0:01
Dulu untuk jadi pelari tercepat di dunia
0:03
yang dibutuhkan cuman kaki, paru-paru,
0:06
dan mental baja. Tapi hari ini rekor
0:08
maratan dunia mungkin juga ditentukan
0:10
oleh sepotong foam, carbon plate, dan
0:13
tiga garis di sisi samping sepatu. Ya,
0:16
Adidas lewat sepatu AD Adius Pro EF-nya
0:19
baru aja nganterin seorang pelari
0:20
maraton bernama Sebastian Sawe mecahin
0:23
rekor dunia dengan catatan waktu 1 jam
0:26
59 menit 30 detik. Rekor yang sangat
0:29
mengagumkan. Bahkan Nike aja sampai
0:32
kasih respect. Yang menarik ini bukan
0:35
pertama kalinya sepatu di Zero nganterin
0:37
pelari maraton mecahin rekor dunia. Di
0:40
tahun 2008 mereka ngantterin Herselasi
0:44
mecahin rekor dunia dengan catatan waktu
0:46
2 jam 3 menit 59 detik di Berlin
0:50
Maraton. Lah 2008 udah ada AD Zero,
0:53
Bang. Ya, bahkan project ini udah
0:55
dimulai 22 tahun yang lalu. Terus kenapa
0:59
ya hype-nya baru nyampai sekarang? Ke
1:01
mana aja mereka selama ini? Nah,
1:04
daripada penasaran, langsung aja kita
1:06
bahas di room 49. [musik]
1:12
Founder Adidas Adolf Desler percaya
1:14
kalau light equals fast. Dia percaya
1:17
kalau sepatu yang ringan bisa
1:19
meningkatkan performa atlet. Kepercayaan
1:21
inilah yang jadi filosofi lahirnya lini
1:24
sepatu performance running Adidas yaitu
1:26
Adi Zero. Berbeda dengan brand lain di
1:29
era itu yang mdevelop sepatunya
1:31
menggunakan komputer canggih, Adidas
1:33
justru bekerja sama dengan seorang
1:35
pengrajin sepatu legend dari Jepang yang
1:37
bernama Tosiaki Omori. Omori ini sangat
1:41
terobsesi dengan bentuk kaki manusia.
1:43
Makanya dia menghabiskan bertahun-tahun
1:46
untuk mempelajari bentuk alami kaki
1:48
manusia. Project ini dimulai sejak tahun
1:50
2004 dan ini adalah sepatu pertamanya
1:53
namanya AD RC. Beda banget ya sama Adiz
1:57
Zero yang sering kita lihat akhir-akhir
1:59
ini. Terus mereka bikin Adizero CS
2:02
sampai akhirnya pada tahun 2008 mereka
2:04
bikin Adzero Adios. Nah, dari sepatu
2:07
inilah sejarah diukir. Sepatu ini
2:10
berhasil nganterin pelari maraton dari
2:12
Ethiopia bernama Haile Gebrelasi
2:14
menangin Berlin maraton sekaligus
2:17
memecahkan rekor dunia sebagai pelari
2:19
tercepat maraton dengan catatan waktu 2
2:22
jam 3 menit 59 detik. Enggak sampai di
2:25
situ. Di tahun-tahun selanjutnya,
2:27
Adiziro terus berhasil nganterin para
2:29
pelari buat mecahin rekor dunia. Tahun
2:32
2011, Adi Zero Adios 2 nganterin Patrick
2:35
Makau pecahin rekor dengan waktu 2 jam 3
2:38
menit 38 detik. Tahun 2013, giliran
2:42
prototype Edizero Adius 3 yang nganterin
2:44
Wilson Kipsang mecahin rekor dengan
2:46
waktu 2 jam 3 menit 23 detik. Tahun
2:51
2014, giliran Adizero Adiobus yang
2:53
nganterin Denis Kimeto mecahin rekor
2:56
dunia dengan waktu 2 jam 2 menit 57
2:59
detik. Di era itu, Adidas terasa
3:02
mendominasi banget. Sampai akhirnya era
3:05
dominasi Adidas ini harus berakhir saat
3:07
memasuki era supersius. Nike dengan
3:10
teknologi carbon plate-nya berhasil
3:12
mengambil alih posisi puncak Adidas.
