MEMAHAMI TRAGEDI TANJUNG PRIOK 1984
[Musik]
pada bulan September di tahun
1984 Tanjung Priuk yang sibuk dengan
dunia pelabuhannya tiba-tiba menyaksikan
lebih dari sekedar keramaian di daerah
keras itu sebuah tragedi yang
menggetarkan hati terjadi sebuah aksi Ma
yang diniatkan sebagai aksi damai
menuntut pembebasan dan keadilan dengan
setembakan berubah jadi situasi yang
mengerikan setelah itu Tanjung Priuk
menjadi sejarah hitam akan masalah HAM
yang dilakukan negara kepada rakyat
biasa namun di tengah kepedihan dan
kehilangan ada satu hal yang tetap hidup
harapan harapan akan keadilan harapan
untuk sebuah perubahan yang meskipun
selalu tersisihkan namun selalu
digaungkan di setiap kamisan sebab tanpa
keadilan dan pemulihan yang belum
dirasakan korban Tanjung Priuk harus
selalu kita ingat dan kenang untuk itu
pada kesempatan kali ini Mari kita
menyelami B kisah yang telah terlalu
lama terbiar Mari kita buka lembaran
sejarah yang penuh dengan air mata itu
agar kita bisa melihatnya dengan hati
merasakan dengan jiwa dan menggugah
kesadaran kita sebagai bangsa untuk itu
Mari kita memahami tragedi Tanjung priu
[Musik]
untuk memahami tragedi Tanjung Periuk
kita perlu melihat konteks sejarah pada
masa itu pada tahun 1980-an situasi di
Indonesia semakin tegang masyarakat
menghadapi ketidakadilan sosial
ketimpangan ekonomi yang semakin lebar
dan kebijakan pemerintah yang semakin
ugal-ugalan umat Islam yang merasa
terpinggirkan dan disalahartikan oleh
kebijakan asas tunggal Pancasila mulai
memperlihatkan ketidakpuasan mereka
dengan cara yang lebih vokal Selain itu
Tanjung Priuk bisa dibilang pangkal dari
ketidakpuasan sebab pada saat itu
Tanjung Priuk bukan sekadar Pelabuhan
perdagangan melainkan juga menjadi pusat
pertemuan masyarakat yang mencari
keadilan seperti yang terjadi pada
tragedi Talangsari yang mana semua
bermula dari aturan asas tunggal
Pancasila yang mulai gencar digaungkan
pemerinta orba sejak awal
1980-an maka setelah itu semua
organisasi di bumi Nusantara diwajibkan
beraraskan Pancasila tidak boleh tidak
artinya siapapun yang tidak sejalan
dengan garis politik rezim orba maka
layak dituduh sebagai anti Pancasila di
sinilah mulai bergesekan masa Islam
dengan aparat pemerintah orba dan untuk
tragedi Tanjung Priuk semua bermula pada
hari Jumat di tanggal 7 September di
tahun 1984 Seorang anggota Babinsa dari
Koramil mendatangi musala asyadah di
Gang Empat kota Tanjung Prio kedatangan
anggota Babinsa ke musala ini bertujuan
untuk meminta kepada jemaah musala untuk
mencopot pamflet pengajian yang mana
pamflet itu dianggap tidak bernafaskan
Pancasila karena perintah pencopotan Pak
pamflet itu tidak dihiraukan oleh para
jemaah musala keesokan harinya tepatnya
pada tanggal 8 September dua bebinsa
yang salah satunya bernama serto hermanu
kembali mendatangi musola Saadah untuk
mencopot sendiri pamflet tersebut dalam
kedatangan yang kedua kalinya ini ini
benar-benar membuat pengurus mesola naik
darah karena selain masuk mesola dengan
tetap memakai sepatu but tentaranya dua
Babinsa ini memakai air comberan dari
got untuk menyiram pamflet yang
tertempel di dinding musala untuk
menyeram dengan air comberan pelaku yang
bernama hermanu dalam kesaksian yang
dicatat dalam buku bencana umat Islam di
Indonesia 1980 sampai 2000 karya Irfan S
Awas di sana tertulis B hermanu mengaku
dan memberikan alasannya bahwa
pamflet-pamflet itu ditulis dengan pilox
yang tidak bisa dihapus dan tidak ada
