Full Transcript

·YouTLDR

Melawan Lupa - Api Perjuangan Cut Nyak Dhien

22:31IndonesianTranscribed Jul 22, 2026
0:35

Peran dan keterlibatan perempuan Indonesia dalam perjuangan melawan penjajahan tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam sejarah Perang Aceh yang berkobar antara tahun 1873 hingga 1904 misalnya, ada nama Cud Nyak Din, pahlawan perempuan Nantanggu yang gema dan api perjuangannya terus dikagumi hingga kini. Inilah kompleks pemakaman keluarga Bupati keturunan Prabu Geusan Ulun, Magam Gunung Puyuh.

1:12

Di lokasi yang berjarak sekitar 500 meter dari pusat kota Sumedang, Jawa Barat inilah, lebih dari 110 tahun lalu, tubuh Jud Nyadin dimakamkan. Jud Nyadin dibawa ke Sumedang pada 11 Desember 1906 dalam status sebagai tawanan titipan pada Bupati Sumedang, Pangeran Surya Atmaja.

1:34

Dalam kondisi tubuh yang telah rentah dan menderita penyakit encok dan rabun, pahlawan Perang Aceh ini harus menjalani masa-masa akhir hidupnya di sebuah tempat pengasingan. Sudah termaju pemerintah memohon supaya Cud Njadin ini tidak dibuang keluar jauh dari Sumatera. Jadi pada saat itu diminta untuk dianjurkan ke Sumedang. Dan di sini beliau ditempatkan, dititipkan kepada keluarga

2:06

Karena Cina Dini seorang ulama, perempuan setajam juga mungkin dititung kepada keluarga kaum.

2:15

Saat dibawa ke Sumedang, tak ada harta yang bisa dibawa pejuang rentak itu selain sehelai baju lusu yang menempel di badan, tasbih, dan sebuah priok nasi dari tanah. Menurut jurukunci penjaga makam Cud Nyadin, Dadang Rusnandar Kusumah, akhir masa hidup Cud Nyadin di Sumedang dihabiskan di rumah Haji Sanusi, kakek buyutnya. Cud Nyadin dibuang ke Sumedang pada tahun 1906.

2:43

yang mengantarkan kesini Jenderal Belandanya sendiri bernama Van Heerts dan diterima oleh Bupati Sumedang oleh Pangeran Arya Surya Atmaja oleh Pangeran Arya Surya Atmaja Cutnyadin diserahkan kepada Kiai Haji Sanusi seorang ulama besar Masjid Agung Sumedang untuk merawat Cutnyadin tapi Cutnyadin kesini dengan seorang pengawalnya

3:11

bernama Tekunana, umurnya 15 tahun. Setelah Cudnyadin meninggal, Tekunana kawin dengan orang Sumedang, punya anak tiga, dan pada tahun 1930, Tekunana, istri dan anaknya dibawa ke Aceh, tidak kembali ke Sumedang.

3:31

Inilah bekas rumah tinggal Cut Nyadin di Kampung Kaum Kelurahan Regol Wetan, sekitar 100 meter sebelah barat Masjid Agung Sumedang. Disinilah dalam tubuh sakit-sakitan, Cut Nyadin menghabiskan sisa umurnya dengan mengajarkan berbagai pengetahuan agama Islam yang dikuasainya. Memang mata sudah bisa melihat baik, dengan kondisi fisik sudah sering sakit-sakitan.

3:58

Tapi dengan semangat ini, semangatnya dia di samping sebagai seorang yang ditahanan oleh pemerintah berada, dia semangat memberikan pelajaran agama Islam.

