Full Transcript

·YouTLDR

PADA SUATU HARI - Arifin C Noer, Sutradara Didit Irfani. GARTA 2016

49:18IndonesianTranscribed Jul 24, 2026
0:00

Terima kasih.

1:32

Sekarang mau nyanyi? Nyanyi seperti dulu? Ayolah seperti dulu.

3:31

Sejak dulu kau selalu begitu. Habis kau pun selalu mengejek setiap kali saya menyanyi. Sekarang tidak. Sejak sekarang saya tidak akan pernah mengejek kau lagi. Ah, saya tidak mau menyanyi. Kapanpun. Kapanpun. Juga untuk saya. Juga untuk. Kau kejam. Saya sangat sedih. Saya mati tak pernah kau menyanyi. Sana, itu sangat tidak baik. Sayang, berhentilah kau berpikir mengenai hal itu.

4:10

Mati saya tidak bahagia karena kau tidak mau menyanyi. Ini memang salah saya. Saya kira saya akan menghembuskan nafas saya yang terakhir. Tak kalah kau sedang menyanyikan sebuah lagu di telinga saya. Sayang, saya mohon berhentilah kau berpikir menghentikan. Demi segala galanya berhenti. Sayang, tersenyumlah lagi seperti biasanya. Saya akan tersenyum kalau kau mau mengucapkan sebuah janji. Tentu.

4:47

Kau mau menyanyi? Tentu, sayang. Kapan? Suat ketika. Sebelum saya mati? Iya. Sekarang, sayang? Tidak mungkin. Tau kan saya sedikit flu karena pesta beberapa hari yang lalu. Saya baru ingat sekarang. Kau melebih-lebihkan. Iya, saya akui. Acapkali saya asik dengan diri sendiri. Saya akui.

5:27

Saya minta dimaafkan supaya sorga saya tidak tertutup dan supaya kubur saya... Maaf, tidak lagi. Dan saya akan memaafkan kau, tapi dengan satu syarat. Apa? Kau harus menyanyi. Kalau begitu kau tak saya maafkan. Dan sorga saya...

5:57

Baik, baik, saya akan menyanyi, tapi separoh, kalau terlalu lama nanti saya takut batuk. Tidak, satu lagu. Nanti batuk. Kau bilang begitu, kamu pandai menyanyi dan kamu menghabiskan sebuah lagu dengan sempurna tanpa batuk. Satu lagu. Yorah saya, lihat-lihat penonton sudah tidak sabar.

6:34

Ketika kau baru saja lulus profesi, saya kemarin ini.

9:40

Kau sombong betul ketika itu. Kau juga sepijing pun kau tak pernah membalas pandangan saya. Habis pandang. Habis kau juga suka curi-curi pandang. Kau sudah terlalu pintar bercium. Setiap kali saya mentok, saya selalu menghayalkan andegan ciuman secara amat terperinci. Ada tamu juga besar.

10:20

Tidak, saya tidak tahu. Saya takut dia betul-betul terbang darah-darah kedatangan jadah ini. Lebih baik saya menyikirkan wang baca. Terima kasih. Kami sakit. Maksud saya, saya dan anjing saya yang sakit.

11:38

Iya anjing, setiap kali saya sakit, anjing saya juga ikut sakit. Saya agak senang karena saya agak sembuh. Si Bison agak parah sakitnya. Saya? Dimana kau? Tadi disana kau. Mentang? Nanti dulu. Iya Nyonya. Siapa yang memilih minuman ini? Es susu. Iya es susu. Sendiri Nyonya, emang kenapa? Ini memang minuman kesukaan saya. Menyenangkan sekali Nyonya. Silahkan atas minumnya.

12:58

Segar bukan Mai? Bagaimana kau tahu ini minuman kesukaan saya? Tuan Besar sering menceritakan perihal Nyonya kepada saya dan ketika tahunnya datang segera saya buatkan minuman itu. Silahkan diminum Nyonya. Nanti dulu. Iya Nyonya. Tuan Besar masih suka. Menyirami kaktus? Iya. Oh tidak Nyonya, Tuan Besar menyirami seluruh bunga sekarang Mak.