peralatan di tempat itu untuk dipakai
menghapusnya maka tidak ada cara lain
kecuali menyiramnya dengan air
comberan di luar alasan itu apa yang
dilakukan aparat tersebut jelas membuat
an di jemaah musala namun jemaah masih
menahan diri dan pencemaran rumah ibadah
ini kemudian segera menjadi kasak kusuk
di kalangan jemaah dan warga sekitar
musala du hari kemudian tepatnya pada
tanggal 10 September beberapa jemah
musala berpapasan dengan dua Babinsa
yang mana salah satunya adalah serto
hermanu yang mana adalah pelaku dari
pencamaran musala dan terjadilah adu
mulut di sana adu mulut itu sempat
terhenti setelah dua Babinsa itu diajak
masuk ke kantor pengurus Masjid Baitul
Makmur yang Terletak tidak jauh dari
musala perundingan untuk segera
menyelesaikan masalah tersebut ternyata
tidak kunjung membaik karena prajurit
ABRI itu menolak menganggap masalahnya
selesai masyarakat yang tahu sedang ada
perundingan antar jemaah mushala dan dua
prajurit tentara yang menjadi pelaku
pencemaran mushala mulai berdatangan ke
masjid pengurus Masjid Baitul Makmur
Syarifuddin rambe Sofan Sulaiman dan
Ahmad syahi pun kemudian mencoba
menenangkan warga yang mulai berdatangan
ke masjid namun warga yang sudah emosi
melampiaskan kemarahannya dengan
membakar sepeda motor milik tentara
aparat yang juga sudah di didatangkan
dari karamil segera bertindak
mengamankan orang-orang yang diduga
menjadi provokator empat orang ditangkap
di antaranya adalah Syarifuddin Sofwan
Ahmad yang menengahi dan satunya adalah
Muhammad Nur yang diduga sebagai oknum
pembakar motor penahanan yang dilakukan
oleh aparat membuat kemarahan massa
semakin menjadi-jadi namun masyarakat
dalam hal ini masih mencari cara agar
persoalan ini tidak harus melibatkan
massa dalam jumlah besar maka berbagai
upaya kemudian dilakukan untuk
membebaskan keempat orang yang ditahan
itu tetapi hasnya
[Musik]
sia-sia pada tanggal 11 September jemaah
musala meminta kepada Amir bcky untuk
mererampungkan permasalahan ini Amir
Biki adalah tokoh masyarakat yang
dianggap mampu memediasi antara masa
dengan tentara di kodi maupun karamel
menurut kontras dalam bukunya yang
membahas tragedi Tanjung Priuk dengan
judul Mereka bilang di sini tidak ada
Tuhan suara korban Tragedi Priuk yang
terbit pada tahun 2004 di sana tertulis
bahwa Amir Bikis telah dimintai untuk
memediasi oleh jemaah segera merespon
permintaan jemah itu dengan mendatangi
Kodim Jakarta Utara untuk menyampaikan
tuntutan agar melepaskan empat orang
yang ditahan namun Amir bcky tidak
memperoleh jawaban yang pasti bahkan
terkesan dipermainkan oleh
petugas-petugas di Qodim itu merasa
dipermainkan Amir bcky kemudian
menggagas pertemuan pada malam harinya
untuk membahas persoalan Serius ini para
ulama dan tokoh-tokoh agama pun dimohon
datang undangan juga disebarkan kepada
umat Islam se Jakarta dan sekitarnya
forum umat Islam pun akhirnya
diselenggarakan dan dimulai pada jam 800
malam dan berlangsung selama kurang
lebih 3 jam dalam hal ini Amir Bikis
Sebenarnya bukan seorang penceramah
namun oleh jemaah yang hadir dirinya
didesak untuk menyampaikan pidato dalam
forum tersebut Amir Biku pun naik ke
mimbar dan berkata kita meminta
teman-teman kita yang ditahan di Kodim
mereka tidak bersalah kita protes
pekerjaan oknum-oknum ABRI yang tidak
bertanggung jawab itu kita berhak
membela kebenaran meskipun kita
menanggung risiko kalau mereka tidak
dibebaskan maka kita harus memprotesnya
kita tidak boleh merusak apapun kalau