4:13

kepada masyarakat sekitarnya dan siapapun yang mau belajar mereka ini dan Cudnyadin disini hanya bisa ngobrol dengan pakai bahasa Arab karena Cudnyadin tidak bisa bahasa sini orang sini tidak bisa bahasa Aceh karena dia menjadi seorang ulama yang nyambung itu pakai bahasa Arab Alhamdulillah yang orang tuanya dulu belajar ngaji ke Cudnyadin anak-anaknya itu jadi orang yang berguna berbakti kepada bangsa dan negara

4:38

Itu hikmahnya dari Cutnyadin, barokahnya dari Cutnyadin, mujizatnya dari Allah SWT. Selama menjalani hampir dua tahun masa perjuangannya di Sumedang, tak ada warga di wilayah ini yang mengetahui bahwa perempuan tua itu adalah seorang bekas pemimpin perang yang sangat disegani.

5:00

Masyarakat Sumedang hanya mengenalnya sebagai Ibu Perbu yang berarti Ratu atau Orang Suci, nama panggilan yang diberikan oleh Pangeran Arya Surya Atmaja. Barulah bertahun-tahun setelah wafatnya, masyarakat mengetahui bahwa Sang Ibu Perbu adalah Cutnya Din, harimau betina dari Tanah Rencong. Meninggal itu dua tahun kemudian ya, setelah itu meninggal, beliau itu dan dimakamkan di...

5:29

Salah satunya di Kongres Pemakaman Gunung Puyuh, makam keluarga kita. Jud Nyadin meninggal pada 6 November 1908. Pahlawan perempuan itu dimakamkan jauh dari tempat kelahirannya tanpa upacara kebesaran dan dihadiri para pelayat yang tak mengenal siapa dirinya.

5:51

Yang saya harus perhatikan itu, kenapa beliau almarhum sebagai anak ule balang yang hidup sebetulnya sebagai warga bangsawan ya, yang hidup enak, nyaman di zaman kolonialism, tapi kok menanggalkan semua atribut-atribut kebangsawanannya dan dengan hidup nyamannya itu untuk bergerilya.

6:30

Pada tahun 1988, api dan gelora perjuangan Jud Nyadin pernah diangkat dalam sebuah film drama epos berjudul Jud Nyadin. Film epik legendaris yang disutradarai Eros Jarod dan dibintangi Christine Hakim ini memenangi penghargaan 8 piala citra dan menjadi film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film KENS pada tahun 1989. Saya itu ngumpulin buku sampai kalau nggak salah 60 buku.

7:01

kemudian 12 yang saya jadikan apa pegangan 3 atau 4 waktu itu ya yang jadi esensial yang harus kenapa saya memilih Cunyadin saya melihat bahwa juangan Cunyadin itu luar biasa ya bayangkan dia manusia tanpa kompromi dia rela untuk meninggalkan ke

7:24

status dia sebagai ningrat dan bertempur sampai titik darah penghabisan sikap kepahlawanan ini yang juga di sisi lain mengangkat semangat para perempuan di Indonesia itu kan perlu Perang Aceh tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu perang terlama yang dihadapi rezim kolonial Belanda di wilayah Nusantara Perang Aceh terjadi secara bergelombang dan melahirkan banyak pahlawan

7:54

Dalam gelombang demi gelombang perlawanan inilah nama Cudnyadin tampil menjadi salah satu tokoh pemimpin perang melawan tentara penjajah Belanda. Tidak ada satu manusia pun pada saat itu yang tahu siapa itu Cudnyadin. Catatan sejarah juga terbatas. Jadi satu-satunya yang saya minta informasi dan minta dibimbing dan dituntun adalah justru oleh yang menciptakan Cudnyadin itu, ya Tuhan.

8:26

Tuhan yang menciptakan Cytnyadin. Cytnyadin bukan tokoh fiktif gitu loh, bukan, iya kan, itu tokoh yang hamba Tuhan, gitu kan, yang memang sudah menjadi bagian dari skenario-nya Tuhan. Jadi saya selalu merasa bahwa terlibat dalam pembuatan film sejarah itu sama juga merekonstruksi skenario Tuhan.