13:23

Tiap pagi dan sore, memang tengah malam Tuhan Besar Teh suka diam-diam menyirami kaktus yang ditaruh di dalam kaktus itu Nyonya. Saya harus ke dalam Nyonya. Silahkan. Maaf Nyonya. Tidak apa. Saya ucapkan selamat. Bagaimana? Bukalor ya? Eh sayang, kau lupa benar. Ini Nyonya Wenas. Oh Nyonya Wenas. Iya-iya saya ingat. Apa kabar suami Nyonya? Eh sayang.

14:10

Tuan Mudaskan telah meninggal sebelas tahun ini. Tuan, maaf. Saya ingat saya jelek sekali. Tidak apa. Jonny. Ya, Nyonya. Bawa minuman ini ke dalam. Bawa minuman ini ke dalam. Baik, Nyonya. Baik, baik, Nyonya. Berkat doa Tuan Ganyonya. Tuan sendiri. Berkat doanya. Minum jeruk. Minuman apa saja saya suka. Tapi es susu saya paling suka. Saya sih tidak begitu. Kita berdua minum jeruk saja.

14:44

Bagaimana anak-anak Nyonya? Eh sayang, Nyonya dan Tuhan menaskan tidak diberkahi putra. Kenapa kau bertanya begitu? Maksud saya, apa tujuan dan maksud Nyonya datang kemari? Maafkan suami saya Nyonya, kalau dia amat kasar. Ternyata dia lelaki yang amat lembut. Betul Nyonya, Tuhan adalah lelaki yang amat lembut. Malah.

15:24

sangat lembut tuan selalu cermat dalam memilih kata-kata dan juga saya kira ya tidak pernah menggunakan hidupnya kita minum apa? kita kan baru saja memesan minuman tingkahmu berlebihan selingkuh kau sendiri yang menjelur saya telah membuat perhentikanmu iya tapi mau mengajar? usah kalau saya banyak kau marah kalau saya berlebihan kalau saya cukup diperkustakan

16:06

Saya tidak tahu bagaimana agar kau tidak marah. Saya tidak mau marah-marah. Kau tidak marah. Baik, saya coba. Maaf, Nyonya. Mari diminum dulu. Silahkan diminum, Nyonya. Alangkah hangat is jeruk ini. Sejuknya sus. Sejak kapan Nyonya suka susu panas yang sejuk? Sejak... Nyonya ini. Saya juga menyukai minang jeruk yang sejuk.

16:57

Bukan begitu kan sayang? Betul. Kagum kepada Nyonya. Saya tidak pernah melihat Nyonya bertambah tua. Nyonya berlebihan. Saya sungguh. Kalau begitu saya pun berterus terang. Nyonya semakin tua, semakin cantik. Maksud saya, maksud saya ketua agi itu hanya timbul.

17:24

Apabila kita merasa tua, padahal tua tersebut adalah suatu hasil yang hanya sayangnya dicabarkan oleh waktu. Sehingga kurang enak saja kita terima konsekuensinya. Saya kira tidak begitu. Tua adalah konsekuensi dari kesadaran kita. Dan itu berarti tua pun merupakan sebuah rahmat. Tidak, bukan rahmat, tapi apa boleh buat. Apa boleh buat?

17:51

Apa mau aku yang balik kita liur lagi? Tua dan tidak tua sama-sama. Ya kaktus memang tetap kaktus, kaku dan berduri kapanpun. Saya jadi ingat Old Shitterhand dengan Winneto. Bagaimana keduanya merangkap di atas padang rumput.

18:23

Sambil membawi udara yang mengantarkan bau musuh. Atau bagaimana keduanya mendengarkan bentang-bentang kaca di kuda musuh. Dari jarak penil-mil. Kaktus-kaktus liar banyak bertumbuhan di Amerika. Oh indah.

18:44

Apa tidak indah kemeriahan flamboyan yang mampu menciptakan jalan selalu diliputi senja? Saya kira lebih indah juga jauh lebih bermanfaat. Kita bahkan bisa berpertuh di bawah cahaya kuning merahnya. Tapi menurut saya, pewah dan kurang sederhana. Bagaimana kalau kita beralih kepada uang-uang saja? Ini lebih berlangsung kepada kehidupan ekonomi kita. Sayang sekali sudah cukup lama saya dijamu di sini.