3:14
Bahkan mereka punya mimpi besar lewat
3:16
project Breaking 2. Apa itu Breaking Two
3:20
dan gimana Nike bisa menyalip Adidas?
3:23
Yuk, kita bahas di chapter selanjutnya.
3:30
Tahun 2014 secara diam-diam Nike membuat
3:33
projek besar bernama Breaking Two.
3:35
Tujuannya simpel untuk memecahkan ber
3:38
maraton di bawah 2 jam. Untuk mewujudkan
3:41
hal ini, Nike mencari beberapa pelari
3:43
maraton terbaik di dunia untuk dilatih.
3:46
Enggak cuman itu, Nike juga mendesain
3:48
ulang sepatu larinya. Mereka menemukan
3:50
sebuah foh. Waktu itu namanya PEX foam.
3:54
Biasanya kalau fo book itu pasti bikin
3:56
pelari jadi lambat karena energy
3:59
readernya rendah banget. Tapi fo ini
4:02
beda. Meskipun super empuk, energy
4:05
return yang dihasilkan tinggi banget.
4:07
Ini sangat perfect buat pelari maraton.
4:10
Form empuk ini bikin pelari bisa terus
4:12
nyaman sepanjang 42 km tanpa mengurangi
4:15
kecepatannya. Nah, jenis foam inilah
4:18
yang jadi cikal bakal teknologi zoom X
4:20
Nike. Masalahnya namanya fo empuk pasti
4:23
teksturnya lembek. Nah, buat ngatasin
4:25
ini naikin nambahin carbon plate di
4:27
sepatunya biar sepatunya tetap stabil.
4:30
Tapi yang enggak mereka sadari ternyata
4:32
penambahan karbon plate ini bikin
4:34
langkah lebih efisien, transisinya lebih
4:37
smooth, dan energi yang dihabiskan jauh
4:40
lebih hemat. Nah, gabungan dari carbon
4:42
plate dan foam zoom X ini menghasilkan
4:44
Nike Vaperfly 4%. Kenapa 4%? Karena
4:48
penelitian internal Nike bilang kalau
4:50
sepatu ini bisa ningkatin running
4:52
ekonomi sekitar 4%. Katanya di maraton
4:56
4% itu gede banget. Sepatu ini dirilis
4:58
[musik] tahun 2016 dan langsung bikin
5:01
geger dunia maraton. Banyak pelari
5:03
bilang kalau waktu dipakai rasanya beda
5:05
aja gitu. Bahkan pelari dari brand lain
5:08
diam-diam pakai sepatu ini dengan
5:10
ditutup logonya. Pembuktiannya terjadi
5:13
di tahun 2017 saat Nike akhirnya bikin
5:16
breaking to di sirkuit F1 Monza Ital.
5:19
Saat itu, seorang pelari bernama Elliot
5:21
Kipoge hampir aja mewujudkan mimpi besar
5:24
breaking to Nike. Ia mencatat waktu 2
5:27
jam 25 detik. Sebenarnya Kip Joge udah
5:31
pernah catatin rekor finish maraton di
5:32
bawah 2 jam. Waktu itu di Inos Challenge
5:36
Vienna. Tapi rekornya gak dianggap sama
5:38
World Athletics karena ajang ini dibuat
5:41
seideal mungkin untuknya. Mulai dari
5:44
banyaknya passers yang bergantian
5:45
membantunya, mobil penunjuk pace hingga
5:48
lintasan yang dipilih sangat datar.
5:50
Singkatnya, meskipun Nike berhasil
5:52
mendominasi ajang maraton dunia sampai
5:55
tahun 2025 lalu, [musik] mimpi Nike
5:57
memecahkan rekor maraton dengan waktu di
5:59
bawah 2 jam tak pernah terwujud. sampai
6:02
akhirnya Adidas lah yang justru berhasil
6:05
mewujudkan mimpi Nike itu lewat
6:07
Sebastian Saw di London Maraton. Atlet
6:10
Adidas yang memakai sepatu Adizero Pro
6:12
E3 ini berhasil mencatatkan waktu 1 jam
6:16
59 menit 30 detik. Ini bahkan lebih
6:19
cepat daripada rekor Kip Joge yang
6:21
enggak diakui itu. Tapi tentu aja ini
6:24
bukan hasil kerja keras semalam. Adidas
6:27
udah mempersiapkan ini dari tahun-tahun
6:29
sebelumnya. Gimana prosesnya? Yuk, kita
6:32
bahas di chapter selanjutnya.
