan
suara berkelas.
Pril tiga pertanyaan dari teman-teman
suara berkelas.
Pertanyaan pertama dari
EQMN_4P_2809.
Ini kayaknya bukan second account akun,
ini akun ke-10 ya.
[tertawa]
Susah banget,
Kak Pril. Cara agar bisa menstabilkan
selalu kondisi emosional pikiran kita
dengan mental yang kuat di tengah
kondisi yang tidak menentu.
Iya. Emm, di saat lagi enggak stabil,
ini caraku ya. Pasti setiap orang punya
cara yang beda-beda. Di saat lagi enggak
stabil, aku memilih untuk mundur
selangkah dan mencoba untuk tarik nafas
dalam-dalam untuk kita mengenali emosi
itu, gitu. Karena kadang kita ngerasa
kesal, kadang kita ngerasa marah, tapi
juga enggak tahu kenapa sih kita bisa
semarah ini gitu.
Kenapa sih emosi kita bisa enggak
stabil? Kadang karena kita lupa nanya
nanya kabar ke diri kita sendiri gitu.
Diri kita nih lagi apa kabar gitu, lagi
capek kah, lagi lelahkah, lagi enggak
sanggup kah gitu. Dan ya kita harus
jujur sama emosi yang kita rasain gitu.
Jadi kalau aku lagi enggak stabil
biasanya aku tarik mundur dulu. He.
Tarik nafas, coba rasain emosi yang
dirasain itu apa dan kenapa ngerasain
itu. Ketika kita sudah tahu akar
permasalahannya apa, baru coba kita cari
solusinya, gitu. Dan itu pasti enggak
mudah. Ada orang yang menarik diri butuh
berhari-hari untuk tahu, butuh
berhari-hari untuk jadi stabil lagi. Ada
orang juga yang karena udah terbiasa,
aku lumayan terbiasa mensabilkan
emosiku. Jadi cukup tarik nafas sejenak
2 jam aja aku untuk mikirin cari tahu
kenapa sih emosi aku bisa semarah ini
atau seenggak stabil ini. Baru aku cari
solusinya gitu. Tapi ya enggak apa-apa
berproses aja. Semakin lama kita sering
melakukan itu, berdiskusi sama diri kita
sendiri semakin cepat juga kita bisa
menstabilkan emosinya gitu. Itu adalah
caraku ya. He
gitu.
Aku suka sekali kata-kata mundur
selangkah.
Hm.
Untuk lebih dewasa 10 langkah kali ya.
Iya. Benar. Benar
ya. Kayak kita kalau lagi enggak stabil,
kita kan berhubungan sama orang juga,
berkomunikasi juga jadi enggak baik kan.
Daripada kita enggak baik sama orang
lain, kemudian kita mundur selangkah
dulu gitu. It's ok untuk menunda
ya.
Enggak apa-apa untuk menunda.
Setuju. Setuju.
Pertanyaan kedua dari Muhammad Afdol.
Aku penasaran cara Pril me-manage
uangnya dan jelaskan ke kita dong. The
best way to spend your money in your
20s.
[tertawa]
Aku adalah orang yang sangat suka
menabung.
Oke,
aku sangat suka menabung dan
emm di saat uang bertambah
belum tentu lifestyle harus bertambah.
Penghasilan naik, lifestyle belum tentu
terus naik gitu.
Ee aku menghabiskan 20-anku ini bekerja
dan menabung.
menunda hobi-hobiku yang sekiranya
membutuhkan pengeluaran
dan kesenangan-kesenangan yang
membutuhkan pengeluaran banyak demi
tujuan yang lebih fundamental. Jadi
misalnya di umur 20-an aku bekerja, aku
menabung. Tujuannya apa nih? Oke, aku
mau punya rumah sendiri karena kalau aku
menunda punya rumah, properti dan harga
tanah akan semakin mahal.
He.
Lebih baik tujuan rumah itu
diprioritaskan gitu supaya kita punya
aset, supaya kita punya properti. Jadi
di umur 20-an aku nabung untuk tujuannya
beli rumah dan beli tanah. Tentu aku
harus mengorbankan hobi divingku, hobi
mancingku, jalan-jalanku,
metim-eku. Karena itu semua membutuhkan
uang. Diving butuh uang untuk beli tiket
pesawat, alat, semua. Liburan juga gitu.