19:18

Saya minta diri sekali lagi. Saya ucapkan selamat atas pernikahan emas Nyonya dan Tuan. Kalau begitu, terima kasih banyak atas kunjungan Nyonya. Terima kasih banyak. Salam kepada suami Nyonya ya. Terima kasih. Kenapa diam begitu? Diam saja. Eh, kenapa begitu diam? Kau juga kenapa? Saya adalah tidak baik ini.

20:21

Kau rusak bunga-bunga mesa kita dengan kaktus-kaktus pacar kau. Sejak dulu kau begitu yakin kalau saya pernah punya hubungan dengan jatah tadi. Sayang. Makan minuman kesukaannya begitu kamu tadi datang. Siapa? Saya menyuruh Joni minuman apa. Kau menyuruh tak? Saya tidak menyuruh Joni. Ke ruang baca. Dari sini saya langsung ke ruang baca.

21:00

Saya membaca mengenai para tokoh psikologi dan ketika kau datang, tempat saya dibaris-baris melihat, saya ingat berkut. Kau bahas! Kalau kau tidak percaya, kau boleh memikir Johnny. Johnny! Ya, Tuhan. Kembalikan! Siapa yang menurut? Siapa yang menurut? Kau bernyala sendiri.

21:31

Hai juri ianya sejak kali pagi sudah berapa kali kau berbohong belum sekalipun nyanyi aku saja kau tidak akan mengurangi kelajuan terus terang sedang dua kali nyonya begitu lebih jantan yang pertama kepada istri saya tidak perlu yang kedua yang kedua juga kepada

21:56

Tidak selalu nyonya Kadang kalah Tetapi tidak lebih dari 3 kali sehari Kenapa kau lakukan itu? Karena saya percaya Istri saya pun melakukan hal yang sama Kenapa kau berbohong? Hampir segala hal Dari yang paling ringan sampai yang paling berat Yang paling ringan misalnya? Gura-gura sakit Yang paling berat? Soal sembahyang Kenapa kau berbohong?

22:25

Itu si Tarot ya? Enggak, enggak, enggak. Maaf Nyonya, pertanyaan ini sudah amat pribadi dan kurang sopir. Emang capu siwat. Siapa yang nyun? Es Susu. Iya, Es Susu. Kenapa nyun Es Susu? Saya tidak tahu, Nyonya. Saya tahu saja. Seperti tamu sebelumnya, saya buatkan es sirok dan Nyonya pun diam saja. Ada yang bersedih. Berkomplot. Tidak baik, mengadang-adang. Bantar mau melihara kaktus dalam kampung.

23:24

Jangan lupa salat kaktus. Juga beberapa jam di sungai lainnya. Sayang. Sayang, diamlah. Saya akan menyediakan dua buah kaktus sekaligus. Tapi kamu diam. Sayang, diamlah. Jangan terlalu keras, tuan. Sayang, tenggorokanmu bisa sakit. Kalau tenggorokanmu sakit, suara kau bisa serap. Dan nanti kau bisa bangun. Sayang, diamlah.

24:14

Kalau mau saya lakukan kita puji, dong. Biarpun kau ngikutin saya dari tenaga dia. Baik, baik. Saya tidak akan berbuat apa-apa, tapi kau mau diam. Kalau kau tidak berbuat apa-apa, saya akan menangis lagi. Tuhanku, kepala saya cuma satu dan punya... Kalau saja saya punya tiga kepala, barangkali saya tahu apa yang harus saya perbuat. Agar kau mau diam.

24:48

Tapi kepala saya cuma satu, dan tangismu itu memenuhi kepala saya dengan sejuta lalat hijau. Tuhanku! Saya akan terus menangis, biar kelebihan menyambar, saya akan tetap menangis. Tetapkanlah, tetapkanlah tidak dariku. Saya bukan tidak dari. Tapi tetapkanlah Dewiku. Tidak, Tuhan. Tidak, Tuhan.

25:22

Ya, istriku. Saya juga istriku. Kau tidak punya perasaan. Beraih percintaan kita dengan perempuan berhati kaktus. Dular kobra, kejam, kejam. Masa baru punya. Dalam ujahan, kau kejam. Kau rupanya ingin saya masuk neraka. Lalu kau sendiri, kau rupanya ingin kita pisah. Kau ingin kita pisah, tapi kau tidak juga mengerikan.