ada yang merusak di tengah-tengah
perjalanan berarti itu bukan golongan
kita setelah pertemuan itu permintaan
untuk membebaskan 4 jamah yang ditahan
itu tetap tidak digubris sehingga
menjelang pergenentian hari maka paginya
pada tanggal 12 September sekitar 1500
orang yang telah dikuasi amarah
melakukan aksi demonstrasi sebagian
menuju pores Tanjung Priuk yang lainnya
ke arah Qodim yang berjarak tidak
terlalu jauh hanya sekitar 200 m meski
mereka menyuarakan tuntutan yang damai
mereka tidak tahu bahwa yang akan mereka
hadapi adalah kekuatan yang lebih besar
kekuatan militer dan aparat keamanan
yang sudah bersenjata lengkap akhirnya
masa yang menuju pores pun sudah
dihadang pasukan militer yang sudah
bersiaga selain dengan persenjataan yang
lengkap menurut laporan kontras para
pasukan militer yang sudah bersiaga
tempur ini sudah menyiapkan juga
alat-alat berat termasuk panser sebagian
pasukan tentara mulai memblokir jalan
protokol aparat memberikan peringatan
namun peringatan itu dibalas takbir oleh
masassa yang terus merangsek menerjang
hadangan tentara mereka terus menuntut
pembebasan atas kawan-kawan Mereka
melihat masa yang terus mendekat para
tentara langsung menyambutnya dengan
rentetan tembakan dari senapan otomatis
yang membabi buta dari segenap penjuru
dengan cepat terdengar suara ratusan
senjata dalam sekejap masa segera
berjatuhan berkelimpangan di jalan di
saat sebagian korban berusaha bangkit
dan lari menyelamatkan diri pada saat
yang sama Mereka ditembak lagi dengan
menggunakan bazoka Sehingga dalam
beberapa detik saja jalanan dipenuhi
jasad manusia melihat masa yang telah
berhamburan bukannya berhenti menembaki
aparat malah terus saja memberondong
masa layaknya sedang perang bahkan
seorang saksi mata dalam buku yang
berjudul Tanjung Priuk berdarah tanggung
jawab siapa yang diterbitkan oleh Partai
Bulan Bintang memberikan pengalaman yang
menakutkannya itu Dengan mengatakan
bahwa di tengah ketakutannya dalam hujan
peluru ia mendengar umpatan dari salah
seorang tentara yang kehabis bisan
amunisi dan mendengar Bang pelurunya
habis anjing-anjing ini masih banyak
maka mau tak mau Tanjung Priuk yang
biasanya dipenuhi aktivitas Pelabuhan
dengan secepat udara berubah menjadi
Medan pembantaian namun penderitaan
massa tidak hanya Terhenti Di situ sebab
dari arah Pelabuhan dua truk besar yang
mengangkut pasukan tambahan datang
dengan kecepatan tinggi dua kendaraan
berat ini selain untuk menembakkan
peluru otomatisnya juga menerjang dan
melindas masa yang sedang bertiarap di
jalanan alhasil suara Jer kesakitan
berpadu dengan bunyi gemertak
tulang-tulang yang remuk pun menjadi
Simfoni kematian yang menyesakkan
kejadian yang dialami oleh sebagian masa
yang bergerak ke Polsek ternyata dialami
juga oleh rombongan pimpinan Amir bcky
yang menuju Qodim di sana aparat yang
juga Menghadang meminta tiga orang
perwakilan untuk maju sementara yang
lain diharuskan untuk menunggu namun
ketigka-tiga perwakilan masa itu
mendekat tentara justru langsung
menyongsong mereka dengan tembakan yang
memicu kepanikan massa puluhan orang
langsung tewas dalam peristiwa yang
sistematis tersebut beberapa di antara
mereka ditembak di bagian tubuh atas
sementara yang lain Terkena tembakan di
bagian kaki Amir Biki yang menginisiasi
ikut menjadi korban tembakan dan
meregang nyawa di peristiwa ini pada
akhir hari itu puluhan orang tewas dan
ratusan lainnya terluka para keluarga