Itu semua aku tunda dulu, aku tabung
untuk aku beli aset kayak gitu. Ketika
aset sudah tercapai dan kita terus
bekerja, uang udah bisa lebih stabil,
cash flow-nya, baru kita bisa melakukan
kesenangan-kesenangan itu, gitu. Jadi,
aku tuh banyak menunda kesenangan
sebenarnya.
Oh, really?
Untuk aku punya tabungin dan punya aset.
Tapi bukan berarti aku tidak melakukan
kesenangan sama sekali. Hanya saja aku
memilih kesenanganku.
Kesenangan yang sekiranya butuh uang
banyak, ya kita tunda dulu. Tapi kan
bukan berarti kita tidak senang-senang.
setuju.
Senang kita
nongkrong di kafe mengeluarkan uang
Rp100.000, Rp200.000 itu juga senang.
Ngobrol sama orang juga senang tanpa
harus mengeluarkan uang banyak. Tapi
kalau mau senangnya grande banget ya itu
nanti ketika kita sudah secure
sama tabungan, cash flow dan juga aset
yang kita punya gitu. Jadi aku tuh
ngatur uang aku punya beberapa basket
gitu.
He
ada yang untuk nabung, ada yang untuk
investasi,
operasional, dan senang-senang.
operasional itu seperti ya operasional
kita sehari-hari bayar bensin, gaji
karyawan, makan, kebutuhan sehari-hari
lah yang sangat primer gitu. Terus ee
itu udah harus diamanin gitu. Investasi
kalau kita punya uang lebih, taruh di
investasi yang nanti kita akan taruh di
manapun kita mau investasi investasi
kecil maupun investasi besar gitu.
He.
Tabungan juga yang di mana di dalam
tabungan itu juga ada dana-dana yang
bisa kita keluarkan untuk dana darurat
gitu. ya
belajar dari COVID kemarin gitu.
Kita enggak pernah tahu musibah yang
akan datang, tapi at least kita punya
dana yang bisa kita keluarin untuk dana
darurat untuk bantu keluarga atau untuk
bantu diri sendiri gitu.
Jadi ya enggak apa-apa untuk menunda
kesenangan tapi bukan berarti kita tidak
melakukan kesenangan sama sekali, cuma
memilih kesenangan yang sesuai dengan
budget gitu kali ya.
Iya. Dan dengan penghasilan aku yang
sekarang, aku enggak naikin lifestyleku
sih. Aku tetap naik pesawat dengan tiket
ekonomi.
Kayak ketika enggak perlu-perlu banget
beli tiket bisnis, ya enggak usah
enggak
gitu. Kalau aku bisa duduk kayak
kayaknya cuma pengin ke
ee Jepang 7 jam enggak apa-apa 7 jam
ekonomi
he
tinggal tidur aja apalagi flight malam
tinggal tidurin aja enggak masalah.
Nanti sampai Jepang kita tinggal pijit
gitu.
Iya. Iya. [tertawa]
Daripada harus mengeluarkan uang tiga
kali lipat atau empat kali lipat untuk
duduk di kursi bisnis.
He
gitu.
Jadi ya aku enggak apa-apa ke Jepang
atau ke Korea
yang enggak harus puluhan jam duduk di
kursi ekonomi. Dan aku tidak pernah
menjadikan
barang yang aku pakai atau liburanku
atau kursi pesawatku adalah identitas
diriku.
Oh iya. atau kelas hidupku gitu.
He,
aku enggak butuh validasi dari situ
gitu. Jadi walaupun aku duduk di kelas
ekonomi aku enggak masalah. Aku enggak
takut orang nganggap aku, "Ih, kok PR
duduk di kelas ekonomi sih? Aku enggak
akan peduli orang ngomong gitu gitu."
He.
Aku misalnya pun mancing pakai kapal
nelayan yang udah reot gitu, biasanya
kan kita kan mancing enggak enggak harus
terus-terusan pakai yat ya. Kadang kita
pakai perahu nelayan gitu. Ih, kok prili
mau sih kotor-kotor gitu ya. Aku enggak
peduli karena aku enggak menjadikan apa
yang aku pakai atau liburanku atau
caraku menikmati hidup adalah identitas
diriku gitu atau kelas sosialku. Enggak.
Iya, itu bagus. Aku suka sekali. Dan