8:49

Jutnyadin lahir di Aceh besar pada tahun 1848 dari keluarga bangsawan Aceh. Ia merupakan putri Uli Balang Empat Mukim, Tegu Nanta Seltia. Pada 1862, Jutnyadin dinikahkan dengan Tegu C. Ibrahim Lamka, putra dari Uli Balang Lamka XIII yang akhirnya meninggal dalam pertempuran melawan Belanda.

9:13

Kematian suaminya ini membuat Cud Nyak Din marah dan bersumpah akan memerangi tentara Belanda sampai hancur. Dua tahun setelah kematian suami pertamanya, datang lamaran kepada Cud Nyak Din dari salah satu panglima perang Aceh bernama Teku Umar. Awalnya Cud Nyak Din menolak lamaran ini. Namun karena Teku Umar berjanji mengizinkannya bertempur di medan perang, Cud Nyak Din akhirnya menerima pinangan Teku Umar.

9:41

Mereka menikah tahun 1880 dan dikaruniai seorang putri bernama Jud Gambang. Bersama Teguh Umar, Jud Nyadin mengobarkan jihad visabililah atau perang di jalan Tuhan untuk mengusir para kafi sebutan untuk tentara penjajah Belanda kala itu.

9:59

Jika kita ingin berjuang

10:25

ingin melepas dari belenggu kekuasaan yang sewenang-wenang, kita harus melawannya dengan tanpa ragu-ragu dan tanpa setengah-setengah. Jangan kalau miring begini, enggak mau. Lebih baik tumpah saja sekalian. Mati berkalang tanah. Nah itulah yang saya ingin sampaikan bersama Eros, bahwa cutnya di cerita tentang jika ingin melawan bebas dari pendidasan, cuma satu jalannya.

10:58

Jangan tanggung-tanggung. Pada saat perang berkecamu, Teguh Umar sempat dicap sebagai pengkhianat karena menjadi komandan unit pasukan Belanda pasca penyerahan dirinya beserta 250 anggota laskarnya di Kutaraja pada tanggal 30 September 1893. Tuduhan bahwa Teguh Umar berkhianat ini belakangan tidak terbukti.

11:21

Bukan saja karena langkah TK Umar bergabung dengan pasukan Belanda, sebenarnya hanya sebuah strategi untuk mempelajari taktik militer Belanda. Namun, juga karena pada akhirnya TK Umar dan pasukannya belakangan kembali bergabung dengan para pejuang Aceh sambil membawa serta senjata dari markas militer Belanda. Strategi TK Umar ini di kemudian hari sukses menjadi kunci beberapa kali kemenangan rakyat Aceh dalam bertempur melawan pasukan Belanda.

11:48

Belanda yang sering kalah akhirnya menerjunkan pasukan khusus, Marsose, dan menyebar informan untuk membaca peta perlawanan pejuang Aceh. Mereka memburu dan membantai para pejuang Aceh tanpa ampun. Hingga pada 11 Februari 1899, dalam satu serangan di Melabo, akibat sebuah penyianatan, pasukan Tengku Umar dijebak dan suami Jud Nyadin ini tewas bertembak. Tengku Umar kita ketahui adalah...

12:20

seorang tokoh yang pertama-tama berusaha bekerja sama dengan Belanda tetapi kemudian setelah mendapatkan pengetahuan dan terutama senjata dia melawan Belanda dan kemudian dia gugur pada 1880-an nah kekosongan itulah yang kemudian diisi oleh Cuk Nyantin

12:51

Pasca meninggalnya Teguh Umar, Jud Nyadin mengambil alih tampu kepemimpinan perang semesta rakyat Aceh. Pasukan Jud Nyadin yang terus berpindah-pindah tetap aktif melakukan serangan-serangan mendadak terhadap konvoy dan posisi-posisi pasukan Belanda di pendalaman Molabo. Itu bahkan pengikut-pengikut Jud Nyadin sendiri itu rela mati untuk Jud Nyadin. Sifat