korban yang tidak tahu apa yang harus
dilakukan harus menerima kenyataan pahit
bahwa mereka kehilangan orang yang
mereka cintai keluarga-keluarga ini
tidak hanya kehilangan anggota keluarga
mereka tetapi juga sebuah masa depan
yang lebih baik yang seharusnya mereka
miliki mereka yang selamat harus harus
menghadapi trauma yang mendalam
sementara banyak dari mereka tidak
mendapatkan keadilan yang layak atas
kehilangan
mereka tidak diketahui secara pasti
berapa korban baik yang tewas luka-luka
maupun hilang dalam tragedi di Tanjung
Priuk ini karena rumah sakit umum
dilarang menerima korban dari tragedi
Tanjung Periuk Oleh karena itu para
korban hanya dilarikan ke rumah sakit
militer di tengah kota Jakarta karena
hanya dilarikan ke rumah sakit militer
tidak ada data yang pasti untuk
mengetahui berapa korbannya karena hanya
tentara yang memegangnya dan pemerintah
order baru pun menutupi fakta yang
sebenarnya namun yang bisa kita ketahui
setelah korban-korban diangkut
menggunakan truk-truk tentara dan dibawa
ke rumah sakit militer datanglah mobil
pemadam kebakaran yang menyerami jalan
yang bergenangan darah Semua usaha ini
adalah untuk menghapus semua tanda-tanda
pembantaian yang terjadi di sana 1 jam
Setelah pembantaian besar-besaran ini
terjadi panglima ABRI saat itu yang
bernama jenderal LB Murdani datang
menginspeksi tempat kejadian dan untuk
selanjutnya sebagaimana diberitakan oleh
berbagai sumber daerah tersebut
dijadikan Daerah Operasi Militer dengan
kekaburan kejadian dan fakta yang benar
Murdani selaku Panglima hanya mengatakan
bahwa dalam kejadian tragedi Tanjung
Priuk hanya ada 18 orang yang tewas dan
53 orang luka-luka namun pernyataan yang
dinyatakan oleh panglima ABRI saat itu
sangat berbeda dengan data dari
solidaritas untuk Peristiwa Tanjung
Priuk atau sontak yang menyebut bahwa
tidak kurang dari 400 orang tewas dalam
tragedi berdarah itu belum Termasuk yang
hilang dan luka komnasam dan amnesti
internasal pun memberikan hasil yang
berbeda temuan komnasa menunjukkan
setidaknya 78 orang menjadi korban di
mana 23 meninggal dan 55 lainnya
luka-luka selain itu banyak orang
ditangkap tanpa proses hukum dan tidak
sedikit yang hilang sedangkan amnesti
internasional melalui dokumen yang
berjudul Statement of amnesty
International concerern in Indonesia
yang terbit pada tahun 1985 menyebut kan
bahwa 30 orang ditembak dan tewas serta
lebih dari 200 orang ditangkap mereka
ada yang dituduh menyerang aparat
menghancurkan properti dan menyebarkan
kabar bohong seperti yang diatur dalam
kitab undang-undang hukum pidana
sebagian lainnya kena tuduhan subversi
yaitu dakwaan yang dapat diganjar
hukuman maksimal berupa hukuman mati
seperti yang diatur dalam dektri
Presiden Nomor 11 tahun 1963 atau
dikenal dengan undang-undang Anti
subversi salah satu yang ditangkap
Abdullah Abdul Qadir Jailani seorang
ulama sekaligus tok masyarakat Tanjung
Priuk yang disebut-sebut kerap
menyampaikan ceramah yang dituding
aparat sebagai provokatif dan berpotensi
mengancam stabilitas nasional melalui
majalah tempfo volume 23 yang terbit
pada tahun 1993 di sana Diceritakan
bahwa penangkapan jelani dilakukan
selepas subuh usaya tragedi penembakan
yang brutal itu dilakukan jelani
dijemput aparat untuk dihadapkan ke meja
hijau di akhir tahun 1985 pengadilan
menjatuhkan vonis terhadap mantan ketua
umum gerakan pemuda Islam Indonesia itu
jelani diuk hukum penjara 18 tahun
dengan dakwaan telah melakukan tindak