kayaknya kamu orang pertama yang berani
speak up itu sih di sini kayak
ya maksudnya selama ini aku tidak pernah
mendetailkan tentang
gimana status sosial seseorang itu
mendefinisikan barang yang dia pakai.
Oh iya enggak sama sekali
atau produk yang dia gunakan gitu.
Karena selama ini orang kan bakal ngejak
suka kamu yang kamu pakai itu pasti
barang yang branded dan mahal gitu.
Iya. Iya.
Padahal aku setuju sekali even baju
murah aku pakai kalau itu dipakai oleh
kita ya bisa jadi kelihatan mahal.
[tertawa]
Bisa jadi. Bisa jadi. Ee ini TikTok Shop
ya.
Iya kelihatan mahal kalau gu pakai gitu.
Atau sebaliknya ada orang yang mungkin
sorry for saying kelihatannya enggak
kurang menarik. Kalau dia pakai baju
mahal juga masih kurang menarik gitu.
Ya, dan di saat aku beli barang branded
itu karena aku suka sama barangnya,
bukan karena bukan karena aku mau orang
melihat aku pakai barang mahal itu
gitu. Aku beli tas mahal ya emang aku
suka sama tasnya gitu. Bukan berarti aku
pengin orang ngelihat aku pakai tas ini
gitu
ya. Enggak gitu. Aku enggak pengin kayak
gitu juga. Aku beli barang mahal karena
aku suka karena aku yakin barang mahal
itu bisa menjadi investasi
dan awet
gitu. He.
Jadi, ya karena aku suka barang ya,
bukan karena aku pengin orang melihat
aku pakai barang itu atau aku pengin
validasi dari barang itu
ya.
Karena
aku harus beranggapan bahwa aku lebih
besar dari barang yang aku pakai. Jangan
sampai barang lebih besar daripada kita
gitu.
Bagus sekali, Pril. [tertawa] Itu
mengingatkan aku dengan bukunya Morgan
Husel yang The Psychology of Money yang
dia bilang dia bilang bahwa
ketika kita naik mobil mewah, kita
kirain orang bakal kagum sama kita. I
padahal orang memikirkan bahwa andai dia
juga naik mewah itu kan.
Iya.
Iya. Itu orang pikirin seperti itu sih.
Jadi bukan kayak jarang orang yang mikir
kalau kita naik mobil mewah itu dia
kerjanya apa ya? Itu dia ngapain ya?
Tapi coba gue kayak gitu. Jadi bisa jadi
orang enggak peduli sama kamunya atau
siapa yang nyetir. Orang peduli sama
mobilnya gitu. He.
Jadi, ya
aku enggak mau mencari validasi dari
barang sih, tapi dari apa yang aku
lakukan dan apa yang aku bisa lakukan
untuk society gitu. Impact apa yang aku
bisa berikan kepada orang lain gitu
ya.
Bagus sekali. Kita ke pertanyaan ketiga.
H
dari RDAR, R I C SDAR.
Gimana caranya meluluhkan seorang wanita
yang idealis, independen, dan mandiri
ya? Penasaran? Hehe. [tertawa]
Harusnya n kearah.
Kasih dia ruang.
Hm.
Gitu. Kasih dia ruang untuk dia.
Enggak harus terus-terusan ada untuk
dirinya sendiri atau enggak harus
terus-terusan mandiri gitu. Karena
kadang orang tuh lupa ya kita itu
mandiri,
idealis, itu belum tentu ini yang kita
mau. Bisa jadi ini karena kita dipaksa
oleh sistem gitu. Kayak aku mandiri ya
karena memang aku harus mencari uang
untuk diriku sendiri.
Aku harus membiayai diriku. Aku harus
membantu orang tuaku.
Aku mandiri memang karena itu tadi aku
anak pertama yang di mana aku diharapkan
menjadi pilar keluarga gitu.
He.
Tapi apakah aku mau jadi princess?
Maulah.
Tapi kan
enggak bisa. Sistem mengharuskan aku
menjadi perempuan yang mandiri gitu.
I. Jadi, ya kalau kamu mau ngedekatin
cewek-cewek yang mandiri gitu, kasihlah
dia ruang untuk dia bisa
minta tolong.
He.
Untuk dia akhirnya bisa merasakan
juga dilayani gitu.
Bukannya cuma melayani orang doang gitu.