13:15

pantang mundurnya menyebabkan dia menjadi sangat distingitif di dalam sejarah nasional apalagi sebagai seorang perempuan yang sudah buta yang punya tekad tak terpatahkan tahun 1901 pasukan Cudnyadin sempat hancur dan jumlah pasukan menyusut drastis namun hal ini tidak menghentikan langkah perjuangan Cudnyadin

13:42

Ia terus membakar api juang sisa pasukannya meski harus keluar masuk hutan untuk bersembunyi, menghindari kejaran, dan sesekali melakukan serangan kepada pasukan Belanda. Yang saya jelas ini juga memberikan inspirasi buat saya untuk menjaga konsistensi apa yang menjadi perjuangan saya.

14:05

Karena saya juga punya visi dan misi dalam hidup. Kita harus konsisten, kita harus konsekuen dan itu harus dijaga. Dan memang untuk menjaga konsistensi dan konsekuensi itu, ada konsekuensinya yaitu adalah pengorbanan yang juga harus dilakukan. Itu kan tempatnya terjahat sekali dan saya kalau kesana itu lewat tali yang kecil aja gitu.

14:32

kita pegangan gitu. Ini perempuan dengan segitu yang sudah agak rentah masih mau apa, keluar masuk hutan itu kan sikap yang luar biasa dan keduanya dia juga ketegasan memimpin dan ketegasan untuk tidak menyerah. Ketika senjata tidak lagi bisa dimanfaatkan karena kalah ya secara teknikal dengan senjata. Nah ulama-ulama kemudian menciptakan

15:03

ideologi perang melalui rumusan-rumusan keagamaan. Itulah yang disebut dengan Hikayat Perang Sabi. Nah Hikayat Perang Sabi itu adalah isinya menyatakan bahwa perjuangan ini, perjuangan melawan Belanda itu adalah perjuangan suci. Bahwa dunia itu tidak ada artinya. Bahwa kalau kamu gugur, itu kamu akan mendapatkan hal yang jauh lebih baik.

15:38

daripada yang kamu peroleh di dunia. Kemudian menjadi motivasi perang bagi rakyat Aceh. Pengaruh hikayat perang Sabil yang mendarah daging dari generasi ke generasi di hati banyak masyarakat Muslim Aceh ikut membakar semangat Jud Nyadin dan anak buahnya untuk terus bertempur melawan pasukan Belanda. Jud Nyadin tetap melanjutkan perjuangan.

16:05

Walaupun Belanda tambah hebat, kuat Belanda tambah hebat, dia tetap berjuang. Sampai akhirnya para pembantunya sudah tidak tahan lagi. Hikayat Perang Sabil yang sering diucapkan Cuk Nyadin menjadi bahan bakar dan senjata ideologis terampung bagi keberlangsungan semangat jihad para pengikutnya dalam meneruskan perjuangan melawan penjajahan.

16:49

Seorang Chutnyadin adalah kolega batin dari seorang Diponegoro. Jadi, dia berada di Kedengaran Kedengaran.

17:12

Fondamental dari sistem kolonial adalah kekerasan. Dan ada satu sistem kekejian, ada satu sistem di mana adat istiadat dan wilayah, dan wilayah pedalaman mengalami salah satu total war yang sangat merugikan dan sangat tidak bisa dilupakan. Dan ada semacam ranju antara...

17:43

orang Aceh dan Belanda dan mereka enggan menerima Belanda sebagai kolonialisme yang mutlak seperti seorang Tuanku Imam Bonjol pernah bilang atau seorang Chutnyadin pernah bilang atau seorang Diponegoro mereka tidak layak menjadi pemerintah sebab mereka bukan Islam jadi

18:13

tetap kafir. Mereka setiap hari itu melakukan patroli dan ketika terlihat ada kelemahan pada saat itu terjadi penyerangan. Lalu kemudian mundur lagi. Jadi di dalam perspektif mereka tidak mungkin mereka melakukan perang teritorial. Dan satu-satunya yang paling masuk akal adalah Perang Girengan. Itu cukup lama, sekitar 15 tahunan.