26:14

Terima kasih.

27:05

Iya, sayang.

28:23

Bapak bawa boneka banyak, baju banyak. Biarin, berikan lihat-lihat. Nanti lah, aku mau jahit terus. Nanti lah, aku mau jahit-jahit ikan. Aku mau jahit-jahit ikan. Aku mau jahit-jahit ikan. Aku mau jahit-jahit ikan. Aku mau jahit-jahit ikan. Kenapa? Tidak, jangan, permisi. Sebentar, sayang. Mery ingin lihat ikan, Mak. Sebentar, sayang. Mery juga ingin lihat ikan, Mak. Iya, sayang. Mery dan Ferry mau lihat ikan.

29:02

dengan janji tidak main-main aja nanti ikannya sakit kak, kak ada neneknya neneknya juga suka menangis pak yaa.. apaan lah.. kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya kakaknya k

30:34

Dulu juga kau bilang begitu, Novia. Tapi, Nita, kau juga harus bisa menimbang betapa sakitnya perasaan saya melihat tingkah Vita pada pasiennya yang pura-pura sakit itu. Siapa lagi? Iji, anak sindak itu, pacarnya waktu sekolah. Tapi, kalau memang dia sakit, ya apa salahnya berobat kepada suamimu? Saya yakin hanya pura-pura sakit. Nita! Cepat keluar! Nita, kau harus terkenal dari perasaan sekali sepadi umum. Novi!

31:30

Pak, Pak, baru kemarin kau pulang dari sini. Dan siapa? Anak-anak. Mana mereka? Di luar, matikan seperti biasanya. Begitu. Kalian juga harus mengerti, persoalan ini juga sangat runcing. Dan bahkan bisa mengakibatkan kesedihan yang berlarut-larut. Soal apa, Pak? Ibu marah, Nufiyat. Soalnya sepele dan tidak bermutu.

32:03

Ibumu tidak suka tanaman kaktus. Saya suka tanaman itu. Bahkan diam-diam saya memelihara kaktus yang ditaruh di dalam kaktus. Ibumu marah-marah. Bapak tidak mau mengalah. Setiap kali saya selalu mengalah, terus-terusan kalah malah. Buang saja kaktus itu. Soalnya itu bukan kaktus. Ibu itu cemburu panas. Ya, ya, begitulah kalau tanpa berpikir panjang.

32:32

Ibumu cemburu dan minta cerai. Minta cerai? Minta cerai. Bahkan hari ini juga minta diselesaikan surat-suratnya. Ibu, iya. Apa? Seperti kau, Novia? Ada apa? Minta cerai dari siapa? Iya, dari siapa? Dari suaminya tentu, Vita, Pak. Kau dan ibumu memang satu jiwa. Menginginkan kesedihan serupa itu. Kebodohan macam apa yang memotori otakmu? Cerai!

33:09

Serahkan dengan kata itu kau dapat mengecap hidup ini, Lopi. Nek, Ma. Novia, kau bukanlah jenis imusan. Kamu kira rumah karena itu rumah-rumah yang terbuat dari potak kering. Ini bukan lagi semata persoalan kau. Ini juga bukan lagi semata persoalan suamimu. Ini sudah menjadi persoalan anak-anakmu yang masih kecil, Mary dan Perry.

33:43

Saya tidak akan membiarkan rumah tangamu terbakar hanya oleh api mainan dan minyak kicam burung hutan. Saya harus beritahu segera ibumu. Novia, apakah kau tidak pernah memperhatikan baik-baik mata anak-anakmu itu, Meli dan Ferry? Tapi, Nita, kalau di samping kita, takutnya batang sayur. Jangan saja, iji itu habis-habis berubah-ubah. Tiap hari? Tidak, tak akanlah segera sekali. Maksud saya sebulan sekali, Nita.