Dan itu sebenarnya yang juga dikasih
sama marak aku gitu. Di saat aku
biasanya
ngapa-ngapain sendiri, di saat aku sama
dia, ya dia akan memberikan aku
pertolongan gitu untuk aku bisa
istirahat walaupun sejenak gitu.
Istirahat dari label
kemandirianku gitu. Bahwa aku bisa
enggak mandiri dan enggak apa-apa.
Karena kadang perempuan yang mandiri di
saat dia enggak mandiri dia merasa
itu salah gitu karena sudah biasa
menjalani hidupnya seperti itu kan. Nah,
jadi di sebenarnya kita-kita ini butuh
ruang penerimaan dari orang lain bahwa
enggak apa-apa loh untuk enggak mandiri,
enggak masalah gitu. Kamu tetap
perempuan seutuhnya walaupun kamu enggak
mandiri
dan kamu tetap perempuan yang baik
walaupun kamu enggak mandiri. Kita butuh
ruang itu selama ini kita enggak punya
ruangnya makanya kita jadi mandiri.
Iya sih.
Tapi karena kita dikasih ruang akhirnya
kita bisa manja. Akhirnya kita bisa ee
bisa jadi anak kecil, bisa jadi bisa
minta tolong gitu,
bisa tiba-tiba melemah.
Aku sama Omara bisa tiba-tiba enggak
bisa buka tutup botol. Padahal kalau
enggak ada dia aku ngangkat tangki,
[tertawa] ngangkat tangki diving sendiri
gitu sama dia kayak berat gitu ya.
Karena akhirnya kita punya ruang untuk
minta tolong, punya ruang untuk lemah
gitu sih. Jadi kamu harus menciptakan
ruang itu kalau mau ngedekatin
perempuan-perempuan mandiri. I aku jadi
ingat pacarku sendiri kayak kalau enggak
ada aku kayak serba keluar gitu. Tapi
ketika aku tas ringan aja harusnya aku
yang bertanggung jawab untuk mengangkat
gitu loh.
Iya. Ya ampun aku enggak ada dia sakit
aku enggak ada Omara. Aku datang ke UGD
siapa yang sakit? Aku
hm
perut udah sakit ya. Asem lambung udah
sakit. Aku datang ee dengan
terpopoh-popoh gitu kayak siapa Mbak
yang sakit? Aku yang ngantterin siapa?
Enggak ada. He.
Suntik aja terus sama di infus aku harus
kerja lagi habis ini. Terus aku nangis
sendirian di
di bilik
UGD itu.
Iya.
Aku nangis sendirian karena aku ngerasa
kayak aduh capek banget ya harus kuat
lagi sakit tapi harus lanjut kerja tapi
ini tanggung jawab. Aku nangis lagi
diinfos sampai dikasih oksigen sama
susternya gitu. Kayak
nangis.
Bisa aku kayak gitu.
Tapi kalau ada Omara kayaknya asem
lambung jadi kayak wah tersakit gitu.
Kayak enggak bisa ngapa-ngapain gitu.
[tertawa]
I
minta ditemenin, minta disuapin, minta
di apa. Padahal enggak ada dia. Aku bisa
jalan ke UGD sendiri, nangis sendiri.
Tapi kalau sama dia tiba-tiba kayak
langsung enggak bisa apa-apa gitu ya.
Ternyata aku merindukan juga sosok atau
ruang di mana aku bisa mengeluh juga
gitu.
Hm. Kalau ada yang tanya gimana jadi
Pril itu salah satu parknya tadi jalan
sendiri ke Gri dan dituntut untuk besok
kerja lagi gitu tuh.
Iya. part no one [tertawa]
mungkin dokter-dokter dan suster-suster
yang kemarin ngelihat aku nangis di UGD
bisa nonton ini dan iya sih itu aku yang
masangin infus gitu.
Alright Pril aku senang sekali ngobrol
sama kamu hari ini. Sebelum kita tutup
the worst advice yang pernah kamu
terima.
The worst advice yang pernah aku terima
adalah
emm
kalau kamu
tetap standarnya kayak gini,
standarnya tinggi, kamu enggak akan
pernah nemuin pasangan. Jadi, kamu harus
nurin standar kamu kalau kamu mau nemuin
pasangan. Itu advice yang paling buruk
yang pernah aku terima. Karena aku
ngerasa kalau kalau aku nurunin standar