pidana subversi melalui ceramah khotbah
dan tulisan-tulisannya selain Jailani
persidangan juga menyeret sejumlah tokoh
cendikiawan Islam lainnya seperti am
fatwa Tony Ardi Mawardi Nur Utsmani
alhamidi Hasan kiat dan lainnya yang
dituding sebagai aktor intelektual dari
tragedi Tanjung Priuk itu setidaknya ada
28 orang yang diadili dalam rangkaian
sidang yang berlangsung selama lebih
dari 3 bulan itu majelis hakim Nyatakan
seluruh tertuduh dinyatakan bersalah dan
dijatuhi sanksi Bui yang lamanya
bervariasi hingga belasan tahun seperti
yang dikenakan kepada jelani jelani
sempat menyampaikan Eksepsi pembelaannya
di pengadilan termasuk kronologi yang
mengiringi insiden berdarah Tanjung
Priuk pada tanggal 12 September 1984
kesaksian jelani ini kemudian
diterbitkan pada tahun 1985 dalam buku
yang judulnya sama dengan judul Eksepsi
pembelaannya di pengadilan yaitu
musuh-musuh Islam melakukan offensif
terhadap umat Islam Indonesia buah
pembelaan Presiden Republik Indonesia
yang berkuasa kala itu Soeharto
tampaknya tidak pernah menyesalkan
terjadinya tragedi Tanjung Priuk yang
terjadi pada tahun 1984 ini dalam
bukunya berjudul soarto pikiran ucapan
dan tindakan saya yang terbit 4 tahun
setelah insiden memilukan tersebut
soarto berucap bahwa Peristiwa Tanjung
Priuk adalah hasil hasutan sejumlah
pemimpin di sana melaksanakan keyakinan
dan Syariat agama Tentu saja boleh
tetapi kenyataannya ia mengacau dan
menghasut rakyat untuk member berontak
menuntut dikeluarkannya orang yang
ditahan terhadap yang melanggar hukum ya
tentunya harus diambil
[Musik]
[Tepuk tangan]
tindakan tragedi Tanjung Priuk
sebagaimana tercatat dalam sejarahnya
pernah diproses hukum melalui pengadilan
HAM ehu di Jakarta pada tahun 2003 untuk
tambahan informasi tragedi Tanjung Priuk
adalah salah satu dari tiga kasus
pelengkaran HAM berat Mas masa lalu yang
berhasil dibawa ke proses pengadilan HAM
ad Haw dan pada pengadilan tingkat
pertama setelah melalui proses
persidangan yang cukup panjang dan
melelahkan 12 aparat militer dinyatakan
bersalah dan dituntut kurungan selama 5
hingga 10 tahun penjara Majlis Hakim
juga memutuskan kompensasi 1 miliar
lebih yang harus dibayarkan negara
kepada korban atau keluarganya kemudian
para tentara yang tidak terima
mengajukan pembelan dengan alasan tidak
bertanggung jawab terhadap Peristiwa
Tanjung Priuk pada bulan Agustus di
tahun 2004 melal melui permohonan
banding mantan kepala Polisi Militer
Kodam 5 Jaya yang bernama mejen purna
Wirawan pranowo dan mantan kepala saksi
operasi komando distrik militer 0502
Jakarta Utara yang bernama mejen srianto
divonis bebas Setelah dinyatakan tidak
terbukti bersalah melakukan pelanggaran
HAM berat beberapa anggota prajurit
hanya divonis 2 sampai 3 tahun dan hanya
mejen Rudolf butar-butar yang divonis 10
tahun penjara setelah hasil yang
mengecewakan sebenarnya Jaksa sempat
mengajukan kasasi ke mahkam sama Agung
namun Setahun kemudian Ma menolak kasasi
tersebut dengan alasan bahwa kasus
tragedi Tanjung Priuk di tahun 1985
bukan merupakan pelanggaran HAM maka
untuk itu perkaranya harus diproses di
pengadilan pidana bukan pengadilan HAM
Ho menurut Mahkamah Agung pada tahun itu
dalam hal ini Mahkamah Agung menganggap
Jaksa gagal mengungkap peran pihak yang
merencanakan surat dakwaan yang disusun
dinilai lemah dan tidak memberikan
perlindungan yang membadai kepada saksi
dan korban setelah putusan bebas yang
diputuskan oleh Mahkamah Agung otomatis
mencabut kewajiban negara untuk