18:42

Meski bertahun-tahun bergerilya, di tengah kondisi kesehatannya yang terus menurun dan tubuhnya yang kian rentah dimakan usia, semangat Cud Nyadin untuk terus berperang melawan Belanda tak kunjung surut. Cud Nyadin jauh lebih hebat dibandingkan dengan Teguh Umar. Dampaknya mungkin, dampaknya dari kerugian Belanda mungkin lebih besar diakibatkan oleh perlawanan Teguh Umar dibandingkan dengan

19:13

Cunyadin Tetapi Kalau dilihat dari keteguhannya Konsistensinya

19:20

Itu Judnyadin tidak ada antara. Di tengah gerilya yang terus dikobarkan, Panglaot, salah seorang pengikut setia Judnyadin yang kasihan dengan kondisi kesehatannya diam-diam membuat kesepakatan dengan Belanda untuk menangkap perempuan pejuang Aceh ini. Tujuannya agar Judnyadin bisa menjalani perawatan. Judnyadin tetap melanjutkan.

19:44

perjuangan. Walaupun Belanda tambah hebat, kuat Belanda tambah hebat, dia tetap berjuang. Sampai akhirnya para pembantunya sudah tidak tahan lagi. Tidak tahan bukan berjuang, tapi tidak tahan penderitaan Syuknya Din. Dia sudah hampir buta. Atas informasi Panglau, pada tanggal 16 November 1905, tentara Belanda menangkap Syuknya Din di tempat persembunyiannya.

20:11

Untuk menjauhkan dirinya dari rakyat Aceh, Cud Nyadin kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Di bumi Pasundan, yang berjarak ribuan kilometer dari tanah kelahirannya inilah, harimau betina Aceh itu menghembuskan nafas terakhirnya. Waktu dia dibuang, anaknya, anak Cud Nyadin dengan suami meneruskan perjuangan. Nah akhirnya setahun kemudian, satu atau dua tahun setelah Cud Nyadin ada di Sumedang, anaknya juga mati. Perempuan juga mati.

20:42

anak perempuan Cud Nyadin mati dalam pertempuran negara. Perjuangan heroik Cud Nyadin menerbitkan rasa takjub para pakar sejarah asing yang meneliti Perang Aceh. Banyak buku memberi perhatian besar pada perjuangan dan kehebatan pahlawan perang perempuan ini.

20:59

Dan sejarah rakyat Aceh tercatat memiliki banyak Grandes Dames atau perempuan-perempuan hebat yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor kehidupan. Hal ini menunjukkan sejak lama banyak perempuan Aceh telah teremansipasi jauh sebelum gerakan emansipasi banyak dibicarakan. Dia sebuah lilin kayak lilin. Sikapnya itu yang sebuah lilin kayak lilin. Dia rela menerangi sekitarnya sampai fisiknya habis pun tidak masalah.

21:31

Sikap Lilin ini sebenarnya sikap kepahlawanan itu kita lihat dari filosofinya di Lilin tadi dia. Dia sanggup menerangi, mau rela menerangi, walaupun harus dia fisiknya hilang, habis hancur dan lenyap.

21:49

Pada akhirnya, kisah tentang perjuangan dan kepahlawanan Jud Nyadin adalah sebuah epos tentang seorang pemberani yang menolak tunduk dan memilih mengorbankan hidupnya untuk menjadi lilin bagi masyarakat yang dicintainya. Dan kepada sosok sepertinya lah, kita, generasi yang pernah dibela dan diperjuangkan kemerdekanya, berhutang jasa dan kebaikan. Metro TV, knowledge to elevate.

More transcripts

Explore other videos transcribed with YouTLDR.

Get the TLDR of any YouTube video

Transcribe, summarize, and repurpose videos in 125+ languages — free, no signup required.

Try YouTLDR Free