34:24

Tapi Nita, tingkahnya kanak-kanakan juga jemur amarah saya. Bagai mau meriksa penyakitnya? Saya terpaksa di depolisi. Kalau tahu perubahan, semaja saya masuk ke wang praktek. Kenapa mencari sesuatu? Kau juga dengar apa yang dibicarakan? Dengar? Seperti dokter dan pasien. Apa yang kau jemur? Ya kalau begitu, kenapa kau tidak ingin masuk ke dalam? Dan menyaksikan Vita memeriksa tubuh perempuan. Gila! Saya gila dengan Vita.

35:51

Jangan lupa para kebahagiaan Juga jangan lupakan Meli dan Ferry

37:04

Hanya karena soal cemburu rumah tangga kau bongkar Tidak satu pun kebaikan yang terseru Lagi tidak aku dapat membayangkan kembali Kebaikan-kebaikan suatu Kau mendesakim malam-malam Tidak, kau jangan lupa Ya, tidak perlu Sebab kata-kata seru saja yang kau punya sekarang Kau dalam keadaan marah, lebih baik orang diam Dan lebih baik lagi kau dengarkan sayang Ibu mu juga sebenarnya sedang marah Tapi tak sepatah kata pun yang dia ucapkan Kopar-kopar itu apa berdua artinya?

37:48

Apa jadinya kalau kamu jadi berpisah dengan kita yang menunggu abu-abu? Apa jadinya hidupmu? Apa jadinya anak-anakmu, Novia? Mereka akan keusahan cinta sebab mereka tidak akan menerima keutuhan cinta. Pikirkan baik-baik, sayang. Apa kau kira surat alam itu, Jack?

38:24

Terima kasih.

38:55

Kau begitu bahagia dengan Meli, Ferry, dan papahnya Vita. Mengapa kau sebodoh itu ingin memuaskan amarahmu? Kau tidak pernah berpikir bahwa saya diam-diam sebagai kakak dan suami saya belum diberkahi anak. Kau tidak boleh bicara begitu. Kau tidak akan bicara kecuali marah-marah. Ibumu juga sebenarnya tidak suka marah. Sofia, anakmu...

39:36

Kau biarkan mereka kehausan cinta demi kepuasan amarahmu Egoistis Saya tidak akan bicara apa-apa Saya hanya harus jelaskan pada mereka Apa persoalannya? Sudahlah, kita semua sudah mengerti Biarkan dia jelaskan semuanya, Nita Kita tidak akan tahu duduk perkelahannya Kalau dia tidak bicara Apa kau bilang? Bapak, ini... Masuk saya, kita sarang Nah, itu baik Cemburu itu semuci

40:28

Terima kasih.

41:07

Mereka lah yang menyembuhkan kita dari lupa yang ditatakan sangatlah. Saya jadi terharu. Kasihan kita. Karena sebaiknya itu dicurigai. Kau kejam, Loh Vita. Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita! Loh Vita!

41:49

Kira-kira, seorang para pajaknya lalu, dua dokter dia-dia, lalu mengajak Feli dan Reku, lalu dia hilang. Di mana mereka? Tukang jalan cuma bilang. Dia membuat mereka, ah, cepat ngambil polisi. Oh, jujur, Bu. Pasti dari polisi. Oh, jujur, saya sudah membayangkan mereka menangis.

42:25

Bukan untuk orang tua, bukan untuk orang yang lemah jantungnya.

43:07

Betapapun saya akan marahi Vita, pas sebagai dokter, dia kurang mempertimbangkan efek psikologis dari permainannya. Apa dia tahu bahwa setiap kali saya harus mengatur peredaran darah saya sememikian rupa, di depan aku, Aryu, sambil mendengarkan lagu-lagu yang paling lembut, agar kesehatan saya terpelihara dengan permainan yang baru saja. Sama dengan dia menangkan...

43:38

di atas batok kepala saya apa dia pikir dia mampu mengobati kalau saya sedang sakit keras barangkali dia adalah dokter muda jelas dokter muda baru tahu ia pun mengatakan keadaan serinya untuk itu ini aku perlu bergaul dengan Allah banyak tingkat coba saya pinta tanpa minta pulang dan bilang kepada suamimu besok dia harus menghadap saya baik bu pulang dulu jangan lupakan semua anak

44:38

Saya... Saya...

47:06

Terima kasih.

48:28

Kesan selama 4 tahunan? Kesannya, selama 4 tahun, ada kerja, ada senangnya.

49:11

Terima kasih.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free