berarti aku dapat pasangan yang emang
sesuai dengan standar yang sudah aku
turunin dong. Kalau aku maunya nemuin
pasangan sesuai dengan standar yang
sudah aku set buat diri aku, karena aku
sangat tahu value yang aku pantas untuk
dapatkan, kenapa enggak? Tapi kayaknya
menjadi perempuan di sini tuh kita harus
melemah dulu, harus turun dulu
standarnya untuk dapat pasangan. Menurut
aku itu jadi manjain pasangannya ya
karena
atau malah itu malah merendahkan
laki-laki menurut aku. Jujur
setuju
ya.
Nasihat yang aku terima itu bukan
merendahkan perempuan,
tapi merendahkan laki-laki. Karena
berarti laki-laki itu bisanya sama
perempuan yang standarnya rendah dong.
He.
Berarti kalau laki-laki bisanya sama
perempuan yang standarnya rendah,
laki-lakinya juga rendah dong.
Iya.
Dan orang tuh enggak sadar dengan
ngomong kayak gitu sebenarnya
merendahkan laki-lakinya bukan
merendahkan perempuannya gitu. Untungnya
aku tidak pernah percaya dan tidak
pernah tergoyahkan sama advice itu.
He.
Aku tetap punya sandaran yang tinggi
terhadap diriku gitu. Aku pengin punya
pasangan yang kayak gini, yang kayak
gini, yang kayak gini. Kalau enggak
ketemu ya enggak apa-apa. Kalau emang
aku harus menikah umur 30-an ya enggak
apa-apa. Tapi aku tidak mau menikah
dengan orang yang salah. Untungnya
datangnya
di umur yang tidak terlalu tua.
[tertawa]
Keren, keren, keren, keren. Nih nih
senyum-senyum nih tadi Omar
gitu.
Iya, itu bagus banget. Aku dapat insek
yang seru banget hari ini dan aku senang
kalau lihat kamu makin berkembang dan
terima kasih. Terima kasih sudah
membiarkan aku bersuara.
Iya,
karena aku jarang sekali bisa bersuara
dan menunjukkan sisi-sisi yang ini gitu.
Karena aku punya ketakutan ya.
Aduh, takutnya kalau ngomong gini
gimana? Takutnya kalau ngomong gini
gimana. Tapi aku ngerasa di suara
berkelas aku juga dikasih ruang untuk
menjadi diriku seutuhnya gitu.
I ya.
Terima kasih.
Aku pendengar yang baik.
Terima kasih [tertawa] loh.
Iya. Aku juga senang sekali ngobrol sama
orang berkelas. Terima kasih pergi sehat
terus dan aku happy sekali lihat kamu
berkembang.
Terima kasih.
Terima kasih semuanya. Sampai jumpa.
Yeah.
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

A6 - Rekaman susulan PPKN
staiabubakar · Indonesian

Vektor Fisika • Part 2: Konsep & Operasi Vektor (Penjumlahan, Pengurangan, Perkalian)
Jendela Sains · English

PERDAGANGAN INTERNASIONAL | MATERI EKONOMI SMA & PERSIAPAN TKA 2025
Edcent · Indonesian

ORGANIC CHEMISTRY Explained in 8 Minutes
Easy Explained 2.0 · English

Solo Queuing in Mumbai server 😭| Valorant |
Carrymepls · English

Sosio Drama Perjuangan Jendral Soedirman di HUT TNI ke-72
CNN Indonesia · Indonesian

KOMODO, TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI KOMODO (LHO)
Agus Ardiansyah · Indonesian

A6a - Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan
staiabubakar · Indonesian

Ep. 28 The Effects of Cranking the Snare Side Head
Sounds Like A Drum · English

Building AI Employees for Hospitality: How AITropos Takes Orders Where Customers Already Are
Product Talk · English

Make Legal Write Your Evals: Building Jade, Chime’s Financial Copilot | Interrupt 26
LangChain · English

The Production AI Playbook: Deploying Agents at Enterprise Scale — Sandipan Bhaumik, Databricks
AI Engineer · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.