memberikan ganti rugi kepada korban dan
keluarganya termasuk kompensasi
restitusi dan rehabilitasi di luar
proses pengadilan para terdakwa bahkan
menawarkan Islah kepada korban dan saksi
yang mengakibatkan banyak dari mereka
menarik kesaksian atau mencabut
pernyataan Mereka banyak yang merasa
bahwa Mahkamah Agung gagal dalam
menjalankan keadilan karena keputusan
tersebut lebih mementingkan stabilitas
negara ketimbang memberikan keadilan
bagi keluarga korban yang sudah lama
menunggu meskipun Pengadilan HAM ad Haw
untuk kasus Priuk telah berakhir
keluarga korban Priuk dan korban
pelanggaran HAM lainnya bersama dengan
aktivis lembaga swadaya masyarakat terus
menyerukan keadilan kepada pemerintah
pada bulan Januari di tahun 2023 Jokowi
bekas presiden Indonesia dengan
pencitraannya mengakui dan menyesalkan
terjadinya 12 kasus pelanggaran HAM
berat di masa lalu antara lain peristiwa
1965-166 penembakan misterius di tahun
1982-185 tragedi rumah Gudung di di
aceah di tahun 1989 penghilangan paksa
di tahun
1997-198 dan kerusuhan Mei 1998 namun
untuk tragedi Tanjung Periuk Jokowi
tidak memasukkannya Pada kategori
pelanggaran hamberat yang terjadi pada
masa lalu meski begitu amnesti
internasional Indonesia dan kontras
memandang bahwa kasus Tanjung Periuk
masih harus terus Diingat dan
diperjuangkan karena korban masih belum
mendapatkan hak atas kebenaran dan hak
atas pemulihan yang adil selain itu juga
terget di Tanjung Priuk di tahun 1984
jelas menurut merupakan peristiwa
pelanggaran HAM berat karena di dalamnya
ada pembunuhan secara kilat penangkapan
dan penahanan sewenang-wenang penyiksaan
dan penghilangan orang secara paksa
keempat kejahatan ini jelas merupakan
kejahatan sebagaimana dimaksud pada apa
yang tertuang dalam undang-undang
tentang pengadilan HAM dengan segala
kekacauan dan trauma yang terus ada
korban dan para keluarga korban sampai
saat ini masih menantikan keadilan yang
tidak kunjung datang dalam hal ini di
antaranya adalah hak reparasi
sebagaimana yang dimasukkan dalam
undang-undang nomor 31 tahun 2014
tentang lembaga perlindungan saksi dan
korban Selain itu korban masih
menginginkan inisiatif dari pemerintah
provinsi untuk membangun sebuah
memorialisasi terhadap kasus Tanjung
Priuk 1984 sebagai suatu simbol
pengingat publik bahwa kekerasan dan
represivitas oleh perangkat negara
kepada masyarakat sipil harus dihentikan
[Musik]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
More transcripts
Explore other videos transcribed with YouTLDR.

🦿 Langkah 01: Angka dan Bilangan | Fundamental Matematika Alternatifa
Alternatifa.Project · Indonesian

Listrik Statis • Part 1: Gaya, Medan, Fluks, Potensial, dan Energi Potensial Listrik
Jendela Sains · Indonesian

SUA VIDA COMO AGENTE DO BOPE NO DIA 28 DE OUTUBRO DE 2025
Codigo Da rua · English

Sajak Sunda (Materi)
Si Bunda · Indonesian

KISAH (LEGENDA) ASAL USUL NAMA KOTA BEKASI
Payung Sejarah · Indonesian

Sejarah adalah ?
Buruh Kapur · English

Reap/Exsanguinate Trickster| Path of Exile League Starter Guide
S0ulso · English

Sejarah Awal Lahirnya Sosiologi
Spasi TV · English

Yakshini episode 8
Sourav dalui · English

Hunting the snake that is destroying my home
Slick Stevie · English

تعلم كيف تكون متميز وصاحب كاريزما | إبراهيم الفقي
حفيد إبراهيم الفقي · English

TheBurntPeanut Moments # 6 | ARC RAIDERS
DailyBurntPeanut · English
Get the TLDR of any YouTube video
Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.