6:39
Sejak kemunculan Neg Ferfly, Adidas
6:41
sebenarnya udah langsung sadar kalau
6:43
mereka telah tertinggal. Mereka sadar
6:46
kalau filosofi Adi Zero lama dengan
6:48
bikin sepatu seringan mungkin aja
6:50
mungkin udah enggak cukup. Dunia running
6:52
sudah berubah dan kalau mereka mau
6:54
comeback mereka harus bikin sepatu yang
6:57
benar-benar baru. Dari situlah
6:59
pelan-pelan Adidas men-develop
7:01
teknologinya. Masih ingat sama filosofi
7:03
Pak Omori yang terobsesi dengan anatomi
7:05
kaki manusia? Nah, inilah senjata
7:08
rahasia yang dikembangkan Adidas. Kalau
7:11
Neki pakai plat karbon penuh, Adidas
7:13
malah bikin batang karbon yang bentuknya
7:15
ngikutin ruang kaki manusia. Mereka
7:18
pengin bikin sepatu yang bergerak
7:20
senatural mungkin. Nah, teknologi ini
7:22
yang diberi nama Energy Roads. Terus
7:24
kalau Nike punya Zoom X yang empuk tapi
7:27
punya energy return tinggi, Adidas
7:29
ngembangin LK Pro yang lebih smooth,
7:31
stabil, dan natural sehingga gak bikin
7:34
otot kaki cepat capek. Yang bedain
7:36
dengan Nike, Adidas enggak bikin kimpin
7:39
mewah besar-besaran kayak Break King
7:40
Two. Mereka diam-diam menyelinap dan
7:43
bikin gaduh dunia. Dengan Adizero Adios
7:46
Pro Evoya, Adidas berhasil ngewujudin
7:48
mimpi Nike untuk memecahkan waktu
7:50
maraton tercepat di bawah 2 jam. Bahkan
7:53
Nike pun sampai kasih respect ke Adidas.
7:56
Yang menarik, di momen saat pulit akhir
7:58
ditiupkan, Nike bisa dibilang kasih
8:00
counter attack yang sempurna ke Adidas.
8:03
Begitu Sahain rekor pakai Adidas, Nike
8:05
langsung ngepost unggahan bertuliskan,
8:08
"The clock has been reset. There is no
8:10
finish line." Dan jujur aja ini dingin
8:13
banget. Karena kalimat itu terasa
8:15
[musik] kayak Nike lagi bilang, "Oke,
8:18
sekarang kalian menang. Tapi game ini
8:20
belum selesai." Sambil kasih komentar
8:22
selamat buat Sawe di postingannya itu,
8:25
[musik] Nike sadar algoritma dunia lagi
8:27
nyaris Bastian Sawe. Kalau mereka diam,
8:30
mereka hilang dari peredaran. Inilah
8:32
cara jenius Nike buat tetap pegang
8:34
narasi yang selama ini ia bangun lewat
8:37
proyek Breaking T. Dari sini kita bisa
8:40
belajar banyak hal. Dari Nike, kita bisa
8:42
belajar kalau enggak ada salahnya ngeset
8:44
mimpi setinggi-tingginya. Kalaupun
8:46
gagal, setidaknya kita gagal di tempat
8:49
yang tinggi. Dari Adidas, kita bisa
8:51
belajar kalau enggak perlu malu buat
8:53
ngakuin kekalahan. Karena itu adalah
8:55
langkah pertama untuk kita bangkit
8:58
kembali. Kalau kamu sendiri, apa yang
9:00
bisa kamu pelajari dari video ini? Tulis
9:03
di kolom komentar, ya. Kita sharing dan
9:05
diskusi bareng sampai di sini. Jangan
9:07
lupa like, share, dan subscribe room 49
9:09
kalau kamu suka dengan video ini. Jangan
9:12
lupa juga follow IG kita di atom49.id
9:15
untuk info-info menarik lainnya.
9:17
Terakhir, kalau ada salah kurangnya mari
9:19
kita diskusikan di kolom komentar. Thank